{"id":26057,"date":"2026-06-15T00:36:10","date_gmt":"2026-06-14T16:36:10","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26057"},"modified":"2026-06-15T00:36:10","modified_gmt":"2026-06-14T16:36:10","slug":"dari-ruang-kelas-menjadi-puing-korban-anak-anak-dan-warga-sipil-dalam-rapuhnya-jaminan-hukum-humaniter-internasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dari-ruang-kelas-menjadi-puing-korban-anak-anak-dan-warga-sipil-dalam-rapuhnya-jaminan-hukum-humaniter-internasional\/26057\/","title":{"rendered":"Dari Ruang Kelas Menjadi Puing: Korban Anak-Anak dan Warga Sipil dalam Rapuhnya Jaminan Hukum Humaniter Internasional"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_26058\" aria-describedby=\"caption-attachment-26058\" style=\"width: 535px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-3.png\" alt=\"\" width=\"535\" height=\"356\" class=\"size-full wp-image-26058\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-3.png 535w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-3-300x200.png 300w\" sizes=\"(max-width: 535px) 100vw, 535px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-26058\" class=\"wp-caption-text\">Sumber Foto: Abbas Zakeri\/Mehr News\/WANA via Reuters<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Penulis:<\/strong> Zahra Ananta<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pada pukul 10.45 pagi, ratusan anak masih mengikuti kegiatan belajar di Sekolah Dasar Perempuan Shajareh Tayyebeh, Minab, Iran. Namun, suasana sekolah berubah menjadi tragedi ketika serangan rudal Amerika Serikat menghantam kawasan tersebut. Menurut laporan <em>Amnesty International<\/em>, serangan itu menewaskan 100 anak, terdiri dari 66 anak laki-laki dan 54 anak perempuan, serta 26 guru dan 4 orang tua yang berada di lokasi.<\/p>\n<p>Serangan tersebut merupakan bagian dari <em>Operasi Epic Fury<\/em> yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Kedua negara menyatakan bahwa operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran, pangkalan rudal balistik, dan markas <em>Islamic Revolutionary Guard Corps<\/em> (IRGC). Tindakan tersebut dibenarkan sebagai bentuk <em>self-defense<\/em> terhadap ancaman keamanan yang dianggap berasal dari Iran.<\/p>\n<p>Namun, narasi tersebut mulai dipertanyakan ketika dampak kemanusiaan di lapangan terungkap. <em>Amnesty International<\/em> mencatat 168 korban jiwa dalam serangan di Minab. Sementara itu, <em>International<\/em> <em>Federation of<\/em> <em>Red Cross and Red Crescent Societies <\/em>melaporkan lebih dari 113.000 lokasi sipil mengalami kerusakan, termasuk sekitar 90.000 rumah, 760 fasilitas pendidikan, dan 18 fasilitas kemanusiaan. Secara keseluruhan, sedikitnya 1.900 orang tewas dan 20.000 lainnya mengalami luka-luka.<\/p>\n<p>Dalam perspektif Hukum Humaniter Internasional (HHI), peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius. HHI yang berlandaskan Konvensi Jenewa dan Konvensi Den Haag mewajibkan perlindungan terhadap warga sipil dan objek sipil selama konflik bersenjata. Konvensi Jenewa IV Pasal 27 menegaskan kewajiban melindungi penduduk sipil, sedangkan Konvensi Den Haag melarang serangan terhadap bangunan yang memiliki nilai kemanusiaan, termasuk institusi pendidikan.<\/p>\n<p>Jika ditinjau dari prinsip-prinsip HHI, terdapat beberapa persoalan yang patut diperhatikan. Prinsip distinction mengharuskan pihak yang berperang membedakan target militer dan objek sipil. Ketika sekolah yang sedang beroperasi menjadi sasaran serangan, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana prinsip tersebut diterapkan. Prinsip <em>proportionality<\/em> juga menjadi sorotan karena tingginya jumlah korban sipil dan kerusakan infrastruktur publik menimbulkan perdebatan mengenai keseimbangan antara keuntungan militer dan kerugian kemanusiaan. Selain itu, prinsip <em>precaution <\/em>mewajibkan setiap pihak mengambil langkah untuk meminimalkan dampak terhadap warga sipil, terutama ketika serangan dilakukan di kawasan yang masih dihuni dan digunakan masyarakat.<\/p>\n<p>Amerika Serikat mendasarkan tindakannya pada Pasal 51 Piagam PBB yang mengatur hak pembelaan diri. Namun, dalam hukum internasional, penggunaan <em>self-defense<\/em> harus memenuhi prinsip <em>necessity, proportionality, <\/em>dan<em> immediacy.<\/em> Di sisi lain, Iran menolak klaim tersebut dan menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bagaimana hukum internasional sering kali berbenturan dengan kepentingan geopolitik.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, konflik ini tidak hanya menimbulkan krisis kemanusiaan, tetapi juga mempertanyakan efektivitas hukum internasional dalam melindungi warga sipil. Oleh karena itu, diperlukan investigasi independen di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menilai apakah prinsip-prinsip HHI telah diterapkan secara memadai. Sebab, apabila serangan terhadap sekolah dan anak-anak dapat terjadi tanpa akuntabilitas yang jelas, maka kredibilitas hukum humaniter internasional sebagai pelindung kemanusiaan akan semakin dipertanyakan.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka <\/strong><\/p>\n<p>Abdallah, N. (2026, March 3). How many people have been killed in the Iran war? <em>Reuters <\/em>. https:\/\/www.reuters.com\/world\/middle-east\/how-many-people-have-been-killed-us-israel-war-iran-2026-04-07\/<\/p>\n<p>Aljazeera. (2026, February 28). US, Israel launch attack on Iran, explosions in Israel, Arab states. <em>Al-Jazeera<\/em>.<\/p>\n<p>Amnesty International. (2026, March 16). <em>USA\/Iran: Those responsible for deadly and unlawful US strike on school that killed over 100 children must be held accountable<\/em>. https:\/\/www.amnesty.org\/en\/latest\/news\/2026\/03\/usa-iran-those-responsible-for-deadly-and-unlawful-us-strike-on-school-that-killed-over-100-children-must-be-held-accountable\/<\/p>\n<p>Britannica. (2026, April 8). 2026 Iran War . <em>Britannica<\/em>. https:\/\/www.britannica.com\/event\/2026-Iran-war<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Zahra Ananta JurnalPost.com &#8211; Pada pukul 10.45 pagi, ratusan anak masih mengikuti kegiatan belajar di Sekolah Dasar Perempuan Shajareh Tayyebeh, Minab, Iran. Namun, suasana sekolah berubah menjadi tragedi ketika serangan rudal Amerika Serikat menghantam kawasan tersebut. Menurut laporan Amnesty International, serangan itu menewaskan 100 anak, terdiri dari 66 anak laki-laki dan 54 anak perempuan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26058,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26057","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26057","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26057"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26057\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26058"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26057"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26057"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26057"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}