{"id":26739,"date":"2026-06-29T12:08:04","date_gmt":"2026-06-29T04:08:04","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26739"},"modified":"2026-06-29T12:14:01","modified_gmt":"2026-06-29T04:14:01","slug":"kesultanan-demak-cikal-bakal-kekuasaan-politik-islam-di-tanah-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kesultanan-demak-cikal-bakal-kekuasaan-politik-islam-di-tanah-jawa\/26739\/","title":{"rendered":"Kesultanan Demak: Cikal Bakal Kekuasaan Politik Islam di Tanah Jawa"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26740\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-29-at-11.39.48-AM.jpeg\" alt=\"\" width=\"514\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-29-at-11.39.48-AM.jpeg 514w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-29-at-11.39.48-AM-300x175.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 514px) 100vw, 514px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Ananda Salwa Salsabila<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di awal abad ke\u201115, wajah sejarah Jawa mulai berubah perlahan namun pasti. Kejayaan besar Kerajaan Majapahit yang pernah menyatukan hampir seluruh Nusantara perlahan meredup, melemah akibat perang saudara, persaingan antar\u2011bangsawan, serta melemahnya kendali pusat atas wilayah\u2011wilayah bawahan. Di sepanjang jalur pantai utara Jawa wilayah yang menjadi denyut nadi perdagangan laut banyak daerah mulai melepaskan diri dan berdiri sendiri. Di saat yang sama, pengaruh agama Islam makin menguat, disebarkan bukan lewat pedang atau kekerasan, melainkan secara damai melalui pertemuan di pelabuhan, perkawinan campur, serta dakwah yang lemah lembut namun mendalam yang dibawa para pedagang lintas laut dan ulama dari tanah Arab, Gujarat, maupun Melayu.<\/p>\n<p>Suasana masyarakat pun berubah: budaya baru bercampur dengan tradisi lama, hukum adat mulai diselaraskan dengan nilai\u2011nilai Islam, dan pelabuhan\u2011pelabuhan kecil tumbuh menjadi pusat pertemuan orang dari berbagai bangsa dan kepercayaan. Di tengah gelombang perubahan besar ini, di sebuah wilayah yang tanahnya subur dan posisinya strategis di antara jalur darat dan laut, berdirilah Kesultanan Demak. Ia tercatat sebagai kerajaan Islam pertama yang berkedudukan resmi di tanah Jawa, dan kelak akan tumbuh menjadi cikal bakal kekuasaan politik\u2011agama yang kokoh, yang menjadi acuan bagi lahirnya kesultanan\u2011kesultanan besar lainnya di pulau ini. Berbeda dengan kerajaan\u2011kerajaan sebelumnya yang berpusat jauh di pedalaman atau berfokus hanya pada kekuasaan militer, Demak muncul sebagai kekuatan baru yang menyatukan kekuatan ekonomi pesisir, legitimasi agama, dan dukungan luas dari rakyat maupun tokoh masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Berdirinya Kesultanan Demak:<\/strong><\/p>\n<p>Kesultanan Demak diperkirakan berdiri sekitar tahun 1475, berpusat di wilayah yang kini masuk ke dalam Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Lokasi ini bukan dipilih secara kebetulan semata: tanahnya subur dialiri aliran sungai\u2011sungai kecil yang menjamin hasil pertanian melimpah, namun posisinya tetap dekat dengan jalur pelayaran pantai utara Jawa yang sejak dulu ramai dilalui kapal\u2011kapal dagang dari Semenanjung Melayu, Gujarat, Arab, hingga Tiongkok. Pendirinya adalah Raden Patah, sosok yang latar belakang keluarganya masih terhubung erat dengan lingkungan keraton Majapahit, namun tumbuh besar dan mendalami ajaran Islam di lingkungan para pendakwah. Ia tidak membangun kekuasaan dengan jalan kekerasan; Demak tumbuh kokoh karena didukung penuh oleh para Wali Songo \u00a0sembilan ulama besar yang menjadi pelopor penyebaran Islam di Jawa dengan pendekatan yang lemah lembut, akrab, namun menyentuh hati lapisan rakyat paling bawah sekalipun.<\/p>\n<p>Berkat dukungan spiritual dan pengaruh luas para wali, Demak berkembang menjadi lebih dari sekadar pusat kekuasaan politik atau tempat mengumpulkan pajak dan kekayaan. Kerajaan ini perlahan berubah menjadi pusat penyebaran ajaran Islam yang damai, terbuka, dan sangat mudah diterima masyarakat setempat. Kunci keberhasilannya terletak pada cara dakwah yang tidak memusuhi tradisi lama, melainkan memperkaya maknanya dengan nilai\u2011nilai agama yang baru masuk. Seni pertunjukan, bahasa, aturan adat, dan tata krama Jawa tetap dihormati, namun kini disusupi makna yang selaras dengan ajaran tauhid. Salah satu bukti nyata persatuan budaya dan agama ini adalah pembangunan Masjid Agung Demak, yang menurut cerita dibangun bersama\u2011sama oleh para wali dan rakyat secara gotong royong, konon tanpa menggunakan satu paku besi pun, namun tetap kokoh berdiri menahan perubahan cuaca dan waktu selama berabad\u2011abad.<\/p>\n<p>Pada awal mula sejarahnya, Demak hanyalah sebuah wilayah kecil, berstatus kadipaten di bawah naungan Kerajaan Majapahit yang masih berkuasa di pedalaman Jawa Timur. Namun seiring berjalannya waktu, gejolak politik di pusat kekuasaan Majapahit makin terasa: perang saudara antar\u2011calon raja, perselisihan dengan para pejabat tinggi, serta melemahnya kendali atas daerah\u2011daerah pesisir, membuat kekuasaan pusat makin rapuh. Di saat itulah, Demak perlahan\u2011lahan mulai melepaskan diri dari ketergantungan dan aturan yang kaku. Langkah ini didukung oleh kekuatan ekonomi yang makin kuat tumbuh: letaknya yang berada tepat di persimpangan jalur darat dan jalur pelayaran pantai utara Jawa memberinya keuntungan besar sebagai simpul perdagangan sekaligus titik pertemuan berbagai budaya. Di pelabuhan\u2011pelabuhannya, pedagang dari berbagai bangsa, bahasa, dan kepercayaan bertemu, berdagang, dan saling bertukar cerita. Hal ini menjadikan Demak bukan hanya tempat beredarnya barang dagangan, melainkan juga gerbang masuknya pemikiran baru, pengetahuan, dan hubungan persahabatan luar negeri yang memperkuat posisinya sebagai kekuatan politik mandiri yang baru lahir di tanah Jawa.<\/p>\n<p><strong>Masa Kejayaan di Bawah Sultan Trenggana dan Perlawanan Terhadap Portugis:<\/strong><\/p>\n<p>Puncak kejayaan Kesultanan Demak tercapai pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, sultan ketiga yang memerintah sekitar tahun 1521 hingga 1546. Sebagai sosok yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan para Wali Songo sekaligus terlatih dalam strategi militer, ia mampu menyatukan kekuatan agama dan politik menjadi satu kesatuan yang kokoh. Di tangannya, Demak berubah dari sekadar pusat dakwah dan perdagangan menjadi kekuatan politik, militer, dan budaya yang paling disegani di seluruh pulau Jawa. Berbeda dengan pendahulunya yang lebih banyak berfokus pada memperkuat fondasi kerajaan, Sultan Trenggana bergerak meluaskan pengaruh sekaligus menjaga semangat dakwah damai warisan para leluhur. Wilayah kekuasaannya meluas mencakup hampir seluruh Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur, menjangkau pesisir utara Jawa Barat hingga sekitar Cirebon, bahkan menjalin hubungan erat dengan kerajaan\u2011kerajaan di pantai timur Sumatera.<\/p>\n<p>Di bidang pertahanan dan hubungan luar negeri, Sultan Trenggana sangat peka terhadap ancaman baru yang datang dari laut. Sejak Portugis menguasai Malaka pada tahun 1511, kekhawatiran meluas ke seluruh pelabuhan Nusantara: bangsa Eropa itu tidak hanya berniat berdagang, tetapi ingin memonopoli jalur pelayaran, menguasai sumber daya rempah, serta menyebarkan kekuasaan dan budaya mereka. Demak menjadi salah satu kekuatan pertama yang sadar bahwa kedatangan mereka bukan sekadar urusan niaga. Sultan Trenggana pun memperkuat angkatan laut pesisir utara, membangun kapal\u2011kapal yang lebih tangguh, dan menyusun strategi pertahanan bersama. Ia menjalin persekutuan erat dengan Kesultanan Samudera Pasai, Aceh, dan kerajaan\u2011kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya untuk membentuk barisan pertahanan bersama. Bahkan, ia beberapa kali mengirim bantuan pasukan dan perbekalan ke Malaka guna membantu usaha mengembalikan kota itu ke tangan penguasa asli. Meskipun usaha mengusir Portugis sepenuhnya belum membuahkan hasil akhir yang diharapkan terhalang perbedaan kekuatan senjata, jarak, dan belum adanya kesatuan komando yang sempurna langkah ini tercatat sebagai perlawanan terorganisir pertama dari kerajaan Jawa terhadap ambisi kolonial bangsa asing.<\/p>\n<p>Di dalam negeri, kejayaan Demak juga terlihat nyata dari kemajuan sosial, ekonomi, dan budaya. Jalur perdagangan di sepanjang pantai utara makin ramai disinggahi kapal dari Gujarat, Arab, Tiongkok, hingga Maluku, menjadikan Demak tempat bertemunya barang, pemikiran, dan seni yang beragam. Di sektor pertanian, sungai\u2011sungai yang melintasi wilayah kerajaan dimanfaatkan sebaik\u2011baiknya: saluran irigasi diperluas, bendungan dibangun, sehingga hasil panen beras dan palawija cukup melimpah untuk kebutuhan rakyat sekaligus barang ekspor. Pusat kehidupan sosial dan rohani tetap berpusat di sekitar Masjid Agung Demak, yang kini bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga sekolah ilmu, tempat musyawarah negara, serta pusat pertemuan ulama dari berbagai pelosok. Di sinilah ajaran Islam tumbuh bercampur dengan kearifan lokal, melahirkan corak keislaman Jawa yang khas: luwes, menghargai adat, namun teguh pada prinsip keadilan dan persaudaraan. Seni seperti tembang, sastra, dan arsitektur pun berkembang dengan ciri yang memadukan bentuk lama dengan makna baru yang Islami.<\/p>\n<p>Namun, masa\u2011masa gemilang ini tidak berlangsung terus\u2011menerus. Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546, suasana politik di istana Demak perlahan berubah tidak stabil. Belum ada aturan tertulis yang baku, jelas, dan disepakati semua pihak mengenai siapa yang berhak mewarisi takhta apakah anak tertua, anak yang ditunjuk, atau kerabat yang paling kuat pengaruhnya. Kekosongan aturan ini membuka ruang bagi persaingan tersembunyi di antara para putra, menantu, dan pejabat tinggi kerajaan. Muncul faksi\u2011faksi yang saling menjatuhkan, perbedaan pandangan tentang arah politik negara makin tajam, dan dukungan dari para penguasa daerah mulai terpecah. Benih\u2011benih perpecahan itu tumbuh perlahan, menggerogoti kekuatan persatuan Demak dari dalam. Peristiwa ini kelak menjadi awal mula terjadinya perang saudara, pembagian wilayah, dan akhirnya melahirkan kerajaan\u2011kerajaan penerus seperti Kesultanan Pajang, yang kemudian disusul oleh tumbuhnya Kesultanan Mataram Islam sebagai kekuatan besar berikutnya di tanah Jawa.<\/p>\n<p><strong>Penyebab Kemunduran dan Warisan:<\/strong><\/p>\n<p>Setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546, Kesultanan Demak perlahan namun pasti mulai kehilangan kestabilan politik yang selama ini menjadi pondasi kekuasaannya. Salah satu akar masalah yang paling mendasar dan tidak pernah diselesaikan secara tuntas adalah belum adanya aturan tertulis yang tegas, baku, dan disepakati seluruh pihak mengenai tata cara pewarisan takhta. Tidak ada ketentuan yang jelas apakah kepemimpinan harus jatuh kepada anak laki\u2011laki tertua, anak yang secara khusus ditunjuk sultan sebelumnya, atau kerabat yang memiliki pengaruh dan dukungan militer terkuat. Ketidakpastian ini menciptakan ruang abu\u2011abu yang luas, di mana hampir setiap anggota keluarga besar kerajaan merasa memiliki alasan kuat untuk mengklaim hak memerintah.<\/p>\n<p>Situasi ini langsung memicu persaingan yang makin tajam baik secara terbuka maupun tersembunyi di antara para putra, menantu, kerabat dekat, hingga para pejabat tinggi istana yang masing\u2011masing memiliki lingkaran pendukung dan kepentingan politik sendiri. Perselisihan yang seharusnya bisa diselesaikan lewat musyawarah justru makin memuncak karena tidak ada lembaga penengah yang berwenang dan mutlak. Akhirnya, ketegangan itu meledak menjadi perpecahan wilayah yang nyata. Salah satu tokoh yang dulunya menjadi panglima kepercayaan Demak, yaitu Jaka Tingkir yang kelak bergelar Sultan Hadiwijaya memisahkan diri dengan pengikutnya dan mendirikan Kesultanan Pajang sebagai kekuatan politik yang berdiri sendiri dan mandiri.<\/p>\n<p>Semakin berjalannya waktu, pengaruh pusat pemerintahan Demak makin melemah tak tertahankan. Banyak wilayah bawahan, penguasa daerah, dan pelabuhan di sepanjang pantai utara yang perlahan beralih kesetiaan ke arah Pajang yang dianggap lebih kuat dan stabil. Belakangan, dari lingkungan dan wilayah pengaruh Pajang inilah kemudian tumbuh tunas kekuatan yang jauh lebih besar, kokoh, dan berdaya jangkau luas: Kesultanan Mataram Islam. Mataram kelak akan mengambil alih dan menjadi penerus utama peran sejarah Demak sebagai pusat kekuasaan politik sekaligus pusat penyebaran ajaran Islam terbesar di tanah Jawa.<\/p>\n<p>Meskipun usia kekuasaan Demak tidak berlangsung sepanjang, seluas, atau sekuat penerus\u2011penerusnya seperti Mataram, nilai, peran, dan warisan yang ditinggalkannya justru jauh melampaui batas waktu berdirinya kerajaan tersebut. Demak tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan Islam pertama yang berdaulat di Jawa, yang berhasil membuktikan secara nyata bahwa sistem pemerintahan berlandaskan nilai Islam bisa tumbuh, berakar, dan berkembang selaras dengan kearifan lokal serta budaya asli masyarakat setempat. Kerajaan ini meletakkan pola hubungan khas antara penguasa, ulama, dan rakyat yang kemudian menjadi rujukan dan diikuti oleh hampir seluruh kesultanan yang muncul kemudian di pulau ini.<\/p>\n<p>Selain sistem pemerintahan, warisan nyata lainnya masih bisa disentuh dan dirasakan hingga hari ini: Masjid Agung Demak yang megah namun sederhana, naskah\u2011naskah kuno berisi ajaran dan tata cara hidup, serta corak dakwah damai, akrab, dan penuh kasih warisan para Wali Songo. Semua itu tetap hidup, dijaga, dan menjadi bukti nyata perubahan besar yang mengubah wajah sejarah agama, budaya, dan peradaban di seluruh tanah Jawa.<\/p>\n<p>Warisan penting Demak:<\/p>\n<ol>\n<li>Menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa, membuka jalan bagi berkembangnya kesultanan\u2011kesultanan lain<\/li>\n<li>Membuktikan politik dan dakwah bisa berjalan beriringan<\/li>\n<li>Mewujudkan toleransi budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa<\/li>\n<li>Masjid Agung Demak menjadi pusat rujukan agama dan sejarah hingga kini<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Kesultanan Demak mungkin tidak bertahan lama sebagai satu kekuasaan tunggal yang membentang luas dan berkuasa berabad\u2011abad, namun makna sejarahnya jauh lebih besar dari sekadar lamanya masa berkuasa. Kerajaan ini meletakkan fondasi pertama yang kokoh bagi kekuasaan politik berlandaskan nilai Islam di tanah Jawa, sekaligus menjadi jembatan penting yang menghubungkan masa kejayaan kerajaan\u2011kerajaan bercorak Hindu\u2011Buddha dengan tumbuhnya peradaban Islam yang menyebar ke seluruh penjuru pulau.<\/p>\n<p>Dari pusat inilah tumbuh dan berkembang benih\u2011benih kekuatan yang kelak menjadi kesultanan\u2011kesultanan besar penerusnya: mulai dari Pajang, lalu Kesultanan Mataram yang gemilang di pedalaman, hingga kekuatan di pesisir seperti Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten yang menguasai jalur dagang strategis. Demak menjadi tempat di mana pola hubungan antara penguasa, ulama, dan rakyat ditemukan bentuknya yang paling pas dengan watak masyarakat Jawa tidak kaku, tidak memaksa, namun tetap teguh pada prinsip.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar catatan tahun dan nama raja, sejarah Demak mengajarkan satu kebenaran yang abadi: perubahan besar dalam sejarah jarang lahir dari kekuatan senjata semata. Ia sering kali tumbuh dari perpaduan yang seimbang antara kekuatan moral yang dibawa para ulama, kebijaksanaan politik yang memahami budaya setempat, serta kedekatan tulus pemimpin dengan hati rakyatnya. Warisan ini menjadikan Demak bukan sekadar nama lama di peta sejarah, melainkan cikal bakal corak keislaman dan tata kelola pemerintahan yang khas Indonesia toleran, dinamis, dan berakar kuat pada kearifan lokal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ananda Salwa Salsabila JurnalPost.com &#8211; Di awal abad ke\u201115, wajah sejarah Jawa mulai berubah perlahan namun pasti. Kejayaan besar Kerajaan Majapahit yang pernah menyatukan hampir seluruh Nusantara perlahan meredup, melemah akibat perang saudara, persaingan antar\u2011bangsawan, serta melemahnya kendali pusat atas wilayah\u2011wilayah bawahan. Di sepanjang jalur pantai utara Jawa wilayah yang menjadi denyut nadi perdagangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26740,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26739","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26739","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26739"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26739\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26740"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26739"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26739"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26739"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}