{"id":26293,"date":"2026-06-20T21:49:19","date_gmt":"2026-06-20T13:49:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26293"},"modified":"2026-06-20T21:49:19","modified_gmt":"2026-06-20T13:49:19","slug":"melemahnya-rupiah-dan-tantangan-menjaga-kepercayaan-publik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/melemahnya-rupiah-dan-tantangan-menjaga-kepercayaan-publik\/26293\/","title":{"rendered":"Melemahnya Rupiah dan Tantangan Menjaga Kepercayaan Publik"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : <strong>Dewi Elita Sari<br \/>\nFakultas Hukum Universitas Airlangga <\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_26295\" aria-describedby=\"caption-attachment-26295\" style=\"width: 512px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-14.png\" alt=\"\" width=\"512\" height=\"282\" class=\"size-full wp-image-26295\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-14.png 512w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-14-300x165.png 300w\" sizes=\"(max-width: 512px) 100vw, 512px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-26295\" class=\"wp-caption-text\">Martin Bagya Kertiyasa &#8211; Okezone Ilustrasi. (Foto: Heru\/Okezone)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Beberapa waktu terakhir, pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perbincangan hangat. Di media sosial, tangkapan layar kurs dolar Amerika Serikat dibagikan berulang kali, disertai beragam komentar yang bernada cemas, pesimistis, bahkan menyimpulkan bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Ironisnya, banyak perbincangan tersebut berlangsung tanpa disertai penjelasan yang utuh mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar. Akibatnya, yang berkembang bukan hanya informasi, tetapi juga spekulasi.<\/p>\n<p>Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, isu ekonomi tidak lagi sekadar berkaitan dengan angka dan data. Cara suatu informasi disampaikan dan diterima publik seringkali memiliki pengaruh yang sama besarnya. Ketika informasi yang beredar hanya berupa potongan data tanpa konteks yang memadai, masyarakat cenderung membentuk kesimpulan berdasarkan dugaan. Dalam kondisi tertentu, dugaan tersebut dapat berkembang menjadi kegelisahan publik.<\/p>\n<p>Padahal, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, kebijakan moneter negara lain, hingga dinamika pasar keuangan internasional. Persoalannya, penjelasan yang kompleks sering kali kalah menarik dibandingkan narasi yang sederhana dan sensasional. Tidak mengherankan apabila unggahan yang menggugah emosi lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang disertai penjelasan yang utuh. Di sinilah tantangannya: publik membutuhkan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat.<\/p>\n<p>Perkembangan media sosial juga telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Jika dahulu informasi ekonomi lebih banyak diperoleh melalui media massa atau lembaga resmi, kini informasi dapat datang dari berbagai akun yang belum tentu memiliki kompetensi atau kredibilitas yang memadai. Tidak jarang, suatu informasi menjadi viral bukan karena akurat, melainkan karena mampu menarik perhatian dan memancing reaksi publik. Akibatnya, batas antara informasi, opini, dan spekulasi sering kali menjadi kabur.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak yang lebih luas dari yang dibayangkan. Ketika masyarakat terus-menerus menerima informasi yang bernada negatif tanpa penjelasan yang memadai, rasa khawatir dapat berkembang menjadi ketidakpercayaan. Dalam situasi tertentu, menurunnya kepercayaan publik dapat memengaruhi cara masyarakat memandang kebijakan pemerintah maupun kondisi ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, penyampaian informasi yang akurat tidak hanya penting untuk memberikan pemahaman yang benar, tetapi juga untuk menjaga stabilitas sosial.<\/p>\n<p>Dari sudut pandang hukum, persoalan ini berkaitan erat dengan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Hak tersebut merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis. Namun, hak untuk memperoleh informasi yang benar harus berjalan seiring dengan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Kebebasan berpendapat tidak dapat dijadikan alasan untuk menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terlebih apabila informasi tersebut berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.<\/p>\n<figure id=\"attachment_26294\" aria-describedby=\"caption-attachment-26294\" style=\"width: 410px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-3.png\" alt=\"\" width=\"410\" height=\"231\" class=\"size-full wp-image-26294\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-3.png 410w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar2-3-300x169.png 300w\" sizes=\"(max-width: 410px) 100vw, 410px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-26294\" class=\"wp-caption-text\">Dollar menguat, rupiah melemah. Sumber foto: www.detik.com<\/figcaption><\/figure>\n<p>Dalam perspektif hukum, negara juga memiliki tanggung jawab untuk menjamin hak masyarakat atas informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Tanggung jawab tersebut tidak selalu diwujudkan melalui pemberian sanksi, tetapi juga melalui upaya menghadirkan informasi yang transparan dan mudah diakses oleh publik. Ketika informasi resmi tersedia secara jelas dan cepat, ruang bagi munculnya spekulasi dapat diminimalkan sehingga masyarakat memiliki dasar yang lebih kuat dalam memahami suatu persoalan.<\/p>\n<p>Di sisi lain, tanggung jawab menjaga kualitas informasi tidak hanya berada di tangan pemerintah atau media. Masyarakat juga memiliki peran untuk lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi. Kemudahan mengakses informasi seharusnya diikuti dengan kebiasaan memeriksa sumber dan memahami konteks sebelum menarik kesimpulan. Sikap kritis menjadi penting agar ruang publik tidak mudah dipenuhi oleh informasi yang menyesatkan atau menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, pelemahan rupiah tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan ekonomi semata. Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, informasi memiliki peran besar dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu keadaan. Ketika informasi yang beredar lebih banyak diwarnai spekulasi daripada penjelasan yang utuh, yang dipertaruhkan bukan hanya pemahaman masyarakat terhadap kondisi ekonomi, tetapi juga kepercayaan publik itu sendiri. Oleh karena itu, penyampaian informasi yang akurat, sikap kritis masyarakat, dan keterbukaan informasi dari pihak yang berwenang menjadi hal yang penting untuk menjaga ruang publik yang sehat dan kondusif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Dewi Elita Sari Fakultas Hukum Universitas Airlangga JurnalPost.com &#8211; Beberapa waktu terakhir, pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perbincangan hangat. Di media sosial, tangkapan layar kurs dolar Amerika Serikat dibagikan berulang kali, disertai beragam komentar yang bernada cemas, pesimistis, bahkan menyimpulkan bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Ironisnya, banyak perbincangan tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26295,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26293","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26293","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26293"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26293\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26293"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26293"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26293"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}