{"id":26848,"date":"2026-06-30T12:27:21","date_gmt":"2026-06-30T04:27:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26848"},"modified":"2026-06-30T12:27:21","modified_gmt":"2026-06-30T04:27:21","slug":"sistem-komunikasi-indonesia-dalam-krisis-ekonomi-tantangan-literasi-media-gen-z-menghadapi-jebakan-kemiskinan-digital-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/sistem-komunikasi-indonesia-dalam-krisis-ekonomi-tantangan-literasi-media-gen-z-menghadapi-jebakan-kemiskinan-digital-baru\/26848\/","title":{"rendered":"Sistem Komunikasi Indonesia dalam Krisis Ekonomi: Tantangan Literasi Media Gen-Z Menghadapi Jebakan Kemiskinan Digital Baru"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_26849\" aria-describedby=\"caption-attachment-26849\" style=\"width: 782px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-55.jpg\" alt=\"\" width=\"782\" height=\"440\" class=\"size-full wp-image-26849\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-55.jpg 782w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-55-300x169.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-55-768x432.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-55-750x422.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 782px) 100vw, 782px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-26849\" class=\"wp-caption-text\">Source: google<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Alfin Nur Hafidz<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Membicarakan tentang krisis ekonomi global di tahun 2026 ini sering kali terasa seperti topik yang berat dan jauh dari kehidupan kita, karena penuh dengan istilah rumit seperti inflasi atau kebijakan pemerintah. Namun bagi Gen Z, krisis ini sebenarnya sangat dekat dan nyata adanya, bahkan bisa kita lihat langsung di layar smartphone setiap hari. Di saat mencari uang di dunia nyata semakin sulit, masalah ekonomi ini berpindah ke dunia digital dalam bentuk jebakan &#8220;kemiskinan digital baru&#8221;. Setiap kali membuka media sosial, beranda kita terus-menerus dipenuhi oleh iklan judi online yang dikemas mirip permainan biasa, atau tawaran pinjaman online ilegal yang menjanjikan uang cepat. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa Sistem Komunikasi Indonesia saat ini masih longgar dan belum maksimal dalam menyaring konten berbahaya yang bisa merusak masa depan anak muda.<\/p>\n<p>Fenomena seperti ini bisa menyebar dengan sangat cepat karena adanya pemanfaatan algoritma media sosial yang begitu agresif. Ketika masalah ekonomi sedang sulit dan banyak anak muda butuh uang tambahan, mereka pengguna media sosial justru menjadi target empuk para pelaku kejahatan digital ini. Sayangnya, karena keterbatasan pemahaman atau literasi media, banyak dari kita yang langsung tergiur dengan kepuasan instan tanpa memikirkan akan risikonya. Bukannya menyelesaikan masalah finansial, terjebak dalam lingkaran pinjol dan judi online ini justru bikin masa depan ekonomi anak muda akan jadi semakin hancur dan memicu kepanikan di lingkungan keluarga.<\/p>\n<p>Kalau dikaitkan dengan apa yang dipelajari di bangku perkuliahan, masalah ini sebenarnya bukan cuma soal salahnya individu yang ikut-ikutan, tapi berkaitan erat dengan sistem komunikasi kita secara makro. Seperti yang sering disampaikan oleh dosen pengampu saya, Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., dalam mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia, media itu jangan hanya dilihat sebagai alat buat menyebarkan informasi saja. Lebih dari itu, sistem komunikasi di sebuah negara punya tanggung jawab moral yang besar untuk melindungi masyarakatnya dari dampak buruk informasi yang manipulatif. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Kominfo tidak boleh pasif dan harus lebih tegas dalam mengontrol kedaulatan digital kita, misalnya dengan langsung memblokir atau memberi sanksi berat kepada platform yang masih bandel menayangkan iklan judi dan pinjol ilegal.<\/p>\n<p>Selain menunggu ketegasan dari pemerintah, media massa konvensional maupun online yang memiliki reputasi bagus juga harus ikut mengambil tindakan. Di tengah kondisi situasi ekonomi yang lagi melemah seperti sekarang ini, media sebaiknya jangan cuma fokus bikin berita yang sifatnya clickbait atau menakut-nakuti demi mengejar trafik pembaca. Pers harus bisa menyajikan jurnalisme solusi, yaitu memberikan konten edukasi keuangan atau tips bertahan di tengah krisis dengan gaya bahasa yang asik dan mudah dipahami oleh Gen-Z. Cara komunikasi yang kesannya mengedukatif dan masuk akal seperti ini pasti akan lebih efektif menyadarkan anak muda ketimbang hanya memakai larangan-larangan kaku yang membosankan.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, menyelamatkan masa depan finansial Gen-Z dari ancaman kemiskinan digital baru ini adalah tanggung jawab kita bersama yang harus segera diselesaikan. Sistem Komunikasi Indonesia di tengah krisis ekonomi ini harus bisa menjadi benteng yang kuat untuk melindungi masyarakatnya, bukan malah jadi tempat yang bebas buat para penipu digital. Lewat regulasi pemerintah yang ketat, peran aktif media yang sehat, dan penguatan literasi digital di lingkungan kampus, kita pasti bisa menjaga agar teknologi komunikasi ini membawa dampak yang produktif, bukan malah membawa kebangkrutan bagi generasi muda. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Alfin Nur Hafidz JurnalPost.com &#8211; Membicarakan tentang krisis ekonomi global di tahun 2026 ini sering kali terasa seperti topik yang berat dan jauh dari kehidupan kita, karena penuh dengan istilah rumit seperti inflasi atau kebijakan pemerintah. Namun bagi Gen Z, krisis ini sebenarnya sangat dekat dan nyata adanya, bahkan bisa kita lihat langsung di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26849,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26848","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26848","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26848"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26848\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26848"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26848"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26848"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}