{"id":25649,"date":"2026-05-28T16:45:52","date_gmt":"2026-05-28T08:45:52","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25649"},"modified":"2026-05-28T16:46:31","modified_gmt":"2026-05-28T08:46:31","slug":"campak-kembali-menghantui-di-tengah-krisis-imunisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/campak-kembali-menghantui-di-tengah-krisis-imunisasi\/25649\/","title":{"rendered":"Campak Kembali Menghantui di Tengah Krisis Imunisasi"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_25650\" aria-describedby=\"caption-attachment-25650\" style=\"width: 624px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Krisis-Imunisasi.webp\" alt=\" Krisis Imunisasi\" width=\"624\" height=\"624\" class=\"size-full wp-image-25650\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Krisis-Imunisasi.webp 624w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Krisis-Imunisasi-300x300.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Krisis-Imunisasi-150x150.webp 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Krisis-Imunisasi-75x75.webp 75w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Krisis-Imunisasi-350x350.webp 350w\" sizes=\"(max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-25650\" class=\"wp-caption-text\">Foto ruam merah khas campak yang menyebar di area punggung anak, yang menjadi salah satu tanda utama infeksi virus campak. (Sumber: Getty Images\/South_agency)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penulis: <strong>Putri Nur Indriyani &#8211; Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Program studi Penerbitan (Jurnalistik) <\/strong><\/p>\n<p><strong>JAKARTA, JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Campak kerap dianggap sebagai penyakit biasa pada anak-anak. Padahal, di balik gejalanya yang tampak ringan seperti demam dan ruam, penyakit ini menyimpan risiko komplikasi serius, bahkan kematian. Dalam beberapa tahun terakhir, tren kasus campak justru kembali meningkat, menandakan bahwa ancaman ini belum sepenuhnya terkendali.<\/p>\n<p>Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pada 2023 terjadi peningkatan signifikan kasus campak secara global, seiring menurunnya cakupan imunisasi di berbagai negara pascapandemi. Indonesia pun tidak sepenuhnya lepas dari situasi ini. Kementerian Kesehatan RI melaporkan masih ditemukannya kasus campak di sejumlah daerah, terutama wilayah dengan cakupan vaksinasi yang belum optimal.<\/p>\n<p>Campak disebabkan oleh virus yang sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Tingkat penularannya termasuk yang tertinggi dibanding penyakit infeksi lainnya, sehingga satu orang penderita dapat menularkan ke 9 dari 10 orang yang belum memiliki kekebalan.<\/p>\n<p>Yang sering disalahpahami, campak bukan sekadar \u201cpenyakit ruam\u201d. Dalam banyak kasus, komplikasi seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak (ensefalitis) dapat terjadi, terutama pada anak dengan kondisi gizi kurang atau sistem imun yang lemah. Di sinilah letak bahayanya karena gejala awal tampak sederhana, tetapi dampaknya bisa fatal.<\/p>\n<p>Di sisi lain, terdapat kecenderungan penurunan kepercayaan terhadap vaksin di sebagian masyarakat. Ini menjadi titik krusial yang perlu dikritisi. Tanpa cakupan imunisasi yang tinggi, kekebalan kelompok (herd immunity) tidak akan tercapai. Artinya, risiko wabah akan selalu terbuka.<\/p>\n<p>Padahal, solusi utama pencegahan campak sudah jelas dan terbukti efektif, yaitu imunisasi. Vaksin campak atau MR (Measles-Rubella) mampu memberikan perlindungan hingga lebih dari 95% jika diberikan sesuai jadwal. Ini bukan sekadar klaim, melainkan hasil dari berbagai studi epidemiologi selama puluhan tahun.<\/p>\n<p>Namun, pencegahan saja tidak cukup. Penanganan kasus juga harus cepat dan tepat. Ketika seseorang terinfeksi, langkah utama adalah isolasi untuk mencegah penularan, disertai perawatan suportif seperti pemberian cairan, nutrisi yang cukup, serta vitamin A yang direkomendasikan oleh WHO untuk mengurangi risiko komplikasi.<\/p>\n<p>Sayangnya, banyak kasus terlambat ditangani karena gejala awal dianggap sepele. Ini menunjukkan adanya celah dalam literasi kesehatan masyarakat. Kesadaran untuk mengenali tanda awal seperti demam tinggi, batuk, mata merah, dan munculnya ruam masih perlu ditingkatkan.<\/p>\n<p>Dalam konteks yang lebih luas, persoalan campak bukan hanya isu medis, tetapi juga isu sosial. Ketimpangan akses layanan kesehatan, distribusi vaksin, hingga edukasi masyarakat menjadi faktor yang saling berkaitan. Tanpa intervensi yang merata, penanganan campak akan selalu bersifat reaktif, bukan preventif.<\/p>\n<p>Pendekatan yang lebih efektif adalah kombinasi antara edukasi publik, penguatan layanan kesehatan, dan kebijakan yang konsisten. Pemerintah perlu memastikan distribusi vaksin merata hingga ke daerah terpencil. Di sisi lain, masyarakat juga harus lebih kritis terhadap informasi, terutama yang berkaitan dengan isu kesehatan.<\/p>\n<p>Campak seharusnya bukan lagi ancaman di era modern. Namun, fakta bahwa kasusnya masih muncul menunjukkan adanya celah yang belum tertutup. Di sinilah pentingnya kolaborasi semua pihak, yaitu tenaga medis, pemerintah, dan masyarakat, untuk memastikan bahwa penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini tidak kembali menjadi krisis.<\/p>\n<p>Karena pada akhirnya, melindungi dari campak bukan hanya soal kesehatan individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif untuk menjaga generasi ke depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Putri Nur Indriyani &#8211; Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Program studi Penerbitan (Jurnalistik) JAKARTA, JurnalPost.com &#8211; Campak kerap dianggap sebagai penyakit biasa pada anak-anak. Padahal, di balik gejalanya yang tampak ringan seperti demam dan ruam, penyakit ini menyimpan risiko komplikasi serius, bahkan kematian. Dalam beberapa tahun terakhir, tren kasus campak justru kembali meningkat, menandakan bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25650,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-25649","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25649","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25649"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25649\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25650"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25649"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25649"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25649"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}