{"id":26731,"date":"2026-06-29T11:18:05","date_gmt":"2026-06-29T03:18:05","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26731"},"modified":"2026-06-29T11:18:05","modified_gmt":"2026-06-29T03:18:05","slug":"pupuk-pintar-berbasis-kimia-hijau-solusi-efisiensi-hara-untuk-pertanian-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pupuk-pintar-berbasis-kimia-hijau-solusi-efisiensi-hara-untuk-pertanian-masa-depan\/26731\/","title":{"rendered":"Pupuk Pintar Berbasis Kimia Hijau: Solusi Efisiensi Hara untuk Pertanian Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-19.png\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"430\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26733\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-19.png 854w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-19-300x151.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-19-768x387.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-19-360x180.png 360w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-19-750x378.png 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><\/p>\n<p>Oleh :<strong> Siti Nuraeni<br \/>\nUniversitas Pamulang PSDKU serang<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Bayangkan seorang petani baru saja menaburkan pupuk di lahannya dengan harapan tanaman tumbuh subur. Namun, beberapa saat kemudian hujan turun deras, membawa sebagian nutrisi pupuk ikut hanyut sebelum sempat dimanfaatkan oleh tanaman. Bagi petani, kondisi ini bukan hanya berarti kehilangan unsur hara, tetapi juga kehilangan biaya produksi yang seharusnya dapat digunakan secara lebih efektif.<\/p>\n<p>Fenomena tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penggunaan pupuk konvensional, terutama pupuk nitrogen. Sebagian nutrisi dapat hilang melalui proses pencucian oleh air, penguapan, atau perubahan kimia di dalam tanah. Akibatnya, tanaman tidak selalu mendapatkan jumlah nutrisi yang sesuai dengan kebutuhannya, sementara kelebihan unsur hara yang masuk ke lingkungan dapat berkontribusi terhadap pencemaran tanah dan air.<\/p>\n<p>Berbagai penelitian pertanian menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan nitrogen pada banyak sistem budidaya masih menjadi tantangan. Sebagian nitrogen yang diberikan tidak sepenuhnya diserap tanaman dan dapat berpindah ke lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertanian masa depan tidak hanya membutuhkan pupuk yang mampu menyediakan nutrisi, tetapi juga teknologi yang mampu mengatur bagaimana nutrisi tersebut dilepaskan.<\/p>\n<p>Lalu, bagaimana jika pupuk dapat &#8220;mengatur waktunya sendiri&#8221;?<\/p>\n<p>Di sinilah inovasi kimia berperan melalui teknologi <strong>Controlled-Release Fertilizer (CRF)<\/strong> atau pupuk lepas lambat. Teknologi ini menghadirkan konsep sederhana tetapi revolusioner: memberikan &#8220;baju pelindung&#8221; pada butiran pupuk agar pelepasan nutrisi dapat berlangsung secara bertahap.<\/p>\n<p>Berbeda dengan pupuk konvensional yang relatif cepat larut ketika terkena air, pupuk lepas lambat dilapisi dengan material tertentu yang mampu mengontrol keluarnya nutrisi. Lapisan tersebut dapat dibuat menggunakan polimer yang dirancang agar lebih ramah lingkungan, seperti turunan selulosa dari limbah pertanian, atau kitosan yang berasal dari cangkang udang.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-4.png\" alt=\"\" width=\"834\" height=\"418\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26732\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-4.png 834w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-4-300x150.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-4-768x385.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-4-360x180.png 360w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-4-750x376.png 750w\" sizes=\"(max-width: 834px) 100vw, 834px\" \/><\/p>\n<p>Lapisan pelindung mikroskopis ini memiliki pori-pori yang memungkinkan air masuk secara perlahan untuk melarutkan nutrisi di dalam pupuk. Setelah itu, unsur hara dilepaskan sedikit demi sedikit sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan tanaman. Dengan mekanisme ini, tanaman memperoleh pasokan nutrisi secara lebih stabil tanpa menerima nutrisi berlebihan dalam waktu singkat.<\/p>\n<p><strong>Seperti Kapsul Obat di Dalam Tubuh<\/strong><\/p>\n<p>Cara kerja pupuk pintar ini dapat dianalogikan seperti kapsul obat yang dirancang untuk melepaskan kandungannya secara bertahap. Kapsul tidak langsung membuka seluruh isi obat sekaligus, tetapi membantu pelepasan zat aktif agar bekerja lebih optimal.<\/p>\n<p>Pada pupuk lepas lambat, lapisan polimer berfungsi sebagai pengatur pelepasan. Air dari tanah masuk melalui pori-pori kecil pada lapisan tersebut, melarutkan nutrisi, kemudian nutrisi keluar secara perlahan menuju area sekitar akar tanaman.<\/p>\n<p>Menariknya, kecepatan pelepasan nutrisi dapat direkayasa oleh para ahli kimia melalui berbagai faktor, seperti ketebalan lapisan, ukuran pori, jenis material penyalut, serta kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan tanah. Artinya, pupuk tidak hanya menjadi sumber makanan tanaman, tetapi juga menjadi sistem penghantar nutrisi yang lebih cerdas.<\/p>\n<p><strong>Kimia Hijau untuk Pertanian yang Lebih Berkelanjutan<\/strong><\/p>\n<p>Pada awal perkembangannya, beberapa pupuk lepas lambat menggunakan bahan polimer sintetis sebagai lapisan pelindung. Meskipun efektif dalam mengontrol pelepasan nutrisi, penggunaan beberapa jenis polimer sulit terurai sehingga menimbulkan perhatian terhadap potensi residu lingkungan.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan <strong>Green Chemistry (Kimia Hijau)<\/strong>, para peneliti mulai mengembangkan material penyalut yang berasal dari sumber terbarukan dan lebih mudah terurai. Selulosa dari limbah pertanian, seperti serat tanaman, serta kitosan dari limbah cangkang udang menjadi contoh biomaterial yang berpotensi digunakan sebagai alternatif.<\/p>\n<p>Material berbasis biomassa ini tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan sintetis, tetapi juga memberikan nilai tambah pada limbah organik. Setelah nutrisi dilepaskan dan dimanfaatkan tanaman, material penyalut yang bersifat biodegradable dapat mengalami penguraian alami melalui aktivitas mikroorganisme tanah menjadi senyawa yang lebih sederhana.<\/p>\n<p>Namun, pupuk pintar bukan berarti menjadi satu-satunya jawaban bagi seluruh permasalahan pertanian. Teknologi ini masih memiliki tantangan, seperti biaya produksi, ketersediaan bahan baku, serta kebutuhan formulasi yang sesuai dengan jenis tanaman dan kondisi tanah. Oleh karena itu, pengembangan pupuk pintar perlu berjalan bersama dengan pengelolaan pertanian yang tepat.<\/p>\n<p>Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan tantangan perubahan iklim, efisiensi penggunaan sumber daya menjadi semakin penting. Pupuk pintar berbasis kimia hijau menunjukkan bahwa ilmu kimia dapat menjadi jembatan antara inovasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan.<\/p>\n<p>Dari laboratorium hingga lahan pertanian, teknologi ini membuktikan bahwa masa depan pertanian bukan hanya tentang menghasilkan panen lebih banyak, tetapi juga bagaimana memberikan nutrisi secara lebih bijaksana\u2014hemat bagi petani dan lebih aman bagi bumi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Siti Nuraeni Universitas Pamulang PSDKU serang JurnalPost.com &#8211; Bayangkan seorang petani baru saja menaburkan pupuk di lahannya dengan harapan tanaman tumbuh subur. Namun, beberapa saat kemudian hujan turun deras, membawa sebagian nutrisi pupuk ikut hanyut sebelum sempat dimanfaatkan oleh tanaman. Bagi petani, kondisi ini bukan hanya berarti kehilangan unsur hara, tetapi juga kehilangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26733,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26731","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26731","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26731"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26731\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26731"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26731"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26731"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}