{"id":25825,"date":"2026-06-08T02:19:55","date_gmt":"2026-06-07T18:19:55","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25825"},"modified":"2026-06-08T13:45:18","modified_gmt":"2026-06-08T05:45:18","slug":"food-waste-di-indonesia-kerugian-ekonomi-yang-mengancam-ketahanan-pangan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/food-waste-di-indonesia-kerugian-ekonomi-yang-mengancam-ketahanan-pangan-nasional\/25825\/","title":{"rendered":"Food Waste di Indonesia: Kerugian Ekonomi yang Mengancam Ketahanan Pangan Nasional"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_25826\" aria-describedby=\"caption-attachment-25826\" style=\"width: 451px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-2.png\" alt=\"\" width=\"451\" height=\"300\" class=\"size-full wp-image-25826\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-2.png 451w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-2-300x200.png 300w\" sizes=\"(max-width: 451px) 100vw, 451px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-25826\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi makanan yang terbuang (food waste) Sumber: National Geographic Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penulis: <strong>Wulan Nur Khotimah<\/strong><br \/>\nProgram Studi Agribisnis, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di tengah berbagai upaya untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, Indonesia masih menghadapi persoalan yang sering kali kurang mendapat perhatian, yaitu food waste atau sampah makanan. Istilah ini merujuk pada makanan yang masih layak dikonsumsi, tetapi terbuang sia-sia pada tahap distribusi, penjualan, hingga konsumsi. Fenomena ini menjadi suatu kondisi yang memprihatinkan karena di saat sebagian masyarakat masih mengalami keterbatasan akses pangan, sejumlah besar makanan justru berakhir di tempat sampah setiap harinya.<\/p>\n<p>Masalah food waste bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek ekonomi dan ketahanan pangan. Menurut data yang dikutip oleh Antara News, Indonesia menghasilkan food loss and waste sebesar 23-48 juta ton per tahun selama periode 2000-2019. Kondisi tersebut menyebabkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp213-551 triliun per tahun atau setara dengan sekitar 4-5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa pemborosan pangan telah menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian dari berbagai pihak.<\/p>\n<p>Di balik makanan yang terbuang, terdapat kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Setiap bahan pangan yang diproduksi membutuhkan berbagai sumber daya, seperti lahan, air, benih, pupuk, tenaga kerja, hingga biaya distribusi. Ketika makanan tidak sampai dikonsumsi dan akhirnya dibuang, seluruh sumber daya tersebut ikut terbuang tanpa memberikan manfaat yang optimal.<\/p>\n<p>Food waste dapat terjadi di berbagai tahap rantai pasok pangan. Namun, pada tingkat konsumen, kebiasaan membeli makanan secara berlebihan, mengambil porsi makan terlalu banyak, serta kurangnya perencanaan dalam mengelola bahan pangan menjadi beberapa penyebab utama meningkatnya sampah makanan. Tidak sedikit pula makanan yang masih layak dikonsumsi justru dibuang hanya karena tampilannya kurang menarik atau masa simpannya dianggap hampir habis.<\/p>\n<p>Tingginya jumlah makanan yang terbuang juga dapat memengaruhi ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi pangan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan pangan secara efektif dan efisien. Ketika sebagian hasil produksi tidak termanfaatkan dengan baik, maka upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat menjadi kurang optimal.<\/p>\n<p>Selain berdampak pada ekonomi dan ketahanan pangan, food waste juga berpengaruh terhadap lingkungan. Sampah makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir akan menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperburuk perubahan iklim yang pada akhirnya turut memengaruhi sektor pertanian dan produksi pangan.<\/p>\n<p>Mengurangi food waste dapat dimulai dari langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dapat membeli makanan sesuai kebutuhan, menyimpan bahan pangan dengan benar, mengolah kembali sisa makanan yang masih layak konsumsi, serta membiasakan diri untuk menghabiskan makanan yang telah diambil. Langkah-langkah kecil tersebut dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.<\/p>\n<p>Melihat berbagai dampak yang ditimbulkan, food waste bukan hanya persoalan membuang makanan, melainkan persoalan ekonomi dan ketahanan pangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Dengan mengurangi pemborosan pangan, masyarakat tidak hanya membantu menghemat sumber daya dan menekan kerugian ekonomi, tetapi juga turut mendukung terwujudnya<br \/>\nketahanan pangan nasional yang lebih berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\n1.\tAntara News. Indonesia generating 48 mln tons food waste per year: Bappenas. https:\/\/en.antaranews.com\/news\/176214\/indonesia-generating-48-mln-tons-food-waste-per-year-bappenas<br \/>\n2.\tNational Geographic Indonesia. Stop Food Waste Day: Seberapa Darurat Masalah Sampah Makanan di Indonesia? https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/134375089\/stop-food-waste-day-seberapa-darurat-masalah-sampah-makanan-di-indonesia <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Wulan Nur Khotimah Program Studi Agribisnis, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa JurnalPost.com &#8211; Di tengah berbagai upaya untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, Indonesia masih menghadapi persoalan yang sering kali kurang mendapat perhatian, yaitu food waste atau sampah makanan. Istilah ini merujuk pada makanan yang masih layak dikonsumsi, tetapi terbuang sia-sia pada tahap distribusi, penjualan, hingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25826,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25825","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25825","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25825"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25825\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25825"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25825"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25825"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}