{"id":25032,"date":"2026-05-03T00:37:53","date_gmt":"2026-05-02T16:37:53","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=25032"},"modified":"2026-05-03T00:55:32","modified_gmt":"2026-05-02T16:55:32","slug":"menghilang-tanpa-kata-normal-atau-tidak-berperasaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menghilang-tanpa-kata-normal-atau-tidak-berperasaan\/25032\/","title":{"rendered":"Menghilang Tanpa Kata: Normal atau Tidak Berperasaan?"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_25033\" aria-describedby=\"caption-attachment-25033\" style=\"width: 1880px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-25033\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata.jpg\" alt=\"Tanpa Kata\" width=\"1880\" height=\"1254\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata.jpg 1880w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata-300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata-768x512.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata-1536x1025.jpg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata-750x500.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Tanpa-Kata-1140x760.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1880px) 100vw, 1880px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-25033\" class=\"wp-caption-text\">sumber: https:\/\/www.istockphoto.com\/id\/vektor\/hantu-kartun-lucu-ghosting-pesan-obrolan-yang-belum-dibaca-di-smartphone-ilustrasi-gm2208059508-625259387<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Mariska Lestari<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di tengah gaya komunikasi yang serba cepat dan instan, satu kebiasaan yang semakin sering terjadi adalah menghilang tanpa penjelasan, atau yang dikenal sebagai *ghosting*. Fenomena ini cukup umum di kalangan Gen Z, terutama dalam hubungan pertemanan maupun percintaan. Awalnya intens, saling berbagi cerita, bahkan terasa dekat. Namun tiba-tiba semuanya berhenti\u2014tanpa alasan, tanpa penutup.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, apakah ini sudah menjadi hal yang normal? Ataukah justru tanda bahwa kita mulai kehilangan empati?<\/p>\n<p>Banyak orang menganggap ghosting sebagai sesuatu yang biasa. Di era digital, hubungan sering dimulai dari layar: cepat, ringan, dan terasa tidak terlalu mengikat. Akibatnya, ketika perasaan berubah atau ketertarikan memudar, sebagian orang merasa tidak perlu memberi penjelasan. Cukup diam, lalu pergi.<\/p>\n<p>Di sisi lain, ada faktor kenyamanan diri. Tidak semua orang siap menghadapi percakapan yang canggung atau berpotensi melukai. Mengatakan \u201caku tidak tertarik lagi\u201d atau \u201ckita tidak cocok\u201d memang bisa terasa berat. Karena itu, menghilang dianggap sebagai jalan paling aman\u2014setidaknya bagi pihak yang pergi.<\/p>\n<p>Namun, bagi yang ditinggalkan, ceritanya berbeda.<\/p>\n<p>Menghilang tanpa kata sering meninggalkan luka yang tak terlihat. Bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan kejelasan. Muncul banyak pertanyaan yang tak terjawab: \u201cAku salah apa?\u201d, \u201cKenapa berubah?\u201d, atau \u201cApa semuanya hanya sementara?\u201d Ketidakpastian ini dapat memicu overthinking dan rasa tidak dihargai.<\/p>\n<p>Di titik inilah ghosting tampak bukan sekadar kebiasaan, melainkan persoalan empati.<\/p>\n<p>Sebab komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan hal yang nyaman bagi diri sendiri, tetapi juga mempertimbangkan perasaan orang lain. Menghilang tanpa penjelasan lebih sering menjadi bentuk penghindaran daripada penyelesaian. Jika terus dianggap wajar, kebiasaan ini perlahan dapat membentuk budaya hubungan yang dangkal dan minim tanggung jawab.<\/p>\n<p>Meski begitu, tidak semua ghosting bisa disamaratakan.<\/p>\n<p>Ada situasi tertentu ketika menghilang justru menjadi pilihan yang lebih sehat, misalnya saat menghadapi hubungan yang toxic, manipulatif, atau mengganggu kesehatan emosional. Dalam kondisi seperti ini, menjaga jarak tanpa banyak penjelasan bisa menjadi bentuk perlindungan diri.<\/p>\n<p>Jadi, normal atau tidak berperasaan?<\/p>\n<p>Jawabannya tidak sesederhana itu. Ghosting mungkin terasa normal karena sering terjadi, tetapi bukan berarti selalu benar. Sesuatu yang umum belum tentu pantas dibenarkan.<\/p>\n<p>Di tengah dunia yang serba cepat, kita mungkin mulai terbiasa dengan hal-hal instan, termasuk dalam hubungan. Padahal di balik setiap chat, panggilan, dan interaksi, selalu ada manusia dengan perasaan yang nyata.<\/p>\n<p>Karena itu, sebelum memilih menghilang, ada baiknya bertanya pada diri sendiri: apakah diam adalah cara terbaik, atau hanya cara termudah?<\/p>\n<p>Sebab terkadang, satu kalimat jujur jauh lebih berarti daripada seribu keheningan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Mariska Lestari JurnalPost.com &#8211; Di tengah gaya komunikasi yang serba cepat dan instan, satu kebiasaan yang semakin sering terjadi adalah menghilang tanpa penjelasan, atau yang dikenal sebagai *ghosting*. Fenomena ini cukup umum di kalangan Gen Z, terutama dalam hubungan pertemanan maupun percintaan. Awalnya intens, saling berbagi cerita, bahkan terasa dekat. Namun tiba-tiba semuanya berhenti\u2014tanpa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25033,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-25032","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25032","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25032"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25032\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25033"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25032"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25032"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25032"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}