{"id":25105,"date":"2026-05-05T10:14:57","date_gmt":"2026-05-05T02:14:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25105"},"modified":"2026-05-05T10:14:57","modified_gmt":"2026-05-05T02:14:57","slug":"bpjs-ilusi-keadilan-yang-dibayar-mahal-oleh-dokter-dan-tenaga-kesehatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/bpjs-ilusi-keadilan-yang-dibayar-mahal-oleh-dokter-dan-tenaga-kesehatan\/25105\/","title":{"rendered":"BPJS: Ilusi Keadilan yang Dibayar Mahal oleh Dokter dan Tenaga Kesehatan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/BPJS-Ilusi-Keadilan.jpg\" alt=\"BPJS Ilusi Keadilan\" width=\"1200\" height=\"900\" class=\"aligncenter size-full wp-image-25106\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/BPJS-Ilusi-Keadilan.jpg 1200w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/BPJS-Ilusi-Keadilan-300x225.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/BPJS-Ilusi-Keadilan-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/BPJS-Ilusi-Keadilan-768x576.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/BPJS-Ilusi-Keadilan-750x563.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/BPJS-Ilusi-Keadilan-1140x855.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<p>Oleh : <strong>dr. Tedy Hartono , SH , MCS <\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; BPJS Kesehatan sering dirayakan sebagai simbol keberhasilan negara dalam menjamin akses layanan kesehatan. Jutaan rakyat bisa berobat tanpa biaya besar. Ini terlihat seperti kemenangan sosial. Tapi ada satu pertanyaan yang sengaja dihindari: siapa yang sebenarnya membayar harga dari sistem ini?<\/p>\n<p>Jawabannya jelas dan pahit: dokter, tenaga kesehatan, dan fasilitas kesehatan.<br \/>\nSistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dibangun dengan semangat keadilan. Namun dalam praktiknya, keadilan itu tidak dibagi melainkan dipindahkan. Negara meringankan beban pasien, tetapi memindahkan tekanan ke penyedia layanan.<\/p>\n<p>Dan ini bukan asumsi. Ini fakta.<br \/>\nTarif INA-CBGs terbukti sering tidak sesuai biaya riil layanan. Bahkan pemerintah sendiri mengakui perlunya revisi tarif BPJS karena terlalu rendah. Di lapangan, dokter dibayar ribuan rupiah per pasien angka yang secara logika profesional sulit diterima. Sistem ini berjalan dengan satu prinsip diam-diam: tekan biaya, apa pun konsekuensinya.<\/p>\n<p>Masalahnya, kesehatan bukan industri murah.<br \/>\nBandingkan dengan negara lain.<br \/>\nDi Jerman, sistem asuransi sosial (social health insurance) justru membangun keseimbangan antara akses, kualitas, dan kesejahteraan tenaga medis. Negara ini mengalokasikan 12,3% dari GDP untuk kesehatan, jauh di atas rata-rata OECD . Jumlah dokter mencapai 4,7 per 1.000 penduduk, lebih tinggi dari rata-rata OECD . Artinya: negara tidak hanya menjamin pasien\u2014tetapi juga memastikan tenaga medis cukup dan sejahtera.<\/p>\n<p>Di Inggris melalui sistem NHS, layanan kesehatan memang gratis di titik pelayanan, tetapi tetap didukung pembiayaan besar negara, sekitar 11,1% dari GDP . Bahkan sistem ini dikenal efisien dan melindungi masyarakat dari biaya kesehatan yang \u201ckatastropik\u201d  tanpa harus meruntuhkan profesi medis.<\/p>\n<p>Sementara itu di Amerika Serikat, sistemnya justru ekstrem sebaliknya: biaya sangat tinggi (hingga 17% GDP), tetapi hasil kesehatan tidak lebih baik dibanding negara lain . Ini membuktikan satu hal penting: biaya besar saja tidak cukup yang dibutuhkan adalah desain sistem yang adil dan seimbang.<br \/>\nKesimpulannya jelas:<\/p>\n<p>Negara maju tidak membangun sistem kesehatan dengan menekan tenaga medis. Mereka berinvestasi besar, menjaga keseimbangan, dan memastikan profesi medis tetap bernilai tinggi.<br \/>\nIndonesia justru mengambil jalur sebaliknya.<\/p>\n<p>Di sini, ada tujuh jebakan nyata:<\/p>\n<p>1.\tTarif rendah yang tidak realistis<br \/>\n2.\tJasa medis terdegradasi<br \/>\n3.\tBeban administrasi tinggi<br \/>\n4.\tKetergantungan total fasyankes<br \/>\n5.\tTekanan efisiensi \u2192 pelayanan minimalis<br \/>\n6.\tGangguan cash flow<br \/>\n7.\tPenurunan kualitas layanan jangka panjang <\/p>\n<p>Jika ini terus berlanjut, krisis bukan lagi kemungkinan tetapi kepastian.<br \/>\nNegara lain menghadapi tantangan dengan meningkatkan investasi kesehatan. Kita justru menekan biaya. Negara lain memperkuat tenaga medis. Kita melemahkannya. Negara lain menjaga kualitas. Kita mempertaruhkan masa depan.<\/p>\n<p>Ini bukan sekadar kesalahan kebijakan.<br \/>\nIni adalah kesalahan arah.<\/p>\n<p>Prediksi ke depan sangat jelas:<br \/>\n\u2022\tBrain drain tenaga medis meningkat<br \/>\n\u2022\tMinat menjadi dokter menurun<br \/>\n\u2022\tKualitas layanan tergerus<br \/>\n\u2022\tSistem tetap berjalan tapi kosong dari kualitas <\/p>\n<p>Dan ketika itu terjadi, rakyat yang hari ini \u201cterlindungi\u201d justru akan menjadi korban berikutnya.<br \/>\nSolusinya tidak bisa tambal sulam.<\/p>\n<p>Reformasi SJSN dan BPJS harus berani dan total:<br \/>\n\u2022\tTarif harus berbasis biaya riil<br \/>\n\u2022\tSistem klaim harus dipangkas drastis<br \/>\n\u2022\tPembiayaan harus diperluas (tidak single payer rigid)<br \/>\n\u2022\tOrganisasi profesi harus dilibatkan nyata<br \/>\n\u2022\tNegara harus menetapkan standar kesejahteraan tenaga medis<br \/>\nY<br \/>\nang paling penting: ubah cara pandang.<br \/>\nTenaga medis bukan beban biaya. Mereka adalah fondasi sistem.<br \/>\nKarena satu kebenaran tidak bisa disangkal:<br \/>\nNegara maju menjaga dokternya.<br \/>\nNegara berkembang mengeksploitasinya.<br \/>\nIndonesia mau berada di sisi yang mana?<\/p>\n<p>Penulis adalah :<br \/>\n<strong>Anggota Tim Analisis IKAL Lemhanas<br \/>\nPemerhati Masalah Kesehatan<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : dr. Tedy Hartono , SH , MCS JurnalPost.com &#8211; BPJS Kesehatan sering dirayakan sebagai simbol keberhasilan negara dalam menjamin akses layanan kesehatan. Jutaan rakyat bisa berobat tanpa biaya besar. Ini terlihat seperti kemenangan sosial. Tapi ada satu pertanyaan yang sengaja dihindari: siapa yang sebenarnya membayar harga dari sistem ini? Jawabannya jelas dan pahit: [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25106,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-25105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25105"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25105\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25106"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}