{"id":26060,"date":"2026-06-15T14:01:35","date_gmt":"2026-06-15T06:01:35","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26060"},"modified":"2026-06-15T14:01:35","modified_gmt":"2026-06-15T06:01:35","slug":"darurat-budaya-jika-tradisi-hanya-menjadi-sebuah-pajangan-dan-komoditas-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/darurat-budaya-jika-tradisi-hanya-menjadi-sebuah-pajangan-dan-komoditas-negara\/26060\/","title":{"rendered":"DARURAT BUDAYA, JIKA TRADISI HANYA MENJADI SEBUAH  PAJANGAN DAN KOMODITAS NEGARA"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Indonesia merupakan negara yang besar serta memiliki keragaman suku,ras,serta kebudayaan nya yang berbeda. Dengan kekentalan budaya nya seharusnya dan sebaiknya pula masyarakat Indonesia dapat mewarisi dan mempelajari dari banyaknya keragaman di negara Indonesia dan yang di harapkan dapat mewarisi budaya Indonesia adalah generasi mudanya. Karna dalam hal ini generasi muda merupakan elemen yang krusial dalam hal mewariskan budaya Indonesia, budaya merupakan identitas dan jati diri bangsa yang membedakan Indonesia dengan negara lain di Tengah arus globalisasi. Namun realita yang ada generasi muda Indonesia justru terdampak oleh arus globalisasi seperti tersebarnya informasi informasi tentang budaya budaya luar negeri. Namun tetapi generasi muda tidak dapat menerima informasi dengan baik. Dengan terjadinya situasi seperti ini membuat warga negara Indonesia kehilangan jati diri mereka sebagai  warga negara Indonesia, karena sejatinya budayalah yang menjadikan Indonesia sebagai identitas budayanya, namun kenyataan yang ada menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia terutama generasi muda justru tidak ingin mempelajari dan mewarisi kebudayaan Indonesia dan hasil dari situasi tersebut adalah banyaknya keragaman budaya di setiap wilayah Indonesia menjadi hilang atau tergerus seiring berkembangnya zaman. <\/p>\n<p>Generasi muda Indonesia kini telah terdampak oleh globalisasi, memang benar bahwa globalisasi itu memiliki dampak positif seperti informasi yang tersebar dengan luas dan cepat. Namun, di Indonesia justru masyarakatnya tidak dapat mengelola informasi yang kuat tentang kebudayan negara lain dengan benar. Sehingga mengakibatkan terbawanya arus globalisasi yang buruk. Hal itu seharusnya tidak boleh membuat generasi muda atau masyarakat Indonesia menjadi terpengaruh oleh budaya luar negeri. Tak bisa di pungkiri bahwa pengaruh internet sangatlah kuat dalam hal globalisasi, ditambah yang mana generasi sekarang hampir setiap hari menggunakan internet. Hal itulah yang membuat generasi muda Indonesia menjadi mudah terpengaruh budaya asing serta mereka memiliki pandangan atau perspektif kuno terhadap budaya Indonesia, karena dari seringnya melihat  kebudayaan negara lain dan mereka tidak dapat menerima informasi hal itu dengan baik justru terbawa arus kebudayaan asing yang mengakibatkan generasi muda memiliki pandangan buruk terhadap keragaman budaya yang ada di Indonesia, seperti memandang tradisi budaya sendiri itu tradisi yang ketinggalan atau suatu hal yang kuno yang tidak relevan lagi untuk dipelajari. <\/p>\n<p>Dapat kita lihat bahwa trend barat  dan trend korea telah membawa pengaruh yang drastis kepada generasi muda di Indonesia. Yang dimana generasi muda Indonesia menjadi kehilangan jati dirinya dalam hal kebudayaan lokal. Dapat kita spesifikan lagi permasalahannya bahwa saat ini trend korea seperti anak anak saat ini kerap suka sekali dengan artis artis korea dan menjadikannya idol serta mempelajari budaya budaya korea Selatan. Ini merupakan sebuah perubahan drastis dalam hal pengaruh budaya asing terhadap budaya lokal, yang dimana dampak dari budaya asing tersebut membuat ajaran budaya lokal itu menjadi terkikis atau bahkan menghilang. Indonesia dipandang memiliki budaya yang kental serta dikenal dengan budaya sopan santun yang tinggi. Namun dengan perkembangannya zaman budaya sopan santun menjadi pudar, banyak anak anak zaman sekarang yang tidak mengerti nilai sopan santun. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan zaman dahulu yang dimana nilai sopan santun itu sangat amat dipandang oleh orang orang dahulu, namun disaat ini kondisi zaman sudah berbeda yang dimana pengaruh budaya asing sangat kuat efeknya yang membuat generasi Indonesia tidak dapat memfilterisasi yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. <\/p>\n<p>Indonesia memiliki ciri khas karakter yang sangat sopan dan bertutur kata yang santun. Namun saat ini nilai kebudayaan itu mulai memudar karna kuatnya arus globalisasi yang membuat nilai nilai sopan santun Nusantara pudar, hal ini yang menjadikan salah satu krisis nyata di masyarakat Indonesia. Budaya yang sejak dulu dikenal menjujung tinggi kesantunan, kelembutan berbicara serta tata krama mulai perlahan tergerus oleh perubahan zaman serta pengaruh globalisasi yang begitu kuat. Akibatnya, identitas budaya Indonesia yang kaya akan etika dan sopan santun semakin terkikis, bahkan mulai kehilangan relevansinya dalam kehidupan sehari hari dan hal ini dapat membuat hilangnya culture budaya pada generasi muda Dengan kuatnya arus globalisasi yang dimana generasi muda juga tidak dapat menyaring dan menerima dengan baik membuat culture budaya Indonesia pada generasi muda itu terkikis. <\/p>\n<p>Justru harus dipikirkan dengan matang bagaimana mencari jalan keluar dan Menyusun strategi yang baik dalam menghadapi tekanan globalisasi dan situasi seperti saat ini. Strategi penyelamatan budaya Indonesia tidak seharusnya dilakukan dengan menolak pengaruh luar, akan tetapi dapat dengan mengadaptasi dan menguatkan nilai lokal agar tetap menjadikan budaya Indonesia merupakan suatu hal yang masih relevan untuk dipelajari bagi generasi muda. Salah satu langkah efektif adalah memperbanyak pembelajaran budaya yang dikemas secara menarik dan kontekstual seperti melalui pameran atau festival budaya, sehingga mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan kebanggaan terhadap identitas bangsa. Selain itu, informasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan menempatkan nilai nilai budaya yang sifatnya bukan hanya sebagai hafalan, akan tetapi sebagai pedoman berpikir dan berperilaku dalam kehidupann sehari hari. Satuan pendidikan juga harus berperan akktif dengan mendorong siswa untuk mempraktikkan nilai budaya tersebut baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Disisi lain, kontribusi pemerintah merupakan  suatu hal yang krusial dan pemerintah dalam situasi ini memiliki peran yang strategis dalam merancang kebijakan yang mendukung pelestarian budaya.  <\/p>\n<p>Dapat dilihat kondisi yang telah dibahas sebelumnya bahwa arus globalisasi memang membawa banyak perubahan, tapi juga jadi tantangan besar buat budaya Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Banyak dari mereka yang mulai kurang peduli bahkan menganggap budaya sendiri itu kuno dan tidak menarik. Kalau dibiarkan, lama-lama identitas bangsa bisa semakin hilang. Tapi bukan berarti kita harus menolak budaya luar, melainkan perlu lebih bijak dalam menyikapinya dengan tetap menjaga dan memperkuat budaya sendiri. Caranya bisa lewat pembelajaran budaya yang lebih menarik, penerapan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari, serta dukungan dari sekolah dan pemerintah. Dengan begitu, budaya Indonesia tetap bisa hidup dan berkembang, tanpa harus kalah oleh perkembangan zaman.<\/p>\n<p>REFERENSI.<br \/>\nhttps:\/\/www.kompasiana.com\/febra63154\/6448aa37a7e0fa69272a8172\/artikel-opini-krisis-budaya-yang-terjadi-di-indonesia <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Indonesia merupakan negara yang besar serta memiliki keragaman suku,ras,serta kebudayaan nya yang berbeda. Dengan kekentalan budaya nya seharusnya dan sebaiknya pula masyarakat Indonesia dapat mewarisi dan mempelajari dari banyaknya keragaman di negara Indonesia dan yang di harapkan dapat mewarisi budaya Indonesia adalah generasi mudanya. Karna dalam hal ini generasi muda merupakan elemen yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26060","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26060","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26060"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26060\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26060"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26060"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26060"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}