{"id":26683,"date":"2026-06-29T08:16:08","date_gmt":"2026-06-29T00:16:08","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26683"},"modified":"2026-06-29T08:16:08","modified_gmt":"2026-06-29T00:16:08","slug":"komunikasi-pariwisata-di-era-disrupsi-belajar-dari-cara-telaga-sarangan-bercerita-kepada-wisatawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/komunikasi-pariwisata-di-era-disrupsi-belajar-dari-cara-telaga-sarangan-bercerita-kepada-wisatawan\/26683\/","title":{"rendered":"Komunikasi Pariwisata di Era Disrupsi: Belajar dari Cara Telaga Sarangan &#8220;Bercerita&#8221; kepada Wisatawan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/kepada-Wisatawan-.jpg\" alt=\"\" width=\"942\" height=\"628\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26684\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/kepada-Wisatawan-.jpg 942w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/kepada-Wisatawan--300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/kepada-Wisatawan--768x512.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/kepada-Wisatawan--750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 942px) 100vw, 942px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Disrupsi digital telah mengubah secara fundamental cara komunikasi pariwisata bekerja. Pada masa lalu, sebuah destinasi cukup mengandalkan brosur, iklan media cetak, atau pemberitaan satu arah untuk dikenal publik. Pola tersebut kini bergeser. Algoritma media sosial, platform berbagi video pendek, dan jejak digital yang ditinggalkan wisatawan menjadi kanal komunikasi yang jauh lebih menentukan dibanding promosi konvensional. Destinasi tidak lagi sekadar dipromosikan oleh pengelolanya, melainkan ikut &#8220;diceritakan&#8221; oleh pengunjungnya sendiri melalui unggahan, ulasan, dan momen yang mereka bagikan.<\/p>\n<p>Generasi Z menjadi kelompok yang paling menentukan arah pergeseran ini. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, Gen Z cenderung menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam mencari referensi destinasi, sekaligus menjadi pihak yang paling aktif memproduksi konten setelah berkunjung. Karakter inilah yang membuat disrupsi komunikasi pariwisata tidak bisa dilepaskan dari pola konsumsi informasi generasi muda ini.<\/p>\n<p>Fenomena ini terlihat jelas pada Telaga Sarangan, destinasi wisata alam di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di tengah arus disrupsi tersebut, Telaga Sarangan justru memiliki modal komunikasi yang jarang disadari pengelolanya: momen emosional wisatawan yang terjadi secara alami di lapangan, jauh sebelum ada kampanye atau konten resmi yang dirancang.<br \/>\nSalah satu momentum yang paling sering disebut wisatawan adalah malam tahun baru. Pada periode tersebut, sejumlah hotel di sekitar Telaga Sarangan secara serentak menyalakan kembang api, menciptakan tontonan visual yang berlangsung di atas permukaan telaga. Momen semacam ini berpotensi besar memantik konten digital, sebab ia memenuhi syarat utama yang membuat sesuatu layak dibagikan ulang: visual yang kuat, suasana emosional yang tinggi, dan waktu yang jelas.<\/p>\n<p>Pola kunjungan lintas daerah turut menggambarkan bagaimana informasi tentang momen tersebut menyebar tanpa promosi terpusat. Iwan, wisatawan asal Wonogiri, menjadi salah satu contohnya. Ia mengaku perjalanannya ke Telaga Sarangan paling berkesan justru terjadi saat malam tahun baru, bukan pada kunjungan biasa di hari-hari lain<\/p>\n<p>\u201cPaling berkesan tuh kesini sama temen-temen pas malam tahun baru karena di sini ada pesta kembang api, karena di sini banyak hotel-hotel itu nyalakan kembang api, kesannya happy-happy sih,\u201d ujar Iwan.<\/p>\n<p>Kesan yang diutarakan Iwan menunjukkan satu hal penting: pengalaman yang melekat di benak wisatawan bukan dibangun oleh pesan promosi, melainkan oleh suasana yang ia rasakan bersama teman-temannya saat itu. Pengalaman semacam ini, dalam logika komunikasi pariwisata kontemporer, jauh lebih persuasif dibanding iklan apa pun karena lahir dari pengalaman langsung, bukan klaim sepihak pengelola.<\/p>\n<p>Di era disrupsi, kepercayaan wisatawan bergeser dari pesan yang disampaikan pengelola destinasi ke cerita yang disampaikan wisatawan lain. Sebuah kalimat singkat seperti yang diutarakan Iwan, jika dibagikan dalam bentuk video atau unggahan, memiliki daya jangkau yang sulit ditandingi materi promosi formal. Penyebabnya sederhana: Gen Z, sebagai kelompok yang paling akrab dengan budaya digital, cenderung lebih percaya pada pengalaman pihak ketiga yang tidak berkepentingan menjual apa pun dibanding klaim sepihak dari pengelola destinasi.<\/p>\n<p>Konsekuensinya, peran komunikasi pariwisata bergeser dari sekadar &#8220;menyampaikan informasi&#8221; menjadi &#8220;menciptakan momen yang layak diceritakan&#8221;. Pengelola destinasi yang masih bertahan pada pola komunikasi satu arah berisiko kehilangan momentum, sementara momen otentik seperti pesta kembang api tahun baru di Sarangan justru berlangsung tanpa pernah dirancang sebagai materi promosi.<\/p>\n<p>Tantangan bagi pengelola Telaga Sarangan dan hotel-hotel di sekitarnya bukan lagi sekadar menyediakan fasilitas, melainkan mengelola momentum tersebut agar dapat terdokumentasi dan tersebar secara optimal, khususnya di kalangan Gen Z yang menjadi penentu utama viralitas sebuah destinasi. Beberapa langkah yang relevan diterapkan antara lain: pertama, menyiapkan titik pandang (spot) terbaik untuk merekam momen kembang api agar wisatawan terdorong mengabadikannya; kedua, membangun kolaborasi dengan hotel-hotel sekitar danau agar momentum tahunan ini dikemas sebagai identitas khas destinasi, bukan sekadar acara internal masing-masing hotel; dan ketiga, memanfaatkan testimoni otentik wisatawan, termasuk kesan personal seperti yang disampaikan Iwan, sebagai materi komunikasi yang lebih dipercaya dibanding narasi promosi konvensional.<\/p>\n<p>Disrupsi digital pada akhirnya tidak menghilangkan peran komunikasi pariwisata, melainkan memindahkan kendali narasinya. Destinasi yang mampu beradaptasi bukanlah destinasi dengan anggaran promosi terbesar, melainkan destinasi yang paling cekatan mengenali dan mengelola momen otentik yang lahir dari pengalaman wisatawannya sendiri. Bagi Telaga Sarangan, momen kembang api malam tahun baru adalah bukti bahwa komunikasi pariwisata paling efektif hari ini sering kali bukan yang dirancang oleh pengelola, melainkan yang diceritakan ulang oleh wisatawan yang pulang dengan kesan &#8220;happy-happy&#8221;, seperti yang dirasakan Iwan bersama teman-temannya<\/p>\n<p>Ditulis oleh <strong>David Wicaksono<\/strong><br \/>\nMahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\nDosen Pengampu Mata Kuliah Komunikasi Pariwisata: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Disrupsi digital telah mengubah secara fundamental cara komunikasi pariwisata bekerja. Pada masa lalu, sebuah destinasi cukup mengandalkan brosur, iklan media cetak, atau pemberitaan satu arah untuk dikenal publik. Pola tersebut kini bergeser. Algoritma media sosial, platform berbagi video pendek, dan jejak digital yang ditinggalkan wisatawan menjadi kanal komunikasi yang jauh lebih menentukan dibanding [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26684,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26683","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26683","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26683"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26683\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26684"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26683"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26683"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26683"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}