{"id":26387,"date":"2026-06-23T00:31:42","date_gmt":"2026-06-22T16:31:42","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26387"},"modified":"2026-06-23T00:31:42","modified_gmt":"2026-06-22T16:31:42","slug":"komunikasi-digital-sebagai-wajah-baru-promosi-pariwisata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/komunikasi-digital-sebagai-wajah-baru-promosi-pariwisata\/26387\/","title":{"rendered":"Komunikasi Digital sebagai wajah Baru Promosi Pariwisata"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital.webp\" alt=\"\" width=\"1672\" height=\"941\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26388\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital.webp 1672w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital-300x169.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital-1024x576.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital-768x432.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital-1536x864.webp 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital-750x422.webp 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Komunikasi-Digital-1140x642.webp 1140w\" sizes=\"(max-width: 1672px) 100vw, 1672px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pariwisata adalah salah satu sektor yang terus mengalami perkembangan seiring berubahnya komunikasi dalam masyarakat. Dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan internet sekarang telah mengubah cara informasi tentang pariwisata disampaikan, diakses, serta diterima oleh khalayak ramai. Promosi yang sebelumnya didominasi media konvensional kini mulai bergeser menuju ruang digital. <\/p>\n<p>Dalam era digital sekarang, komunikasi tidak lagi berlangsung secara satu arah, melainkan lebih interaktif dan cepat. Kehadiran media sosial, platform video, serta berbagai layanan digital memungkinkan destinasi wisata menjangkau audiens yang lebih luas, terutama kalangan muda\/Gen-Z. Dengan diterapkannya promosi digital, Informasi dapat tersebar dalam waktu singkat dan memengaruhi keputusan wisatawan.<\/p>\n<p>Perubahan tersebut menjadikan komunikasi digital sebagai salah satu elemen penting dalam promosi pariwisata modern. Melalui strategi komunikasi yang tepat, destinasi wisata tidak hanya dapat meningkatkan visibilitas, tetapi juga membangun citra, menciptakan keterlibatan, serta menarik minat masyarakat untuk melakukan perjalanan. <\/p>\n<p>Komunikasi digital dalam pariwisata dapat dipahami sebagai penggunaan media berbasis internet untuk menyampaikan informasi, membangun citra destinasi, serta mendorong minat masyarakat untuk berkunjung. Media yang digunakan tidak lagi terbatas pada situs resmi, tetapi juga mencakup media sosial, video pendek, aplikasi perjalanan, hingga ruang ulasan pengguna. Dalam konteks ini, komunikasi tidak hanya dilakukan oleh lembaga pariwisata, tetapi juga oleh wisatawan yang membagikan pengalaman mereka secara langsung kepada publik.<\/p>\n<p>Pihak yang terlibat dalam komunikasi pariwisata digital cukup beragam. Pemerintah melalui instansi pariwisata berperan dalam memperkenalkan potensi daerah dan membangun identitas destinasi. Di sisi lain, pelaku usaha seperti pengelola tempat wisata, hotel, agen perjalanan, dan pelaku UMKM memanfaatkan media digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Selain itu, wisatawan juga menjadi aktor penting karena foto, video, dan ulasan yang mereka unggah dapat memengaruhi persepsi calon pengunjung lainnya. Dengan kata lain, promosi pariwisata di era digital tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh satu pihak.<\/p>\n<p>Perubahan ini terjadi karena adanya pergeseran perilaku masyarakat dalam mencari informasi wisata. Saat ini, banyak orang tidak lagi bergantung pada brosur atau iklan cetak untuk menentukan tujuan perjalanan. Sebelum berangkat, calon wisatawan cenderung mencari informasi melalui mesin pencarian, menonton video pengalaman wisata, membaca komentar pengguna lain, hingga membandingkan beberapa destinasi sekaligus. Kecepatan akses informasi membuat keputusan perjalanan dapat terbentuk dalam waktu yang relatif singkat.<\/p>\n<p>Proses komunikasi digital dalam promosi pariwisata umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, pengelola destinasi menyusun identitas pariwisata yang ingin ditampilkan kepada publik. Kedua, informasi dikemas dalam bentuk konten yang menarik seperti foto, video, cerita perjalanan, atau kampanye media sosials ehingga menarik untuk ditonton, dengan begitu kemungkinan destinasi pariwisata untuk dipandang lebih besar. Ketiga, konten tersebut disebarluaskan melalui berbagai platform digital agar dapat menjangkau kelompok masyarakat yang dituju. Terakhir, interaksi yang muncul dari komentar, ulasan, dan respons pengguna digunakan sebagai data untuk melakukan evaluasi guna meningkat kualitas promosi serta pengambilan keputusan dalam perencanaan berikutnya.<\/p>\n<p>Penerapan komunikasi digital dapat ditemukan pada berbagai jenis destinasi wisata, baik wisata alam, budaya, sejarah, maupun wisata perkotaan. Sebuah destinasi yang sebelumnya kurang dikenal dapat memperoleh perhatian lebih luas setelah kontennya tersebar secara daring. Fenomena ini menunjukkan bahwa lokasi fisik bukan lagi satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan promosi. Kemampuan menyampaikan informasi secara menarik dan konsisten juga menjadi faktor yang sangat menentukan.<\/p>\n<p>Di era sekarang, komunikasi digital menjadi penting karena persaingan antar destinasi wisata semakin tinggi. Setiap daerah berusaha menunjukkan keunikan dan daya tariknya melalui strategi komunikasi yang kreatif. Namun, keberhasilan promosi tidak hanya ditentukan oleh jumlah konten yang dipublikasikan, melainkan juga oleh kualitas informasi, kejujuran representasi destinasi, serta kemampuan membangun kepercayaan masyarakat. Promosi yang menarik tetapi tidak sesuai dengan kondisi nyata justru dapat menimbulkan kekecewaan wisatawan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, komunikasi digital dapat dipahami sebagai wajah baru promosi pariwisata yang menyesuaikan perkembangan teknologi dan perilaku masyarakat modern. Kehadirannya tidak hanya memperluas penyebaran informasi, tetapi juga mengubah hubungan antara pengelola wisata dan wisatawan menjadi lebih terbuka serta interaktif. Oleh karena itu, pemanfaatan komunikasi digital yang tepat menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung perkembangan sektor pariwisata di masa kini maupun masa yang akan datang.<\/p>\n<p>Penulis: <strong>Daffa Hilmi Rabbani (1152300141).<br \/>\nMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\nDosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Pariwisata adalah salah satu sektor yang terus mengalami perkembangan seiring berubahnya komunikasi dalam masyarakat. Dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan internet sekarang telah mengubah cara informasi tentang pariwisata disampaikan, diakses, serta diterima oleh khalayak ramai. Promosi yang sebelumnya didominasi media konvensional kini mulai bergeser menuju ruang digital. Dalam era digital sekarang, komunikasi tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26388,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26387"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26387\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26388"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}