{"id":26639,"date":"2026-06-28T15:18:09","date_gmt":"2026-06-28T07:18:09","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26639"},"modified":"2026-06-28T15:18:09","modified_gmt":"2026-06-28T07:18:09","slug":"kesultanan-aceh-sebagai-pusat-ilmu-dan-diplomasi-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kesultanan-aceh-sebagai-pusat-ilmu-dan-diplomasi-islam\/26639\/","title":{"rendered":"KESULTANAN ACEH SEBAGAI PUSAT ILMU DAN DIPLOMASI ISLAM"},"content":{"rendered":"<p><strong>I. PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p>Kesultanan Aceh Darussalam merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar dan paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. Berdiri sekitar abad ke-16, kesultanan ini menjadi mercusuar peradaban Islam yang memancarkan cahaya keilmuan, kebudayaan, dan diplomatisi ke seluruh penjuru dunia. Aceh tidak sekadar menjadi pusat kekuasaan politik, melainkan juga menjadi jantung intelektual Islam di Nusantara yang menarik perhatian para ulama, pedagang, dan diplomat dari berbagai belahan dunia, mulai dari Timur Tengah, India, Persia, hingga Eropa.<\/p>\n<p>Pada puncak kejayaannya, terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Aceh menjelma menjadi kekuatan maritim yang disegani dan pusat peradaban yang dikagumi. Kota Banda Aceh atau yang dikenal dengan nama Bandar Aceh Darussalam, tidak hanya menjadi pelabuhan dagang yang ramai, tetapi juga menjadi kota ilmu tempat para cendekiawan berdebat, para santri menuntut ilmu, dan para diplomat bernegosiasi. Kebesaran Aceh bukan hanya diukur dari luasnya wilayah atau banyaknya harta, melainkan dari kedalaman ilmu pengetahuan dan luasnya jaringan diplomatik yang dibangunnya.<\/p>\n<p>Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran Kesultanan Aceh sebagai pusat ilmu dan diplomasi Islam, dengan menelusuri jejak-jejak sejarah yang menempatkan Aceh pada posisi strategis dalam percaturan peradaban dunia. Melalui kajian ini, diharapkan pembaca dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana Aceh memainkan peran ganda yang sangat vital: sebagai penjaga dan pengembang tradisi keilmuan Islam, sekaligus sebagai aktor diplomatik yang cakap dalam menjalin hubungan internasional.<\/p>\n<p><strong>II. Latar Belakang Berdirinya Kesultanan Aceh<\/strong><\/p>\n<p>Kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1514 Masehi. Berdirinya kesultanan ini tidak terlepas dari konteks historis yang lebih besar, yakni jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 yang mengubah peta kekuasaan di seluruh kawasan Asia Tenggara. Jatuhnya Malaka menyebabkan terputusnya jaringan perdagangan dan keagamaan Islam yang sebelumnya berpusat di kota pelabuhan tersebut. Para pedagang Muslim, ulama, dan bangsawan Melayu kemudian mencari tempat berlindung dan pusat baru bagi aktivitas mereka, dan Aceh hadir untuk memenuhi peran tersebut.<\/p>\n<p>Posisi geografis Aceh yang strategis di ujung barat laut Pulau Sumatera, tepat di pintu masuk Selat Malaka, menjadikannya titik persilangan antara lautan India dan lautan Cina. Setiap kapal yang melintas dari arah barat menuju timur atau sebaliknya hampir dipastikan akan singgah di pelabuhan Aceh untuk mengisi perbekalan, berdagang, atau berlindung dari badai musim. Kondisi geografis inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi pertumbuhan Aceh sebagai pusat perdagangan, agama, dan peradaban. Selat Malaka bukan hanya jalur perdagangan rempah-rempah, tetapi juga jalur penyebaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan agama Islam.<\/p>\n<p>Perkembangan Aceh semakin pesat ketika kesultanan ini berhasil menguasai wilayah penghasil lada dan rempah-rempah di sepanjang pantai barat Sumatera. Kekayaan ekonomi dari perdagangan inilah yang kemudian digunakan untuk membiayai berbagai aktivitas keilmuan dan diplomatik. Para sultan Aceh dengan bijak menginvestasikan kekayaan negara untuk membangun institusi pendidikan, masjid-masjid megah, perpustakaan, dan juga untuk membiayai misi-misi diplomatik ke berbagai negara sahabat.<\/p>\n<p><strong>III. Aceh sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan Islam<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu keistimewaan terbesar Kesultanan Aceh adalah perannya sebagai pusat intelektual Islam yang tidak tertandingi di kawasan Asia Tenggara. Julukan &#8220;Serambi Mekkah&#8221; yang disandang Aceh hingga saat ini bukan hanya merujuk pada kesalehan penduduknya, tetapi juga mencerminkan kedalaman tradisi keilmuan yang berakar kuat di tanah Aceh. Pada abad ke-16 hingga ke-17, Aceh menjadi tujuan utama para pelajar Muslim dari berbagai penjuru Nusantara bahkan dari Asia Selatan dan Timur Tengah yang ingin mendalami ilmu-ilmu keislaman.<\/p>\n<p>Institusi pendidikan Islam di Aceh berkembang dalam berbagai bentuk. Dayah, yang merupakan pesantren tradisional Aceh, menjadi tulang punggung sistem pendidikan Islam di kesultanan ini. Di dayah-dayah inilah para santri belajar berbagai disiplin ilmu keislaman secara mendalam, mulai dari ilmu Al-Quran, tafsir, hadis, fiqih, tasawuf, hingga ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan balaghah. Para ulama besar yang mengajar di dayah-dayah Aceh bukan hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari Arab Saudi, Yaman, Persia, dan India yang sengaja diundang oleh para sultan untuk memperkaya khazanah keilmuan di Aceh.<\/p>\n<p>Di antara tokoh-tokoh intelektual besar yang lahir dan berkembang di Aceh, nama Hamzah Fansuri menempati posisi yang sangat istimewa. Hamzah Fansuri, yang hidup pada akhir abad ke-16, merupakan penyair sufi dan pemikir tasawuf terbesar yang pernah lahir di Nusantara. Karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Melayu membawa pemikiran tasawuf tinggi ke dalam bahasa dan budaya Melayu, menjadikannya pelopor sastra dan filsafat Islam Melayu. Selain Hamzah Fansuri, nama Syamsuddin as-Sumatrani dan Nuruddin ar-Raniri juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah intelektual Aceh. Nuruddin ar-Raniri, yang berasal dari Gujarat India namun mengabdikan dirinya di Aceh pada masa Sultan Iskandar Thani, menulis puluhan kitab dalam bahasa Melayu dan Arab yang mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqih, tafsir, sejarah, hingga kosmologi.<\/p>\n<p>Kegiatan intelektual di Aceh tidak hanya berlangsung di dayah-dayah, tetapi juga di istana kesultanan yang menjadi pusat patronase keilmuan. Para sultan Aceh, terutama Sultan Iskandar Muda dan penerusnya, memiliki tradisi mengundang ulama dan cendekiawan untuk berdiskusi, berdebat, dan menghasilkan karya-karya ilmiah. Istana kesultanan Aceh menyimpan perpustakaan yang kaya dengan manuskrip-manuskrip berharga dalam bahasa Arab, Persia, dan Melayu. Perpustakaan istana ini menjadi referensi utama bagi para ulama dan pejabat kesultanan dalam menjalankan tugas-tugas mereka, baik dalam bidang keagamaan, hukum, maupun diplomatik.<\/p>\n<p>Bahasa Melayu sebagai lingua franca Islam di Asia Tenggara mendapat sumbangan besar dari tradisi keilmuan Aceh. Para ulama Aceh mengambil peran aktif dalam mengembangkan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan dan mengadaptasikan karya-karya ilmiah berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Proses ini tidak hanya memperkaya kosakata bahasa Melayu dengan terminologi-terminologi ilmiah Islam, tetapi juga memudahkan penyebaran ilmu pengetahuan Islam ke seluruh penjuru Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n<p><strong>IV. Aceh sebagai Pusat Diplomasi Islam<\/strong><\/p>\n<p>Selain sebagai pusat ilmu pengetahuan, Kesultanan Aceh juga memainkan peran diplomatik yang luar biasa penting dalam percaturan politik internasional pada masa itu. Kemampuan diplomasi Aceh dibangun di atas tiga pilar utama: kekuatan ekonomi dari perdagangan rempah-rempah, kekuatan militer yang tangguh di darat dan laut, serta identitas keislaman yang kuat yang menjadikan Aceh sebagai representasi Islam di kawasan Asia Tenggara. Kombinasi ketiga kekuatan inilah yang membuat Aceh mampu menjalin hubungan diplomatik yang setara dengan kekuatan-kekuatan besar dunia pada masanya.<\/p>\n<p>Hubungan diplomatik Aceh dengan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) di Turki merupakan salah satu yang paling menonjol dalam sejarah diplomatik Islam di Asia Tenggara. Ketika Aceh menghadapi tekanan dan ancaman dari bangsa Portugis yang menguasai jalur perdagangan di perairan Asia, Sultan Aceh mengirimkan utusan diplomatik ke Istanbul, ibukota Kesultanan Utsmaniyah, untuk memohon bantuan militer dan persenjataan. Kiriman utusan ini mencerminkan kesadaran Aceh tentang pentingnya membangun aliansi internasional untuk menghadapi ancaman bersama. Respon Utsmaniyah yang mengirimkan armada dan senjata ke Aceh, meski tidak sepenuhnya berhasil karena jarak yang jauh, menunjukkan bahwa Aceh diakui sebagai mitra strategis dalam dunia Islam.<\/p>\n<p>Aceh juga menjalin hubungan diplomatik yang intensif dengan kerajaan-kerajaan di India, terutama dengan Kesultanan Gujarat dan Kesultanan Mughal. Hubungan dengan Gujarat sangat erat karena banyak pedagang dan ulama Gujarat yang menetap di Aceh dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ekonomi dan keilmuan kesultanan ini. Sementara itu, hubungan dengan Mughal lebih bersifat simbolik namun tetap bermakna secara politik, karena kedua kesultanan saling mengakui dan menghormati sebagai kekuatan Islam yang besar.<\/p>\n<p>Yang paling mengejutkan dan sekaligus menarik adalah kemampuan Aceh untuk menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Eropa, khususnya Inggris dan Belanda. Pada awal abad ke-17, ketika kekuatan Eropa mulai masuk ke kawasan Asia Tenggara dengan niat yang sangat berbeda antara perdagangan dan penjajahan Aceh dengan cerdas memanfaatkan persaingan antara Belanda dan Inggris untuk memperkuat posisinya. Sultan Iskandar Muda bahkan mengirimkan surat kepada Raja James I dari Inggris pada tahun 1615, yang isinya memuat usulan kerjasama perdagangan dan persahabatan. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Melayu yang fasih dan menggunakan protokol diplomatik yang setara dengan surat-surat kerajaan Eropa, mencerminkan kecanggihan diplomatik Aceh yang jauh melampaui anggapan Eropa tentang kerajaan-kerajaan Asia.<\/p>\n<p>Keunikan lain dari diplomasi Aceh adalah peran yang dimainkan oleh perempuan dalam aktivitas diplomatik. Pada masa pemerintahan empat ratu Aceh (1641-1699), yaitu Sultanah Tajul Alam Safiatuddin, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin, Sultanah Zaqiatuddin Inayat Syah, dan Sultanah Kamalat Syah, kegiatan diplomatik tetap berjalan aktif. Bahkan, Sultanah Safiatuddin, yang memerintah paling lama di antara keempat ratu tersebut, berhasil mempertahankan kedaulatan Aceh di tengah tekanan Belanda yang semakin kuat dan menjalin hubungan yang seimbang dengan berbagai kekuatan regional.<\/p>\n<p><strong>V. Jaringan Perdagangan dan Penyebaran Islam<\/strong><\/p>\n<p>Tidak bisa dipisahkan dari peran keilmuan dan diplomatik Aceh adalah fungsinya sebagai simpul utama jaringan perdagangan Islam internasional. Pelabuhan Aceh merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia pada abad ke-16 dan ke-17, dengan kapal-kapal dari Arab, Persia, India, Gujarat, Jawa, Melayu, Cina, dan Eropa berlabuh silih berganti membawa berbagai komoditas. Lada, yang merupakan komoditas ekspor utama Aceh dan kawasan barat Sumatera, menjadi daya tarik utama yang menarik pedagang dari seluruh dunia ke pelabuhan Aceh.<br \/>\nAktivitas perdagangan di Aceh tidak sekadar pertukaran barang, tetapi juga pertukaran gagasan, keyakinan, dan kebudayaan. Para pedagang Muslim yang datang dari Timur Tengah dan India tidak hanya membawa rempah-rempah dan kain sutra, tetapi juga membawa buku-buku, manuskrip, dan ulama-ulama yang kemudian menetap di Aceh. Demikian pula, para pedagang dari Jawa, Melayu, dan berbagai kepulauan Nusantara yang datang ke Aceh untuk berdagang seringkali pulang ke kampung halaman mereka dengan membawa tidak hanya barang dagangan, tetapi juga pengetahuan baru, kitab-kitab Islam, dan semangat keagamaan yang lebih mendalam.<\/p>\n<p>Dengan cara inilah Aceh menjadi katalis bagi penyebaran Islam di seluruh kawasan Asia Tenggara. Banyak kerajaan dan kesultanan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan bahkan di Semenanjung Melayu yang menerima Islam melalui perantaraan Aceh, baik melalui hubungan dagang, perkawinan diplomatik, maupun pengiriman ulama dan da&#8217;i dari Aceh. Oleh karena itu, Aceh tidak hanya menjadi pusat Islam bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber mata air yang mengaliri Islam ke seluruh Nusantara.<\/p>\n<p><strong>VI. Warisan Peradaban dan Relevansinya Masa Kini<\/strong><\/p>\n<p>Warisan peradaban Kesultanan Aceh masih dapat dirasakan hingga saat ini dalam berbagai bentuk. Dari aspek keilmuan, tradisi dayah yang telah berlangsung selama berabad-abad masih hidup dan berkembang di Aceh. Ribuan dayah yang tersebar di seluruh pelosok Aceh masih menjadi tempat pendidikan Islam yang mengajarkan kitab-kitab klasik yang sama dengan yang diajarkan pada masa kesultanan. Ulama-ulama Aceh masih memiliki otoritas moral dan keagamaan yang besar di tengah masyarakat, mencerminkan kontinuitas tradisi keulamaan yang telah dimulai sejak masa kesultanan.<\/p>\n<p>Manuskrip-manuskrip yang dihasilkan pada masa Kesultanan Aceh, meski banyak yang sudah rusak atau hilang akibat perang, bencana, dan kelalaian, masih tersimpan di berbagai museum dan perpustakaan di dalam dan luar negeri. Beberapa koleksi manuskrip Aceh yang tersimpan di Belanda, Inggris, dan Malaysia menjadi bukti nyata kesuburan intelektual yang pernah berkembang di kesultanan ini. Upaya digitalisasi dan penelitian terhadap manuskrip-manuskrip ini terus dilakukan oleh berbagai lembaga akademik, menjadikan warisan intelektual Aceh tetap relevan dalam kajian-kajian akademik kontemporer.<\/p>\n<p>Dari aspek identitas dan kebudayaan, warisan Kesultanan Aceh membentuk karakter masyarakat Aceh hingga sekarang. Identitas keislaman yang kuat, semangat perlawanan terhadap penindasan, dan kebanggaan akan tradisi keilmuan merupakan nilai-nilai yang diwariskan dari masa kesultanan dan terus dijaga oleh masyarakat Aceh dari generasi ke generasi. Penerapan syariat Islam di Aceh yang berlaku sejak tahun 2001, meski dalam konteks yang berbeda, mencerminkan semangat yang sama dengan semangat para pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yang membangun negeri mereka di atas pondasi hukum dan nilai-nilai Islam.<\/p>\n<p><strong>VII. Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Kesultanan Aceh Darussalam telah membuktikan dirinya sebagai salah satu entitas politik dan peradaban paling penting dalam sejarah Islam di Asia Tenggara. Peran gandanya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan diplomasi Islam bukan hanya memberikan dampak besar bagi kawasan, tetapi juga menempatkan Aceh dalam peta peradaban dunia yang lebih luas. Melalui tradisi keilmuan yang dibangun di dayah-dayah dan istana, Aceh berhasil melahirkan ulama-ulama besar yang karya-karyanya memberikan sumbangan signifikan bagi khazanah intelektual Islam secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Di bidang diplomatik, Aceh menunjukkan kecerdasan dan kecanggihan yang melampaui zamannya. Kemampuan untuk menjalin hubungan diplomatik yang setara dengan kekuatan-kekuatan besar dunia, baik sesama kerajaan Islam maupun kerajaan-kerajaan Eropa, mencerminkan visi para pemimpin Aceh yang jauh ke depan. Jaringan diplomatik yang dibangun Aceh bukan hanya berfungsi untuk kepentingan pertahanan dan perdagangan, tetapi juga menjadi sarana penyebaran Islam dan pembentukan identitas keislaman yang kuat di seluruh kawasan.<\/p>\n<p>Warisan peradaban Kesultanan Aceh hingga kini masih relevan dan perlu untuk terus dikaji, dipelajari, dan dijadikan inspirasi. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia Islam kontemporer, pengalaman historis Aceh sebagai kesultanan yang berhasil memadukan kekuatan ilmu pengetahuan, diplomasi, dan perdagangan dalam satu bingkai keislaman yang kuat dapat menjadi cermin dan sumber inspirasi yang berharga. Kisah Aceh mengajarkan bahwa kekuatan sejati sebuah peradaban tidak hanya diukur dari kekuatan militer atau kekayaan material, tetapi terutama dari kedalaman ilmu, kearifan dalam berdiplomasi, dan keteguhan dalam memegang nilai-nilai yang diyakini.<\/p>\n<p>Dengan demikian, Kesultanan Aceh Darussalam bukan sekadar catatan sejarah yang layak dikenang, melainkan sebuah model peradaban yang terus berbicara melewati batas-batas waktu. Ia adalah bukti nyata bahwa dunia Islam pernah memiliki institusi-institusi yang mampu bersaing dan berinteraksi secara setara dengan peradaban-peradaban besar dunia lainnya, dan potensi untuk kembali meraih kebesaran tersebut tetap ada selama semangat untuk menuntut ilmu dan membangun peradaban tidak pernah padam.<\/p>\n<p>Ditulis oleh : Muhammad Rafly, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Adab dan Humaniora.<\/p>\n<p>Artikel ini disusun untuk Keperluan edukasi dan refleksi sejarah Pada masa Kesultanan Aceh sebagai Pusat diplomasi islam pada masa itu.<br \/>\nReferensi utama mencakup karya-karya sejarah kolonial dan Islam Nusantara, antara lain :<br \/>\n1. Amirul Hadi. (2004). Islam and State in Sumatra: A Study of Seventeenth-Century Aceh. Leiden: Brill.<br \/>\n2. Denys Lombard. (1986). Le Sultanat d&#8217;Atjeh au temps d&#8217;Iskandar Muda 1607-1636. Paris: EFEO.<br \/>\n3. Ismail Hamid. (1983). The Malay Islamic Hikayat. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>I. PENDAHULUAN Kesultanan Aceh Darussalam merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar dan paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. Berdiri sekitar abad ke-16, kesultanan ini menjadi mercusuar peradaban Islam yang memancarkan cahaya keilmuan, kebudayaan, dan diplomatisi ke seluruh penjuru dunia. Aceh tidak sekadar menjadi pusat kekuasaan politik, melainkan juga menjadi jantung intelektual Islam di Nusantara yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":"Sebuah Kajian Historis tentang Peran Aceh dalam Peradaban Islam Nusantara"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26639"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26639\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}