{"id":26689,"date":"2026-06-29T08:47:46","date_gmt":"2026-06-29T00:47:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26689"},"modified":"2026-06-29T08:47:46","modified_gmt":"2026-06-29T00:47:46","slug":"mengawal-asa-swasembada-di-serang-antara-berkah-penurunan-harga-pupuk-dan-tantangan-lahan-salin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengawal-asa-swasembada-di-serang-antara-berkah-penurunan-harga-pupuk-dan-tantangan-lahan-salin\/26689\/","title":{"rendered":"Mengawal Asa Swasembada di Serang: Antara Berkah Penurunan Harga Pupuk dan Tantangan Lahan Salin"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Fauziatul Latifah<br \/>\nMahasiswa prodi Kimia<br \/>\nUniversitas Pamulang<\/p>\n<p>JurnalPost.com &#8211; Kabupaten Serang, Banten, saat ini tengah memegang peran krusial dalam mendukung ambisi swasembada pangan nasional yang dicanangkan oleh Kabinet Merah Putih. Sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Provinsi Banten dengan luas lahan baku sawah mencapai 48.050 hektare, produktivitas Serang menjadi penentu apakah target produksi padi Banten yang dibidik tembus lebih dari dua juta ton dapat terealisasi.<\/p>\n<p>Di tengah optimisme ini, urusan &#8220;perut&#8221; tanaman alias pupuk tetap menjadi variabel paling sensitif bagi para petani setempat.<\/p>\n<p>Kabar baik berembus bagi para petani di Kabupaten Serang sejak akhir tahun lalu. Melalui kebijakan Kementerian Pertanian, harga pupuk bersubsidi resmi dipangkas sebesar 20 persen. Kebijakan ini disambut dengan penuh optimisme oleh kelompok tani di Serang untuk mendongkrak volume produksi mereka. Dampak nyata dari intervensi harga pupuk, perbaikan irigasi, dan kepastian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah ini langsung terlihat pada lonjakan produksi padi Provinsi Banten secara akumulatif, yang naik hingga 16,84 persen (dari 1,5 juta ton menjadi 1,8 juta ton).<\/p>\n<p>Namun, meski dari sisi harga kebijakan pemerintah pusat ini sangat membantu, tantangan di akar rumput tidak serta-merta lenyap. Masalah klasik seputar tata niaga dan distribusi pupuk masih membayangi. Berdasarkan catatan riset sosial-ekonomi pertanian di Banten, rantai birokrasi dan prosedur penebusan yang rumit kerap memicu fenomena &#8220;kelangkaan semu&#8221;\u2014di mana stok pupuk sebenarnya menumpuk di gudang lini penyalur, tetapi terlambat sampai ke tangan petani saat masa tanam tiba.<\/p>\n<p>Selain itu, kuota subsidi yang terbatas membuat petani yang belum atau tidak terdaftar ke dalam Kelompok Tani (Poktan) kesulitan mendapatkan hak keekonomian yang sama, sehingga terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pupuk non-subsidi demi menyelamatkan tanaman mereka.<\/p>\n<p>Di sisi lain, menggenjot produktivitas padi di Kabupaten Serang tidak hanya bicara soal kecukupan pupuk kimia sintetis seperti Urea dan NPK. Di wilayah Serang bagian utara, seperti Kecamatan Tirtayasa dan sekitarnya yang berdekatan dengan pantai, petani dihadapkan pada musuh alami yang tak kalah berat: stres lahan salin (kadar garam tinggi).<br \/>\nBerdasarkan kajian ilmiah, perubahan iklim dan penurunan debit air tawar saat kemarau menyebabkan air laut mengintrusi sumber irigasi utama petani, seperti Sungai Ciujung. Sawah yang terpapar kadar garam tinggi membuat akar padi rusak dan gagal menyerap nutrisi dengan optimal. Akibatnya, sekaya apa pun pupuk yang diberikan, tanaman padi\u2014terutama varietas rentan seperti Inpari 32 pada fase vegetatif awal\u2014akan mengalami kekeringan fisiologis dan mati.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, kombinasi strategi pupuk yang tepat harus berjalan beriringan dengan adopsi teknologi agroekologi. Salah satu solusi menjanjikan yang mulai digalakkan Pemprov Banten adalah pengembangan varietas padi organik (seperti PS-08) yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi terbukti mampu menghasilkan produktivitas tinggi hingga 10 ton per hektare.<\/p>\n<p>Penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen adalah stimulus luar biasa yang meningkatkan kesejahteraan dan gairah bertani di Kabupaten Serang. Namun, efektivitas subsidi ini sangat bergantung pada kelancaran distribusi logistik agar pupuk tiba tepat waktu sesuai jadwal tanam. Lebih dari itu, pemerintah daerah perlu terus mendampingi petani dengan diversifikasi pupuk organik dan penyediaan benih toleran salin agar sawah-sawah pesisir Serang tetap kokoh menopang ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim global.<\/p>\n<p>Sumber Berita &#038; Jurnal Referensi:<br \/>\nDinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Serang (2025): &#8220;Penurunan Harga Pupuk Subsidi, Petani Kabupaten Serang Optimis Tingkatkan Produksi&#8221; (Akses via serangkab.go.id).<br \/>\nAntara News Banten (2026): &#8220;Tahun ini, Pemprov Banten targetkan produksi padi tembus dua juta ton&#8221; &#038; &#8220;Padi organik PS-08 hasilkan panen 10 ton per hektare&#8221;.<br \/>\nPemerintah Provinsi Banten (2026): Panen Raya Kramatwatu Kabupaten Serang, &#8220;Dukung Swasembada Pangan, Gubernur Banten Andra Soni: Produksi Padi Banten 2025 Melonjak 16,84 Persen&#8221;.<br \/>\nHasrianda, E. F., dkk. (JURNAL PANGAN): &#8220;Penanganan Stres Salin dalam Pertanian Padi Sawah: Hasil Kajian dari Wilayah Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia&#8221;.<br \/>\nHanifah, I. &#038; Maulfianti, A. (E-Journal UNMA Banten): &#8220;Persepsi Masyarakat Tentang Keefektifan Program Subsidi Pupuk Bagi Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Petani&#8221; (Kajian distribusi dan tata niaga pupuk di Banten).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Fauziatul Latifah Mahasiswa prodi Kimia Universitas Pamulang JurnalPost.com &#8211; Kabupaten Serang, Banten, saat ini tengah memegang peran krusial dalam mendukung ambisi swasembada pangan nasional yang dicanangkan oleh Kabinet Merah Putih. Sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Provinsi Banten dengan luas lahan baku sawah mencapai 48.050 hektare, produktivitas Serang menjadi penentu apakah target produksi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26689","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26689","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26689"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26689\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}