{"id":26401,"date":"2026-06-23T12:26:06","date_gmt":"2026-06-23T04:26:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26401"},"modified":"2026-06-23T12:26:06","modified_gmt":"2026-06-23T04:26:06","slug":"hati-hati-konsumtif-berkedok-self-reward","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/hati-hati-konsumtif-berkedok-self-reward\/26401\/","title":{"rendered":"HATI &#8211; HATI ! KONSUMTIF BERKEDOK SELF REWARD"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Self-Reward-itu-Penting-Tapi-Jangan-Kebablasan-ya.jpg\" alt=\"\" width=\"1504\" height=\"1004\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26402\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Self-Reward-itu-Penting-Tapi-Jangan-Kebablasan-ya.jpg 1504w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Self-Reward-itu-Penting-Tapi-Jangan-Kebablasan-ya-300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Self-Reward-itu-Penting-Tapi-Jangan-Kebablasan-ya-1024x684.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Self-Reward-itu-Penting-Tapi-Jangan-Kebablasan-ya-768x513.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Self-Reward-itu-Penting-Tapi-Jangan-Kebablasan-ya-750x501.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Self-Reward-itu-Penting-Tapi-Jangan-Kebablasan-ya-1140x761.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1504px) 100vw, 1504px\" \/><\/p>\n<p>Penulis :<br \/>\n<strong>Brandon Holy Koesnadi (Mahasiswa Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR)<br \/>\nAndito Syahputra (Mahasiswa Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR)<br \/>\nAirlangga Rezky Setyawan (Mahasiswa Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR)<br \/>\nMeike Kurniawati (Dosen Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR) <\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Konsep self-reward sering dianggap sebagai bentuk apresiasi \/ penghargaan terhadap diri sendiri setelah melalui hari-hari yang melelahkan. Setelah sibuk bekerja, menghadapi tekanan hidup, atau berhasil mencapai target tertentu, banyak orang merasa berhak memberi hadiah untuk dirinya sendiri dengan tujuan untuk menjaga produktivitas, keseimbangan hidup, dan kesehatan mental. Hal tersebut sebenarnya wajar selama dalam batas yang sehat dan terkontrol.<\/p>\n<p>Masalah mulai muncul ketika kebiasaan konsumtif yang menyamar dalam bentuk self reward, perlahan dianggap sebagai kebutuhan emosional yang harus selalu dipenuhi. Dalih \u201csekali-sekali\u201d akhirnya berubah menjadi pola berulang yang tanpa sadar menguras kondisi finansial dan emosional. <\/p>\n<p>Perilaku konsumtif merujuk pada kecenderungan individu untuk melakukan konsumsi secara berlebihan yang tidak didasarkan pada kebutuhan rasional, melainkan pada dorongan emosional dan keinginan sesaat. <\/p>\n<p>Dalam jangka pendek, perilaku konsumtif memang dapat memberikan rasa senang. Sensasi mendapatkan barang baru sering kali memberikan rasa puas, percaya diri, bahkan dianggap sebagai bentuk hadiah untuk diri sendiri. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah, seperti stres finansial, rasa bersalah, penyesalan setelah membeli barang, hingga ketidakpuasan terhadap diri sendiri.<\/p>\n<p>Penelitian Koesnadi et al, (2026) pada 107 mahasiswa, menemukan bahwa perilaku konsumtif tidak pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis sendiri bukan hanya soal merasa bahagia. Kondisi ini mencakup kemampuan individu untuk menerima dirinya, memiliki tujuan hidup, menjalin hubungan positif dengan orang lain, mampu mengembangkan diri, serta merasa dapat mengendalikan kehidupannya.<\/p>\n<p>Kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh banyak faktor seperti: dukungan sosial, kemampuan mengelola emosi, kontrol diri, kondisi keuangan, relasi interpersonal, dan tujuan hidup.<\/p>\n<p>Rasa sejahtera secara psikologis lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami dirinya, mengelola kehidupannya, dan membangun hubungan yang sehat dengan sekitar. Pada akhirnya, kesejahteraan psikologis tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan seseorang dalam menerima dirinya, mengelola emosi, serta menjalani hidup secara lebih bermakna.<\/p>\n<p>Kepuasan diri yang didapat dari membeli barang umumnya bersifat sementara. Setelah rasa senang itu hilang, seseorang bisa kembali merasa bosan, kosong, atau ingin membeli hal lain lagi. Seseorang tidak otomatis menjadi lebih bahagia hanya karena mampu membeli banyak barang Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi pola konsumsi yang tidak sehat.<\/p>\n<p>Belanja mungkin dapat memberikan kesenangan, tetapi itu bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Brandon Holy Koesnadi (Mahasiswa Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR) Andito Syahputra (Mahasiswa Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR) Airlangga Rezky Setyawan (Mahasiswa Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR) Meike Kurniawati (Dosen Fakultas Psikologi \u2013 UNTAR) JurnalPost.com &#8211; Konsep self-reward sering dianggap sebagai bentuk apresiasi \/ penghargaan terhadap diri sendiri setelah melalui hari-hari yang melelahkan. Setelah sibuk bekerja, menghadapi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26402,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26401","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26401"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26401\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26402"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}