{"id":2564,"date":"2023-07-10T14:27:06","date_gmt":"2023-07-10T06:27:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=2564"},"modified":"2023-07-10T14:27:06","modified_gmt":"2023-07-10T06:27:06","slug":"serunya-mahasiswa-untag-surabaya-dalam-pelatihan-pengelolaan-sampah-organik-menjadi-produk-bernilai-jual","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/serunya-mahasiswa-untag-surabaya-dalam-pelatihan-pengelolaan-sampah-organik-menjadi-produk-bernilai-jual\/2564\/","title":{"rendered":"Serunya Mahasiswa UNTAG Surabaya dalam Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik Menjadi Produk Bernilai Jual"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sampah organik merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh banyak desa di\u00a0 Indonesia, termasuk Desa Segunung. Sampah organik, seperti sisa makanan, dedaunan, dan limbah\u00a0 pertanian, seringkali tidak dikelola dengan baik dan dapat menyebabkan masalah lingkungan yang\u00a0 serius. Selain itu, penanganan yang tidak tepat terhadap sampah organik dapat menghasilkan gas\u00a0 berbahaya, seperti metana, yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.\u00a0<\/p>\n<p>Namun, sampah organik juga memiliki potensi yang besar untuk diubah menjadi produk\u00a0 bernilai tinggi melalui pengelolaan yang tepat. Dengan mengelola sampah organik secara efektif, Desa\u00a0 Segunung memiliki peluang untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan, meningkatkan\u00a0kesehatan masyarakat, serta menghasilkan produk jadi yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi\u00a0 masyarakat setempat.\u00a0<\/p>\n<p>Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya adalah salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat dan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan KKN ini berlangsung selama 12 hari di Desa Segunung Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto. Oky Resita Rahmania selaku mahasiswi KKN Reguler 14 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengadakan kegiatan pendampingan pengelolaan sampah organik menjadi produk bernilai jual. Dimana melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sebuah pengalaman bagi mahasiswa dan bagi masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kreativitas masyarakat Desa Segunung.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/IMG_0879.png\" alt=\"\" width=\"714\" height=\"463\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2566\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/IMG_0879.png 714w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/IMG_0879-300x195.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/IMG_0879-150x97.png 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/IMG_0879-696x451.png 696w\" sizes=\"(max-width: 714px) 100vw, 714px\" \/><\/p>\n<p>Pelaksanaan kegiatan ini selama 2 hari pada tanggal 6-7 Juli 2023 di Balai Desa Segunung dan dihadiri oleh ibu-ibu PKK dari berbagai dusun yang adadi desa segunung. Kegiatan pendampingan pengelolaan sampah organik menjadi produk bernilai jual menjadi hal yang penting bagi masyarakat Desa Segunung dengan memberikan\u00a0 pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sampah dengan baik, memberikan pemahaman tentang\u00a0 peluang ekonomi yang terkait dengan pemanfaatan sampah organik. Masyarakat dapat mempelajari\u00a0 cara mengolah sampah organik menjadi produk bernilai jual, seperti lilin aromaterapi dan eco enzyme. Pendampingan pengelolaan sampah organik menjadi produk jadi melalui program Kuliah Kerja\u00a0 Nyata (KKN) merupakan langkah yang tepat untuk melibatkan mahasiswa dalam membantu desa\u00a0 mengatasi masalah sampah organik. Program KKN merupakan program yang mengintegrasikan\u00a0 pembelajaran dan pengabdian masyarakat, di mana mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata\u00a0 dalam memecahkan masalah sosial dan lingkungan di suatu daerah.\u00a0<br \/>\n\u00a0<br \/>\nMahasiswa terlebih dahulu memberikan lembar Pre Test untuk mengetahui seberapa paham pengetahuan audiens mengenai sampah organik. Kemudian kegiatan ini dilakukan dengan memberikan pemaparan materi mengenai sampah, jenis-jenis sampah, cara pengelolaan hingga pemanfaatan sampah menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual. Diakhir kegitan diberikan lembar Post Test untuk mengetahui pemahaman audiens setelah kegiatan ini dilakukan. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dengan antusias masyarakat yang tinggi. Selama kegiatan berjalan masyarakat juga ber antusias dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya kurang dimengerti. Kegiatan ini mendapat respon positif dari warga, sehingga masyarakat dan mahasiswa dapat saling merasakan manfaatnya bersama-sama.<\/p>\n<p>Penulis merasa adanya kegiatan ini banyak memberikan pengalaman, terutama pengalaman bersosialisasi dan terjun langsung dengan masyarakat. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang telah memfasilitasi kegiatan KKN selama 12 hari, Dosen Pembimbing Lapangan Moh. Dey Prayogo, S.I.Kom., M.I.Kom yang telah membimbing dan mendampingi dari awal kegiatan hingga akhir, Kepala Desa beserta jajarannya, pihak keamanan yang selalu melakukan pengawasan bagi mahasiswa Untag Surabaya, warga Desa Segunung yang telah membantu dalam keberlangsungan program kerja kami, kelompok KKN Untag Surabaya Regular 14.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Sampah organik merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh banyak desa di\u00a0 Indonesia, termasuk Desa Segunung. Sampah organik, seperti sisa makanan, dedaunan, dan limbah\u00a0 pertanian, seringkali tidak dikelola dengan baik dan dapat menyebabkan masalah lingkungan yang\u00a0 serius. Selain itu, penanganan yang tidak tepat terhadap sampah organik dapat menghasilkan gas\u00a0 berbahaya, seperti metana, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2565,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[60,50,46,48,47],"class_list":["post-2564","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-citizen-reporter","tag-ecokampus","tag-kampuskompeten","tag-kitauntagsurabaya","tag-untagsurabayakeren","tag-untukindonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2564","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2564"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2564\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2564"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2564"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2564"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}