{"id":26346,"date":"2026-06-22T12:40:58","date_gmt":"2026-06-22T04:40:58","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26346"},"modified":"2026-06-22T12:40:58","modified_gmt":"2026-06-22T04:40:58","slug":"kenaikan-harga-bbm-akibat-ketegangan-global-pengaruhnya-pada-keseharian-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kenaikan-harga-bbm-akibat-ketegangan-global-pengaruhnya-pada-keseharian-masyarakat\/26346\/","title":{"rendered":"Kenaikan Harga BBM Akibat Ketegangan Global: Pengaruhnya pada Keseharian Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kenaikan-BBM.webp\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"562\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26347\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kenaikan-BBM.webp 1000w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kenaikan-BBM-300x169.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kenaikan-BBM-768x432.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Kenaikan-BBM-750x422.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p>Penulis: <strong>Fadli Uli Dhuha<br \/>\nMahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto <\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kenabahan bakar minyak belakangan ini menjadi topik yang ramai dibicarakan di berbagai lapisan masyarakat. Di warung-warung, di linimasa media sosial, hingga di ruang diskusi kampus, keluhan soal ongkos transportasi yang kian membengkak terus bermunculan. Situasi politik antarnegara yang tengah memanas kerap disebut sebagai salah satu biang keladinya.<\/p>\n<p>Bagi banyak orang, urusan geopolitik mungkin terasa terlalu tinggi dan tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Padahal pada dasarnya, geopolitik berbicara tentang bagaimana hubungan antarniegara dipengaruhi oleh kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan. Ketika ketegangan atau benturan terjadi di suatu kawasan, imbasnya bisa merembet ke berbagai bidang, termasuk sektor energi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p>Hingga kini, minyak bumi masih menjadi tulang punggung kebutuhan energi di banyak negara. Maka ketika konflik pecah di negara-negara penghasil minyak, kelancaran pasokan energi dunia pun terguncang. Harga minyak mentah di pasar internasional pun ikut bergejolak naik. Karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk sebagian kebutuhan minyaknya, gejolak harga di pasar dunia itu otomatis berpengaruh pada biaya pengadaan BBM di dalam negeri.<\/p>\n<p>Konflik Rusia-Ukraina menjadi salah satu contoh yang paling banyak diperbincangkan. Peperangan itu tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mengguncang tatanan perdagangan energi global. Rusia selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok minyak dan gas terbesar di dunia. Ketika jalur distribusi energinya terhambat akibat perang maupun tekanan sanksi ekonomi internasional, banyak negara terpaksa mencari sumber pasokan lain. Permintaan pun melonjak sementara ketersediaan menipis, sehingga harga minyak dunia ikut terkerek naik.<\/p>\n<p>Kenaikan harga minyak dunia menempatkan pemerintah pada posisi yang serba sulit. Di satu pihak, ada keinginan untuk menjaga agar harga BBM tetap terjangkau oleh rakyat. Di pihak lain, biaya pengadaan BBM yang harus ditanggung terus membengkak. Bila seluruh beban kenaikan itu ditutup dengan subsidi, keuangan negara bisa jebol. Namun bila harga disesuaikan mengikuti pasar, rakyatlah yang harus menanggung lonjakan biaya hidup.<\/p>\n<p>Dampak kenaikan BBM sejatinya tidak hanya menghantam kantong para pemilik kendaraan. Pengaruhnya merambat ke seluruh sendi perekonomian. Biaya distribusi barang ikut merangkak naik karena armada pengangkut memerlukan bahan bakar dalam jumlah besar. Ketika ongkos kirim membengkak, harga barang di pasaran pun cenderung terseret naik bersamanya, sehingga masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan sehari-hari.<\/p>\n<p>Mahasiswa yang setiap hari bolak-balik ke kampus pun turut merasakannya. Pengeluaran untuk bensin bertambah dibanding sebelumnya. Hal serupa dialami para pekerja yang harus menempuh jarak cukup jauh setiap harinya. Meski kenaikan per liter tampak kecil, bila dijumlahkan dalam sebulan angkanya cukup terasa bagi kondisi keuangan.<\/p>\n<p>Para pelaku usaha kecil juga tak luput terdampak. Pedagang keliling, pengemudi ojek, kurir, hingga nelayan kini menanggung biaya operasional yang lebih berat. Sebagian terpaksa mendongkrak harga jasa atau dagangan mereka agar roda usaha tetap berputar, meski langkah itu pun berisiko menurunkan daya beli pelanggan.<\/p>\n<p>Semua ini menunjukkan betapa dunia kini benar-benar saling terjalin satu sama lain. Konflik yang meletus di ujung dunia sekalipun ternyata bisa terasa dampaknya hingga ke kehidupan warga Indonesia, dalam wujud harga BBM yang naik dan biaya hidup yang kian berat.<\/p>\n<p>Di balik itu semua, kondisi ini sekaligus menjadi pengingat betapa pentingnya mengembangkan sumber energi alternatif. Ketergantungan yang berlebih pada bahan bakar fosil membuat sebuah negara mudah goyah setiap kali situasi global berubah. Karena itu, pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan angin perlu terus dipacu demi memperkuat ketahanan energi nasional.<\/p>\n<p>Sebagai masyarakat biasa, kita memang tidak bisa mengendalikan jalannya konflik di negara lain. Namun ada langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan, seperti menggunakan kendaraan secara lebih hemat, beralih ke angkutan umum, atau memangkas perjalanan yang kurang mendesak. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itu dapat meringankan beban pengeluaran di tengah harga BBM yang terus naik.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kenaikan harga BBM akibat gejolak geopolitik bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Di balik angka yang tertera di papan SPBU, tersimpan rangkaian faktor global yang saling berkelindan. Memahami keterkaitan itu dapat membantu kita melihat persoalan ini secara lebih jernih, bukan sekadar merasakan dampaknya, tetapi juga mengerti akar persoalan yang sesungguhnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Fadli Uli Dhuha Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto JurnalPost.com &#8211; Kenabahan bakar minyak belakangan ini menjadi topik yang ramai dibicarakan di berbagai lapisan masyarakat. Di warung-warung, di linimasa media sosial, hingga di ruang diskusi kampus, keluhan soal ongkos transportasi yang kian membengkak terus bermunculan. Situasi politik antarnegara yang tengah memanas kerap disebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26347,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26346","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26346","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26346"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26346\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26347"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}