{"id":25647,"date":"2026-05-27T17:58:47","date_gmt":"2026-05-27T09:58:47","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25647"},"modified":"2026-05-27T17:58:47","modified_gmt":"2026-05-27T09:58:47","slug":"prasasti-padang-roco-dan-misteri-arca-amoghapasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/prasasti-padang-roco-dan-misteri-arca-amoghapasa\/25647\/","title":{"rendered":"Prasasti Padang Roco dan Misteri Arca Amoghapasa"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-2.12.36-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"576\" height=\"1024\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25638\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-2.12.36-PM.jpeg 576w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-2.12.36-PM-169x300.jpeg 169w\" sizes=\"(max-width: 576px) 100vw, 576px\" \/><\/p>\n<p>oleh: <strong>Pandu Winata<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Dharmasraya tidak hanya dikenal sebagai daerah perkebunan dan jalur penghubung Sumatera Barat dengan Jambi. Daerah ini juga menyimpan sejarah penting yang berkaitan dengan perkembangan kerajaan Melayu kuno di Nusantara. Salah satu peninggalan sejarah yang paling terkenal dari Dharmasraya adalah Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa.<\/p>\n<p>Situs Padang Roco berada di kawasan tepian Sungai Batanghari. Tempat ini dikenal sebagai salah satu lokasi penting dalam sejarah Kerajaan Dharmasraya pada masa lampau. Dari kawasan inilah ditemukan prasasti dan arca bersejarah yang menjadi bukti kuat keberadaan kerajaan Melayu di Sumatera pada masa lalu.<\/p>\n<p>Prasasti Padang Roco ditemukan bersama Arca Amoghapasa pada abad ke-19. Prasasti tersebut ditulis menggunakan huruf dan bahasa yang dipakai pada masa kerajaan kuno. Isi prasasti menjelaskan pengiriman Arca Amoghapasa dari Kerajaan Singasari di Jawa kepada penguasa Melayu di Dharmasraya.<\/p>\n<p>Peristiwa tersebut terjadi pada masa pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari sekitar abad ke-13. Pengiriman arca itu dikenal sebagai bagian dari Ekspedisi Pamalayu, yaitu upaya mempererat hubungan politik antara Jawa dan kerajaan Melayu di Sumatera.<\/p>\n<p>Arca Amoghapasa sendiri merupakan arca bercorak Buddha Tantrayana. Arca ini menggambarkan sosok dewa yang dianggap memiliki kekuatan spiritual dalam ajaran Buddha pada masa itu. Dalam prasasti disebutkan bahwa arca tersebut dikirim sebagai hadiah persahabatan dan simbol hubungan baik antara dua kerajaan besar di Nusantara.<\/p>\n<p>Keberadaan prasasti dan arca tersebut menunjukkan bahwa Dharmasraya pernah menjadi pusat penting dalam jalur perdagangan dan kekuasaan di Sumatera. Lokasinya yang berada di sekitar Sungai Batanghari membuat wilayah ini strategis sebagai jalur transportasi dan perdagangan pada masa lampau.<\/p>\n<p>Sungai Batanghari memang memiliki peran besar dalam perkembangan kerajaan Melayu kuno. Pada masa dahulu, sungai menjadi jalur utama perpindahan manusia dan barang. Karena itu, banyak pusat pemerintahan kerajaan berkembang di sekitar aliran sungai besar.<\/p>\n<p>Selain memiliki nilai sejarah, Arca Amoghapasa juga menyimpan berbagai misteri yang masih menarik dibahas hingga sekarang. Salah satunya berkaitan dengan keberadaan pusat Kerajaan Dharmasraya yang belum sepenuhnya diketahui secara pasti oleh para peneliti.<\/p>\n<p>Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa kawasan Padang Roco dulunya merupakan bagian penting dari pusat pemerintahan kerajaan Melayu. Namun, masih banyak peninggalan sejarah lain yang belum ditemukan secara lengkap. Hal tersebut membuat sejarah Dharmasraya masih terus diteliti hingga sekarang.<\/p>\n<p>Arca Amoghapasa saat ini tidak lagi berada di Dharmasraya. Arca tersebut telah dipindahkan dan menjadi koleksi museum nasional sebagai benda bersejarah penting dari masa kerajaan Nusantara. Meski demikian, nama Padang Roco tetap dikenal sebagai tempat penemuan salah satu peninggalan sejarah terbesar di Sumatera Barat.<\/p>\n<p>Sayangnya, tidak semua masyarakat mengetahui pentingnya situs sejarah tersebut. Banyak generasi muda yang lebih mengenal sejarah kerajaan di Pulau Jawa dibandingkan sejarah kerajaan Melayu di Sumatera. Padahal, Dharmasraya memiliki hubungan penting dalam perkembangan sejarah Nusantara.<\/p>\n<p>Kurangnya perhatian terhadap situs sejarah juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa lokasi peninggalan sejarah di daerah masih membutuhkan perawatan dan pengelolaan yang lebih baik agar tetap terjaga keberadaannya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, situs Padang Roco sebenarnya memiliki potensi besar sebagai wisata sejarah dan edukasi. Jika dikelola dengan baik, tempat ini dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat sekaligus menarik wisatawan yang tertarik pada sejarah Nusantara.<\/p>\n<p>Keberadaan situs sejarah seperti Padang Roco juga dapat membantu memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas. Dharmasraya tidak hanya dikenal karena hasil perkebunan atau jalur lintas Sumatera, tetapi juga karena sejarah panjangnya sebagai bagian dari kerajaan Melayu kuno.<\/p>\n<p>Bagi masyarakat lokal, peninggalan sejarah tersebut menjadi bukti bahwa daerah mereka pernah memiliki peran penting pada masa lampau. Hal itu tentu dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan budaya daerah sendiri.<\/p>\n<p>Selain itu, penelitian tentang Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa masih terus berkembang hingga sekarang. Para sejarawan dan arkeolog masih berusaha memahami lebih jauh tentang hubungan politik, budaya, dan agama pada masa kerajaan Melayu kuno.<\/p>\n<p>Peninggalan sejarah seperti ini juga menunjukkan bahwa hubungan antarwilayah di Nusantara sudah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Kerajaan di Jawa dan Sumatera ternyata memiliki hubungan politik dan budaya yang cukup kuat pada masa tersebut.<\/p>\n<p>Karena itu, keberadaan Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa tidak hanya penting bagi Dharmasraya, tetapi juga bagi sejarah Indonesia secara keseluruhan. Peninggalan tersebut menjadi salah satu bukti perkembangan peradaban Melayu di Nusantara.<\/p>\n<p>Sejarah yang tersimpan di Dharmasraya menunjukkan bahwa daerah di Sumatera Barat juga memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah bangsa. Melalui peninggalan seperti Padang Roco, masyarakat dapat melihat bahwa sejarah Nusantara tidak hanya berpusat di satu wilayah saja.<\/p>\n<p>Sampai sekarang, Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa tetap menjadi bagian penting dari identitas sejarah Dharmasraya. Keberadaan peninggalan tersebut menjadi pengingat bahwa daerah ini pernah menjadi bagian dari perjalanan besar sejarah kerajaan Melayu di Nusantara.<\/p>\n<p>Artikel ini ditulis oleh: Pandu Winata, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh: Pandu Winata JurnalPost.com &#8211; Dharmasraya tidak hanya dikenal sebagai daerah perkebunan dan jalur penghubung Sumatera Barat dengan Jambi. Daerah ini juga menyimpan sejarah penting yang berkaitan dengan perkembangan kerajaan Melayu kuno di Nusantara. Salah satu peninggalan sejarah yang paling terkenal dari Dharmasraya adalah Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa. Situs Padang Roco berada di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25638,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25647","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25647"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25647\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}