{"id":25908,"date":"2026-06-11T15:20:44","date_gmt":"2026-06-11T07:20:44","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25908"},"modified":"2026-06-11T15:21:01","modified_gmt":"2026-06-11T07:21:01","slug":"penerapan-metode-demonstrasi-dalam-meningkatkan-pemahaman-tata-cara-wudhu-pada-siswa-kelas-iii-mi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/penerapan-metode-demonstrasi-dalam-meningkatkan-pemahaman-tata-cara-wudhu-pada-siswa-kelas-iii-mi\/25908\/","title":{"rendered":"PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN TATA CARA WUDHU PADA SISWA KELAS III MI"},"content":{"rendered":"<p>Jeni Aulia<sup>1<\/sup>, Anisa Putri Adelia<sup>2<\/sup>, Nabilah Fitriyyah Agustien<sup>3<\/sup>, Muhamad Afandi<sup>4<\/sup><a href=\"mailto:anisaputriadelia02@gmail.com\">anisaputriadelia02@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:jenia0442@gmail.com\">jenia0442@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:nabilaaftriaagstn@gmail.com\">nabilaaftriaagstn@gmail.com<\/a>, muhammadafandi_uin@radenfatah.ac.id<br \/>\n<sup>1, <\/sup><sup>2,<\/sup> <sup>3<\/sup> \u00a0Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang<br \/>\n<sup>4<\/sup> Dosen Metodologi Pembelajaran PAI MI\/SD, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang<\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tata cara wudhu pada siswa kelas III MI melalui penerapan metode demonstrasi. Penelitian menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 28 siswa. Data diperoleh melalui observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi mampu meningkatkan pemahaman siswa tentang tata cara wudhu. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 72,14 pada siklus I menjadi 86,57 pada siklus II, sedangkan ketuntasan belajar meningkat dari 60,71% menjadi 89,29%. Dengan demikian, metode demonstrasi efektif digunakan dalam pembelajaran fikih materi wudhu.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci :<\/strong> Metode Demonstrasi, Pemahaman Siswa, Tata Cara Wudhu, Pembelajaran Fikih, Madrasah Ibtidaiyah.<\/p>\n<p><strong><em>Abstract<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>This study aims to improve students&#8217; understanding of ablution procedures through the application of the conservation method. The study used a Classroom Action Research (CAR) approach implemented in two cycles, including planning, implementation, observation, and reflection. The research subjects were 28 students. Data were obtained through observation, tests, interviews, and documentation. The results showed that the application of the compression method was able to improve students&#8217; understanding of ablution procedures. The average student score increased from 72.14 in cycle I to 86.57 in cycle II, while learning completion increased from 60.71% to 89.29%. Thus, the embedded method is effectively used in learning Islamic jurisprudence on ablution.<\/em><\/p>\n<p><strong><em>Keyword :<\/em><\/strong><em> Demonstration Method, Student Understanding, Ablution Procedures, Fiqh Learning, Elementary Madrasah.<\/em>;<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p>Demonstrasi adalah metode pembelajaran yang menampilkan secara langsung suatu proses, prosedur, atau teknik sehingga siswa dapat melihat dan menirunya. Metode demonstrasi dianggap efektif dalam pembelajaran fikih, terutama materi wudhu, karena materi yang diajarkan melibatkan psikomotorik dan kognitif. Demonstrasi memberi siswa kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana membasuh anggota wudhu, bacaan yang digunakan, dan kesalahan yang harus dihindari. Pembelajaran yang melibatkan pengamatan langsung cenderung lebih mudah dipahami daripada ceramah yang hanya bergantung pada penjelasan verbal. Oleh karena itu, demonstrasi dapat membantu siswa memahami konsep dan melakukan ibadah sesuai dengan hukum Islam. Selain itu, penelitian terdahulu menunjukkan bahwa teknik demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa tentang bahan wudhu dan ibadah.<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><\/p>\n<p>Albert Bandura mengatakan bahwa observasi, imitasi, dan pemodelan adalah cara belajar. Dengan mengamati perilaku orang lain, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru. Dalam pelajaran wudhu, guru bertindak sebagai model yang menunjukkan cara yang benar untuk berwudhu, sehingga siswa mengamati dan menirunya. Bandura mengatakan bahwa melihat model yang berfungsi akan meningkatkan kemungkinan bahwa siswa akan berperilaku dengan cara yang sama. Teori ini sangat relevan dengan metode demonstrasi karena keberhasilan pembelajaran bergantung pada kemampuan siswa dalam mengamati dan mencontoh instruksi guru. Oleh karena itu, penggunaan demonstrasi dalam pelajaran fikih dapat membantu siswa belajar tentang tata cara wudhu dengan cara yang paling efektif karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana tata cara wudhu dilakukan.<a href=\"#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a><\/p>\n<p>Menurut Piaget, anak-anak memperoleh pengetahuannya sendiri melalui pengalaman langsung dengan dunia sekitar mereka. Karena siswa sekolah dasar berada di tahap operasional konkret, mereka lebih mudah memahami bahan yang nyata daripada konsep abstrak. Dengan menggunakan pendekatan demonstrasi, siswa memiliki kesempatan untuk melihat dan melakukan setiap tahapan wudhu secara langsung. Aktivitas ini membantu siswa mengembangkan pemahaman yang didasarkan pada pengalaman nyata. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih kuat dalam ingatan dan lebih signifikan. Metode demonstrasi sangat cocok untuk siswa di kelas III MI karena teori konstruktivisme menekankan bahwa siswa harus berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. <a href=\"#_ftn3\" name=\"_ftnref3\">[3]<\/a><\/p>\n<p>Ausubel berpendapat bahwa pembelajaran akan lebih efektif jika siswa memasukkan informasi baru ke dalam struktur pengetahuan yang sudah mereka miliki. Sebagian besar siswa telah mengenal aktivitas bersuci dalam kehidupan sehari-hari sebelum mereka diajarkan tata cara wudhu. Melalui demonstrasi, guru dapat mengaitkan pengalaman siswa dengan ide-ide fikih yang benar sehingga mereka memahaminya dengan lebih baik. Ketika siswa melihat praktik wudhu yang sesuai syariat secara langsung, mereka dapat membandingkannya dengan pengalaman sebelumnya dan memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, metode demonstrasi memiliki kemampuan untuk menghasilkan pembelajaran yang bermakna karena menghubungkan teori dengan situasi dunia nyata yang dekat dengan siswa.<a href=\"#_ftn4\" name=\"_ftnref4\">[4]<\/a><\/p>\n<p>Simpson menjelaskan bahwa pembelajaran keterampilan mencakup persepsi, kesiapan, respons terbimbing, mekanisme, dan keterampilan kompleks. Karena tata cara wudhu menuntut keterampilan psikomotorik, siswa tidak hanya harus memahami teori tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Metode demonstrasi memungkinkan siswa melihat gerakan yang benar sebelum mencobanya sendiri. Siswa dapat mengembangkan keterampilan wudhu mereka secara bertahap hingga mencapai tingkat otomatisasi dengan melihat dan meniru gerakan guru. Oleh karena itu, teknik demonstrasi sangat relevan untuk meningkatkan kemampuan psikomotorik siswa dalam belajar fikih.<a href=\"#_ftn5\" name=\"_ftnref5\">[5]<\/a><\/p>\n<p>Tujuan pendidikan fikih adalah untuk memberikan siswa pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan untuk menerapkan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Karena wudhu adalah syarat sah untuk salat, siswa harus mempelajari fikih melalui praktik langsung. Demonstrasi mampu mengintegrasikan elemen pengetahuan dan keterampilan dalam proses pembelajaran, menjadikannya salah satu pendekatan yang sesuai. Oleh karena itu, siswa tidak hanya memahami rukun dan sunah wudhu, tetapi mereka juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.<a href=\"#_ftn6\" name=\"_ftnref6\">[6]<\/a><\/p>\n<p>Kemampuan seseorang untuk memahami, memahami, dan menerapkan apa yang mereka ketahui disebut pemahaman. Pemahaman dalam taksonomi Bloom revisi merujuk pada tingkat kognitif yang lebih luas daripada sekadar mengingat. Diharapkan siswa memahami materi tentang wudhu apabila mereka dapat menjelaskan urutan wudhu, menyebutkan syarat-syaratnya, dan mempraktikkannya dengan benar. Karena siswa memperoleh informasi melalui pengalaman langsung, pendengaran, dan penglihatan, pendekatan demonstrasi membantu mereka membentuk pemahaman. Keterlibatan berbagai indera meningkatkan daya serap siswa terhadap pelajaran.<a href=\"#_ftn7\" name=\"_ftnref7\">[7]<\/a><\/p>\n<p>Pembelajaran aktif mengutamakan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa diminta untuk melihat, bertanya, mencoba, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Metode demonstrasi dalam pembelajaran wudhu memungkinkan siswa terlibat secara langsung dengan kegiatan praktik. Keterlibatan aktif dapat meningkatkan perhatian, dorongan, dan pemahaman siswa. Studi menunjukkan bahwa pembelajaran aktif lebih efektif daripada pembelajaran pasif yang hanya berpusat pada guru.<a href=\"#_ftn8\" name=\"_ftnref8\">[8]<\/a><\/p>\n<p>Menurut pendidikan Islam, tujuan pembelajaran tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi juga mengajarkan siswa untuk beribadah dengan cara yang benar. Melalui contoh dan praktik langsung, Rasulullah SAW mengajarkan berbagai jenis ibadah kepada para sahabatnya. Prinsip keteladanan ini menjadi dasar penting untuk penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran fikih. Siswa dapat mengembangkan kebiasaan beribadah yang sesuai dengan hukum melalui contoh yang diberikan oleh guru.<a href=\"#_ftn9\" name=\"_ftnref9\">[9]<\/a><\/p>\n<p>Setelah seseorang belajar, mereka mengalami perubahan dalam perilaku mereka. Perubahan ini dapat mencakup peningkatan pengetahuan, sikap, atau keterampilan. Dalam penelitian tentang pembelajaran wudhu, tes pemahaman dan praktik langsung dapat digunakan untuk mengukur kemajuan siswa. Demonstrasi dianggap dapat meningkatkan hasil belajar karena memberi siswa pengalaman nyata yang membuat mereka lebih mudah memahami apa yang mereka pelajari. Studi menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui demonstrasi memahami dan menguasai lebih banyak daripada siswa yang hanya menerima penjelasan verbal.<a href=\"#_ftn10\" name=\"_ftnref10\">[10]<\/a><\/p>\n<p>Menurut Bruner, belajar akan lebih bermakna jika siswa menemukan sendiri ide-ide yang mereka pelajari melalui pengalaman mereka sendiri dan berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru membantu siswa memahami melalui pengamatan, eksplorasi, dan penemuan. Metode demonstrasi memungkinkan siswa melihat dan mempelajari urutan, syarat, dan rukun wudhu secara langsung. Daya ingat siswa dan pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari dapat ditingkatkan melalui keterlibatan aktif ini. Oleh karena itu, teori Bruner mendukung metode demonstrasi karena siswa tidak hanya mendapatkan informasi secara pasif, tetapi mereka juga mendapatkan pengalaman belajar yang nyata dan relevan melalui praktik langsung dan proses pengamatan.<a href=\"#_ftn11\" name=\"_ftnref11\">[11]<\/a><\/p>\n<p>Teori sosiokultural Vygotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif anak dipengaruhi oleh interaksi sosial dengan orang yang lebih kompeten, seperti guru atau teman sebaya. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menjelaskan bahwa siswa dapat mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi ketika memperoleh bimbingan dari pihak yang lebih ahli. Dalam pembelajaran wudhu, guru yang mendemonstrasikan tata cara wudhu berfungsi sebagai pemberi scaffolding atau bantuan belajar sehingga siswa mampu memahami dan mempraktikkan wudhu secara benar. Melalui pengamatan dan praktik yang dibimbing, siswa secara bertahap dapat melakukan keterampilan tersebut secara mandiri. Oleh karena itu, metode demonstrasi sejalan dengan teori Vygotsky karena memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran keterampilan ibadah. <a href=\"#_ftn12\" name=\"_ftnref12\">[12]<\/a><\/p>\n<p>Edgar Dale menyatakan bahwa tingkat pemahaman yang dapat dicapai siswa lebih besar jika pengalaman belajar mereka lebih konkret. Pembelajaran hanya melalui kata-kata atau simbol verbal tidak seefektif pengalaman langsung dalam Cone of Experience. Agar siswa dapat memahami dan menerapkan tata cara wudhu dengan benar, mereka membutuhkan pengalaman langsung. Demonstrasi memberi siswa kesempatan untuk melihat secara langsung setiap gerakan dan urutan wudhu, dan kemudian menirunya dalam praktik. Pengalaman belajar yang konkret membantu siswa membuat hubungan antara ide-ide dengan situasi dunia nyata. Akibatnya, pemahaman mereka menjadi lebih mendalam dan lebih kuat dalam ingatan mereka.<a href=\"#_ftn13\" name=\"_ftnref13\">[13]<\/a><\/p>\n<p>Gagn\u00e9 menjelaskan bahwa kondisi tertentu diperlukan untuk mendukung pembelajaran siswa. Pemberian contoh atau demonstrasi sebelum peserta didik melakukan praktik mandiri adalah peristiwa pembelajaran penting. Gagn\u00e9 menyatakan bahwa arahan, contoh, latihan, dan umpan balik yang cukup dapat membantu pertumbuhan keterampilan motorik dan intelektual siswa. Metode demonstrasi memungkinkan guru memberikan contoh wudhu secara teratur sehingga siswa dapat memahami setiap langkah yang harus dilakukan saat belajar tata cara wudhu. Siswa kemudian diberi kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dengan bantuan guru. Teori Gagn\u00e9, oleh karena itu, mendukung penggunaan teknik demonstrasi sebagai metode yang berguna untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa.<a href=\"#_ftn14\" name=\"_ftnref14\">[14]<\/a><\/p>\n<p>Menurut Gardner, kecerdasan yang beragam meliputi linguistik, interpersonal, kinestetik, visual, dan spasial. Oleh karena itu, pembelajaran harus lebih dari hanya menyampaikan informasi secara verbal. Itu juga harus mencakup berbagai aktivitas yang dapat memanfaatkan berbagai kecerdasan siswa. Metode demonstrasi memungkinkan siswa untuk belajar tata cara wudhu melalui pengamatan aktivitas fisik dan gerakan praktik wudhu. Siswa dengan kecerdasan kinestetik dapat memahami materi melalui gerakan praktik wudhu, dan siswa dengan kecerdasan visual dapat memahami melalui pengamatan demonstrasi guru. Dengan demikian, metode demonstrasi dapat memenuhi kebutuhan belajar yang beragam sehingga meningka.<a href=\"#_ftn15\" name=\"_ftnref15\">[15]<\/a><\/p>\n<p><strong>Metode Penelitian<\/strong><\/p>\n<p>Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah jenis penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru atau peneliti di dalam kelas untuk secara konsisten meningkatkan dan meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Arikunto menyatakan bahwa PTK adalah pencermatan kegiatan belajar yang terdiri dari tindakan yang secara bersamaan muncul dan terjadi dalam kelas. <a href=\"#_ftn16\" name=\"_ftnref16\">[16]<\/a><\/p>\n<p>Penelitian ini memilih penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang tata cara wudhu dengan menggunakan metode demonstrasi pada siswa kelas III MI. Dengan menggunakan PTK, peneliti dapat menemukan masalah dalam proses pembelajaran, membuat rencana perbaikan untuk tindakan, melaksanakan tindakan, mengamati hasil tindakan, dan melakukan refleksi untuk menentukan langkah perbaikan apa yang diperlukan untuk meningkatkan siklus beriku. Oleh karena itu, PTK tidak hanya berfokus pada hasil pembelajaran tetapi juga pada proses perbaikan pembelajaran yang dilakukan secara berkesinambungan dan terstruktur.<\/p>\n<p>Studi ini dilakukan dalam dua siklus, dengan masing-masing terdiri dari empat tahap: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection). Metode penelitian ini disesuaikan dengan model PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart.<a href=\"#_ftn17\" name=\"_ftnref17\">[17]<\/a> Pada tahap perencanaan, peneliti membuat perangkat pembelajaran, materi tata cara wudhu, lembar observasi, dan instrumen penelitian yang diperlukan. Selanjutnya, tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menggunakan metode demonstrasi untuk mengajar tata cara wudhu. Guru menunjukkan secara langsung setiap langkah wudhu sesuai dengan hukum Islam, dan kemudian siswa melihat dan mempraktikkan kembali apa yang telah ditunjukkan.<\/p>\n<p>Peneliti melakukan observasi terhadap aktivitas guru dan siswa selama tindakan. Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengumpulkan informasi tentang tingkat partisipasi siswa, kemampuan siswa untuk mengikuti urutan tata cara wudhu, ketepatan gerakan yang dilakukan, dan respons siswa terhadap teknik demonstrasi. Lembar observasi yang digunakan untuk mencatat data ini adalah indikator pembelajaran tata cara wudhu.<\/p>\n<p>Setelah seluruh kegiatan dilakukan dalam satu siklus, tahap refleksi dilakukan. Pada tahap ini, peneliti melihat hasil dari observasi dan evaluasi pembelajaran untuk mengetahui apa yang baik dan buruk dari tindakan yang telah dilakukan. Hasil dari refleksi ini digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki pelaksanaan tindakan pada siklus berikutnya sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan tujuan penelitian dapat dicapai sepenuhnya.<\/p>\n<p>Data dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari catatan lapangan, wawancara, dan observasi yang menggambarkan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Sementara itu, data kuantitatif diperoleh dari tes yang dilakukan pada siswa tentang tata cara wudhu yang diberikan pada setiap akhir siklus untuk mengetahui apakah pemahaman mereka tentang teknik demonstrasi telah meningkat.<\/p>\n<p>Dalam penelitian ini, berbagai teknik pengumpulan data digunakan, termasuk observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati aktivitas pembelajaran dan keterlibatan siswa selama demonstrasi berlangsung; tes digunakan untuk mengukur seberapa baik pemahaman siswa tentang tata cara wudhu; dan wawancara dilakukan dengan guru dan beberapa siswa untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang bagaimana pelajaran dilaksanakan.<\/p>\n<p>Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan terhadap hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menggambarkan proses penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran tata cara wudhu. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung persentase ketuntasan belajar siswa dan peningkatan hasil tes pada setiap siklus. Hasil analisis tersebut digunakan untuk mengetahui efektivitas penerapan metode demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman tata cara wudhu pada siswa kelas III MI.<\/p>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>HASIL <\/strong><\/p>\n<p>Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada siswa kelas III MI dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai tata cara wudhu melalui penerapan metode demonstrasi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, tes pemahaman siswa, wawancara, dan dokumentasi selama proses pembelajaran berlangsung.<\/p>\n<p>Sebelum tindakan dilakukan, peneliti melaksanakan observasi awal untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi tata cara wudhu. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami urutan pelaksanaan wudhu yang benar. Ketika diminta untuk mempraktikkan wudhu, beberapa siswa masih melakukan kesalahan pada urutan membasuh anggota tubuh dan belum memahami secara menyeluruh rukun-rukun wudhu yang telah dipelajari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi wudhu masih perlu ditingkatkan.<\/p>\n<p>Pada siklus I, pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan metode demonstrasi. Guru memperagakan secara langsung tata cara wudhu mulai dari niat hingga membasuh kedua kaki sesuai dengan urutan yang benar. Setelah demonstrasi dilakukan, siswa diberikan kesempatan untuk mengamati, bertanya, dan mempraktikkan kembali tata cara wudhu yang telah dicontohkan.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil observasi selama pelaksanaan siklus I, terlihat bahwa siswa menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap pembelajaran dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya. Sebagian siswa tampak aktif memperhatikan demonstrasi yang dilakukan guru dan berusaha mengikuti setiap tahapan yang diperagakan. Namun demikian, masih terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam mengingat urutan wudhu serta mempraktikkannya secara tepat.<\/p>\n<p>Hasil evaluasi pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa dibandingkan kondisi awal. Dari 28 siswa yang mengikuti pembelajaran, sebanyak 17 siswa telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 11 siswa lainnya masih memerlukan bimbingan lebih lanjut. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh pada siklus I adalah 72,14 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 60,71%. Meskipun telah terjadi peningkatan, hasil tersebut belum mencapai target yang ditetapkan sehingga diperlukan perbaikan pada siklus berikutnya.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil refleksi, ditemukan bahwa beberapa siswa masih memerlukan penjelasan yang lebih rinci dan kesempatan praktik yang lebih banyak agar dapat memahami tata cara wudhu secara lebih baik. Oleh karena itu, dilakukan beberapa perbaikan pada pelaksanaan siklus II.<\/p>\n<p>Pelaksanaan siklus II dilakukan dengan memperbaiki beberapa kekurangan yang ditemukan pada siklus I. Guru memberikan demonstrasi yang lebih sistematis dan memperjelas setiap tahapan wudhu. Selain itu, siswa diberikan kesempatan yang lebih luas untuk melakukan praktik secara langsung serta memperoleh bimbingan ketika mengalami kesulitan.<\/p>\n<p>Hasil observasi pada siklus II menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Siswa terlihat lebih aktif, lebih percaya diri, dan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Sebagian besar siswa telah mampu menyebutkan urutan tata cara wudhu dengan benar serta mempraktikkannya tanpa banyak bantuan dari guru. Kesalahan-kesalahan yang sebelumnya masih ditemukan pada siklus I mulai berkurang sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil evaluasi pada akhir siklus II, diperoleh peningkatan yang cukup baik. Dari 28 siswa, sebanyak 25 siswa telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 3 siswa lainnya masih memerlukan pendampingan pada beberapa tahapan tertentu. Nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 86,57 dengan persentase ketuntasan belajar mencapai 89,29%.<\/p>\n<p>Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa metode demonstrasi membantu siswa memahami materi wudhu dengan lebih mudah karena siswa dapat melihat secara langsung contoh pelaksanaannya. Sementara itu, hasil wawancara dengan beberapa siswa menunjukkan bahwa mereka merasa lebih mudah memahami dan mengingat urutan tata cara wudhu setelah mengikuti pembelajaran menggunakan metode demonstrasi.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas III MI mengenai tata cara wudhu. Peningkatan tersebut terlihat dari bertambahnya jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar, meningkatnya nilai rata-rata kelas, serta semakin baiknya kemampuan siswa dalam mempraktikkan tata cara wudhu sesuai dengan urutan yang benar.<\/p>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus, penerapan metode demonstrasi terbukti mampu meningkatkan pemahaman tata cara wudhu pada siswa kelas III MI. Peningkatan tersebut terlihat dari hasil evaluasi yang menunjukkan adanya kenaikan nilai rata-rata kelas dari 72,14 pada siklus I menjadi 86,57 pada siklus II. Selain itu, persentase ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan dari 60,71% menjadi 89,29%. Tidak hanya pada aspek kognitif, peningkatan juga tampak pada aspek psikomotorik siswa, yaitu kemampuan mempraktikkan tata cara wudhu sesuai dengan urutan dan ketentuan yang benar. Hasil observasi menunjukkan bahwa pada awal pembelajaran masih terdapat siswa yang belum mampu menyebutkan urutan wudhu secara lengkap, masih keliru dalam membasuh anggota tubuh, serta belum memahami rukun-rukun wudhu secara menyeluruh. Namun setelah penerapan metode demonstrasi secara berulang dan sistematis, sebagian besar siswa mampu memahami materi dengan lebih baik serta dapat mempraktikkan tata cara wudhu secara mandiri.<\/p>\n<p>Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa metode demonstrasi memiliki peran penting dalam membantu siswa memahami materi yang bersifat prosedural dan membutuhkan keterampilan praktik. Materi tata cara wudhu tidak hanya menuntut siswa untuk menghafal urutan langkah-langkah wudhu, tetapi juga memahami bagaimana pelaksanaan setiap langkah dilakukan secara benar sesuai tuntunan syariat Islam. Oleh karena itu, pembelajaran yang hanya berpusat pada penjelasan verbal sering kali kurang mampu memberikan gambaran yang utuh kepada siswa. Ketika guru menggunakan metode demonstrasi, siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret karena dapat melihat secara langsung proses pelaksanaan wudhu mulai dari niat hingga membasuh kedua kaki. Pengalaman belajar yang konkret tersebut membuat siswa lebih mudah memahami konsep yang diajarkan dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan guru secara lisan.<\/p>\n<p>Hasil penelitian ini dapat dijelaskan melalui teori belajar yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam Cone of Experience yang menyatakan bahwa pengalaman belajar yang melibatkan pengamatan langsung dan praktik nyata akan menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan pengalaman belajar yang hanya melibatkan aktivitas mendengar atau membaca. Dalam konteks penelitian ini, siswa tidak hanya menerima informasi mengenai tata cara wudhu melalui penjelasan guru, tetapi juga mengamati secara langsung proses pelaksanaannya dan kemudian mempraktikkannya sendiri. Keterlibatan berbagai indera dalam proses pembelajaran tersebut menyebabkan informasi yang diterima siswa menjadi lebih mudah dipahami, diingat, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat dari berkurangnya kesalahan siswa dalam mengurutkan tahapan wudhu pada siklus II dibandingkan pada siklus I.<\/p>\n<p>Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat dijelaskan melalui teori belajar konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui pengalaman belajar yang mereka alami. Dalam metode demonstrasi, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam mengamati, bertanya, mencoba, dan memperbaiki kesalahan selama proses praktik berlangsung. Keterlibatan aktif tersebut memungkinkan siswa membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai tata cara wudhu. Ketika siswa melakukan kesalahan dalam praktik, guru memberikan umpan balik secara langsung sehingga siswa dapat memahami letak kesalahannya dan memperbaikinya pada kesempatan berikutnya. Proses inilah yang pada akhirnya mendorong terjadinya peningkatan pemahaman siswa secara bertahap.<\/p>\n<p>Temuan penelitian ini selaras dengan penelitian Hirwanto yang menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi pada materi tata cara wudhu dapat meningkatkan pemahaman teoritis sekaligus keterampilan praktik siswa sekolah dasar. Dalam penelitiannya ditemukan bahwa pada tahap awal pembelajaran masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengikuti urutan wudhu secara benar. Akan tetapi, setelah guru melakukan perbaikan pembelajaran melalui demonstrasi yang lebih terstruktur dan memberikan kesempatan praktik yang lebih banyak, kemampuan siswa mengalami peningkatan secara signifikan.<a href=\"#_ftn18\" name=\"_ftnref18\">[18]<\/a> Hasil tersebut memiliki kesamaan yang kuat dengan penelitian ini karena pada siklus I masih ditemukan siswa yang belum mampu mengingat urutan wudhu secara lengkap, sedangkan pada siklus II sebagian besar siswa telah mampu menyebutkan dan mempraktikkan tata cara wudhu dengan benar. Kesamaan temuan tersebut menunjukkan bahwa metode demonstrasi memiliki efektivitas yang konsisten dalam membantu siswa memahami materi ibadah yang membutuhkan keterampilan praktik.<\/p>\n<p>Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian yang dilakukan oleh Syarif Muhoyidin yang menyimpulkan bahwa metode demonstrasi mampu meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa pada materi tata cara berwudhu. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa siswa menjadi lebih aktif selama proses pembelajaran karena mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga terlibat dalam kegiatan mengamati dan mempraktikkan materi yang dipelajari.<a href=\"#_ftn19\" name=\"_ftnref19\">[19]<\/a> Kondisi yang sama ditemukan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil observasi, siswa menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi ketika guru memperagakan tata cara wudhu dibandingkan ketika guru hanya memberikan penjelasan secara lisan. Siswa tampak lebih fokus memperhatikan pembelajaran, lebih sering mengajukan pertanyaan, serta lebih berani mencoba mempraktikkan tata cara wudhu di depan teman-temannya. Peningkatan aktivitas belajar tersebut memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa.<\/p>\n<p>Temuan penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Suriati yang menemukan bahwa penggunaan metode demonstrasi pada materi tata cara berwudhu mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara bertahap pada setiap siklus tindakan.<a href=\"#_ftn20\" name=\"_ftnref20\">[20]<\/a> Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa peningkatan hasil belajar terjadi karena siswa memperoleh kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung sehingga materi yang diajarkan menjadi lebih mudah dipahami. Kondisi tersebut juga terlihat dalam penelitian ini, di mana peningkatan hasil belajar terjadi secara bertahap dari siklus I menuju siklus II. Pada awal pembelajaran, beberapa siswa masih melakukan kesalahan ketika mempraktikkan wudhu, terutama dalam mengurutkan langkah-langkah pelaksanaannya. Akan tetapi, setelah guru memberikan demonstrasi yang lebih rinci dan kesempatan praktik yang lebih banyak, kesalahan tersebut mulai berkurang sehingga hasil belajar siswa meningkat secara signifikan.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian Ilal Fajri, Ahmad Jamiat, Asmaiwaty Arief, dan Khadijah yang menyatakan bahwa metode demonstrasi efektif digunakan dalam pembelajaran fiqih materi wudhu karena mampu meningkatkan pemahaman siswa baik dari aspek teori maupun praktik.<a href=\"#_ftn21\" name=\"_ftnref21\">[21]<\/a> Penelitian tersebut menjelaskan bahwa siswa akan lebih mudah memahami materi ketika mereka dapat melihat contoh nyata dari apa yang dipelajari. Dalam penelitian ini, siswa tidak hanya mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pengertian dan urutan wudhu, tetapi juga mampu mempraktikkan tata cara wudhu sesuai dengan tuntunan yang benar. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode demonstrasi tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan psikomotorik yang menjadi salah satu tujuan utama dalam pembelajaran fiqih.<\/p>\n<p>Penelitian Afidah, Witasari, dan Fathoni juga menunjukkan hasil yang serupa. Mereka menemukan bahwa penerapan metode demonstrasi dan simulasi mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai tata cara berwudhu karena siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.<a href=\"#_ftn22\" name=\"_ftnref22\">[22]<\/a> Keterlibatan aktif tersebut menjadi faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran. Dalam penelitian ini, siswa tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pelaku yang secara langsung mempraktikkan tata cara wudhu. Kegiatan praktik tersebut memungkinkan siswa memperoleh pengalaman nyata sehingga pemahaman yang diperoleh menjadi lebih mendalam dan bertahan lebih lama dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat teoritis.<\/p>\n<p>Hasil penelitian ini juga memiliki kesesuaian dengan penelitian Rizal dan Wandi yang menemukan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktik wudu siswa.<a href=\"#_ftn23\" name=\"_ftnref23\">[23]<\/a> Penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan nilai pemahaman dan kemampuan praktik setelah penerapan metode demonstrasi dalam dua siklus pembelajaran. Temuan tersebut memperkuat hasil penelitian ini yang juga menunjukkan adanya peningkatan pada kedua aspek tersebut. Pada siklus II, sebagian besar siswa telah mampu melaksanakan tata cara wudhu dengan benar tanpa banyak bantuan dari guru. Hal ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi mampu membantu siswa menghubungkan antara konsep yang dipelajari dengan praktik nyata yang harus dilakukan.<\/p>\n<p>Selanjutnya, penelitian Hamdani Saputra menyatakan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada materi wudhu secara signifikan.<a href=\"#_ftn24\" name=\"_ftnref24\">[24]<\/a> Penelitian tersebut menunjukkan bahwa setelah penerapan metode demonstrasi, ketuntasan belajar siswa meningkat dan sebagian besar siswa mampu mencapai target pembelajaran yang telah ditetapkan. Temuan tersebut memiliki kesamaan dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan peningkatan persentase ketuntasan belajar dari 60,71% pada siklus I menjadi 89,29% pada siklus II. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa metode demonstrasi tidak hanya membantu siswa memahami materi secara lebih baik, tetapi juga mampu meningkatkan pencapaian hasil belajar secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Apabila ditinjau dari karakteristik materi yang diajarkan, keberhasilan metode demonstrasi dalam penelitian ini merupakan hal yang logis. Materi tata cara wudhu termasuk materi yang bersifat prosedural dan praktis sehingga memerlukan contoh nyata dalam proses pembelajarannya. Penggunaan metode ceramah secara dominan sering kali menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam membayangkan tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Sebaliknya, metode demonstrasi memungkinkan siswa melihat secara langsung setiap langkah pelaksanaan wudhu sehingga mereka dapat memahami urutan, gerakan, serta bagian-bagian yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan wudhu. Dengan demikian, kesalahan yang mungkin muncul dapat diminimalkan karena siswa memperoleh model atau contoh yang jelas untuk ditiru.<\/p>\n<p>Dari perspektif pembelajaran Pendidikan Agama Islam, metode demonstrasi juga memiliki nilai strategis karena tidak hanya mengembangkan aspek pengetahuan (kognitif), tetapi juga aspek keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif). Melalui demonstrasi, siswa tidak hanya mengetahui tata cara wudhu yang benar, tetapi juga belajar membiasakan diri melaksanakan ibadah sesuai tuntunan syariat. Dengan kata lain, metode demonstrasi membantu mewujudkan tujuan pembelajaran fiqih yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini memiliki kesamaan dengan berbagai penelitian terdahulu yang menunjukkan efektivitas metode demonstrasi dalam pembelajaran materi wudhu. Persamaan tersebut terlihat pada meningkatnya pemahaman siswa, meningkatnya keterampilan praktik, meningkatnya aktivitas belajar, serta meningkatnya hasil belajar setelah penerapan metode demonstrasi. Dengan demikian, metode demonstrasi dapat direkomendasikan sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran fiqih, khususnya pada materi tata cara wudhu yang menuntut penguasaan konsep sekaligus keterampilan praktik. Selain mampu meningkatkan hasil belajar siswa, metode demonstrasi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta didik di tingkat Madrasah Ibtidaiyah.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode demonstrasi efektif dalam meningkatkan pemahaman tata cara wudhu pada siswa kelas III MI. Peningkatan tersebut terlihat dari hasil belajar siswa yang mengalami kenaikan, yaitu nilai rata-rata kelas dari 72,14 pada siklus I menjadi 86,57 pada siklus II, serta persentase ketuntasan belajar yang meningkat dari 60,71% menjadi 89,29%. Selain meningkatkan aspek kognitif, metode demonstrasi juga mampu meningkatkan kemampuan psikomotorik siswa dalam mempraktikkan tata cara wudhu sesuai dengan urutan dan ketentuan yang benar. Melalui kegiatan mengamati, meniru, dan mempraktikkan secara langsung, siswa menjadi lebih aktif, antusias, dan mudah memahami materi yang diajarkan. Dengan demikian, metode demonstrasi dapat direkomendasikan sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran fikih, khususnya pada materi tata cara wudhu, karena mampu memberikan pengalaman belajar yang konkret, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik Madrasah Ibtidaiyah.<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><\/p>\n<p>Afidah, M., Witasari, R., &amp; Fathoni, K. (2024). <em>Peningkatan pemahaman cara berwudhu melalui penerapan metode demonstrasi dan simulasi<\/em>. Abdimas Indonesian Journal, 4(1), 267\u2013272.<\/p>\n<p>Anderson, L. W., &amp; Krathwohl, D. R. (2001). <em>A taxonomy for learning, teaching, and assessing<\/em>. Longman.<\/p>\n<p>Arikunto, S., Suhardjono, &amp; Supardi. (2021). <em>Penelitian tindakan kelas<\/em>. Bumi Aksara.<\/p>\n<p>Ausubel, D. P. (1968). <em>Educational psychology: A cognitive view<\/em>. Holt, Rinehart and Winston.<\/p>\n<p>Bandura, A. (1977). <em>Social learning theory<\/em>. Prentice Hall.<\/p>\n<p>Bruner, J. S. (1960). <em>The process of education<\/em>. Harvard University Press.<\/p>\n<p>Dale, E. (1969). <em>Audio-visual methods in teaching<\/em> (3rd ed.). Dryden Press.<\/p>\n<p>Departemen Agama RI. (2008). <em>Standar kompetensi mata pelajaran fikih MI<\/em>. Direktorat Pendidikan Islam.<\/p>\n<p>Fajri, I., Jamiat, A., Arief, A., &amp; Khadijah. (2024). <em>Implementasi strategis metode demonstrasi untuk meningkatkan pemahaman materi wudhu dalam pembelajaran fiqih<\/em>. Edu Society, 4(3), 1656\u20131666.<\/p>\n<p>Gagn\u00e9, R. M. (1985). <em>The conditions of learning and theory of instruction<\/em> (4th ed.). Holt, Rinehart and Winston.<\/p>\n<p>Gardner, H. (1983). <em>Frames of mind: The theory of multiple intelligences<\/em>. Basic Books.<\/p>\n<p>Hirwanto. (2024). <em>Penerapan metode demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman tata cara wudhu di SDN 019 Sungai Tapah<\/em>. EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif, 1(1), 262\u2013267.<\/p>\n<p>Kemmis, S., &amp; McTaggart, R. (2014). <em>The action research planner<\/em>. Deakin University Press.<\/p>\n<p>Muhoyidin, S. (2021). <em>Penerapan metode demonstrasi dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang tata cara berwudhu<\/em>. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 7(1), 213\u2013219.<\/p>\n<p>Piaget, J. (1972). <em>The psychology of the child<\/em>. Basic Books.<\/p>\n<p>Rizal, I., &amp; Wandi, Z. (2025). <em>Peningkatan pemahaman dan keterampilan praktik wudu melalui metode demonstrasi pada siswa kelas VII.2 SMPN 7 Pariaman<\/em>. EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif.<\/p>\n<p>Sapitriani, S., dkk. (2025). <em>Penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran fikih materi wudhu untuk meningkatkan hasil belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah<\/em>. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan.<\/p>\n<p>Saputra, H. (2024). <em>Peningkatan prestasi belajar PAI materi wudhu melalui metode demonstrasi pada siswa kelas IV di UPT SDN 05 Nanggalo<\/em>. EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif, 1(3), 110\u2013115.<\/p>\n<p>Silberman, M. (2013). <em>Active learning: 101 strategies to teach any subject<\/em>. Allyn &amp; Bacon.<\/p>\n<p>Simpson, E. J. (1972). <em>The classification of educational objectives in the psychomotor domain<\/em>. Gryphon House.<\/p>\n<p>Sudjana, N. (2017). <em>Penilaian hasil proses belajar mengajar<\/em>. Remaja Rosdakarya.<\/p>\n<p>Suriati. (2021). <em>Penerapan metode demonstrasi dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi tata cara berwudhu<\/em>. KHIDMAH: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 1(1), 116\u2013129.<\/p>\n<p>Vygotsky, L. S. (1978). <em>Mind in society: The development of higher psychological processes<\/em>. Harvard University Press.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Hirwanto, &#8220;Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Pemahaman Tata Cara Wudhu di SDN 019 Sungai Tapah,&#8221; EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif 4, no. 2 (2024): 115.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> Albert Bandura, Social Learning Theory (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1977), hlm. 22.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref3\" name=\"_ftn3\">[3]<\/a> Jean Piaget, The Psychology of the Child (New York: Basic Books, 1972), hlm. 48.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref4\" name=\"_ftn4\">[4]<\/a> David P. Ausubel, Educational Psychology: A Cognitive View (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1968), hlm. 85.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref5\" name=\"_ftn5\">[5]<\/a> E. J. Simpson, The Classification of Educational Objectives in the Psychomotor Domain (Washington, DC: Gryphon House, 1972), hlm. 43.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref6\" name=\"_ftn6\">[6]<\/a> Departemen Agama Republik Indonesia, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Fikih Madrasah Ibtidaiyah (Jakarta: Direktorat Pendidikan Islam, 2008), hlm. 17.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref7\" name=\"_ftn7\">[7]<\/a> Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom&#8217;s Taxonomy of Educational Objectives (New York: Longman, 2001), hlm. 67.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref8\" name=\"_ftn8\">[8]<\/a> Melvin L. Silberman, Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject (Boston: Allyn &amp; Bacon, 2013), hlm. 17.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref9\" name=\"_ftn9\">[9]<\/a> Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2015), hlm. 281.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref10\" name=\"_ftn10\">[10]<\/a> Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017), hlm. 22.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref11\" name=\"_ftn11\">[11]<\/a> Jerome S. Bruner, The Process of Education (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1960), hlm. 21.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref12\" name=\"_ftn12\">[12]<\/a> Lev S. Vygotsky, Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1978), hlm. 86.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref13\" name=\"_ftn13\">[13]<\/a> Edgar Dale, Audio-Visual Methods in Teaching (New York: Dryden Press, 1969), hlm. 108.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref14\" name=\"_ftn14\">[14]<\/a> Robert M. Gagn\u00e9, The Conditions of Learning and Theory of Instruction, 4th ed. (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1985), hlm. 244.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref15\" name=\"_ftn15\">[15]<\/a> Howard Gardner, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (New York: Basic Books, 1983), hlm. 87.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref16\" name=\"_ftn16\">[16]<\/a> Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Bumi Aksara, 2021), hlm. 3.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref17\" name=\"_ftn17\">[17]<\/a> Stephen Kemmis dan Robin McTaggart, The Action Research Planner (Victoria: Deakin University Press, 2014), hlm. 11.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref18\" name=\"_ftn18\">[18]<\/a> Hirwanto, \u201cPenerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Pemahaman Tata Cara Wudhu di SDN 019 Sungai Tapah, h 262-267.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref19\" name=\"_ftn19\">[19]<\/a> Syarif Muhoyidin, \u201cPenerapan Metode Demonstrasi dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa tentang Tata Cara Berwudhu,\u201d Jurnal Educatio FKIP UNMA, Vol. 7, No. 1 (2021), hlm. 213\u2013219.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref20\" name=\"_ftn20\">[20]<\/a>\u00a0 Suriati, \u201cPenerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Tata Cara Berwudhu,\u201d KHIDMAH: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, Vol. 1, No. 1 (2021), hlm. 116\u2013129.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref21\" name=\"_ftn21\">[21]<\/a> Ilal Fajri, Ahmad Jamiat, Asmaiwaty Arief, dan Khadijah, \u201cImplementasi Strategis Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Wudhu dalam Pembelajaran Fiqih,\u201d Edu Society, Vol. 4, No. 3 (2024), hlm. 1656\u20131666.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref22\" name=\"_ftn22\">[22]<\/a>Mu&#8217;rifatul Afidah, Rinesti Witasari, dan Khoirul Fathoni, \u201cPeningkatan Pemahaman Cara Berwudhu Melalui Penerapan Metode Demonstrasi dan Simulasi,\u201d Abdimas Indonesian Journal, Vol. 4, No. 1 (2024), hlm. 267\u2013272.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref23\" name=\"_ftn23\">[23]<\/a> Ikbar Rizal dan Zufri Wandi, \u201cPeningkatan Pemahaman dan Keterampilan Praktik Wudu Melalui Metode Demonstrasi pada Siswa Kelas VII.2 SMPN 7 Pariaman,\u201d EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif, Vol. 2 (2025).<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref24\" name=\"_ftn24\">[24]<\/a> Hamdani Saputra, \u201cPeningkatan Prestasi Belajar PAI Materi Wudhu Melalui Metode Demonstrasi pada Siswa Kelas IV di UPT SDN 05 Nanggalo,\u201d EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif, Vol. 1, No. 3 (2024), hlm. 110\u2013115.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jeni Aulia1, Anisa Putri Adelia2, Nabilah Fitriyyah Agustien3, Muhamad Afandi4anisaputriadelia02@gmail.com, jenia0442@gmail.com, nabilaaftriaagstn@gmail.com, muhammadafandi_uin@radenfatah.ac.id 1, 2, 3 \u00a0Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang 4 Dosen Metodologi Pembelajaran PAI MI\/SD, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_comment_section":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25908","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25908"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25908\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}