{"id":24875,"date":"2026-04-24T08:56:11","date_gmt":"2026-04-24T00:56:11","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24875"},"modified":"2026-04-24T09:09:31","modified_gmt":"2026-04-24T01:09:31","slug":"ai-dalam-dunia-pendidikan-antara-efisiensi-dan-risiko-siswa-bergantung-pada-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ai-dalam-dunia-pendidikan-antara-efisiensi-dan-risiko-siswa-bergantung-pada-ai\/24875\/","title":{"rendered":"AI dalam Dunia Pendidikan, Antara Efisiensi dan Risiko Siswa Bergantung pada AI"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_24876\" aria-describedby=\"caption-attachment-24876\" style=\"width: 784px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/AI-dalam-Dunia-Pendidikan.jpg\" alt=\"AI dalam Dunia Pendidikan\" width=\"784\" height=\"441\" class=\"size-full wp-image-24876\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/AI-dalam-Dunia-Pendidikan.jpg 784w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/AI-dalam-Dunia-Pendidikan-300x169.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/AI-dalam-Dunia-Pendidikan-768x432.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/AI-dalam-Dunia-Pendidikan-750x422.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 784px) 100vw, 784px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-24876\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi kecerdasan buatan. Foto: unsplash.com\/Zach M<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penulis: <strong>Afradhiya Naura Ramli (Sastra Inggris, Universitas Negeri Semarang)<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di era digital dan serba mudah ini, penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan terus meningkat secara global. Dilansir UNESCO, pada tahun 2025, hampir dua pertiga institusi pendidikan tinggi di dunia telah atau sedang mengembangkan pedoman penggunaan AI dalam kegiatan akademik. AI sendiri adalah teknologi yang menjadikan mesin secara mungkin dapat meniru kemampuan manusia, seperti menerjemahkan bahasa, menganalisis data, membantu menyelesaikan berbagai tugas secara cepat dan efisien, serta meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil belajar secara signifikan di berbagai bidang pendidikan modern, termasuk dalam proses pembelajaran yang lebih adaptif dan interaktif bagi siswa.<\/p>\n<p>Di Indonesia, fenomena ini sudah banyak terlihat di lingkungan sekolah. Siswa kini semakin familiar dengan teknologi AI dan menggunakannya sebagai alat bantu proses belajar. Kepala Sekolah SMKN 7 Kabupaten Tangerang, Isman Hidayat, berpendapat bahwa perkembangan teknologi seperti AI dapat dimanfaatkan secara bijak oleh siswa untuk mendukung proses pembelajaran.<\/p>\n<p>\u201cAI itu seperti kalkulator versi canggih. Dulu orang takut kalkulator bikin anak bodoh berhitung, tapi ternyata justru membantu kita menghitung lebih cepat. Begitu juga AI, ini alat bantu yang luar biasa asal dipakai untuk belajar, bukan untuk curang,\u201d ujar Isman.<\/p>\n<p>Ia membenarkan bahwa saat ini, siswa sudah akrab dengan AI. Di antara para siswa, banyak yang memanfaatkan AI unruk mencari ide, membantu membuat program komputer, juga memahami materi pelajaran yang sulit dipahami lewat buku. Kehadiran AI dimasa ini memudahkan siswa untuk belajar secara mandiri dan fleksibel, tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, Isman menilai penggunaan AI tidak luput dari tantangan. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi dapat membuat siswa menjadi malas berpikir jika tidak digunakan dengan tepat. Ini adalah hal yang penting, karena akan membentuk pemikiran dan kreativitas para siswa.<\/p>\n<p>Dalam proses pembelaran yang kini semakin mudah karena adanya AI, penyesuaian pembelajaran perlu dilakukan oleh para guru agar siswa lebih terasah dan tidak mudah mengandalkan sesuatu yang instan. Menurut Isman, guru perlu menyesuaikan metode pembelajaran seperti memberikan tugas yang lebih fokus pada praktik, presentasi, maupun proyek nyata yang membutuhkan pemikiran langsung dari siswa. Dengan cara ini, diharapkan para siswa tetap aktif mengembangkan pemikiran mereka tanpa mengandalkan jawaban dari AI.<\/p>\n<p>Isman juga menegaskan bahwa pihak sekolah tidak melarang penggunaan AI oleh siswa. Namun, penggunaannya tetap harus mengikuti prinsip kejujuran akademik.<\/p>\n<p>\u201cAI boleh digunakan untuk membantu mencari inspirasi, tapi hasil akhirnya harus tetap hasil pemikiran sendiri. Kejujuran tetap nomor satu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, seorang siswa sekolah bernama Nida mengaku sering memanfaatkan AI untuk membantu mencari referensi saat mengerjakan tugas sekolah, khususnya pada pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).<\/p>\n<p>\u201cBiasanya aku sih pakai AI untuk bantu memahami soal sama membuat belajar lebih efisien. Menurutku, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu dan kita tetap harus berpikir dulu sebelum memakainya, bukan langsung salin tanpa dipikir dulu,\u201d kata Nida.<\/p>\n<p>Dengan demikian, adanya AI bukan hanya menjadi tren baru dalam pendidikan, tetapi juga bagian dari transformasi pendidikan modern yang perlu dimanfaatkan secara bijak agar hasilnya menjadi optimal. Walaupun terdapat kemudahan dalam ngerjakan sesuatu dengan AI, penggunaannya tetap harus bijak. Siswa baiknya menggunakan AI sebagai sarana pendukung pembelajaran sehingga otak tetap terasah dan tidak tergantikan oleh AI. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Afradhiya Naura Ramli (Sastra Inggris, Universitas Negeri Semarang) JurnalPost.com &#8211; Di era digital dan serba mudah ini, penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan terus meningkat secara global. Dilansir UNESCO, pada tahun 2025, hampir dua pertiga institusi pendidikan tinggi di dunia telah atau sedang mengembangkan pedoman penggunaan AI dalam kegiatan akademik. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24876,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-24875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24876"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}