{"id":26320,"date":"2026-06-22T08:40:13","date_gmt":"2026-06-22T00:40:13","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26320"},"modified":"2026-06-22T08:40:13","modified_gmt":"2026-06-22T00:40:13","slug":"ketika-emosi-mengalahkan-logika-dalam-dunia-investasi-konsep-psikologi-dan-perilaku-keuangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ketika-emosi-mengalahkan-logika-dalam-dunia-investasi-konsep-psikologi-dan-perilaku-keuangan\/26320\/","title":{"rendered":"Ketika Emosi Mengalahkan Logika, dalam Dunia Investasi; Konsep Psikologi dan Perilaku Keuangan"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_26321\" aria-describedby=\"caption-attachment-26321\" style=\"width: 1536px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/gambar-ilustrasi.jpeg\" alt=\"\" width=\"1536\" height=\"1024\" class=\"size-full wp-image-26321\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/gambar-ilustrasi.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/gambar-ilustrasi-300x200.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/gambar-ilustrasi-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/gambar-ilustrasi-768x512.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/gambar-ilustrasi-750x500.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/gambar-ilustrasi-1140x760.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1536px) 100vw, 1536px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-26321\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi saat emosi dan logika bisa memengaruhi pengambilan keputusan investasi.<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Ajeng Dwi Kurniati<\/strong><strong>\u00b9<\/strong><strong>, Ariella Aurellia Putri<\/strong><strong>\u00b2<\/strong><strong>, Monica Aprillina Dwiyanti<\/strong><strong>\u00b3<\/strong><strong>, Shabil Baihaqi<\/strong><strong>\u2074<\/strong><strong>, Suheni<\/strong><strong>\u2075<\/strong><strong>, Ria Aulia<\/strong><strong>\u2076<\/strong><br \/>\nProgram Studi Manajemen Program Sarjana, Universitas Pamulang<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pernahkah kita membeli sesuatu hanya karena sedang ramai dibicarakan banyak orang? Atau merasa takut kehilangan kesempatan ketika kita melihat orang lain memperoleh keuntungan besar? Perasaan seperti itu tidak hanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam dunia investasi. Tanpa kita sadari, keputusan seperti itu tidak selalu didasarkan pada logika, tetapi juga dipengaruhi oleh emosi dan kondisi psikologis seseorang.<\/p>\n<p>Kemudahan akses investasi membuat minat investor terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus lebih dari 20 juta investor pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya investasi semakin tinggi. Namun, peningkatan jumlah investor tersebut belum tentu diikuti oleh meningkatnya kualitas pengambilan keputusan investasi. Banyak investor yang tertarik karena mengikuti tren dan tergiur keuntungan besar, tanpa memahami risiko yang ada.<\/p>\n<p>Fenomena tersebut dijelaskan dalam konsep <em>Behavioral Finance<\/em>. Dalam teori ini, keputusan keuangan tidak selalu bersifat rasional karena dipengaruhi oleh faktor psikologis, seperti rasa takut, keinginan memperoleh keuntungan besar, hingga kecenderungan mengikuti tindakan orang lain. Kehadiran media sosial semakin memperkuat kondisi tersebut. Konten mengenai keuntungan investasi sering kali lebih menarik perhatian dibandingkan penjelasan mengenai risiko yang menyertainya. Berbagai perilaku tersebut tidak hanya terjadi dalam teori, tetapi juga dapat ditemukan dalam berbagai kasus nyata yang pernah terjadi di Indonesia. Pengaruh dari media sosial, figur publik, dan keinginan memperoleh keuntungan secara cepat sering kali membuat seseorang jadi mengabaikan risiko yang ada.<\/p>\n<p>Salah satu contoh yang sempat mendapat perhatian masyarakat adalah kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan pada tahun 2022. Keduanya sangat dikenal melalui media sosial karena sering menampilkan gaya hidup mewah dan cerita mengenai keuntungan besar dari aktivitas trading melalui platform Binomo dan Quotex. Hal tersebut membuat banyak masyarakat tertarik mengikuti jejak mereka dengan harapan mendapatkan keuntungan yang serupa. Namun, banyak orang yang mengikuti jejak mereka tanpa memahami risiko maupun mekanisme investasi yang sebenarnya. Keputusan diambil karena ingin mendapatkan keuntungan secara cepat serta kepercayaan yang berlebihan terhadap figur yang dianggap sukses.<\/p>\n<p>Kasus tersebut menunjukkan bahwa masalah terbesar dalam investasi tidak selalu berasal dari kurangnya modal atau informasi, tetapi juga dari ketidakmampuan mengendalikan emosi. Dalam konsep psikologi dan perilaku keuangan, kondisi tersebut mencerminkan <em>herding behavior<\/em>, yaitu kecenderungan mengikuti tindakan orang lain, serta <em>overconfidence bias<\/em> dan <em>authority bias<\/em> yang membuat seseorang terlalu percaya terhadap pihak yang dianggap berhasil.<\/p>\n<p>Menurut kami, investasi bukanlah jalan pintas untuk menjadi kaya. Keberhasilan dalam berinvestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memilih instrumen yang tepat, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan emosi dan berpikir secara rasional. Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial, literasi keuangan menjadi semakin penting agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh janji keuntungan besar yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, investasi bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan rasa takut, keserakahan, dan tekanan sosial. Sebab, keputusan yang diambil berdasarkan emosi sering kali justru membawa seseorang pada kerugian yang sebenarnya dapat dihindari sebelumnya.<\/p>\n<p><strong>Sumber: <\/strong><\/p>\n<p>Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). (2025). <em>Investor Pasar Modal RI Tembus 20,13 Juta SID pada 2025, Tumbuh 35 Persen<\/em>. Diakses dari IDX Channel: <a href=\"https:\/\/www.idxchannel.com\/market-news\/ksei-investor-pasar-modal-ri-tembus-2013-juta-sid-pada-2025-tumbuh-35-persen\">https:\/\/www.idxchannel.com\/market-news\/ksei-investor-pasar-modal-ri-tembus-2013-juta-sid-pada-2025-tumbuh-35-persen<\/a><\/p>\n<p>Kledo. (2024). <em>Behavioral Finance: Pengertian, Faktor, dan Contohnya<\/em>. Diakses dari Kledo: <a href=\"https:\/\/kledo.com\/blog\/behavioral-finance\/\">https:\/\/kledo.com\/blog\/behavioral-finance\/<\/a><\/p>\n<p>CNN Indonesia. (2022). <em>Korban investasi bodong Doni Salmanan histeris<\/em> [Video]. YouTube. <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=cazVN76nAHg\">https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=cazVN76nAHg<\/a><\/p>\n<p>Kompas.com. (2022). <em>Alasan korban ikut trading Binomo: Indra Kenz bilang legal dan aman, dia juga pamer rumah dan mobil mewah.<\/em> <a href=\"https:\/\/megapolitan.kompas.com\/read\/2022\/09\/01\/15201691\/alasan-korban-ikut-trading-binomo-indra-kenz-bilang-legal-dan-aman-dia-juga-pamer?page=all\">https:\/\/megapolitan.kompas.com\/read\/2022\/09\/01\/15201691\/alasan-korban-ikut-trading-binomo-indra-kenz-bilang-legal-dan-aman-dia-juga-pamer?page=all<\/a><\/p>\n<p>Liputan6.com. (2022). <em>Sidang kasus Quotex, Doni Salmanan didakwa merugikan korban investasi Rp24 miliar<\/em>. <a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/regional\/read\/5033719\/sidang-kasus-quotex-doni-salmanan-didakwa-merugikan-korban-investasi-rp24-miliar\">https:\/\/www.liputan6.com\/regional\/read\/5033719\/sidang-kasus-quotex-doni-salmanan-didakwa-merugikan-korban-investasi-rp24-miliar<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ajeng Dwi Kurniati\u00b9, Ariella Aurellia Putri\u00b2, Monica Aprillina Dwiyanti\u00b3, Shabil Baihaqi\u2074, Suheni\u2075, Ria Aulia\u2076 Program Studi Manajemen Program Sarjana, Universitas Pamulang JurnalPost.com &#8211; Pernahkah kita membeli sesuatu hanya karena sedang ramai dibicarakan banyak orang? Atau merasa takut kehilangan kesempatan ketika kita melihat orang lain memperoleh keuntungan besar? Perasaan seperti itu tidak hanya terjadi dalam kehidupan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26321,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26320","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26320","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26320"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26320\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26321"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26320"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26320"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26320"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}