{"id":26479,"date":"2026-06-24T14:39:22","date_gmt":"2026-06-24T06:39:22","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26479"},"modified":"2026-06-24T14:39:22","modified_gmt":"2026-06-24T06:39:22","slug":"komunikasi-pariwisata-di-era-disrupsi-pengalaman-berkunjung-ke-taman-bunga-coban-talun-melalui-pengaruh-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/komunikasi-pariwisata-di-era-disrupsi-pengalaman-berkunjung-ke-taman-bunga-coban-talun-melalui-pengaruh-media-sosial\/26479\/","title":{"rendered":"Komunikasi Pariwisata di Era Disrupsi: Pengalaman Berkunjung ke Taman Bunga Coban Talun melalui Pengaruh Media Sosial"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26480\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Taman-Bunga-Coban.jpg\" alt=\"Taman Bunga Coban\" width=\"602\" height=\"329\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Taman-Bunga-Coban.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Taman-Bunga-Coban-300x164.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Tria Dyah Lestari<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di era disrupsi saat ini, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk informasi mengenai destinasi wisata. Menurut materi perkuliahan Komunikasi Pariwisata yang disampaikan oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., komunikasi pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai media penyampaian informasi yang mampu memengaruhi keputusan seseorang untuk berkunjung ke suatu destinasi. Perubahan tersebut sangat terlihat pada kebiasaan Generasi Z yang lebih sering mencari referensi wisata melalui media sosial dibandingkan media konvensional seperti televisi, radio, atau koran.<\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial, Tria merasakan secara langsung bagaimana platform digital memengaruhi keputusan dalam memilih tempat wisata. Sebelum melakukan perjalanan wisata, Tria terlebih dahulu mencari informasi melalui TikTok, Instagram, dan YouTube untuk melihat kondisi serta daya tarik destinasi yang akan dikunjungi.<\/p>\n<p>Pengalaman tersebut terjadi ketika Tria memutuskan untuk mengunjungi Taman Bunga Coban Talun di Kota Batu. Awalnya, Tria melihat beberapa unggahan media sosial yang menampilkan hamparan bunga berwarna-warni, suasana alam yang asri, serta berbagai spot foto yang menarik. Setelah melihat video dan membaca ulasan dari pengunjung lain, muncul ketertarikan untuk datang langsung dan membuktikan bagaimana kondisi tempat tersebut.<\/p>\n<p>Salah satu dampak dari era disrupsi adalah sebuah destinasi wisata dapat menjadi terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Ketika banyak wisatawan mengunggah foto, video, atau pengalaman mereka di media sosial, informasi tersebut dapat menyebar dengan cepat dan menjangkau ribuan bahkan jutaan pengguna internet. Fenomena ini terlihat pada Taman Bunga Coban Talun yang sering muncul di berbagai platform media sosial. Konten yang menampilkan keindahan taman bunga dan suasana pegunungan yang sejuk membuat banyak orang penasaran dan akhirnya memutuskan untuk berkunjung.<\/p>\n<p>Untuk memperoleh gambaran yang lebih nyata mengenai daya tarik tempat wisata ini, Tria juga melakukan wawancara singkat dengan dua pengunjung perempuan yang sedang menikmati suasana taman. Pengunjung pertama mengatakan bahwa ia menyukai tempat ini karena &#8220;bunganya lucu-lucu dan warna-warni, jadi bagus untuk foto-foto.&#8221; Sementara itu, pengunjung kedua menyampaikan bahwa &#8220;tempatnya sejuk, nyaman, dan cocok untuk nyantai bersama teman maupun keluarga.&#8221; Pendapat kedua pengunjung tersebut menunjukkan bahwa pengalaman langsung wisatawan dapat menjadi bentuk komunikasi pariwisata yang efektif karena mampu memengaruhi persepsi dan minat calon pengunjung lainnya.<\/p>\n<p>Meskipun media sosial memberikan banyak keuntungan dalam promosi wisata, terdapat pula berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh pengelola destinasi. Persaingan antarobjek wisata kini semakin ketat karena hampir semua tempat memanfaatkan media digital untuk menarik perhatian wisatawan. Jika suatu destinasi tidak aktif memberikan informasi terbaru atau tidak mampu menjaga kualitas pelayanan, masyarakat dapat dengan mudah beralih ke tempat wisata lain yang lebih menarik di media sosial.<\/p>\n<p>Selain itu, ulasan dari pengunjung juga memiliki pengaruh yang besar terhadap keputusan wisatawan. Komentar mengenai kebersihan, fasilitas, harga tiket, maupun kualitas pelayanan dapat dengan cepat menyebar melalui internet. Oleh karena itu, pengelola wisata harus menjaga kualitas destinasi sekaligus memberikan informasi yang jujur, jelas, dan akurat kepada masyarakat.<\/p>\n<p>Komunikasi pariwisata juga tidak hanya berkaitan dengan promosi, tetapi mencakup penyediaan informasi yang membantu wisatawan selama berkunjung. Saat berada di Taman Bunga Coban Talun, Tria melihat adanya papan penunjuk arah yang ditempatkan di beberapa titik sehingga memudahkan pengunjung menemukan lokasi yang dituju. Selain itu, tersedia berbagai fasilitas pendukung seperti toilet, area istirahat, serta pedagang makanan yang mudah ditemukan. Informasi mengenai fasilitas tersebut juga banyak dibagikan melalui media sosial sehingga wisatawan dapat mempersiapkan perjalanan dengan lebih baik.<\/p>\n<p>Berdasarkan pengalaman tersebut, era disrupsi telah mengubah cara masyarakat mencari informasi dan memilih destinasi wisata. Media sosial kini menjadi alat komunikasi pariwisata yang sangat penting karena mampu menyebarkan informasi secara cepat dan luas. Sebagaimana dijelaskan oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. dalam pembelajaran Komunikasi Pariwisata, komunikasi yang efektif dapat membangun citra positif suatu destinasi sekaligus meningkatkan minat kunjungan wisatawan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Tria Dyah Lestari JurnalPost.com &#8211; Di era disrupsi saat ini, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk informasi mengenai destinasi wisata. Menurut materi perkuliahan Komunikasi Pariwisata yang disampaikan oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., komunikasi pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai media penyampaian informasi yang mampu memengaruhi keputusan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26480,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-26479","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-travel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26479"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26479\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26480"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}