{"id":25576,"date":"2026-05-24T20:05:28","date_gmt":"2026-05-24T12:05:28","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25576"},"modified":"2026-05-24T20:05:28","modified_gmt":"2026-05-24T12:05:28","slug":"antara-chatgpt-dan-pena-menakar-inovasi-ai-dalam-kelas-menulis-bahasa-inggris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/antara-chatgpt-dan-pena-menakar-inovasi-ai-dalam-kelas-menulis-bahasa-inggris\/25576\/","title":{"rendered":"Antara ChatGPT dan Pena: Menakar Inovasi AI dalam Kelas Menulis Bahasa Inggris"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Nurul-Puspita.png\" alt=\"Nurul Puspita\" width=\"479\" height=\"564\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25577\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Nurul-Puspita.png 479w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Nurul-Puspita-255x300.png 255w\" sizes=\"(max-width: 479px) 100vw, 479px\" \/><\/p>\n<p>Oleh:<strong> Nurul Puspita<br \/>\nMahasiswi Program Doktor Ilmu Pend. Bahasa Universitas Negeri Semarang<br \/>\n&#038; Dosen Pend. Bahasa Inggris UIN Raden Intan Lampung<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong>  Seorang mahasiswa tersentak teringat akan tugas kuliahnya. Kemudian, laptopnya pun dibuka. Jemarinya mulai mengetik kalimat pembuka lalu berhenti sejenak. Mahasiswa tersebut membuka ChatGPT. Hanya dalam hitungan detik, mahasiswa tersebut sudah disuguhkan sebuah paragraf yang rapi di layarnya. Ia bergegas menyalin paragraf itu, sedikit mengubah beberapa kata dengan mencari sinonimnya, lalu mengumpulkan tugas tersebut. Sebuah pertanyaan besar muncul di benak saya. Apakah mahasiswa tersebut baru saja belajar menulis? Atau justru sedang menghindari proses menulis itu sendiri? Bisa jadi pertanyaan inilah yang saat ini menggelisahkan para pendidik bahasa Inggris di seluruh dunia, termasuk di Kota Bandar Lampung.<\/p>\n<p>Saat ini kita hidup di era di mana kecerdasan buatan (AI) sangat mudah diakses. ChatGPT, Google Translate, Grammarly, dan Quillbot merupakan AI yang biasa digunkaan mahasiswa sekarang. Bahkan mereka telah menginstal di gawainya, sehingga sangat mudah diakses di mana pun dan kapan pun juga. Mirisnya, mereka tidak paham betul bagaimana etika penggunaannya dalam pembelajaran. Menjadi sebuah perenungan yang mendalam bagi saya pribadi.  Apa yang harus kita perbuat saat mengetahui fenomena yang terjadi pada mahasiswa kita?<\/p>\n<p>Pro dan kontra terus berjalan seiring berkembangnya fenomena ini. Ada pihak yang sangat menolak penggunaan AI, ada pula yang sangat mendukung penggunaannya. Pihak yang mendukung penggunaan AI, khususnya ChatGPT, menekankan bahwa AI ini merupakan alat yang canggih untuk meningkatkan produktivitas mahasiswa. Responsnya sangat cepat sehingga mahasiswa bisa dengan mudah mengeksplor sudut pandangnya (Handoyo et al., 2023). Di sisi lain, pihak yang merasa tidak setuju mengungkapkan bahwa ChatGPT dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis mahasiswa dan menyalin tulisan dari AI tersebut merupakan sebuah bentuk kecurangan (Riyanti et al., 2026).<\/p>\n<p>Sepanjang pengalaman saya mengajar mahasiswa, penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran bahasa Inggris di kampus saya berpotensi membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan jika dilakukan secara mendalam dan sistematis. Apabila seorang mahasiswa menggunakan ChatGPT bukan untuk menyalin sebuah paragraf, melainkan hanya untuk mencari inspirasi dalam mengembangkan ide tulisan dan alur cerita, itu tidak menyalahi etika. Hal tersebut merefleksikan bahwa kecerdasan buatan (AI) berfungsi sebagai pembimbing, bukan sebagai pengganti pembelajaran. Di sisi lain, seorang dosen juga dapat melakukan inovasi dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) tersebut dengan cara menggunakan ChatGPT sebagai penghasil berbagai jenis prompt penulisan yang kaya akan tema, kemudian membangkitkan mahasiswa untuk mengomentari, merevisi, dan memperkaya ide-ide tersebut.<\/p>\n<p>Sedangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang tanpa pengamatan yang tepat akan menyebabkan kecanduan teknologi dan penurunan berpikir kritis mahasiswa. Fenomena inilah yang menjadi ancaman bagi para mahasiswa. Secara teori, menulis tidak hanya menghasilkan sebuah tulisan. Menulis merupakan sebuah proses kreatif dalam rangka menuangkan gagasan, ide, perasaan, atau pikiran ke dalam symbol bahasa tulis atau lambang. Apabila proses menulis ini diambil alih oleh sebuah kecerdasan buatan (AI), sebut saja ChatGPT, maka yang hilang tidak hanya kemampuan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir siswa.<\/p>\n<p><strong>Kemudian, langkah apa yang dapat kita lakukan?<\/strong><br \/>\nAda beberapa cara yang dapat kita lakukan. Pertama, kita harus mengubah mindset kita dalam memaknai kata melarang menjadi mengajarkan dengan cara yang tepat. Dosen dapat menyalurkan pengetahuannya tentang kecerdasan buatan (AI) tentang pemanfaatan dan menghindari permasalahan yang mungkin timbul dalam proses menulis. Kedua, dosen dapat mengadaptasi tugas menulis yang akan diberikan kepada mahasiswa. Misalnya, meminta mahasiswa menuliskan sebuah paragraf yang menceritakan pengalaman pribadi dan menganalisis konteks yang ada di sekitar tempat tinggalnya akan lebih susah untuk ditugaskan kepada kecerdasan buatan (AI). Yang terakhir, dosen harus mampu mengembangkan budaya akademik yang menumbuhkan rasa kejujuran sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berdiskusi saat kontrak perkuliahan di semester yang baru.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, kecerdasan buatan (AI) khususnya ChatGPT tidak akan bisa menggantikan figur seorang dosen dalam pembelajaran bahasa Inggris. Namun, seorang dosen yang tidak menguasai inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) akan tertinggal tergerus perkembangan zaman. Dan yang terpenting adalah dosen harus mampu mengajarkan kepada mahasiswa cara berpikir kritis tentang kecerdasan buatan (AI) agar mereka menjadi pengguna aktif teknologi itu sendiri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nurul Puspita Mahasiswi Program Doktor Ilmu Pend. Bahasa Universitas Negeri Semarang &#038; Dosen Pend. Bahasa Inggris UIN Raden Intan Lampung JurnalPost.com Seorang mahasiswa tersentak teringat akan tugas kuliahnya. Kemudian, laptopnya pun dibuka. Jemarinya mulai mengetik kalimat pembuka lalu berhenti sejenak. Mahasiswa tersebut membuka ChatGPT. Hanya dalam hitungan detik, mahasiswa tersebut sudah disuguhkan sebuah paragraf [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25577,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25576","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25576","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25576"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25576\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25577"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25576"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25576"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25576"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}