{"id":25759,"date":"2026-06-03T11:46:07","date_gmt":"2026-06-03T03:46:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25759"},"modified":"2026-06-03T11:46:07","modified_gmt":"2026-06-03T03:46:07","slug":"keserakahan-yang-menebang-hutan-dan-mengikis-kesadaran-manusia-terhadap-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/keserakahan-yang-menebang-hutan-dan-mengikis-kesadaran-manusia-terhadap-lingkungan\/25759\/","title":{"rendered":"Keserakahan yang Menebang Hutan dan Mengikis Kesadaran Manusia terhadap Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Menebang-Hutan.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"419\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25760\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Menebang-Hutan.jpg 800w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Menebang-Hutan-300x157.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Menebang-Hutan-768x402.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Menebang-Hutan-750x393.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Reza Firnanda <\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kalau kita melihat kondisi lingkungan hari ini, rasanya makin susah untuk percaya bahwa kerusakan alam cuma bisa disebut sebagai \u201cbagian dari pembangunan\u201d. Di mana-mana hutan dibabat, gunung dikeruk, sungai dicemari, lalu semuanya dibungkus dengan istilah yang terdengar keren seperti investasi, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan nasional. Padahal kalau dipikir lebih dalam, ada satu akar masalah yang sebenarnya paling besar tetapi sering disamarkan: keserakahan manusia yang makin tidak punya batas.<\/p>\n<p>Salah satu contoh yang paling kelihatan jelas ada pada ekspansi kebun sawit di Indonesia. Hutan yang dulu menjadi rumah bagi satwa liar, sumber kehidupan masyarakat adat, penyimpan cadangan air, dan paru-paru bumi sekarang perlahan berubah menjadi hamparan kebun industri. Memang sama-sama berwarna hijau, tapi hijau sawit jelas berbeda dengan hijau hutan. Hutan itu hidup, penuh keberagaman, dan memiliki ekosistem yang saling terhubung. Sementara itu, kebun sawit lebih mirip pabrik terbuka yang dipaksa tumbuh demi memenuhi kebutuhan pasar dan keuntungan ekonomi.<\/p>\n<p>Ironisnya, kerusakan ini sering dianggap sebagai hal biasa. Selama ekonomi masih berjalan dan keuntungan terus masuk, kerusakan lingkungan seolah bisa dimaklumi. Padahal yang hilang bukan cuma pohon. Yang ikut hilang adalah keseimbangan alam dan hubungan emosional manusia dengan lingkungannya sendiri.<\/p>\n<p>Dalam kajian psikologi lingkungan, manusia sebenarnya memiliki keterikatan psikologis dengan alam. Lingkungan bukan cuma tempat tinggal, tetapi juga memengaruhi kondisi mental, emosi, bahkan perilaku manusia. Makanya banyak penelitian menjelaskan bahwa ruang hijau bisa membantu menurunkan stres, meningkatkan fokus, dan menjaga kesehatan mental. Alam memiliki efek menenangkan yang sering kali tidak disadari oleh manusia modern.<\/p>\n<p>Tapi sekarang coba lihat kehidupan hari ini. Anak-anak lebih akrab dengan layar gadget dibanding suara burung atau bau tanah setelah hujan. Kota dipenuhi beton, polusi, dan bangunan tinggi, sementara ruang hijau makin sedikit dan sering dianggap menghambat pembangunan. Manusia modern perlahan hidup terputus dari alam. Kita makin jauh dari lingkungan yang sebenarnya menjaga kewarasan kita sendiri.<\/p>\n<p>Akibatnya muncul fenomena yang dalam psikologi lingkungan disebut environmental disconnect, yaitu kondisi ketika manusia kehilangan hubungan emosional dengan alam. Ketika keterikatan itu hilang, manusia menjadi lebih mudah merusak lingkungan karena tidak lagi merasa memiliki tanggung jawab moral terhadapnya. Alam akhirnya dipandang cuma sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai bagian penting dari kehidupan.<\/p>\n<p>Cara pandang seperti ini sangat berbahaya. Hutan dihitung berdasarkan nilai ekonominya, bukan nilai ekologisnya. Pohon dianggap lebih berguna ketika ditebang dan dijual dibanding saat berdiri menjaga keseimbangan ekosistem. Sungai diperas, tanah dieksploitasi, dan gunung dihancurkan demi kepentingan industri. Semua dilakukan atas nama pembangunan, padahal yang sering dibangun sebenarnya hanyalah keuntungan segelintir pihak.<\/p>\n<p>Yang lebih menyedihkan, dampaknya justru dirasakan oleh masyarakat luas. Ketika banjir datang, longsor terjadi, suhu makin panas, dan udara makin buruk, masyarakat kecillah yang paling banyak menanggung akibatnya. Sementara itu, pihak yang menikmati keuntungan terbesar sering kali bisa tetap nyaman di balik gedung-gedung mewah dan kebijakan yang mereka buat sendiri.<\/p>\n<p>Di sisi lain, generasi muda sekarang mulai mengalami apa yang disebut eco-anxiety, yaitu kecemasan berlebihan terhadap masa depan lingkungan. Banyak anak muda merasa takut melihat kondisi bumi yang makin rusak. Mereka tumbuh di tengah berita tentang kebakaran hutan, krisis iklim, cuaca ekstrem, polusi, dan hilangnya ruang hidup alami. Lucunya, generasi yang paling sedikit berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan justru menjadi generasi yang paling cemas menghadapi dampaknya.<\/p>\n<p>Masalahnya, krisis lingkungan hari ini sering kali bukan terjadi karena manusia tidak tahu dampaknya, tetapi karena manusia terlalu sibuk mengejar keuntungan jangka pendek. Keserakahan perlahan dianggap sebagai hal normal. Eksploitasi dianggap sebagai bagian dari kemajuan. Bahkan kerusakan lingkungan sering dilegalkan lewat kebijakan yang lebih memihak investasi dibanding keselamatan ekologi.<\/p>\n<p>Padahal kalau dipikir secara logis, pembangunan yang merusak alam sebenarnya adalah bentuk kegagalan berpikir jangka panjang. Tidak ada ekonomi yang bisa bertahan kalau sumber air habis, udara makin tercemar, tanah kehilangan kesuburan, dan iklim makin kacau. Manusia sedang membangun kemajuan di atas fondasi kerusakan yang suatu saat akan menghancurkan hidupnya sendiri.<\/p>\n<p>Kita terlalu sering memisahkan manusia dan alam, seolah keduanya tidak saling membutuhkan. Padahal manusia hidup dari alam, makan dari alam, bernapas dari alam, bahkan kondisi mental manusia juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia hidup. Ketika hutan hilang, yang rusak bukan cuma ekosistem, tetapi juga kualitas hidup dan kesehatan psikologis manusia.<\/p>\n<p>Karena itu, krisis lingkungan hari ini sebenarnya bukan cuma krisis ekologis, tetapi juga krisis moral dan krisis kesadaran. Manusia modern terlalu sibuk mengejar pertumbuhan sampai lupa cara hidup berdampingan dengan alam. Keserakahan dianggap ambisi, eksploitasi dianggap prestasi, dan kerusakan dianggap sebagai konsekuensi biasa dari pembangunan.<\/p>\n<p>Kalau pola pikir seperti ini terus dipelihara, mungkin di masa depan manusia masih memiliki gedung tinggi, jalan besar, dan industri megah. Tapi mereka akan hidup di dunia yang lebih panas, penuh bencana, krisis air, dan dipenuhi kecemasan ekologis. Pada akhirnya, yang paling berbahaya bukan cuma hilangnya hutan, tetapi hilangnya rasa peduli manusia terhadap lingkungan tempat ia sendiri bergantung hidup.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Reza Firnanda JurnalPost.com &#8211; Kalau kita melihat kondisi lingkungan hari ini, rasanya makin susah untuk percaya bahwa kerusakan alam cuma bisa disebut sebagai \u201cbagian dari pembangunan\u201d. Di mana-mana hutan dibabat, gunung dikeruk, sungai dicemari, lalu semuanya dibungkus dengan istilah yang terdengar keren seperti investasi, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan nasional. Padahal kalau dipikir lebih dalam, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25760,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25759","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25759","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25759"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25759\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}