{"id":25475,"date":"2026-05-20T15:09:57","date_gmt":"2026-05-20T07:09:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25475"},"modified":"2026-05-20T15:09:57","modified_gmt":"2026-05-20T07:09:57","slug":"four-magic-words-sebagai-dasar-etika-berkomunikasi-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/four-magic-words-sebagai-dasar-etika-berkomunikasi-anak\/25475\/","title":{"rendered":"FOUR MAGIC WORDS SEBAGAI DASAR ETIKA BERKOMUNIKASI ANAK"},"content":{"rendered":"<p><strong><em> <img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25476\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/FOUR-MAGIC-WORDS.png\" alt=\"FOUR MAGIC WORDS\" width=\"294\" height=\"221\" \/><\/em><\/strong><\/p>\n<p>Oleh:<br \/>\nKiran Aprillia Victorisintya Visser, Zafira Putri Andika, Annisa Rahmadiani, Raja Oloan Tumanggor<br \/>\nFakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pada masa perkembangan anak dengan usia 6-11 tahun, moral anak belum berkembang pesat karena disebabkan oleh perkembangan kognitif anak yang belum mencapai pemahaman menangani prinsip benar salah mengenai suatu hal. Pada masa ini anak belum mampu membedakan hal-hal yang benar untuk dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan (Murni, 2017). Perkembangan yang terjadi pada anak dapat meliputi perkembangan fisik, mental, moral, maupun bahasa. Konsep perkembangan moral menjelaskan bahwa norma dan nilai yang ada di lingkungan sosial anak akan mempengaruhi diri anak untuk memiliki moral yang baik atau buruk (Trianingsih, 2016). Bahasa merupakan alat komunikasi sebagai bentuk penyampaian sebuah pengertian melalui tulisan, lisan, mimik muka, maupun isyarat. Oleh sebab itu, bahasa merupakan aspek penting dalam proses perkembangan anak usia dini.<\/p>\n<p>Pada umumnya anak usia 6-11 tahun sering meniru dan memeragakan apa yang dilihat dan didengar dari lingkungan sekitarnya. Dengan kita mengetahui tugas perkembangan anak sesuai dengan usianya maka orangtua maupun guru dapat memenuhi kebutuhan apa yang diperlukan dalam setiap perkembangannya agar tidak terjadi penyimpangan perilaku. Sangat penting untuk mengenalkan bagaimana etika yang baik dalam berkomunikasi sejak dini agar mereka membiasakan menggunakan etika ketika berkomunikasi.<\/p>\n<p>Hasil observasi yang dilakukan dalam sebuah RPTRA menunjukkan bahwa cara berkomunikasi anak-anak kepada sekitar masih kurang konsisten dalam menerapkan prinsip kesopanan dan etika berkomunikasi, contohnya ketika berbicara dengan teman sebayanya mereka belum terbiasa mengucapkan kata \u201ctolong\u201d, \u201cmaaf\u201d, dan \u201cterima kasih\u201d, serta masih sering berbicara menggunakan kata-kata kasar atau memotong pembicaraan. Berdasarkan hasil observasi tersebut, kelompok melaksanakan psikoedukasi dengan mengangkat materi utama <em>4 magic words<\/em> serta menyusun kegiatan intervensi yang mendukung penerapannya dalam komunikasi sehari-hari.<\/p>\n<p>Menurut Menurut Joseph A. DeVito dalam kajian komunikasi interpersonal Anak mempunyai karakter dan ciri khas yang sangat unik. Dalam pengembangan karakternya diperlukan orang dewasa untuk mengajarkan kebiasaan yang baik dan positif,<em> 4 magic words <\/em>merupakan kata sederhana yang dapat menjadi pondasi penting dalam membentuk etika komunikasi anak sejak usia dini, yaitu terima kasih, maaf, tolong, dan permisi. Kata terima kasih mengajarkan anak untuk menghargai bantuan dan kebaikan orang lain. Kata maaf membantu anak belajar mengakui kesalahan serta menumbuhkan rasa empati. Kata tolong melatih anak meminta bantuan dengan sopan tanpa memerintah. Sementara itu, kata permisi mengajarkan anak menghormati orang lain ketika ingin berbicara, meminta izin, atau melewati seseorang. Kebiasaan menggunakan empat kata ajaib ini dapat menjadi langkah awal membentuk karakter anak yang santun dan penuh penghargaan terhadap orang di sekitarnya.<\/p>\n<p>Penerapan secara langsung yang dilakukan oleh kelompok diwujudkan melalui intervensi <em>Flash &amp; Act<\/em>. Anak diberi waktu lima menit untuk berdiskusi dan menyusun kalimat sopan sesuai situasi pada kartu. Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan dan memperagakan hasil diskusinya di depan kelompok lain, sementara fasilitator memberikan umpan balik serta mengajak peserta berdiskusi untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya komunikasi yang santun dan saling menghargai. Intervensi dilakukan secara berkelompok bertujuan agar anak-anak bisa menerapkan secara langsung materi yang dijelaskan melalui psikoedukasi, selain itu melalui diskusi kelompok dan permainan peran, anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkan langsung cara berbicara yang sopan bersama teman-temannya. Anak belajar saling mendengarkan, menghargai pendapat, serta menumbuhkan empati saat menghadapi berbagai situasi komunikasi sehari-hari. Selain itu, kesempatan untuk tampil dan berdiskusi membuat anak lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat dengan bahasa yang santun.<\/p>\n<p><em>4 magic words<\/em> memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia untuk membentuk pribadi yang baik, sopan, rendah hati, peduli, dan menghargai orang lain, perlu adanya pengajaran tentang<em> 4 magic words<\/em> sejak dini. Menurut teori <em>Social Learning<\/em> dari Albert Bandura, anak belajar melalui proses mengamati dan meniru perilaku orang lain, untuk itu ketika kita mengajarkan <em>4 magic words<\/em> sejak dini otomatis akan lebih cepat ditiru dan diterapkan oleh anak bahkan sampai mereka dewasa. Penerapan <em>4 magic words<\/em> sejak dini dapat berdampak positif, seperti; 1. Dapat membangun hubungan lebih baik dengan teman sebaya dan orang dewasa sehingga anak memiliki banyak relasi dan mengurangi konflik, 2. Meningkatkan rasa hormat khususnya kepada orang yang lebih tua, 3. Membantu untuk perkembangan diri anak dengan melatih empati, kesabaran, dan kesadaran yang penting bagi kecerdasan emosional anak.<\/p>\n<p>Seperti pada intervensi yang bertemakan <em>4 magic words <\/em>\u00a0bagi anak-anak usia 6-11 tahun di lingkungan RPTRA Satria Jelambar, terdapat perbedaan pada tingkah laku dan pengetahuan anak sebelum dan sesudah mengikuti intervensi. Sebelum anak mengikuti mengetahui tentang pentingnya <em>4 magic words<\/em>, banyak dari mereka yang berperilaku tidak sesuai usianya, seperti berbicara kasar, berteriak, meledek, dan masih banyak lagi. Sebelum kelompok ajarkan tentang <em>4 magic words<\/em>, mereka juga kurang mendengarkan saat kelompok tegur tentang perilaku mereka. Kemudian saat mengikuti kegiatan, anak-anak sangat aktif dan antusias, keingintahuan mereka sangat tinggi tentang<em> 4 magic words<\/em>. Dan setelah mengikuti rangkaian kegiatan sampai akhir, anak anak mulai menerapkan<em> 4 magic words <\/em>kepada teman sebayanya, banyak dari mereka yang mulai berbicara dengan lebih sopan, seperti mengucapkan \u201ctolong\u201d saat meminta bantuan, \u201cterima kasih\u201d setelah dibantu, serta \u201cmaaf\u201d ketika melakukan kesalahan kepada teman. Anak anak juga terlihat lebih mampu mengontrol cara berbicara dan mengurangi penggunaan kata-kata kasar saat berinteraksi. Selain itu, mereka menjadi lebih menghargai teman sebaya maupun orang yang lebih tua.<\/p>\n<p>Berdasarkan observasi, psikoedukasi, dan intervensi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi mengenai <em>4 magic words<\/em> sejak dini memiliki pengaruh positif terhadap etika berkomunikasi anak usia 6\u201311 tahun. Hal ini sejalan dengan <em>Social Learning Theory<\/em> dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa anak belajar melalui proses mengamati, meniru, dan membiasakan perilaku yang mereka lihat dari lingkungan sekitar. Penggunaan <em>4 magic words<\/em>, menjadi dasar dalam membangun komunikasi yang positif, karena membantu anak memahami cara berbicara yang baik sesuai dengan norma sosial yang berlaku.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan edukatif dan interaktif yang dilakukan, anak-anak mulai memahami pentingnya penggunaan <em>4 magic words<\/em> dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan terlihat dari cara anak berkomunikasi yang menjadi lebih sopan, lebih menghargai teman sebaya maupun orang yang lebih tua, serta mulai berkurangnya penggunaan kata-kata kasar saat berinteraksi. Selain membentuk kebiasaan berbahasa yang baik, pembiasaan <em>4 magic words<\/em> juga membantu anak mengembangkan sikap empati, rasa hormat, dan kemampuan menempatkan diri dalam lingkungan sosial. Oleh karena itu, pembiasaan <em>4 magic words<\/em> sejak dini penting dilakukan agar nilai-nilai etika berkomunikasi dapat terus diterapkan oleh anak, karena moral dan etika menjadi sebuah penuntun individu dalam berperilaku (Matsumoto &amp; Juang, 2003).(***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Kiran Aprillia Victorisintya Visser, Zafira Putri Andika, Annisa Rahmadiani, Raja Oloan Tumanggor Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara JurnalPost.com &#8211; Pada masa perkembangan anak dengan usia 6-11 tahun, moral anak belum berkembang pesat karena disebabkan oleh perkembangan kognitif anak yang belum mencapai pemahaman menangani prinsip benar salah mengenai suatu hal. Pada masa ini anak belum mampu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25476,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-25475","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25475"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25475\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25476"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}