{"id":25993,"date":"2026-06-12T22:33:50","date_gmt":"2026-06-12T14:33:50","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25993"},"modified":"2026-06-13T17:04:13","modified_gmt":"2026-06-13T09:04:13","slug":"ketika-hambatan-kerja-tidak-selalu-bermakna-sama-bagi-perempuan-karier","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ketika-hambatan-kerja-tidak-selalu-bermakna-sama-bagi-perempuan-karier\/25993\/","title":{"rendered":"Ketika Hambatan Kerja Tidak Selalu Bermakna Sama bagi Perempuan Karier"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25995\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-13.jpg\" alt=\"\" width=\"1376\" height=\"917\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-13.jpg 1376w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-13-300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-13-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-13-768x512.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-13-750x500.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-13-1140x760.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1376px) 100vw, 1376px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; <em>Birokrasi, konflik peran, ketidakjelasan tugas. Tuntutan-tuntutan ini kerap menjadi beban tersembunyi dalam keseharian pekerja dan sebuah penelitian mencoba memahami bagaimana konteksnya memengaruhi dampaknya.<\/em><\/p>\n<p>\u00ad<em>Oleh: <\/em><br \/>\n<strong>Gabriella Salim<\/strong><br \/>\nFakultas Psikologi Universitas Tarumanagara<br \/>\n<strong>Dr. Zamralita, M.M., Psikolog<\/strong><br \/>\nKetua Program Studi S1 Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara,<br \/>\n<strong>Urip Purwono, M.S., M.Sc., Ph.D., Psikolog<\/strong><br \/>\nFakultas Psikologi Universitas Tarumanagara<br \/>\nKategori: Karier &amp; Psikologi Kerja<\/p>\n<p>Bayangkan Anda harus menyelesaikan proyek penting minggu ini. Namun alih-alih fokus pada pekerjaan utama, Anda justru menghabiskan waktu untuk mengklarifikasi instruksi yang saling bertentangan, menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan yang terus-menerus, dan menghadapi prosedur internal yang berlapis-lapis. Situasi semacam ini merupakan contoh dari apa yang dalam psikologi kerja dikenal sebagai <em>hindrance demands<\/em>.<\/p>\n<p>Pada sebagian perempuan yang menjalankan peran ganda di rumah dan tempat kerja, hambatan-hambatan tersebut dapat menjadi sumber tekanan tambahan yang tidak selalu terlihat dari luar. Di tengah tuntutan pekerjaan dan keluarga, energi sering kali terkuras bukan hanya oleh pekerjaan itu sendiri, tetapi juga oleh berbagai hambatan yang menyertainya.<\/p>\n<p><strong>Apa Itu Hindrance Demands?<\/strong><br \/>\nDalam kerangka Job Demands-Resources (JD-R), tuntutan kerja atau job demands merujuk pada aspek-aspek pekerjaan yang membutuhkan usaha fisik, kognitif, maupun emosional secara berkelanjutan. Tuntutan ini terbagi menjadi dua jenis: challenge demands dan hindrance demands. Challenge demands adalah tuntutan yang terasa berat namun memiliki nilai seperti, target yang menantang, tanggung jawab yang besar, proyek yang kompleks. Meski melelahkan, jenis tuntutan ini cenderung mendorong motivasi dan pertumbuhan. Hindrance demands, sebaliknya, adalah tuntutan yang menguras tanpa memberikan nilai yang sebanding.<\/p>\n<p>Berbeda dengan challenge demands yang bersifat menantang dan mendorong pertumbuhan, hindrance demands adalah tekanan kerja yang bersifat menghambat: konflik peran, ketidakjelasan tugas, birokrasi yang tidak efisien, tuntutan emosional yang tidak proporsional, serta kekhawatiran tentang keamanan karier.<\/p>\n<p>Bayangkan seorang konsultan yang harus mengelola ekspektasi klien yang berubah-ubah, instruksi atasan yang tidak konsisten, sekaligus memastikan anaknya dijemput tepat waktu. Setiap hambatan di kantor bukan hanya soal waktu yang terbuang tetapi ia juga turut menguras energi yang dibutuhkan untuk hadir sepenuhnya di seluruh aspek kehidupannya.<\/p>\n<p>Sebuah penelitian dari Universitas Tarumanagara Jakarta berupaya mengeksplorasi bagaimana jenis hambatan ini berkaitan dengan kemampuan konsultan wanita menikah di wilayah Jabodetabek dalam mengintegrasikan karier dan kehidupan keluarga mereka.<\/p>\n<p>Hasilnya membuka sejumlah pertanyaan menarik yang layak untuk direnungkan.<\/p>\n<p><strong>Ketika Data Memberi Gambaran yang Lebih Bernuansa<\/strong><br \/>\nSecara teoretis, hindrance demands seharusnya berpengaruh negatif terhadap work-life integration. Tekanan yang menguras tanpa nilai tambah seharusnya melemahkan kemampuan seseorang untuk hadir secara utuh di dua domain kehidupannya.<\/p>\n<p>Namun data dari penelitian ini memberikan gambaran yang lebih bernuansa: pada kelompok partisipan ini, hindrance demands tidak selalu menunjukkan dampak yang sepenuhnya negatif terhadap work-life integration. Sebagian temuan justru mengarah pada hubungan yang lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya. Temuan ini tidak menunjukkan bahwa hambatan kerja bermanfaat, melainkan mengindikasikan bahwa dampaknya dapat berbeda bergantung pada konteks dan sumber daya yang dimiliki individu.<\/p>\n<p><em>\u201cDi antara partisipan penelitian ini, ada indikasi bahwa hambatan kerja tidak selalu berkorelasi negatif dengan work-life integration. Pola ini menarik untuk ditelusuri lebih jauh, meski tentu saja perlu dipahami dalam batas konteks sampel yang spesifik.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Salah satu penjelasan yang dapat dipertimbangkan dalam memahami pola ini adalah kemungkinan adanya sumber daya kerja yang memadai pada sebagian partisipan..<\/p>\n<p><strong>Sebuah Pola yang Menarik: Ketika Hambatan Tidak Selalu Melemahkan<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu pola yang muncul dalam data adalah: ketika seseorang menghadapi konflik peran atau birokrasi yang rumit namun memiliki dukungan dari atasan, kejelasan dalam sebagian besar tugasnya, dan otonomi yang cukup untuk mengatur cara kerjanya, hambatan tersebut tampaknya tidak selalu berujung pada penurunan integrasi. Ada indikasi bahwa dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa belajar menavigasinya.<\/p>\n<p>Salah satu kemungkinan yang dapat dipertimbangkan adalah bahwa individu yang menghadapi hambatan kerja secara berkelanjutan mungkin mengembangkan strategi adaptasi tertentu untuk tetap menjalankan berbagai perannya. Namun, penelitian ini tidak secara langsung mengukur mekanisme tersebut sehingga interpretasi ini perlu dipahami secara hati-hati dan masih memerlukan kajian lebih lanjut.<\/p>\n<p>Penting untuk dicatat bahwa penelitian ini dilakukan pada kelompok konsultan wanita menikah di wilayah Jabodetabek. Karena itu, temuan yang diperoleh perlu dipahami dalam konteks karakteristik partisipan penelitian dan tidak serta-merta dapat digeneralisasikan ke seluruh kelompok pekerja perempuan.<\/p>\n<p>Temuan ini bukan izin bagi perusahaan untuk membiarkan birokrasi tetap tak efisien atau konflik peran terus terjadi. Hambatan kerja yang tinggi tanpa sumber daya yang memadai tetap menjadi risiko nyata, terutama bagi perempuan yang mengelola dua domain kehidupan sekaligus.<\/p>\n<p><strong>Hambatan<\/strong><strong> kerja bukanlah faktor tunggal yang menentukan.<\/strong> Ia tidak bekerja dalam isolasi. Dampaknya sangat bergantung pada ekosistem kerja yang melingkupinya.<\/p>\n<p>Maka pertanyaan yang lebih tepat bukan &#8220;seberapa banyak hambatan yang Anda hadapi?&#8221; melainkan &#8220;seberapa lengkap sumber daya yang Anda miliki untuk menghadapinya?&#8221;<\/p>\n<p>Refleksi Praktis: Memaknai Hambatan dengan Lebih Sadar<\/p>\n<p><strong>Bagi perempuan karier: <\/strong>Bagi perempuan karier: meskipun hambatan kerja sering kali menimbulkan frustrasi, sebagian individu mungkin menemukan bahwa pengalaman tersebut turut membentuk strategi adaptasi yang membantu mereka menjalankan berbagai peran. Namun, pengalaman ini tidak selalu berlaku sama bagi setiap orang.<\/p>\n<p><strong>Bagi perusahaan: <\/strong>Evaluasi secara berkala hambatan mana yang bisa dihilangkan (birokrasi tidak perlu, prosedur duplikat) dan mana yang tidak terhindarkan. Untuk yang tidak bisa dihilangkan, pastikan karyawan memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapinya.<\/p>\n<p>Temuan awal ini menunjukkan bahwa hubungan antara hambatan kerja dan work-life integration mungkin lebih kompleks daripada yang diasumsikan sebelumnya. Keberadaan hambatan kerja tampaknya perlu dipahami bersama dengan sumber daya dan dukungan yang tersedia untuk menghadapinya.<\/p>\n<p>Bagaimana kapasitas tersebut berkembang masih menjadi pertanyaan yang menarik untuk diteliti lebih lanjut, khususnya dalam konteks perempuan yang menjalankan berbagai peran secara bersamaan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Capture-3.jpg\" alt=\"\" width=\"848\" height=\"285\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26028\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Capture-3.jpg 848w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Capture-3-300x101.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Capture-3-768x258.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Capture-3-750x252.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 848px) 100vw, 848px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Birokrasi, konflik peran, ketidakjelasan tugas. Tuntutan-tuntutan ini kerap menjadi beban tersembunyi dalam keseharian pekerja dan sebuah penelitian mencoba memahami bagaimana konteksnya memengaruhi dampaknya. \u00adOleh: Gabriella Salim Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Dr. Zamralita, M.M., Psikolog Ketua Program Studi S1 Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Urip Purwono, M.S., M.Sc., Ph.D., Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25993","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25993\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}