{"id":25833,"date":"2026-06-08T13:02:14","date_gmt":"2026-06-08T05:02:14","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25833"},"modified":"2026-06-08T13:02:14","modified_gmt":"2026-06-08T05:02:14","slug":"kesantunan-berbahasa-dalam-pendidikan-sebuah-catatan-linguistik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kesantunan-berbahasa-dalam-pendidikan-sebuah-catatan-linguistik\/25833\/","title":{"rendered":"Kesantunan Berbahasa dalam Pendidikan: Sebuah Catatan Linguistik"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Berbahasa.webp\" alt=\"\" width=\"441\" height=\"298\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25834\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Berbahasa.webp 441w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Berbahasa-300x203.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 441px) 100vw, 441px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Kelik Wachyudi<\/strong> (Dosen PBI, Universitas Singaperbangsa Karawang)<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Ada hal sederhana yang sering luput ketika kita membicarakan pendidikan, yaitu cara kita berbahasa. Kita lebih sering berbicara tentang kurikulum, nilai, prestasi, teknologi pembelajaran, dan capaian akademik. Semua itu penting, tetapi kehidupan pendidikan sehari-hari justru bergerak melalui bahasa. Guru menjelaskan, siswa bertanya, dosen memberi arahan, mahasiswa berdiskusi, dan teman saling menanggapi. Dari pilihan kata, nada, dan cara menyampaikan pesan, suasana belajar dapat tumbuh menjadi hangat atau sebaliknya terasa kaku dan kurang nyaman. Satu kalimat dapat membuat peserta didik berani bertanya, tetapi kalimat lain dapat membuatnya memilih diam.<\/p>\n<p>Kesantunan berbahasa, dalam hal ini, tidak cukup dipahami sebagai kebiasaan mengucapkan \u201ctolong\u201d, \u201cmaaf\u201d, atau \u201cterima kasih\u201d. Ia lebih dalam daripada sekadar sopan santun di permukaan. Kesantunan berbahasa adalah kemampuan memilih kata, membaca keadaan, menjaga rasa, dan menghargai perasaan serta posisi lawan bicara. Dalam pendidikan, ketegasan tetap diperlukan, kritik tetap penting, dan perbedaan pendapat tetap harus diberi ruang. Namun, ketegasan tetap dapat disampaikan dengan bahasa yang pantas, kritik tetap dapat diberikan dengan cara yang menghargai, dan perbedaan pendapat tetap dapat dijaga tanpa menghilangkan rasa hormat. Di ruang kelas, peserta didik tidak hanya belajar memahami pelajaran, tetapi juga belajar bagaimana berbicara, menanggapi, dan berbeda pendapat dengan tetap menghargai orang lain.<\/p>\n<p>Pada era digital, kesantunan berbahasa menjadi semakin penting. Peserta didik tidak hanya berbicara di kelas, tetapi juga menulis di grup percakapan, ruang komentar, media sosial, dan platform pembelajaran daring. Dalam ruang digital, kata-kata sering hadir tanpa wajah, tanpa nada suara, dan tanpa konteks yang utuh. Pesan singkat bisa terasa dingin, candaan bisa dipahami berbeda, dan kritik bisa menimbulkan salah paham jika tidak disampaikan dengan hati-hati. Dari sudut pandang linguistik, bahasa tidak pernah sekadar bunyi atau tulisan; ia selalu membawa sikap. Pendidikan tentu perlu melahirkan orang-orang cerdas, tetapi kecerdasan itu akan lebih bermakna jika disertai kemampuan berbahasa secara bijak. Kesantunan berbahasa adalah cara kecil tetapi penting untuk membuat pendidikan terasa lebih hangat, manusiawi, dan bermakna.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Kelik Wachyudi (Dosen PBI, Universitas Singaperbangsa Karawang) JurnalPost.com &#8211; Ada hal sederhana yang sering luput ketika kita membicarakan pendidikan, yaitu cara kita berbahasa. Kita lebih sering berbicara tentang kurikulum, nilai, prestasi, teknologi pembelajaran, dan capaian akademik. Semua itu penting, tetapi kehidupan pendidikan sehari-hari justru bergerak melalui bahasa. Guru menjelaskan, siswa bertanya, dosen memberi arahan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25834,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25833","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25833","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25833"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25833\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25834"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25833"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25833"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25833"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}