{"id":26352,"date":"2026-06-22T14:09:20","date_gmt":"2026-06-22T06:09:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26352"},"modified":"2026-06-22T14:09:20","modified_gmt":"2026-06-22T06:09:20","slug":"mahasiswa-ilmu-komunikasi-untag-surabaya-dorong-tranformasi-digital-umkm-lewat-qris-dan-instagram-branding","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mahasiswa-ilmu-komunikasi-untag-surabaya-dorong-tranformasi-digital-umkm-lewat-qris-dan-instagram-branding\/26352\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya Dorong Tranformasi Digital UMKM Lewat QRIS dan Instagram Branding"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-25.jpg\" alt=\"\" width=\"570\" height=\"417\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26354\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-25.jpg 570w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-25-300x219.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 570px) 100vw, 570px\" \/><\/p>\n<p><strong>SURABAYA, JurnalPost.com<\/strong> \u2013 (12\/06\/2026) Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi pelaku UMKM lokal agar siap bersaing di ekosistem digital. Langkah nyata ini dimotori oleh tim mahasiswa yang beranggotakan Dwi Aditama Abimanyu, Dimitry Andryawan Wibowo, Muhammad Akmal Adani, Tegar Dwi Oktavianto, Axel Attilla Wijaya Kurniawan. Dalam setiap proses pendampingannya, tim ini bergerak di bawah arahan dan supervisi langsung dari Bapak Drs. Jupriono, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan yang memastikan teori komunikasi tepat guna di masyarakat. <\/p>\n<p>Berbekal ilmu yang didapat di bangku perkuliahan, kelima mahasiswa ini membidik dua sektor UMKM yang berbeda untuk diberikan solusi komunikasi pemasaran dan literasi finansial digital. Dua UMKM tersebut adalah Toko Kelontong milik Ibu Lik\u2019ami di wilayah  Desa Gelang Kecamatan Tulangan dan usaha kuliner Wonton Pak D di Kecamatan Waru, Surabaya.<\/p>\n<p>Langkah pemberdayaan yang dilakukan mahasiswa ini bukan tanpa dasar. Mengutip dari berbagai artikel ilmiah dan jurnal Komunikasi Pemasaran Digital, disebutkan bahwa adaptasi teknologi seperti pembayaran non-tunai (cashless) dan eksistensi di media sosial terbukti mampu meningkatkan daya saing serta retensi pelanggan UMKM hingga lebih dari 40%. Di tengah pergeseran perilaku konsumen, UMKM yang tidak memiliki jejak digital atau fasilitas pembayaran modern perlahan akan kehilangan pangsa pasarnya.<\/p>\n<p>Hal ini sejalan dengan pandangan akademisi Ilmu Komunikasi. Bapak Drs. Jupriono, M.Si sebagai Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran vital sebagai agen perubahan di masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Pemberdayaan UMKM oleh mahasiswa ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban tugas semata, melainkan bentuk nyata dari penerapan komunikasi pembangunan. Mahasiswa harus mampu menerjemahkan teori komunikasi digital dan media yang rumit menjadi solusi praktis yang mudah diaplikasikan oleh masyarakat kecil. Inilah esensi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi,&#8221; ucap Bapak Drs. Jupriono, M.Si (12\/06\/2026)<\/p>\n<p>Sasaran pertama pemberdayaan adalah Toko Kelontong Ibu Lik\u2019ami, sebuah usaha mikro yang berlokasi di Jl. Amd Desa Gelang RT 04 RW 01, Kecamatan Tulangan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh Ibu Lik&#8217;ami adalah hilangnya potensi penjualan karena banyak pembeli dari kalangan anak muda yang tidak membawa uang tunai dan ingin menggunakan dompet digital.<br \/>\nUntuk mengatasi hambatan tersebut, tim mahasiswa turun tangan membantu pembuatan, registrasi, hingga edukasi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai solusi pembayaran digital utama di warung tersebut.<\/p>\n<p>Sebagai pelaku usaha, Ibu Lik&#8217;ami menyampaikan feedback dan harapannya pasca-pemberdayaan:<\/p>\n<p>&#8220;Awalnya saya ini gaptek dan takut kalau disuruh pakai uang digital. Saya pikir ribet dan uangnya susah dicairkan apalagi maraknya kasus penipuan berbasis digital. Tapi setelah didampingi sama mahasiswa dari UNTAG, ternyata pakai QRIS itu sangat mudah. Sekarang kalau ada anak sekolah atau anak muda mampir beli jajan dan mau bayar pakai HP, saya sudah tidak nolak lagi. Harapan saya, warung kelontong saya ini bisa semakin ramai, tidak kalah sama minimarket modern, dan semoga pembukuannya juga jadi lebih rapi karena semua transaksi langsung masuk ke rekening.&#8221;<\/p>\n<p>Sasaran kedua adalah Wonton Pak D, sebuah UMKM di sektor Food and Beverage (F&#038;B) yang berlokasi di Kecamatan Waru, Surabaya. Kompetisi di bidang kuliner kekinian sangatlah kejam. Wonton Pak D memiliki produk dengan cita rasa yang lezat namun sayangnya belum memiliki digital branding yang kuat. Tanpa visibilitas di dunia maya, Wonton Pak D merasa kesulitan menarik perhatian minat pasar milenial dan Gen Z.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-7.jpg\" alt=\"\" width=\"618\" height=\"323\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26353\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-7.jpg 618w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-7-300x157.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 618px) 100vw, 618px\" \/><\/p>\n<p>Solusi yang dihadirkan oleh tim mahasiswa adalah membangun dan mengelola digital branding Wonton Pak D melalui platform Instagram. Pendampingan meliputi pembuatan akun bisnis, penyusunan caption yang menarik, serta pembuatan konten yang menarik minat pasar.<\/p>\n<p>Mewakili keluh kesah dan harapan pelaku usaha kuliner, Pak D memberikan testimoninya:<\/p>\n<p>&#8220;Bisnis makanan sekarang itu saingannya sangat banyak. Kalau rasa saya berani adu, tapi kalau urusan promosi di internet, saya angkat tangan apalagi saya kurang update tentang teknologi seperti anak zaman sekarang. Semenjak dibantu dibuatkan Instagram dan diajari cara bikin konten sama teman-teman mahasiswa UNTAG Surabaya, usaha saya mulai dilirik banyak orang. Banyak pelanggan baru yang datang karena melihat postingan di Instagram. Harapan saya selaku owner ke depannya, Wonton Pak D bisa punya banyak cabang dan lebih dikenal di seluruh Surabaya &#8211; Sidoarjo, serta bisa konsisten ngonten supaya pelanggan makin setia.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA, JurnalPost.com \u2013 (12\/06\/2026) Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi pelaku UMKM lokal agar siap bersaing di ekosistem digital. Langkah nyata ini dimotori oleh tim mahasiswa yang beranggotakan Dwi Aditama Abimanyu, Dimitry Andryawan Wibowo, Muhammad Akmal Adani, Tegar Dwi Oktavianto, Axel Attilla [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26354,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-26352","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26352","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26352"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26352\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26354"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}