{"id":25397,"date":"2026-05-18T13:44:36","date_gmt":"2026-05-18T05:44:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25397"},"modified":"2026-05-18T13:44:36","modified_gmt":"2026-05-18T05:44:36","slug":"krisis-akhlak-murid-di-era-modern-dan-pentingnya-pendidikan-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/krisis-akhlak-murid-di-era-modern-dan-pentingnya-pendidikan-karakter\/25397\/","title":{"rendered":"Krisis Akhlak Murid di Era Modern dan Pentingnya Pendidikan Karakter"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pendidikan-Karakter.webp\" alt=\"Pendidikan Karakter\" width=\"1536\" height=\"1024\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25398\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pendidikan-Karakter.webp 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pendidikan-Karakter-300x200.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pendidikan-Karakter-1024x683.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pendidikan-Karakter-768x512.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pendidikan-Karakter-750x500.webp 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pendidikan-Karakter-1140x760.webp 1140w\" sizes=\"(max-width: 1536px) 100vw, 1536px\" \/><\/p>\n<p>Penulis:<strong> M. IRSYA HADIRROSYID<\/strong><br \/>\nKampus: <strong>Universitas Negeri Surabaya<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di era modern seperti sekarang, perkembangan teknologi membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Hampir semua aktivitas dapat dilakukan dengan mudah melalui internet dan media sosial. Kemajuan ini tentu memberikan banyak manfaat, terutama dalam bidang pendidikan dan komunikasi. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pula tantangan baru yang cukup serius, salah satunya adalah krisis akhlak pada generasi muda, khususnya murid sekolah.<\/p>\n<p>Saat ini, kita sering melihat perilaku pelajar yang mulai jauh dari nilai sopan santun dan moral. Contohnya seperti kurang menghormati guru, berkata kasar, melakukan bullying, hingga kecanduan media sosial yang membuat mereka kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Fenomena ini menjadi perhatian banyak pihak karena akhlak merupakan dasar penting dalam kehidupan seseorang.<\/p>\n<p>Pendidikan pada dasarnya bukan hanya bertujuan membuat murid menjadi pintar secara akademik, tetapi juga membentuk kepribadian dan karakter yang baik. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi salah satu cara yang sangat penting untuk mengatasi krisis akhlak murid di era modern.<\/p>\n<p><strong>Pengertian Pendidikan Karakter<\/strong><br \/>\nPendidikan karakter adalah proses pembentukan sikap, moral, dan perilaku seseorang agar memiliki nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut meliputi kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, toleransi, sopan santun, serta rasa peduli terhadap orang lain.<\/p>\n<p>Pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui teori di dalam kelas, tetapi juga melalui kebiasaan dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Guru, orang tua, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang anak.<\/p>\n<p>Melalui pendidikan karakter, murid diharapkan tidak hanya menjadi individu yang cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan mampu bersikap positif di lingkungan masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Bentuk Krisis Akhlak Murid di Era Modern<\/strong><br \/>\nKrisis akhlak pada murid saat ini dapat dilihat dari berbagai perilaku yang mulai menyimpang dari norma dan nilai moral. Beberapa contoh yang sering terjadi antara lain:<\/p>\n<p>1. Kurangnya Rasa Hormat kepada Guru dan Orang Tua<br \/>\nSebagian murid mulai menunjukkan sikap yang kurang sopan ketika berbicara dengan guru maupun orang tua. Ada yang membantah, berbicara kasar, bahkan menganggap nasihat sebagai hal yang tidak penting.<\/p>\n<p>2. Maraknya Bullying<br \/>\nKasus bullying atau perundungan masih sering terjadi di lingkungan sekolah maupun media sosial. Banyak murid yang mengejek, menghina, atau merendahkan teman mereka tanpa memikirkan dampaknya terhadap korban.<\/p>\n<p>3. Pengaruh Media Sosial<br \/>\nMedia sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku remaja. Konten negatif yang mudah diakses dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku murid. Selain itu, penggunaan gadget yang berlebihan juga membuat sebagian murid menjadi kurang disiplin dan sulit fokus belajar.<\/p>\n<p>4. Menurunnya Sikap Disiplin<br \/>\nMasih banyak murid yang terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan tugas, atau melanggar aturan sekolah. Hal ini menunjukkan rendahnya rasa tanggung jawab terhadap kewajiban mereka sebagai pelajar.<\/p>\n<p><strong>Faktor Penyebab Krisis Akhlak<\/strong><br \/>\nKrisis akhlak murid tidak terjadi begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:<\/p>\n<p>1. Kurangnya Perhatian dari Keluarga<br \/>\nKeluarga merupakan tempat pertama anak belajar tentang moral dan perilaku. Kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua dapat membuat anak lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif.<\/p>\n<p>2. Lingkungan Pergaulan<br \/>\nTeman sebaya memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seorang murid. Jika lingkungan pergaulannya buruk, maka kemungkinan besar perilaku anak juga akan ikut terpengaruh.<\/p>\n<p>3. Pengaruh Teknologi<br \/>\nKemajuan teknologi memang memberikan manfaat, tetapi tanpa pengawasan yang baik, teknologi juga dapat membawa dampak negatif terhadap perkembangan karakter anak.<\/p>\n<p>4. Kurangnya Penanaman Nilai Karakter di Sekolah<br \/>\nSebagian sekolah masih terlalu fokus pada nilai akademik sehingga pendidikan moral dan karakter kurang mendapat perhatian.<\/p>\n<p><strong>Peran Pendidikan Karakter dalam Mengatasi Krisis Akhlak<\/strong><br \/>\nPendidikan karakter memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk perilaku murid agar menjadi lebih baik. Berikut beberapa peran pendidikan karakter:<\/p>\n<p>1. Membentuk Sikap dan Moral yang Baik<br \/>\nPendidikan karakter membantu murid memahami mana perilaku yang baik dan mana yang buruk sehingga mereka dapat bersikap lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>2. Menanamkan Disiplin dan Tanggung Jawab<br \/>\nMelalui pembiasaan positif, murid akan belajar menghargai waktu, menaati aturan, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.<\/p>\n<p>3. Mengajarkan Sikap Peduli dan Menghargai Orang Lain<br \/>\nPendidikan karakter mengajarkan pentingnya saling menghormati, membantu sesama, dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.<\/p>\n<p>4. Membentengi Murid dari Pengaruh Negatif<br \/>\nKarakter yang kuat dapat membantu murid menolak pengaruh buruk dari lingkungan maupun media sosial.<\/p>\n<p>Cara Menerapkan Pendidikan Karakter<br \/>\nAgar pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak.<\/p>\n<p>1. Peran Guru<br \/>\nGuru harus menjadi teladan yang baik bagi murid, baik dalam perkataan maupun tindakan. Sikap guru akan menjadi contoh yang mudah ditiru oleh murid.<\/p>\n<p>2. Peran Orang Tua<br \/>\nOrang tua perlu memberikan perhatian, nasihat, dan pengawasan terhadap perkembangan anak, terutama dalam penggunaan gadget dan pergaulan.<\/p>\n<p>3. Pembiasaan Positif di Sekolah<br \/>\nSekolah dapat membiasakan kegiatan positif seperti budaya disiplin, kerja sama, gotong royong, dan kegiatan keagamaan.<\/p>\n<p>4. Penggunaan Teknologi Secara Bijak<br \/>\nMurid perlu diarahkan agar memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang bermanfaat, seperti belajar dan mencari informasi positif.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nKrisis akhlak murid di era modern menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Pengaruh teknologi, lingkungan pergaulan, dan kurangnya pendidikan moral menjadi beberapa faktor penyebab menurunnya perilaku dan sopan santun pada generasi muda.<\/p>\n<p>Melalui pendidikan karakter, murid dapat dibentuk menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki moral dan akhlak yang baik. Pendidikan karakter harus diterapkan secara konsisten oleh sekolah, keluarga, dan masyarakat agar mampu menciptakan generasi muda yang disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki sikap sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Dengan karakter yang baik, generasi muda akan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai moral dan jati dirinya sebagai penerus bangsa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: M. IRSYA HADIRROSYID Kampus: Universitas Negeri Surabaya JurnalPost.com &#8211; Di era modern seperti sekarang, perkembangan teknologi membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Hampir semua aktivitas dapat dilakukan dengan mudah melalui internet dan media sosial. Kemajuan ini tentu memberikan banyak manfaat, terutama dalam bidang pendidikan dan komunikasi. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25398,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-25397","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25397","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25397"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25397\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25398"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25397"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25397"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25397"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}