{"id":25938,"date":"2026-06-11T17:56:16","date_gmt":"2026-06-11T09:56:16","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25938"},"modified":"2026-06-11T17:56:16","modified_gmt":"2026-06-11T09:56:16","slug":"kembali-ke-alam-urgensi-pupuk-organik-di-tengah-ketergantungan-petani-pada-kimia-sintetis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kembali-ke-alam-urgensi-pupuk-organik-di-tengah-ketergantungan-petani-pada-kimia-sintetis\/25938\/","title":{"rendered":"Kembali ke Alam: Urgensi Pupuk Organik Di tengah Ketergantungan Petani Pada Kimia Sintetis"},"content":{"rendered":"<p>Oleh:<br \/>\n<strong>Valentino Astin Ginting, Achmad Bagus Al-Hakim, Siti Wafa Nurhasanah, Maudhea Pustika Alfina Putri, dan Ridhwan Fathurenda Yahya<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Tanah itu seperti tubuh manusia. Ia butuh nutrisi yang seimbang, bukan suntikan zat kimia berlebihan yang lama-kelamaan justru merusaknya dari dalam. Namun kenyataan di lapangan berkata lain \u2014 jutaan petani di seluruh Indonesia masih mengandalkan pupuk kimia sintetis sebagai satu-satunya andalan, tanpa menyadari bahwa tanah garapan mereka perlahan kehilangan daya hidupnya. Sudah saatnya kita berbicara jujur tentang apa yang sedang terjadi pada lahan pertanian kita dan mengapa pupuk organik bukan sekadar pilihan alternatif, melainkan sebuah keharusan.<\/p>\n<p><strong>Tanah yang Kelelahan<\/strong><br \/>\nSelama beberapa dekade terakhir, revolusi hijau memang berhasil mendongkrak produksi pangan secara masif. Petani diajarkan untuk mempercayai pupuk urea, TSP, dan KCl sebagai kombinasi sakti yang bisa membuat tanaman tumbuh lebat dan panen melimpah. Yang tidak pernah diceritakan secara gamblang adalah konsekuensi jangka panjangnya \u2014 tanah yang terus-menerus diberi pupuk kimia tanpa asupan bahan organik akan mengalami penurunan kualitas secara drastis. Struktur tanah menjadi keras dan padat, populasi mikroorganisme bermanfaat anjlok, dan kapasitas tanah untuk menahan air serta menyimpan unsur hara semakin melemah dari musim ke musim.<\/p>\n<p>Para petani yang sudah berpuluh tahun mengelola lahan yang sama kerap mengeluh bahwa dosis pupuk yang dulu cukup kini tidak lagi memberikan hasil yang sama. Mereka menambah takaran, mengeluarkan lebih banyak uang, namun hasilnya tetap stagnan atau bahkan menurun. Ini bukan kebetulan \u2014 ini adalah tanda bahwa tanah sedang mengirim pesan bahwa kapasitasnya sudah mendekati titik jenuh. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus tanpa intervensi yang tepat, kita bukan hanya berbicara soal turunnya produktivitas pertanian, melainkan ancaman nyata terhadap ketahanan pangan jangka panjang yang dampaknya akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Pupuk Organik: Lebih dari Sekadar Kompos<\/strong><\/p>\n<p>Banyak orang masih menganggap pupuk organik identik dengan kompos yang berbau dan merepotkan. Padahal, dunia pupuk organik jauh lebih luas dan beragam dari yang dibayangkan. Pupuk organik mencakup segala macam bahan yang berasal dari makhluk hidup \u2014 baik itu sisa tanaman, kotoran ternak, limbah dapur, hingga mikroorganisme yang sengaja dibiakkan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Yang membedakannya dari pupuk kimia bukan hanya bahan bakunya, tetapi cara kerjanya: pupuk organik membangun ekosistem tanah secara menyeluruh, bukan hanya menyuntikkan nutrisi instan yang habis begitu terserap tanaman.<\/p>\n<p>Manfaat nyata dari penggunaan pupuk organik secara konsisten bukan hanya dirasakan dalam satu musim tanam, melainkan terakumulasi dari waktu ke waktu. Tanah yang secara rutin mendapat asupan bahan organik akan semakin gembur dan subur, mampu menahan kelembapan lebih lama sehingga kebutuhan irigasi berkurang, dan menjadi rumah yang ramah bagi cacing tanah serta berbagai mikroba menguntungkan yang bekerja tanpa upah membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman. Selain itu, hasil panen dari lahan yang dikelola secara organik umumnya memiliki kualitas yang lebih baik dari segi rasa, kandungan gizi, dan daya tahan pasca-panen dibandingkan hasil dari lahan yang hanya mengandalkan kimia sintetis.<\/p>\n<p><strong>Membuat Pupuk Organik dari Bahan Sekitar<\/strong><br \/>\nSalah satu keunggulan terbesar pupuk organik yang jarang disorot adalah bahan bakunya ada di mana-mana dan tidak perlu dibeli. Sisa sayuran yang tidak terpakai di dapur, kulit buah yang biasa dibuang, ampas kopi, daun-daun kering yang berserakan di halaman, bahkan kotoran ayam kampung yang selama ini hanya menjadi masalah bau di sekitar kandang \u2014 semua itu adalah bahan baku pupuk organik berkualitas yang menunggu untuk diolah. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit pengetahuan tentang prosesnya dan kemauan untuk mencoba, karena teknologi pembuatan pupuk organik skala rumah tangga sesungguhnya sangat sederhana dan tidak memerlukan alat-alat mahal.<\/p>\n<p>1.\t <strong>Kompos Sederhana<\/strong><br \/>\nCara paling mendasar membuat pupuk organik adalah dengan mengompos sisa-sisa organik. Kumpulkan sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan ampas dapur dalam wadah berlubang atau lubang tanah berukuran sekitar 1 meter kubik. Lapisi secara bergantian antara bahan hijau (sisa sayur, rumput) yang kaya nitrogen dengan bahan coklat (daun kering, serbuk gergaji) yang kaya karbon, dengan perbandingan ideal sekitar 1:3. Siram secukupnya agar lembap seperti spons yang diperas, balik tumpukan setiap 1-2 minggu untuk memberikan oksigen, dan dalam 6-8 minggu kompos sudah siap digunakan \u2014 ditandai dengan warna coklat gelap, tekstur remah, dan aroma menyerupai tanah hutan setelah hujan.<\/p>\n<p>2.\t<strong> Bokashi \u2014 Fermentasi Cepat ala Jepang<\/strong><br \/>\nBokashi berasal dari tradisi pertanian Jepang dan menawarkan kecepatan yang jauh melampaui kompos biasa \u2014 proses fermentasinya hanya membutuhkan waktu 10 hingga 14 hari. Bahan yang dibutuhkan adalah dedak padi, molases atau tetes tebu, air, dan starter EM4 (Effective Microorganism) yang bisa dibeli murah di toko pertanian. Campurkan semua bahan hingga lembap merata, masukkan ke dalam wadah kedap udara, dan biarkan proses fermentasi berlangsung di tempat yang tidak terkena matahari langsung. Hasilnya adalah pupuk organik dengan kandungan mikroba aktif yang sangat tinggi, sangat efektif untuk memperbaiki kondisi biologi tanah yang sudah lama hanya diberi pupuk kimia.<\/p>\n<p>3.\t <strong>Pupuk Cair dari Urin Ternak dan Limbah Dapur<\/strong><br \/>\nBagi yang memiliki hewan ternak, urin sapi atau kambing adalah bahan baku pupuk cair yang luar biasa kaya akan nitrogen dan kalium. Tampung urin ternak, campurkan dengan air cucian beras dan sedikit gula merah sebagai sumber energi bagi mikroba, lalu fermentasikan dalam wadah tertutup selama 7-10 hari. Selain urin ternak, air rendaman rebung bambu atau ekstrak bawang merah yang difermentasikan juga bisa menjadi pupuk cair sekaligus pestisida organik alami. Encerkan larutan ini dengan air bersih dalam perbandingan 1:10 sebelum diaplikasikan langsung ke tanah atau disemprotkan ke daun tanaman untuk hasil yang optimal.<\/p>\n<p>4.\t <strong>MOL \u2014 Mikroorganisme Lokal yang Terlupakan<\/strong><br \/>\nMOL atau Mikro Organisme Lokal adalah salah satu inovasi paling cerdas dalam pertanian organik yang sesungguhnya sudah lama dipraktikkan oleh petani tradisional Indonesia, hanya saja namanya baru populer belakangan ini. Caranya sangat mudah: blender atau haluskan nasi yang sudah mulai basi, buah-buahan busuk seperti pepaya atau pisang, tambahkan air kelapa dan gula merah, lalu fermentasikan dalam botol plastik yang ditutup tidak rapat selama 5-7 hari. Cairan MOL ini mengandung berbagai jenis mikroorganisme lokal yang sudah beradaptasi dengan kondisi iklim dan tanah setempat, sehingga kerjanya lebih efektif dibandingkan starter mikroba pabrikan yang belum tentu cocok dengan kondisi spesifik lahan Anda. Aplikasikan secara rutin setiap 2 minggu sekali sebagai pupuk daun atau siram ke pangkal tanaman untuk membangun populasi mikroba tanah yang sehat dan aktif.<\/p>\n<p><strong>Sosialisasi yang Masih Setengah Hati<\/strong><br \/>\nJujur harus diakui bahwa program sosialisasi pupuk organik yang selama ini digalakkan pemerintah dan berbagai lembaga pertanian masih berjalan dengan setengah hati. Penyuluh pertanian datang sekali memberikan pelatihan, dibagikan brosur, lalu tidak ada tindak lanjut yang berarti ketika petani menghadapi kesulitan di lapangan. Sementara itu, produsen pupuk kimia terus gencar berpromosi, seringkali dengan skema subsidi yang membuatnya tampak jauh lebih menggiurkan secara ekonomi jangka pendek. Padahal jika dihitung secara menyeluruh \u2014 mulai dari biaya input yang lebih rendah karena bahan baku bisa dibuat sendiri, hingga keuntungan jangka panjang berupa tanah yang semakin subur dan biaya produksi yang semakin efisien \u2014 beralih ke pupuk organik sebenarnya adalah pilihan yang lebih menguntungkan secara ekonomi.<\/p>\n<p>Yang dibutuhkan bukan sekadar pelatihan satu kali yang dilupakan begitu peserta pulang ke rumah. Sosialisasi yang efektif harus masuk ke dalam keseharian petani \u2014 melalui kelompok tani yang aktif, demonstrasi plot langsung di lahan mereka sendiri, dan sistem pendampingan yang berkelanjutan setidaknya selama dua musim tanam berturut-turut agar petani bisa melihat sendiri perbedaan nyata yang dihasilkan. Pemerintah daerah perlu lebih serius mengalokasikan anggaran untuk program pertanian organik, bukan hanya sebagai proyek seremonial yang dipotret untuk laporan, tetapi sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya baru akan terlihat dalam 3-5 tahun ke depan. Peran media lokal dan platform digital juga tidak boleh diabaikan \u2014 konten edukasi tentang pembuatan pupuk organik yang dikemas secara menarik dan mudah dipraktikkan bisa menjangkau petani muda yang lahir di era gadget lebih efektif dari penyuluhan tatap muka sekalipun.<\/p>\n<p><strong>Pilihan Ada di Tangan Kita<\/strong><br \/>\nTidak ada yang bisa memaksa seorang petani untuk mengubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun menjadi andalan hidupnya. Perubahan nyata hanya akan terjadi ketika mereka sendiri melihat, merasakan, dan meyakini manfaatnya secara langsung \u2014 bukan dari ceramah pejabat, bukan dari iklan yang dibayar oleh perusahaan pupuk. Oleh karena itu, pendekatan yang paling jitu adalah membuktikannya melalui percontohan yang nyata, dengan keberhasilan nyata yang bisa dilihat sendiri oleh petani di sekitarnya. Kisah sukses petani yang beralih ke organik dan merasakan manfaatnya adalah alat sosialisasi yang jauh lebih ampuh dari ribuan brosur yang dibagi-bagikan.<\/p>\n<p>Di sisi lain, kita sebagai konsumen juga punya andil dalam mendorong perubahan ini. Ketika kita bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk produk pertanian organik, kita sedang memberikan sinyal pasar yang nyata bahwa ada penghargaan ekonomi bagi petani yang mau beralih. Ketika kita mendukung produk lokal organik dari petani sekitar kita, kita sedang turut membiayai masa depan pertanian yang lebih sehat. Dan ketika kita mulai membuat sendiri pupuk organik dari sampah dapur untuk tanaman di rumah, kita sedang mengambil langkah kecil yang sesungguhnya bermakna besar \u2014 membuktikan bahwa lingkaran hidup alam bisa kita kembalikan dengan tangan kita sendiri, tanpa harus bergantung pada pabrik kimia mana pun.<\/p>\n<p>\u2014 Tanah yang sehat adalah warisan terbaik yang bisa kita titipkan kepada generasi berikutnya<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Valentino Astin Ginting, Achmad Bagus Al-Hakim, Siti Wafa Nurhasanah, Maudhea Pustika Alfina Putri, dan Ridhwan Fathurenda Yahya JurnalPost.com &#8211; Tanah itu seperti tubuh manusia. Ia butuh nutrisi yang seimbang, bukan suntikan zat kimia berlebihan yang lama-kelamaan justru merusaknya dari dalam. Namun kenyataan di lapangan berkata lain \u2014 jutaan petani di seluruh Indonesia masih mengandalkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":"Artikel Opini \u2014 Pertanian Berkelanjutan"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25938","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25938","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25938"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25938\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25938"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25938"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25938"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}