{"id":26667,"date":"2026-06-28T20:44:06","date_gmt":"2026-06-28T12:44:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26667"},"modified":"2026-06-28T20:44:06","modified_gmt":"2026-06-28T12:44:06","slug":"pancasila-sebagai-harapan-masa-depan-bangsa-dalam-menghadapi-tantangan-ideologi-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pancasila-sebagai-harapan-masa-depan-bangsa-dalam-menghadapi-tantangan-ideologi-global\/26667\/","title":{"rendered":"Pancasila Sebagai Harapan Masa Depan Bangsa Dalam Menghadapi Tantangan Ideologi Global"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-46.jpg\" alt=\"\" width=\"256\" height=\"342\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26668\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-46.jpg 256w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-46-225x300.jpg 225w\" sizes=\"(max-width: 256px) 100vw, 256px\" \/><\/p>\n<p>Penulis:\u00a0 Haniyya Azizah(251011500078)<br \/>\nDosen pengampu : Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd.,M.H<br \/>\nProgram Studi : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan<br \/>\nFakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan<br \/>\nInstitusi : Universitas Pamulang<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Arus globalisasi yang terus berkembang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, berbagai gagasan, budaya, serta pandangan hidup dari luar negeri dapat masuk dengan sangat cepat. Perkembangan ini memberi banyak manfaat, tetapi juga menimbulkan tantangan karena tidak semua ideologi berkembang sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Dalam keadaan seperti ini, Pancasila menjadi harapan masa depan bangsa untuk mempertahankan identitas bangsa sekaligus menjadi pedoman dalam menyikapi tantangan ideologi global.<\/p>\n<p>Sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa, Pancasila memiliki kedudukan yang sangat penting dalam mempersatukan masyarakat Indonesia yang majemuk. Keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa dapat dikelola dengan baik apabila masyarakat berpegang pada nilai-nilai Pancasila. Setiap sila mengandung ajaran yang relevan bagi kehidupan bersama, seperti keimanan, penghormatan terhadap sesama manusia, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman, masyarakat dapat lebih kuat dalam menghadapi pengaruh ideologi yang tidak sejalan dengan karakter bangsa.<\/p>\n<p>Perubahan di era digital juga memengaruhi cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Berbagai pemikiran dapat tersebar luas melalui media sosial dan platform daring dalam waktu singkat. Situasi ini menuntut masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah menerima informasi secara mentah. Dalam kondisi tersebut, Pancasila berperan sebagai penyaring nilai yang membantu masyarakat memilih informasi dan gagasan yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila membuat masyarakat mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas nasional.<\/p>\n<p>Menurut penelitian Samosir et al. (2024) yang menyatakan bahwa globalisasi dan kemajuan teknologi digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, persatuan, dan keadilan sosial tetap dapat diterapkan dalam kehidupan digital. Selain itu, perkembangan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap Pancasila melalui pendidikan, media sosial, dan berbagai media pembelajaran daring. Dengan itu, kemajuan teknologi tidak hanya perlu dipandang sebagai ancaman, tetapi juga sebagai sarana untuk menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat luas.<\/p>\n<p>Namun, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia tetap tidak ringan. Penyebaran informasi yang sangat cepat sering dimanfaatkan untuk menyebarkan paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan, seperti radikalisme, intoleransi, dan sikap individualistis yang berlebihan. Apabila masyarakat kurang memahami Pancasila, pengaruh tersebut dapat menimbulkan perpecahan, konflik sosial, dan melemahkan rasa cinta tanah air. Karena itu, penguatan pendidikan Pancasila harus terus dilakukan melalui jalur formal di sekolah, serta melalui keluarga dan lingkungan masyarakat.<\/p>\n<p>Pendidikan Pancasila tidak cukup hanya membuat peserta didik hafal isi setiap sila, tetapi juga harus mendorong mereka untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai toleransi, gotong royong, tanggung jawab, kejujuran, dan penghargaan terhadap perbedaan perlu ditanamkan sejak dini. Di samping itu, dialog antarwarga dan antarkelompok masyarakat perlu terus dikembangkan agar tercipta suasana saling menghormati dan menjaga persatuan di tengah keberagaman. Dengan cara ini, generasi muda tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat untuk menghadapi pengaruh ideologi global.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Pancasila tetap menjadi harapan masa depan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan ideologi global. Nilai-nilai di dalamnya mampu menjadi pedoman untuk menjaga persatuan, memperkuat karakter bangsa, dan mengarahkan masyarakat agar tetap berpegang pada jati diri nasional di tengah derasnya arus globalisasi. Jika seluruh elemen masyarakat memiliki komitmen untuk memahami dan mengamalkan Pancasila secara konsisten, Indonesia akan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila.<\/p>\n<p>Referensi<\/p>\n<ol>\n<li>Samosir, Hairul Amren, et al. (2024). Kedudukan Pancasila Dalam Konteks Globalisasi; Tantangan Dan Peluang Di Era Digital Masa Depan. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(4), 13828\u201313834.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis:\u00a0 Haniyya Azizah(251011500078) Dosen pengampu : Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd.,M.H Program Studi : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Institusi : Universitas Pamulang JurnalPost.com &#8211; Arus globalisasi yang terus berkembang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, berbagai gagasan, budaya, serta pandangan hidup dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26668,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26667","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26667","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26667"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26667\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26668"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}