{"id":25729,"date":"2026-06-02T12:20:58","date_gmt":"2026-06-02T04:20:58","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25729"},"modified":"2026-06-02T12:20:58","modified_gmt":"2026-06-02T04:20:58","slug":"jangan-buru-buru-dibakar-bonggol-jagung-bisa-jadi-sumber-pangan-bernilai-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/jangan-buru-buru-dibakar-bonggol-jagung-bisa-jadi-sumber-pangan-bernilai-tinggi\/25729\/","title":{"rendered":"Jangan Buru-Buru Dibakar, Bonggol Jagung Bisa Jadi Sumber Pangan Bernilai Tinggi"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_25731\" aria-describedby=\"caption-attachment-25731\" style=\"width: 829px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-25731\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/bonggol.jpg\" alt=\"\" width=\"829\" height=\"256\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/bonggol.jpg 829w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/bonggol-300x93.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/bonggol-768x237.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/bonggol-750x232.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 829px) 100vw, 829px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-25731\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1\u20132. Bonggol jagung sebagai limbah pertanian dan pemanfaatannya dalam budidaya jamur tiram. Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap (TaniPedia Edisi 18) dan IPB Digitani (\u201cBudidaya Jamur Tiram: Peluang Usaha dengan Perawatan Sederhana\u201d).<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Penulis:<\/strong><br \/>\nDhiya Izzatunnisa, Nabila Fadllan, Naneu Nurfarida, Rini Fauziah, Sandi Prasetio, dan Shayla Sonda Stoodley<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Siapa sangka, bonggol jagung yang selama ini sering dianggap limbah pertanian ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan bernilai tinggi. Melalui proses biokonversi, limbah ini dapat diolah menjadi media tumbuh jamur tiram (<em>Pleurotus ostreatus<\/em>), sekaligus membantu mengurangi penumpukan sisa panen dan praktik pembakaran yang berdampak buruk bagi lingkungan.<\/p>\n<p>Di banyak daerah sentra pertanian, tumpukan bonggol jagung merupakan pemandangan yang tidak asing. Setelah panen, limbah ini sering kali dianggap tidak memiliki nilai guna, bahkan dibakar untuk membersihkan lahan dengan cepat. Padahal, di balik bentuknya yang keras dan sederhana, bonggol jagung menyimpan potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal.<\/p>\n<p>Jamur dari genus <em>Pleurotus<\/em> hadir sebagai jawaban atas persoalan ini. Kelompok jamur yang mencakup spesies <em>P. ostreatus<\/em>, <em>P. eryngii<\/em>, <em>P. djamor<\/em>, <em>P. citrinopileatus<\/em>, dan <em>P. pulmonarius<\/em> ini bukan sekadar bahan masakan lezat, tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan, antimutagenik, serta berpotensi mendukung kesehatan hati.\u00a0 Yang lebih menakjubkan, jamur-jamur ini mampu tumbuh subur pada suhu 10\u201328\u00b0C dengan memanfaatkan aneka limbah pertanian seperti jerami padi, bonggol jagung, gandum, sabut kelapa, bahkan daun pisang sebagai media tumbuhnya.<\/p>\n<p>Namun, di balik potensi tersebut, terdapat persoalan besar yang perlu mendapat perhatian. Setiap tahun, aktivitas pertanian global menghasilkan jutaan ton limbah organik berupa biomassa lignoselulosa. Berdasarkan data FAO yang dilaporkan Cherubin dkk., volume limbah agronomis dunia meningkat sekitar 50% dalam satu dekade, mencapai 5.011 juta megagram pada periode 2003\u20132013. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, mulai dari peningkatan emisi gas rumah kaca hingga penurunan kualitas tanah.<\/p>\n<p>Pemanfaatan bonggol jagung sebagai media budidaya jamur tiram merupakan salah satu contoh penerapan bioteknologi konvensional yang memanfaatkan kemampuan alami mikroorganisme. Dalam prosesnya, jamur tiram menghasilkan enzim yang mampu menguraikan senyawa kompleks seperti lignin dan selulosa menjadi sumber nutrisi yang mendukung pertumbuhannya. Kemampuan inilah yang membuat jamur tiram dapat tumbuh dengan baik pada berbagai limbah pertanian, termasuk bonggol jagung, sekaligus mengubah bahan yang semula dianggap tidak bernilai menjadi produk pangan yang bermanfaat.<\/p>\n<p>Bonggol jagung sering kali dianggap sebagai limbah pertanian biasa, padahal ia menyimpan potensi luar biasa sebagai biomassa lignoselulosa yang kaya nutrisi. Secara kimiawi, bonggol jagung mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang berperan sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme. Rasio karbon dan nitrogen (C\/N) yang tinggi menjadikan limbah ini cocok digunakan sebagai media pertumbuhan berbagai jenis jamur.<\/p>\n<p>Sebagai media tumbuh, bonggol jagung menawarkan keunggulan berupa struktur porus yang menjamin aerasi oksigen berjalan baik serta kemampuan menyimpan air yang optimal tanpa menjadi terlalu padat. Dibandingkan dengan media lain seperti serbuk kayu yang rendah nutrisi atau jerami padi yang cepat lapuk, bonggol jagung terbukti memiliki efisiensi biologis yang lebih tinggi sehingga mampu mempercepat waktu panen. Dengan memanfaatkan limbah ini menjadi media tumbuh, pupuk organik, hingga pakan ternak, petani tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga menerapkan konsep ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan pendapatan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_25730\" aria-describedby=\"caption-attachment-25730\" style=\"width: 335px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-25730\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1.png\" alt=\"\" width=\"335\" height=\"299\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1.png 335w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-300x268.png 300w\" sizes=\"(max-width: 335px) 100vw, 335px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-25730\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 3. Produksi jamur tiram pada media berbasis limbah bonggol jagung. Sumber: Z\u00e1rate-Salazar dkk. (2020), SN Applied Sciences.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pemanfaatan bonggol jagung sebagai media tumbuh jamur tiram tergolong sederhana dan tidak memerlukan teknologi yang canggih sehingga sangat mudah diterapkan, bahkan dari rumah. Dalam proses budidaya, bonggol jagung dibersihkan dan dipotong kecil, kemudian dicampur dengan bahan tambahan seperti jerami dan kapur untuk mendukung pertumbuhan jamur.\u00a0 Setelah dilembabkan, campuran dimasukkan ke dalam plastik dan dipanaskan untuk menjaga kebersihannya dari kontaminasi. Setelah dingin, media siap \u201cditanami\u201d bibit jamur dan disimpan di tempat yang sesuai hingga jamur mulai tumbuh.<\/p>\n<p>Tahapan ini tidak sekadar proses teknis, melainkan bagian penting untuk memastikan jamur dapat tumbuh optimal. Proses pemanasan atau sterilisasi berfungsi menghilangkan mikroorganisme kontaminan yang dapat menghambat pertumbuhan jamur. Sementara itu, penambahan dedak dan kapur membantu menyeimbangkan kandungan nutrisi serta pH media, sehingga mendukung perkembangan miselium secara maksimal. Kombinasi faktor-faktor ini menjadi kunci keberhasilan dalam budidaya jamur berbasis limbah pertanian.<\/p>\n<p>Menariknya, metode ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga \u201cramah kantong\u201d. Dengan bahan yang mudah didapat dan biaya yang relatif rendah, budidaya jamur dari bonggol jagung membuka peluang usaha baru, terutama di daerah pertanian. Ditambah lagi, jamur tiram dikenal sebagai pangan bergizi yang mendukung ketahanan pangan masyarakat.<\/p>\n<p>Proses di balik pertumbuhan jamur ini sebenarnya merupakan bentuk biokonversi alami yang menarik. Jamur tiram bekerja dengan menghasilkan enzim seperti laccase, selulase, dan peroksidase yang mampu menguraikan komponen kompleks dalam bonggol jagung, seperti lignin dan selulosa. Struktur yang semula keras perlahan dibuka, lalu diubah menjadi senyawa sederhana berupa gula yang dapat diserap sebagai sumber energi. Dari sinilah miselium tumbuh dan berkembang hingga akhirnya membentuk tubuh buah jamur yang dapat dipanen.<\/p>\n<p>Prosesnya pun tergolong sederhana dan cukup efisien. Namun, hasilnya tetap dipengaruhi oleh kualitas bahan dan kondisi budidaya, sehingga konsistensi produksi masih menjadi tantangan, terutama jika dikembangkan dalam skala besar.<\/p>\n<p>Penelitian yang dilakukan oleh Z\u00e1rate dkk menunjukkan bahwa limbah lignoselulosa, termasuk bonggol jagung, memiliki potensi sebagai substrat budidaya jamur dengan efisiensi biologis yang tinggi. Hal ini membuka peluang untuk pengembangan skala industri, terutama jika didukung dengan standarisasi media dan kondisi budidaya. Dengan pendekatan yang tepat, limbah pertanian tidak lagi dipandang sebagai residu, melainkan sebagai sumber daya dalam sistem ekonomi sirkular.<\/p>\n<p>Ke depan, pengembangan metode ini masih memiliki peluang yang luas, mulai dari optimalisasi substrat hingga pemanfaatan sisa media tumbuh menjadi produk bernilai tambah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa melalui sentuhan bioteknologi, limbah pertanian yang sering dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi solusi pangan yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><br \/>\nCherubin, M. R., Oliveira, D. M. S., Feigl, B. J., Pimentel, L. G., Lisboa, I. P., Gmach, M. R., Varanda, L. L., Morais, M. C., Satiro, L. S., Popin, G. V., Paiva, S. R., &amp; Cerri, C. E. P. (2018). Crop residue harvest for bioenergy production and its implications on soil functioning and plant growth: A review. Scientia Agricola, 75(3), 255\u2013272. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1590\/1678-992X-2016-0459\">https:\/\/doi.org\/10.1590\/1678-992X-2016-0459<\/a><\/p>\n<p>Koutrotsios, G., Mountzouris, K. C., Chatzipavlidis, I., &amp; Zervakis, G. I. (2016). Biotechnological, nutritional and therapeutic uses of Pleurotus spp. (Oyster mushroom) related with its chemical composition: A review on the past decade findings. Trends in Food Science &amp; Technology, 50, 103\u2013117. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.tifs.2016.01.012\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.tifs.2016.01.012<\/a><\/p>\n<p>Z\u00e1rate-Salazar, J. R., Santos, M. N., Caballero, E. N. M., Martins, O. G., &amp; Herrera, \u00c1. A. P. (2020). Use of lignocellulosic corn and rice wastes as substrates for oyster mushroom (Pleurotus ostreatus Jacq.) cultivation. SN Applied Sciences, 2, 1904. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s42452-020-03720-z\">https:\/\/doi.org\/10.1007\/s42452-020-03720-z<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Dhiya Izzatunnisa, Nabila Fadllan, Naneu Nurfarida, Rini Fauziah, Sandi Prasetio, dan Shayla Sonda Stoodley JurnalPost.com &#8211; Siapa sangka, bonggol jagung yang selama ini sering dianggap limbah pertanian ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan bernilai tinggi. Melalui proses biokonversi, limbah ini dapat diolah menjadi media tumbuh jamur tiram (Pleurotus ostreatus), sekaligus membantu mengurangi penumpukan sisa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25731,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25729","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25729"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25729\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25731"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}