{"id":25875,"date":"2026-06-09T13:30:34","date_gmt":"2026-06-09T05:30:34","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25875"},"modified":"2026-06-09T13:31:01","modified_gmt":"2026-06-09T05:31:01","slug":"mengutamakan-kepedulian-daripada-stigma-melindungi-nilai-kemanusiaan-di-tengah-hantavirus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengutamakan-kepedulian-daripada-stigma-melindungi-nilai-kemanusiaan-di-tengah-hantavirus\/25875\/","title":{"rendered":"Mengutamakan Kepedulian Daripada Stigma: Melindungi Nilai Kemanusiaan Di Tengah HantaVirus"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Virus-Hanta-e1778646647553.webp\" alt=\"\" width=\"584\" height=\"360\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25876\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Virus-Hanta-e1778646647553.webp 584w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Virus-Hanta-e1778646647553-300x185.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 584px) 100vw, 584px\" \/><\/p>\n<p>Oleh:<br \/>\n1. Cahaya Aradhiva S<br \/>\n2. Rizky Wulandari<br \/>\n3. Septi Nurinsyiroh<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Bagi banyak orang, dunia saat ini menjadi tempat yang terasa semakin tidak aman, dipenuhi dengan ancaman dari berbagai sisi, mulai dari krisis berkepanjangan, konflik kekerasan, bencana alam, kemiskinan, epidemi, hingga ancaman kesehatan global. Kemunculan kasus hantavirus belakangan ini kembali menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, dibalik pembahasan mengenai virus dan ancaman kesehatan, terdapat sisi kemanusiaan yang sering luput dari perhatian. Ketika seseorang terinfeksi atau diduga mengidap penyakit menular, tidak jarang mereka langsung dijauhi, dicurigai, bahkan dipandang sebagai ancaman. Padahal, mereka juga korban dari situasi yang tidak mereka inginkan. <\/p>\n<p>Hantavirus sendiri umumnya menyebar melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Spesialis penyakit infeksi dari Vanderbilt University Medical Center, William Schaffner menjelaskan bahwa penularannya membutuhkan kontak yang sangat dekat dan berlangsung lama. Artinya, risiko penularan tidak terjadi hanya karena berpapasan dengan pasien di tempat umum. Dalam situasi seperti ini, penting untuk melihat pasien sebagai manusia yang tetap memiliki hak untuk diperlakukan dengan hormat, aman, dan tanpa stigma sosial. Fenomena ini memperlihatkan bahwa wabah penyakit bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan sosial dan kemanusiaan. Ketika rasa takut lebih besar dibanding empati, masyarakat bisa dengan mudah membentuk stigma terhadap individu yang sedang sakit. <\/p>\n<p>Di media sosial sendiri mulai bermunculan berbagai komentar yang mengaitkan penderita dengan lingkungan kotor atau sesuatu yang harus dijauhi. Padahal, WHO menjelaskan bahwa sebagian besar hantavirus tidak mudah menular antar manusia. Ketakutan terhadap penyakit memang merupakan hal yang wajar, tetapi rasa takut tidak seharusnya menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Individu  yang sedang sakit membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Mereka tetap punya hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil, akses kesehatan yang layak, serta rasa aman di lingkungan sosialnya.<\/p>\n<p>Persoalan ini dapat dilihat melalui perspektif human security atau keamanan manusia. Konsep human security menekankan bahwa keamanan tidak hanya dipahami sebagai perlindungan negara dari ancaman militer, tetapi juga perlindungan individu dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu kehidupan dan kesejahteraannya, termasuk ancaman kesehatan. Dalam konteks penyebaran Hantavirus, ancaman yang dihadapi seseorang bukan hanya risiko penyakit secara fisik, tetapi juga ancaman sosial berupa stigma, diskriminasi, pengucilan, dan hilangnya rasa aman di lingkungan sekitar. Pendekatan human security hadir sebagai kerangka yang menempatkan manusia sebagai fokus utama, sehingga respons terhadap wabah seharusnya tidak hanya berorientasi pada penanganan penyakit, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan, perlindungan hak individu, serta terciptanya rasa aman dan empati di tengah masyarakat. <\/p>\n<p>https:\/\/www.who.int\/health-topics\/hantavirus<br \/>\nhttps:\/\/kesehatan.liputan6.com\/info-sehat\/read\/6410425\/hantavirus-disebut-bisa-menular-antar-manusia-benarkah-semudah-itu <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: 1. Cahaya Aradhiva S 2. Rizky Wulandari 3. Septi Nurinsyiroh JurnalPost.com &#8211; Bagi banyak orang, dunia saat ini menjadi tempat yang terasa semakin tidak aman, dipenuhi dengan ancaman dari berbagai sisi, mulai dari krisis berkepanjangan, konflik kekerasan, bencana alam, kemiskinan, epidemi, hingga ancaman kesehatan global. Kemunculan kasus hantavirus belakangan ini kembali menimbulkan kekhawatiran di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25876,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25876"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}