{"id":24923,"date":"2026-04-27T00:59:00","date_gmt":"2026-04-26T16:59:00","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24923"},"modified":"2026-04-27T00:59:00","modified_gmt":"2026-04-26T16:59:00","slug":"belajar-dari-air-mata-anak-di-paud-bukan-sekadar-tangisan-tapi-proses-adaptasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/belajar-dari-air-mata-anak-di-paud-bukan-sekadar-tangisan-tapi-proses-adaptasi\/24923\/","title":{"rendered":"Belajar dari Air Mata Anak di PAUD, Bukan Sekadar Tangisan tapi Proses Adaptasi"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD.jpeg\" alt=\"Anak di PAUD\" width=\"1600\" height=\"800\" class=\"aligncenter size-full wp-image-24924\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD.jpeg 1600w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD-300x150.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD-1024x512.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD-768x384.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD-1536x768.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD-360x180.jpeg 360w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD-750x375.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anak-di-PAUD-1140x570.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Risa Ristiani, Mahasiswi S1 PIAUD<\/strong><\/p>\n<p>\u201cKenapa anak menangis saat ditinggal di PAUD? Ini yang sering disalahpahami Orang Tua\u201d<br \/>\n\u201cTangisan di hari pertama sekolah, wajar atau tanda masalah?\u201d<\/p>\n<p>Setiap pagi, tangisan kecil sering terdengar di depan pintu PAUD. Seorang anak memeluk erat ibunya, menolak berpisah, bahkan terkadang berusaha kembali pulang. Pemandangan ini bukan hal yang langka, justru sangat umum terjadi. Bagi sebagian orang tua, momen ini bisa menimbulkan rasa khawatir sekaligus pertanyaan: \u201cKenapa anak saya tidak seperti yang lain?\u201d Padahal, tidak semua anak mampu beradaptasi dengan cepat, dan itu sepenuhnya wajar.<\/p>\n<p>Sebut saja A, anak usia 4 tahun yang setiap pagi selalu menangis saat ibunya hendak pulang. Ia menolak masuk kelas dan tampak cemas berada di lingkungan baru. Kondisi ini tidak hanya berlangsung satu atau dua hari, tetapi lebih dari dua minggu. Sementara itu, teman-temannya mulai terlihat nyaman bermain, A masih berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang baginya terasa asing.<\/p>\n<p>Fenomena seperti ini sering terjadi di PAUD. Pada usia dini, anak memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan orang tua, terutama seorang ibu pengasuh utama. Ketika harus berpisah, mereka bisa merasa kehilangan rasa aman.<\/p>\n<p>Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ini antara lain:<br \/>\n\u2022\tAnak belum terbiasa berpisah dari orang tua<br \/>\n\u2022\tWaktu bersama keluarga di rumah lebih dominan<br \/>\n\u2022\tLingkungan sekolah masih terasa asing<br \/>\n\u2022\tAnak belum membangun kepercayaan dengan guru dan teman<\/p>\n<p>Penting untuk dipahami, kondisi ini bukan berarti anak \u201cmanja\u201d. Justru, anak sedang berada dalam proses belajar untuk mandiri dan mengenal dunia di luar rumah. Dalam situasi ini, peran orang tua dan guru menjadi sangat penting. Pendekatan yang tepat dapat membantu anak melewati fase adaptasi dengan lebih nyaman.<br \/>\nBeberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:<\/p>\n<p>Pertama, membangun rutinitas yang konsisten.<br \/>\nAnak akan merasa lebih aman ketika memiliki pola yang sama setiap hari, mulai dari waktu berangkat hingga waktu dijemput.<\/p>\n<p>Kedua, berpamitan secara singkat namun hangat.<br \/>\nPerpisahan yang terlalu lama justru dapat memperkuat rasa cemas. Cukup dengan pelukan dan kalimat sederhana seperti, \u201cNanti mama jemput lagi, ya.\u201d<\/p>\n<p>Ketiga, guru memberikan sambutan yang ramah.<br \/>\nSenyuman, sapaan, dan perhatian kecil dari guru dapat membantu anak merasa diterima di lingkungan baru.<\/p>\n<p>Keempat, mengajak anak terlibat dalam aktivitas bermain.<br \/>\nDi usia dini, bermain adalah cara utama anak belajar. Ketika anak mulai menikmati kegiatan, rasa cemas biasanya akan berkurang secara alami.<\/p>\n<p>Perlu diingat, proses adaptasi tidak terjadi secara instan. Pada kasus A, perubahan mulai terlihat setelah beberapa minggu. Tangisannya perlahan berkurang, ia mulai mau masuk kelas, duduk bersama teman, dan ikut bermain. Hal ini menunjukkan bahwa setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Tidak ada standar waktu yang sama untuk semua anak.<\/p>\n<p>Karena itu, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami:<\/p>\n<p>\u2022\tTidak perlu membandingkan anak dengan anak lain<br \/>\n\u2022\tMenangis di awal sekolah adalah hal yang wajar<br \/>\n\u2022\tAnak membutuhkan proses, bukan tekanan<br \/>\n\u2022\tKerja sama antara orang tua dan guru sangat menentukan<\/p>\n<p>Tangisan anak di PAUD bukan sekadar reaksi sesaat. Di balik itu, ada proses besar yang sedang berlangsung, anak belajar mandiri, membangun rasa percaya, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Peran orang dewasa bukan untuk mempercepat proses tersebut, melainkan mendampingi dengan kesabaran dan konsistensi. Sebab dari langkah kecil hari ini, anak sedang membangun fondasi penting untuk menghadapi dunia yang lebih luas di masa depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Risa Ristiani, Mahasiswi S1 PIAUD \u201cKenapa anak menangis saat ditinggal di PAUD? Ini yang sering disalahpahami Orang Tua\u201d \u201cTangisan di hari pertama sekolah, wajar atau tanda masalah?\u201d Setiap pagi, tangisan kecil sering terdengar di depan pintu PAUD. Seorang anak memeluk erat ibunya, menolak berpisah, bahkan terkadang berusaha kembali pulang. Pemandangan ini bukan hal yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24924,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-24923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24923"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24923\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}