{"id":26049,"date":"2026-06-15T00:31:05","date_gmt":"2026-06-14T16:31:05","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26049"},"modified":"2026-06-15T00:31:05","modified_gmt":"2026-06-14T16:31:05","slug":"dampak-perubahan-iklim-ekstrem-di-kawasan-sahel-krisis-ekologi-ketahanan-pangan-dan-masa-depan-jutaan-jiwa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dampak-perubahan-iklim-ekstrem-di-kawasan-sahel-krisis-ekologi-ketahanan-pangan-dan-masa-depan-jutaan-jiwa\/26049\/","title":{"rendered":"DAMPAK PERUBAHAN IKLIM EKSTREM DI KAWASAN SAHEL: Krisis Ekologi, Ketahanan Pangan, dan Masa Depan Jutaan Jiwa"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_26050\" aria-describedby=\"caption-attachment-26050\" style=\"width: 423px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-26050\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1.webp\" alt=\"\" width=\"423\" height=\"237\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1.webp 423w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-300x168.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 423px) 100vw, 423px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-26050\" class=\"wp-caption-text\">kondisi lahan kering di Kawasan Sahel. <a href=\"https:\/\/www.wfp.org\/stories\/niger-shows-how-wfp-and-partners-can-transform-lives-africas-harsh-sahel\">WFP\/Souleymane Ag Anara (2023)<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh : Zahra Zamaya, Raisyah Rimosan, Siti Damayanti,<br \/>\nIlmu Hubungan Internasional, Fakultas Bisnis dan Humaniora,<br \/>\nUniversitas Teknologi Yogyakarta<\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><\/p>\n<p>Kawasan Sahel merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim global, ditandai oleh percepatan pemanasan suhu yang melampaui rata-rata dunia, meningkatnya variabilitas curah hujan, serta eskalasi frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem. Artikel ini mengkaji dampak multidimensional perubahan iklim ekstrem di Sahelmeliputi dimensi ekologi, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, konflik sosial, dan perpindahan paksamelalui sintesis literatur ilmiah terkini. Temuan menunjukkan bahwa perubahan iklim bekerja sebagai <em>threat multiplier<\/em> yang memperburuk kerawanan struktural masyarakat Sahel: kekeringan dan banjir mengancam produksi pangan 100 juta jiwa, kelangkaan sumber daya memperdalam konflik antarkomunitas, dan perluasan habitat vektor memperpanjang musim penularan malaria. Pada 2023, sekitar 34,5 juta orang di delapan negara Sahel membutuhkan bantuan kemanusiaan daruratdengan kebutuhan pendanaan USD 4,6 miliar yang hanya terpenuhi 29%. Artikel ini berargumen bahwa penanganan krisis iklim di Sahel memerlukan respons terintegratif dan komitmen pendanaan internasional yang proporsional.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci<\/strong><strong>: <\/strong><em>perubahan iklim ekstrem; Kawasan Sahel; ketahanan pangan; migrasi iklim; desertifikasi; kesehatan masyarakat<\/em><\/p>\n<p><strong>I. PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nTiga puluh empat juta jiwa. Itulah angka yang dilaporkan UN OCHA (2023) sebagai jumlah penduduk yang membutuhkan bantuan kemanusiaan darurat di delapan negara Kawasan Sahel pada 2023sebuah angka yang setara dengan seluruh populasi Malaysia. Dan di balik angka itu tersembunyi satu penyebab yang semakin tidak dapat disangkal: perubahan iklim. Kawasan Sahel, sabuk semi-kering yang membentang lebih dari 5.400 kilometer dari pantai Samudra Atlantik di barat hingga Tanduk Afrika di timur, kini berdiri di persimpangan antara kerentanan ekologis yang akut dan akselerasi krisis iklim yang tak terbendung.<\/p>\n<p>Kawasan yang meliputi Mauritania, Senegal, Mali, Burkina Faso, Niger, Nigeria bagian utara, Chad, Sudan, hingga Eritrea ini telah lama menjadi rumah bagi lebih dari 100 juta jiwa yang menggantungkan keberlangsungan hidup pada pertanian subsisten dan peternakan nomadikdua sistem penghidupan dengan satu titik kelemahan yang sama: ketergantungan mutlak pada ritme musim hujan yang kini semakin tidak dapat diandalkan (Acosta et al., 2024). Di sinilah letak ironi yang paling menyayat hati: masyarakat Sahel, yang hampir tidak berkontribusi pada emisi karbon global, justru menanggung dampak perubahan iklim yang paling mematikan di bumi.<\/p>\n<p><strong>II. KETIKA MUSIM HUJAN TAK BISA DIPERCAYA LAGI<\/strong><br \/>\nDalam tatanan iklim global, Sahel memikul beban yang tidak proporsional. Antara periode 1961\u20131990 dan 1991\u20132022, tingkat pemanasan di kawasan ini meningkat dari +0,2\u00b0C menjadi +0,3\u00b0C per dekademenjadikan Sahel salah satu climate hotspot paling kritis di bumi (Sy et al., 2024). Laju pemanasan yang melampaui rata-rata global ini dipicu oleh umpan balik ekologis lokal: desertifikasi dan penggundulan hutan mengurangi kapasitas tanah menyerap karbon sekaligus mempercepat pemanasan dalam siklus yang sulit diputus.<\/p>\n<p>Literatur ilmiah mendokumentasikan dua tren iklim yang paradoks namun sama-sama mengancam di Sahel: meningkatnya frekuensi dan durasi kekeringan di satu sisi, dan meningkatnya intensitas curah hujan ekstrem serta banjir di sisi lain (IPCC, 2023). Sebuah studi penting dalam Science Advances (Wane et al., 2025) bahkan memperingatkan kemungkinan kembalinya kekeringan dahsyat di Sahel bagian baratmengingatkan dunia pada tragedi kemanusiaan dekade 1970-an dan 1980-an yang menewaskan ratusan ribu jiwa. Proyeksi di bawah skenario emisi tinggi memperkirakan suhu rata-rata Sahel dapat melonjak 3\u00b0C hingga 5\u00b0C di atas tingkat pra-industri pada akhir abad inisebuah ambang batas yang berpotensi membuat sebagian wilayah Sahel tidak dapat dihuni secara manusiawi.<\/p>\n<p><strong>III. DARI LADANG KE MEJA MAKAN: HANCURNYA KETAHANAN PANGAN<\/strong><br \/>\nDampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan di Sahel bekerja melalui tiga jalur utama yang saling memperkuat: degradasi lahan yang mengurangi produktivitas tanah secara permanen, gangguan siklus hidrologi yang memengaruhi ketersediaan air irigasi, serta pergeseran musim tanam yang memaksa petani memilih antara berbagai pilihan yang sama-sama berisiko (Amrit et al., 2024). Data FAO (2023) mengungkapkan bahwa sektor pertanian menyerap lebih dari 65% total dampak ekonomi dari kekeringan di kawasan inicerminan betapa dalamnya ketergantungan ekonomi masyarakat pada hasil bumi.<\/p>\n<p>Proyeksi OECD (2022) memperkirakan penurunan rata-rata hasil panen sebesar 11% pada 2050, bahkan dalam skenario emisi yang moderat. Bagi komunitas yang sudah menghadapi kerawanan pangan kronis, margin sesempit ini tidak memberikan ruang pemulihan. Kajian Sy et al. (2024) di Brookings Institution menegaskan bahwa pada negara-negara Sahel yang dilanda konflikseperti Mali, Burkina Faso, dan Nigerkrisis pangan diperdalam lebih lanjut oleh penghancuran infrastruktur pertanian dan pengungsian paksa komunitas petani dari lahan produktif mereka.<\/p>\n<p><strong>IV. DARI KELANGKAAN KE KONFLIK: IKLIM SEBAGAI PEMICU KEKERASAN<\/strong><br \/>\nSalah satu mekanisme paling destruktif namun paling sering diabaikan adalah peran kelangkaan sumber daya iklim sebagai katalis konflik sosial. Ketika lahan subur dan sumber air menyusut akibat perubahan iklim, kompetisi antara komunitas petani menetap dan peternak nomadik meningkat secara dramatis. Eboreime et al. (2025) dalam The Journal of Climate Change and Health menguraikan bagaimana perubahan iklim berfungsi sebagai threat multiplier yang memperkuat tegangan etnis dan ekonomi yang selama ini laten, mendorong gelombang konflik bersenjata dan pengungsian paksa yang mendestabilisasi seluruh sub-kawasan.<\/p>\n<p>Tidak hanya pada konflik antarkomunitas lokal, tekanan iklim juga memperburuk rekrutmen kelompok-kelompok bersenjata di kawasan ini dari kalangan pemuda pedesaan yang kehilangan mata pencaharian. Hasilnya adalah lingkaran setan yang mengerikan: konflik menghambat kegiatan pertanian dan distribusi bantuan pangan, yang memperburuk kerawanan pangan, yang kemudian mendorong lebih banyak perpindahan penduduk, yang menciptakan tekanan baru di tempat pengungsian (Eboreime et al., 2025; Dugas, 2025).<\/p>\n<p><strong>V. DIMENSI KESEHATAN: EPIDEMIOLOGI DI TENGAH KRISIS IKLIM<\/strong><br \/>\nPerubahan iklim di Sahel juga meninggalkan jejak pada kesehatan masyarakat. Jambou et al. (2022) mendokumentasikan pergeseran signifikan dalam epidemiologi malaria: peningkatan intensitas banjir pasca-musim hujan menciptakan genangan yang menjadi habitat ideal bagi nyamuk Anopheles, sehingga penularan malaria kini meluas hingga musim kemarau dan menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya terlalu kering. Tinjauan sistematis Acosta et al. (2024) di enam negara Sahel mengonfirmasi bahwa perubahan iklim memperburuk tidak hanya malaria, tetapi juga penyakit diare akibat kontaminasi banjir, malnutrisi akut pada anak di bawah lima tahun, kematian ibu dan bayi, serta penyakit zoonosissemua di atas fondasi sistem kesehatan yang sudah sangat rapuh.<\/p>\n<p><strong>VI. RESPONS GLOBAL: JANJI YANG BELUM DITEPATI<\/strong><br \/>\nDi tengah krisis berlapis ini, berbagai aktor internasional telah mengembangkan pendekatan adaptasi inovatif. Magnan et al. (2024) dalam Frontiers in Climate mengevaluasi pendekatan anticipatory actionsistem peringatan dini berbasis data ilmiah yang digabungkan dengan dana darurat yang telah diposisikan sebelumnya, sehingga tindakan mitigasi diambil sebelum bencana terjadi. Pendekatan ini terbukti lebih efisien secara biaya dan lebih efektif melindungi penghidupan masyarakat dibanding respons tanggap darurat konvensional.<br \/>\nNamun kesenjangan antara kebutuhan dan kenyataan tetap menganga. Dari total kebutuhan pendanaan kemanusiaan sebesar USD 4,6 miliar untuk delapan negara Sahel pada 2023, hanya 29% yang berhasil terpenuhi hingga Agustus tahun yang sama (UN OCHA, 2023). Pernyataan bersama COP28 (UNCCD, 2023) memang menegaskan urgensi percepatan pendanaan adaptasi dan loss and damage, namun implementasi di lapangan masih jauh dari memadai.<\/p>\n<p><strong>VII. KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nPerubahan iklim ekstrem di Kawasan Sahel bukan sekadar persoalan lingkungania adalah krisis kemanusiaan, krisis ketahanan pangan, krisis kesehatan, dan krisis keamanan yang terjadi bersamaan dan saling memperburuk. Ironi paling mendasar dari krisis ini adalah ketidakadilan ekologis yang mencolok: masyarakat Sahel menanggung dampak paling berat dari sebuah krisis yang hampir seluruhnya diciptakan oleh negara-negara industri maju.<\/p>\n<p>Sahel bukan sekadar krisis jauh di sana yang bisa ditonton dari jarak aman. Ia adalah cermin dari kegagalan kolektif umat manusia dalam menepati janji-janji iklim yang telah berulang kali diikrarkan. Setiap ton karbon yang terus diemisikan hari ini adalah kontribusi nyata pada kehancuran yang dirasakan hari ini juga oleh seorang ibu di Niger yang tidak mampu memberi makan anaknya, oleh seorang petani di Burkina Faso yang menyaksikan ladangnya berubah menjadi debu, oleh seorang anak di Chad yang lahir ke dalam dunia yang semakin tidak memberikan masa depan. Keadilan iklim bukan sekadar prinsip moralia adalah kewajiban mendesak yang tidak bisa lagi ditunda.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>Acosta, D., Barrow, A., Mahamadou, I. S., Assuncao, V. S., Edwards, M. E., &amp; McKune, S. L. (2024). Climate change and health in the Sahel: A systematic review. Royal Society Open Science, 11(7), 231602. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1098\/rsos.231602\">https:\/\/doi.org\/10.1098\/rsos.231602<\/a><\/p>\n<p>Amrit, C., et al. (2024). Literature review of food insecurity in the Sahel from an interdisciplinary perspective. Journal of Decision Systems, 33(sup1), 400\u2013412. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1080\/12460125.2024.2354640\">https:\/\/doi.org\/10.1080\/12460125.2024.2354640<\/a><\/p>\n<p>Dugas, S. (2025). Droughts, destruction, and displacement: How climate change exacerbates violence in the Sahel. Osmosis Magazine, 2025(1), Article 11. <a href=\"https:\/\/scholarship.richmond.edu\/osmosis\/vol2025\/iss1\/11\">https:\/\/scholarship.richmond.edu\/osmosis\/vol2025\/iss1\/11<\/a><\/p>\n<p>Eboreime, E., Anjorin, O., Obi-Jeff, C., Ojo, T. M., &amp; Hertelendy, A. (2025). Climate, conflict and displacement in the Sahel. Bulletin of the World Health Organization, 103(4). <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.2471\/BLT.24.292700\">https:\/\/doi.org\/10.2471\/BLT.24.292700<\/a><\/p>\n<p>Eboreime, E., Anjorin, O., Obi-Jeff, C., Ojo, T. M., &amp; Hertelendy, A. (2025). From drought to displacement: Assessing the impacts of climate change on conflict and forced migration in West Africa&#8217;s Sahel Region. The Journal of Climate Change and Health, 23, 100448. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.joclim.2025.100448\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.joclim.2025.100448<\/a><\/p>\n<p>Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (2023). The impact of disasters on agriculture and food security. FAO. <a href=\"https:\/\/www.fao.org\/emergencies\/resources-repository\/publications\/BFA\">https:\/\/www.fao.org\/emergencies\/resources-repository\/publications\/BFA<\/a><\/p>\n<p>Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate change 2023: Synthesis report. IPCC. <a href=\"https:\/\/www.ipcc.ch\/report\/ar6\/syr\/\">https:\/\/www.ipcc.ch\/report\/ar6\/syr\/<\/a><\/p>\n<p>Jambou, R., Njedanoun, M., Panthou, G., &amp; Descroix, L. (2022). Malaria transmission in Sahelian African regions, a witness of climate changes. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(16), 10105. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3390\/ijerph191610105\">https:\/\/doi.org\/10.3390\/ijerph191610105<\/a><\/p>\n<p>Magnan, A. K., et al. (2024). Anticipatory action for drought in the Sahel: An innovation for drought risk management or a buzzword? Frontiers in Climate, 6, 1347519. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3389\/fclim.2024.1347519\">https:\/\/doi.org\/10.3389\/fclim.2024.1347519<\/a><\/p>\n<p>Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). (2022). Climate change impacts and adaptation in the Sahel. OECD Publishing. <a href=\"https:\/\/www.oecd.org\/en\/publications\/climate-change-adaptation-in-the-sahel_a45e3d9b-en.html\">https:\/\/www.oecd.org\/en\/publications\/climate-change-adaptation-in-the-sahel_a45e3d9b-en.html<\/a><\/p>\n<p>Sy, B., et al. (2024). Climate change and food security in the Sahel. Brookings Institution \u2013 Foresight Africa 2024. <a href=\"https:\/\/www.brookings.edu\/articles\/climate-change-and-food-security-in-the-sahel\/\">https:\/\/www.brookings.edu\/articles\/climate-change-and-food-security-in-the-sahel\/<\/a><\/p>\n<p>United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD). (2023). COP28 joint statement on climate, nature and people. <a href=\"https:\/\/www.unccd.int\/resources\/other\/cop28-joint-statement-climate-nature-and-people\">https:\/\/www.unccd.int\/resources\/other\/cop28-joint-statement-climate-nature-and-people<\/a><\/p>\n<p>United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA). (2023). Sahel crisis overview and humanitarian needs. OCHA. <a href=\"https:\/\/www.unocha.org\/sahel\">https:\/\/www.unocha.org\/sahel<\/a><\/p>\n<p>Wane, D., Giannini, A., Kaplan, A., &amp; Gaye, A. T. (2025). An imminent return to drought in the western Sahel? Science Advances. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1126\/sciadv.adu5415\">https:\/\/doi.org\/10.1126\/sciadv.adu5415<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Zahra Zamaya, Raisyah Rimosan, Siti Damayanti, Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Bisnis dan Humaniora, Universitas Teknologi Yogyakarta ABSTRAK Kawasan Sahel merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim global, ditandai oleh percepatan pemanasan suhu yang melampaui rata-rata dunia, meningkatnya variabilitas curah hujan, serta eskalasi frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem. Artikel [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26050,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26049","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26049","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26049"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26049\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26050"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26049"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26049"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26049"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}