{"id":26391,"date":"2026-06-23T00:34:17","date_gmt":"2026-06-22T16:34:17","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26391"},"modified":"2026-06-23T00:34:17","modified_gmt":"2026-06-22T16:34:17","slug":"cashback-diskon-dan-fomo-mengapa-kita-sering-membelanjakan-uang-demi-menghemat-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/cashback-diskon-dan-fomo-mengapa-kita-sering-membelanjakan-uang-demi-menghemat-uang\/26391\/","title":{"rendered":"CASHBACK, DISKON, DAN FOMO: MENGAPA KITA SERING MEMBELANJAKAN UANG DEMI MENGHEMAT UANG?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-22-at-11.16.04-PM.webp\" alt=\"\" width=\"1055\" height=\"1491\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26392\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-22-at-11.16.04-PM.webp 1055w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-22-at-11.16.04-PM-212x300.webp 212w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-22-at-11.16.04-PM-725x1024.webp 725w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-22-at-11.16.04-PM-768x1085.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-22-at-11.16.04-PM-750x1060.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1055px) 100vw, 1055px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: Muhammad Azkar Rasya Barley, Melany Dini Alkhalifi, Siti Maesaroh, Marcell Muhammad Saky, Meta Yolanda, Ria Aulia<\/p>\n<p><strong>Cashback, Diskon, dan FOMO: Kenapa Kita Sering Belanja &#8220;Demi Hemat&#8221; Tapi Justru Boros?<\/strong><\/p>\n<p>Pernah gak sih, niat awal cuma mau beli satu barang kebutuhan harian, eh ujung-ujungnya checkout sampai lima item gara-gara &#8220;kurang dikit lagi biar gratis ongkir&#8221;? Atau buru-buru klik beli karena ada tulisan merah berkedip &#8220;Promo habis dalam 00:09:59&#8221;? Kalau jawabannya iya, selamat datang di dunia belanja digital, tempat di mana niat hemat sering kali berujung pada pengeluaran yang justru lebih besar.<\/p>\n<p>Fenomena ini bukan kebetulan. Di balik setiap notifikasi cashback, label diskon, dan hitung mundur flash sale, ada mekanisme psikologis yang bekerja diam-diam memengaruhi keputusan belanja kita. Artikel ini mengupas kenapa promo yang terlihat menguntungkan justru bisa menjadi jebakan finansial, terutama di kalangan generasi yang hidupnya sudah menyatu dengan ponsel dan dompet digital.<\/p>\n<p><strong>Belanja Itu Soal Logika? Coba Pikir Lagi<\/strong><\/p>\n<p>Dalam ilmu yang disebut behavioral finance atau perilaku keuangan, ada satu fakta yang cukup mengejutkan: keputusan finansial seseorang ternyata tidak selalu didasari logika. Behavioral finance sendiri adalah bidang yang mempelajari bagaimana faktor psikologis ikut memengaruhi cara orang mengambil keputusan soal uang, mulai dari investasi besar sampai keputusan sepele seperti checkout di e-commerce.<\/p>\n<p>Para ahli membagi pola pengambilan keputusan keuangan menjadi dua jenis: rasional dan irasional. Keputusan rasional diambil berdasarkan pertimbangan matang, kebutuhan, kemampuan finansial, risiko, dan manfaat yang jelas. Sebaliknya, keputusan irasional muncul ketika emosi, keinginan sesaat, kebiasaan, atau tekanan lingkungan justru mengambil alih kemudi.<\/p>\n<p>Yang menarik, pola ini tidak cuma berlaku buat investor saham di lantai bursa. Pola yang sama persis terjadi setiap hari, dalam skala yang jauh lebih kecil: saat kita menabung, mengatur pengeluaran, atau, ya, saat scroll e-commerce sambil rebahan. Faktor psikologis seperti motivasi, persepsi, kepercayaan, dan emosi ikut membentuk cara kita menilai sebuah produk, bahkan sebelum logika sempat bersuara. Itulah kenapa kita bisa membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena ingin merasa puas, aman, atau diakui secara sosial.<\/p>\n<p><strong>Diskon dan Cashback: Senjata Psikologis, Bukan Sekadar Angka<\/strong><\/p>\n<p>Diskon dan cashback bukan strategi pemasaran biasa, keduanya dirancang untuk &#8220;menyentuh&#8221; sisi emosional konsumen, bukan cuma dompetnya. Diskon memberi potongan harga langsung di muka, sementara cashback menjanjikan sebagian uang &#8220;kembali&#8221; setelah transaksi selesai. Sekilas berbeda, tapi efeknya sama: membuat konsumen merasa mendapat untung.<\/p>\n<p>Salah satu trik psikologis di baliknya disebut anchoring effect. Ketika sebuah produk awalnya dibanderol Rp500.000 lalu didiskon menjadi Rp300.000, otak kita otomatis fokus pada angka &#8220;hemat Rp200.000&#8221;, bukan pada fakta bahwa kita tetap mengeluarkan Rp300.000 untuk sesuatu yang belum tentu dibutuhkan. Ironisnya, harga awal itu sendiri kadang sudah dinaikkan terlebih dahulu sebelum &#8220;didiskon&#8221;.<\/p>\n<p>Belum lagi soal flash sale yang dibatasi waktu. Begitu ada hitung mundur, otak kita beralih dari mode &#8220;mempertimbangkan&#8221; ke mode &#8220;buru-buru, takut keduluan orang lain&#8221;. Inilah yang membuat diskon berbatas waktu jauh lebih efektif mendorong pembelian dibanding diskon biasa.<\/p>\n<p>Cashback punya trik psikologis sendiri: mengurangi apa yang disebut pain of paying, alias rasa &#8220;sakit&#8221; saat uang keluar dari dompet. Diskon membuat jumlah yang dibayar terasa lebih kecil, sementara cashback memberi ilusi bahwa uang yang sudah dikeluarkan akan &#8220;kembali&#8221;, sehingga rasa kehilangan finansial pun terasa lebih ringan, meski sebenarnya uang itu sudah benar-benar keluar.<\/p>\n<p>Yang perlu diwaspadai, loyalitas yang terbentuk dari kebiasaan ini sering kali bukan loyalitas terhadap merek atau platform, melainkan loyalitas terhadap insentifnya. Begitu cashback dihentikan atau ada platform lain menawarkan promo lebih menarik, konsumen bisa dengan mudah berpindah hati.<\/p>\n<p><strong>FOMO: Ketakutan Kecil yang Berdampak Besar<\/strong><\/p>\n<p>Selain diskon dan cashback, ada satu pemicu lagi yang tak kalah kuat: Fear of Missing Out atau FOMO, rasa cemas karena merasa tertinggal dari tren, informasi, atau aktivitas yang sedang ramai di lingkungan sosial. FOMO muncul saat seseorang merasa orang lain menjalani hidup yang lebih seru, lebih sukses, atau lebih &#8220;update&#8221;, sementara dirinya tertinggal.<\/p>\n<p>Media sosial menjadi bahan bakar utama fenomena ini. Paparan konten promosi, rekomendasi influencer, dan gaya hidup teman sebaya yang terus-menerus muncul di linimasa membuat dorongan untuk &#8220;ikut serta&#8221; semakin sulit dihindari.<\/p>\n<p>Dampaknya pun tidak main-main. FOMO bisa memicu kecemasan berlebihan, stres kronis, gangguan tidur, hingga depresi, serta menumbuhkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri akibat terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menurunkan produktivitas, mengikis kemandirian dalam mengambil keputusan, dan membuat seseorang semakin bergantung pada validasi dari luar dirinya, termasuk validasi lewat barang yang dibeli.<\/p>\n<p><strong>Mahasiswa dan Dompet Digital: Kombinasi yang Rawan Boros<\/strong><\/p>\n<p>Kalau ada kelompok yang paling rentan terhadap kombinasi diskon, cashback, dan FOMO, jawabannya adalah mahasiswa. Riset menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara penggunaan metode transaksi digital dengan kecenderungan belanja di kalangan ini, apalagi ketika tidak dibarengi pemahaman keuangan yang memadai. Semakin sering mahasiswa menggunakan dompet digital, semakin besar pula kecenderungan mereka melakukan pembelian impulsif.<\/p>\n<p>Angkanya pun cukup nyata: penggunaan pembayaran digital tercatat berkontribusi terhadap peningkatan konsumsi mahasiswa sebesar 18,1%. Kemudahan akses dompet digital seperti OVO, DANA, ShopeePay, dan GoPay memperkuat kondisi ini karena platform-platform tersebut tidak hanya memfasilitasi transaksi, tapi juga aktif menawarkan cashback dan diskon yang mendorong konsumsi di luar kebutuhan.<\/p>\n<p>Faktor media sosial juga tidak bisa diabaikan. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2024) mencatat sekitar 95,92% mahasiswa di Indonesia aktif menggunakan media sosial sebagai sarana utama mencari informasi, berkomunikasi, dan berbagi pengalaman. Sayangnya, tingginya paparan ini juga membuka pintu lebar bagi perilaku konsumtif lewat iklan dan konten influencer yang mempromosikan gaya hidup hedonis. Semakin kuat keterlibatan mahasiswa di media sosial, semakin tinggi pula kecenderungan mereka terlibat dalam pembelian impulsif, dengan FOMO sebagai salah satu mekanisme psikologis utama yang mendorongnya.<\/p>\n<p><strong>Studi Kasus: Jebakan &#8220;Gratis Ongkir&#8221; di TikTok Shop<\/strong><\/p>\n<p>Coba bayangkan skenario ini: seorang mahasiswa awalnya hanya ingin membeli satu produk kebutuhan harian di TikTok Shop. Namun, karena ada promo potongan harga dengan syarat minimum transaksi tertentu, ia akhirnya menambahkan barang lain ke keranjang\u2014bukan karena butuh, tapi semata agar memenuhi syarat promo. Ia merasa sedang berhemat karena mendapat potongan harga, padahal total uang yang keluar justru lebih besar dari rencana awal. Jika pembayaran dilakukan dengan paylater, beban itu terasa makin ringan secara psikologis karena bisa dicicil atau ditunda, meski kewajiban membayarnya tetap ada.<\/p>\n<p>Pola ini banyak terjadi di berbagai platform e-commerce yang menggabungkan potongan harga, cashback, cicilan 0%, dan paylater dengan syarat minimum transaksi serta kuota terbatas setiap harinya. Begitu ada batasan kuota dan waktu, FOMO langsung bekerja: rasa takut kehabisan voucher atau takut tidak mendapat harga terbaik mendorong konsumen mengambil keputusan secara terburu-buru, tanpa sempat mempertanyakan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan.<\/p>\n<p>Kata-kata seperti &#8220;terbatas&#8221;, &#8220;hanya hari ini&#8221;, &#8220;kuota sedikit&#8221;, atau &#8220;cashback besar&#8221; bukan sekadar informasi, itu adalah pemicu psikologis yang dirancang untuk mempercepat keputusan beli. Tanpa literasi keuangan dan kontrol diri yang cukup, jebakan ini bisa membuat siapa pun termasuk yang merasa dirinya hemat berakhir mengeluarkan lebih banyak uang dari yang seharusnya.<\/p>\n<p><strong>Jadi, Gimana Caranya Biar Gak Kebobolan?<\/strong><\/p>\n<p>Diskon dan cashback sebenarnya bukan musuh. Keduanya bisa benar-benar menguntungkan kalau digunakan secara bijak dan sesuai kebutuhan. Masalah baru muncul ketika promo dipakai tanpa kontrol diri dan literasi keuangan yang memadai, saat itulah promo berubah dari alat hemat menjadi pemicu pemborosan.<\/p>\n<p>Sebelum klik tombol &#8220;beli&#8221;, ada baiknya bertanya pada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, apakah sesuai kemampuan finansial saat ini, dan apakah pembelian ini sudah direncanakan sejak awal atau cuma dorongan sesaat karena takut ketinggalan promo?<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kesadaran finansial, kontrol diri, dan kemampuan membedakan kebutuhan dari keinginan adalah kunci utama agar diskon, cashback, dan FOMO tidak diam-diam menguras kantong di balik label &#8220;hemat&#8221;.<\/p>\n<p>Penulis:<br \/>\nMuhammad Azkar Rasya Barley, Melany Dini Alkhalifi, Siti Maesaroh, Marcell Muhammad Saky, Meta Yolanda (Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang)<br \/>\nDosen Pengampu: Ria Aulia, S.EI.M.sc.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Muhammad Azkar Rasya Barley, Melany Dini Alkhalifi, Siti Maesaroh, Marcell Muhammad Saky, Meta Yolanda, Ria Aulia Cashback, Diskon, dan FOMO: Kenapa Kita Sering Belanja &#8220;Demi Hemat&#8221; Tapi Justru Boros? Pernah gak sih, niat awal cuma mau beli satu barang kebutuhan harian, eh ujung-ujungnya checkout sampai lima item gara-gara &#8220;kurang dikit lagi biar gratis ongkir&#8221;? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26392,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26391","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26391","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26391"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26391\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26392"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26391"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26391"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26391"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}