{"id":25675,"date":"2026-05-29T20:07:55","date_gmt":"2026-05-29T12:07:55","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25675"},"modified":"2026-05-29T20:45:31","modified_gmt":"2026-05-29T12:45:31","slug":"komunikasi-kelompok-dan-dinamika-organisasi-ketika-cara-berbicara-menentukan-arah-kerja-sama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/komunikasi-kelompok-dan-dinamika-organisasi-ketika-cara-berbicara-menentukan-arah-kerja-sama\/25675\/","title":{"rendered":"Komunikasi Kelompok Dan Dinamika Organisasi: Ketika Cara Berbicara Menentukan Arah Kerja Sama"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1.jpg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1707\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25686\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1.jpg 2560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1-2048x1366.jpg 2048w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1-750x500.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/business-team-against-human-resources-doodle-scaled-1-1140x760.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Alfina Ngartini Damayanti Dan Muhammad Taufiqurrachman<br \/>\nMahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam  Universitas Hasyim Asy&#8217;ari Tebuireng Jombang.<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong>  Dalam banyak organisasi, persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada kurangnya kemampuan anggota, melainkan pada cara mereka berkomunikasi. Kesalahan kecil dalam menyampaikan pesan dapat berkembang menjadi miskomunikasi, menimbulkan konflik, bahkan menghambat tercapainya tujuan bersama. Karena itu, komunikasi tidak dapat dipandang sebagai pelengkap dalam organisasi, melainkan sebagai fondasi utama yang menentukan arah kerja sama.<\/p>\n<p>Komunikasi kelompok memiliki peran penting dalam menyatukan pemahaman antaranggota. Melalui komunikasi, setiap individu dapat bertukar gagasan, menyampaikan pendapat, sekaligus memahami tanggung jawab masing-masing. Ketika komunikasi berjalan terbuka dan jelas, koordinasi akan lebih mudah terbentuk. Sebaliknya, komunikasi yang tidak terarah sering melahirkan kebingungan, kesalahpahaman, hingga menurunkan efektivitas kerja tim. Banyak kelompok sebenarnya memiliki anggota yang kompeten, tetapi tetap mengalami hambatan karena komunikasi yang tidak berjalan dengan baik (Rohillah &#038; Sulistiana, 2025).<\/p>\n<p>Dalam kajian organisasi, dinamika kelompok muncul dari hubungan timbal balik antaranggota yang terus berkembang. Dinamika ini dipengaruhi oleh cara individu berinteraksi, memberikan respons, serta membangun hubungan psikologis satu sama lain. Menurut Meredy DeBorde, dinamika organisasi berkaitan dengan bagaimana individu bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas, sedangkan Nandang Rusmana menjelaskan bahwa dinamika organisasi merupakan interaksi dan saling ketergantungan antaranggota yang disertai umpan balik dinamis dalam hubungan psikologis mereka (Sari, 2019). Oleh sebab itu, kualitas komunikasi menjadi penentu apakah suatu organisasi mampu berkembang secara harmonis atau justru dipenuhi konflik internal.<\/p>\n<p>Fenomena tersebut sebenarnya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam lingkungan keluarga, seorang anak yang sedang mengerjakan tugas kuliah diminta ibunya membersihkan ruang tamu karena akan ada tamu datang. Sang anak menjawab singkat, \u201ciya, nanti.\u201d Dalam pikirannya, kata \u201cnanti\u201d berarti setelah tugas selesai. Namun bagi ibunya, \u201cnanti\u201d dimaknai sebagai segera dilakukan. Perbedaan penafsiran sederhana itu akhirnya memunculkan ketegangan kecil di antara keduanya.<\/p>\n<p>Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak selalu lahir dari niat buruk, tetapi sering kali muncul karena pesan yang disampaikan tidak dipahami secara sama oleh kedua pihak. Dalam organisasi, kondisi serupa juga kerap terjadi. Instruksi yang tidak jelas, minimnya penjelasan, atau absennya umpan balik dapat memunculkan salah pengertian yang berdampak pada hubungan kerja dalam kelompok. (DeVito &#038; DeVito, 2019) menjelaskan bahwa kesalahpahaman dalam komunikasi sering terjadi karena perbedaan penafsiran terhadap pesan yang diterima.<\/p>\n<p>Hal yang sama sering terlihat dalam organisasi mahasiswa. Dalam sebuah rapat persiapan kegiatan, misalnya, ketua organisasi hanya memberikan arahan secara umum tanpa pembagian tugas yang rinci. Anggota yang sudah berpengalaman biasanya langsung mengambil inisiatif untuk bekerja, sementara anggota baru merasa bingung mengenai apa yang harus dilakukan. Akibatnya, koordinasi tidak berjalan maksimal dan beberapa pekerjaan justru terlambat diselesaikan menjelang pelaksanaan acara. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kejelasan komunikasi dan arahan pemimpin sangat menentukan efektivitas kerja kelompok (Hidayat, 2017; Purwati &#038; Ningsih, 2025).<\/p>\n<p>Kondisi tersebut kemudian memunculkan kebingungan hingga saling menyalahkan antaranggota. Masalah yang muncul sebenarnya bukan karena kurangnya kemampuan individu, tetapi karena lemahnya komunikasi dan koordinasi sejak awal. Dalam dinamika kelompok, ketidakjelasan peran sering mendorong munculnya fenomena social loafing, yaitu kecenderungan sebagian anggota mengurangi kontribusi karena merasa tanggung jawab telah dibagi bersama Kasus ini menunjukkan bahwa masalah dalam kelompok sering kali bukan di sebabkan oleh kurangnya kemampuan anggota, melainkan karena lemahnya komunikasi dan koordinasi sejak awal. Dalam kajian komunikasi organisasi, kejelasan peran dan interaksi antaranggota merupakan faktor penting yang memengaruhi efektivitas kerja tim dalam mencapai tujuan bersama (Sutanto &#038; Simanjuntak, 2015). Selain itu, kejelasan peran dan interaksi antaranggota juga menjadi faktor penting yang memengaruhi efektivitas kerja tim dalam mencapai tujuan Bersama (Effendy, 1990). <\/p>\n<p>Dari berbagai contoh tersebut, terlihat bahwa komunikasi memegang peranan penting dalam menentukan sehat atau tidaknya dinamika suatu kelompok. Kesalahpahaman sering muncul ketika pesan tidak disampaikan secara jelas dan tidak ada upaya memastikan bahwa semua pihak memiliki pemahaman yang sama. Karena itu, organisasi yang ingin berjalan efektif perlu membangun budaya komunikasi yang terbuka, memberikan arahan yang jelas, serta membiasakan adanya umpan balik dalam setiap proses kerja sama.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, komunikasi bukan sekadar aktivitas berbicara atau menyampaikan informasi. Lebih dari itu, komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan pemahaman, membangun kepercayaan, dan menjaga stabilitas hubungan dalam organisasi. Ketika komunikasi berjalan sehat, dinamika kelompok akan berkembang lebih harmonis, produktif, dan mampu membawa organisasi mencapai tujuan Bersama (Safitri &#038; Mujahid, 2024).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Alfina Ngartini Damayanti Dan Muhammad Taufiqurrachman Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Hasyim Asy&#8217;ari Tebuireng Jombang. JurnalPost.com Dalam banyak organisasi, persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada kurangnya kemampuan anggota, melainkan pada cara mereka berkomunikasi. Kesalahan kecil dalam menyampaikan pesan dapat berkembang menjadi miskomunikasi, menimbulkan konflik, bahkan menghambat tercapainya tujuan bersama. Karena itu, komunikasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25686,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[313,312,310,311],"class_list":["post-25675","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-komunikasi","tag-kpi25","tag-kpiunhasy","tag-mahasiswaunhasy"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25675","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25675"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25675\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25686"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25675"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25675"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25675"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}