{"id":24782,"date":"2026-04-20T23:50:45","date_gmt":"2026-04-20T15:50:45","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24782"},"modified":"2026-04-21T16:13:44","modified_gmt":"2026-04-21T08:13:44","slug":"burnout-hustle-culture-dan-fomo-perkembangan-bahasa-akademik-mahasiswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/burnout-hustle-culture-dan-fomo-perkembangan-bahasa-akademik-mahasiswa\/24782\/","title":{"rendered":"Burnout, Hustle Culture, dan FOMO: Perkembangan Bahasa Akademik Mahasiswa"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/fomo.jpg\" alt=\"\" width=\"750\" height=\"421\" class=\"aligncenter size-full wp-image-24783\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/fomo.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/fomo-300x168.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><\/p>\n<p>Ketua: Yosephine Stevanny Januari Manulang<br \/>\nAnggota:<\/p>\n<ul>\n<li>Windy Ardelia<\/li>\n<li>Olivia<\/li>\n<li>Shafalia Ramadhani<\/li>\n<li>Renzy Garcia Devito<\/li>\n<\/ul>\n<p>Penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan mahasiswa pada era digital saat ini semakin dipengaruhi oleh istilah populer dari media sosial, seperti <em>burnout, overwhelmed, toxic productivity, hustle culture,<\/em> hingga <em>fear of missing out (FOMO).<\/em> Istilah-istilah ini kerap digunakan secara langsung dalam karya tulis ilmiah tanpa penyesuaian dengan kaidah bahasa baku, bahkan membentuk struktur kalimat baru yang mencampurkan berbagai istilah dalam satu ungkapan. Alih-alih menggunakan padanan seperti \u201ckelelahan mental\u201d atau \u201ctakut tertinggal\u201d, mahasiswa lebih memilih istilah asing yang dianggap lebih ringkas dan relevan dengan pengalaman mereka. Fenomena ini mengalami peningkatan seiring maraknya konten kesehatan mental di media sosial seperti TikTok dan Instagram sejak beberapa tahun terakhir. Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Studi Reva Diena Mustaqina dan Sri Mulyeni dalam jurnal ilmiah RISOMA (2026) menyatakan bahwa tuntutan untuk selalu aktif dan produktif dapat memicu stres serta mengganggu kesejahteraan mental mahasiswa. Kondisi ini kemudian sering direpresentasikan oleh mahasiswa melalui istilah populer seperti <em>burnout<\/em> atau <em>FOMO<\/em> dalam tulisan akademik mereka. Hal tersebut kemudian tercermin dalam cara mahasiswa menulis dan mengekspresikan pengalaman akademiknya, sehingga batas antara bahasa populer dan bahasa ilmiah menjadi semakin kabur. Tidak jarang, kalimat dalam karya ilmiah berubah menjadi lebih padat istilah asing daripada penjelasan konseptual, yang pada akhirnya memengaruhi kejelasan dan struktur tulisan secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Menurut pemahaman saya, adopsi istilah dari media sosial ini <strong>tidak sepenuhnya perlu ditolak karena dalam konteks tertentu mampu meningkatkan efektivitas komunikasi ilmiah.<\/strong> Istilah seperti <em>gaslighting, FOMO, <\/em>atau <em>quarter life crisis<\/em> dapat merangkum kondisi psikologis yang kompleks dalam bentuk yang lebih singkat dan mudah dipahami dibandingkan penjelasan panjang dalam Bahasa Indonesia baku. Hal ini membuat tulisan terasa lebih hidup dan lebih dekat dengan realitas mahasiswa sebagai penulis maupun pembaca. Penelitian Lela Kania Rahsa Puji dkk. (2025) dalam Prosiding Semlitmas, menunjukkan bahwa <em>quarter life crisis <\/em>memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa, sehingga penggunaan istilah tersebut dapat dianggap relevan dalam konteks akademik kontemporer. Namun demikian, penggunaan istilah tersebut juga memiliki kelemahan yang tidak dapat diabaikan. Kartin Aprianti dkk. (2024) dalam Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPMANPER) mengungkap bahwa fenomena <em>toxic productivity<\/em> dapat menurunkan kualitas akademik karena mahasiswa lebih berfokus pada penyelesaian tugas dalam jumlah besar daripada pemahaman yang mendalam. Selain itu, tidak semua istilah memiliki padanan baku dalam Bahasa Indonesia, sehingga <strong>berpotensi menimbulkan ketidakjelasan makna, inkonsistensi penggunaan istilah, serta penurunan tingkat formalitas dalam penulisan ilmiah.<\/strong> Dalam beberapa kasus, penggunaan istilah yang berlebihan justru membuat kalimat menjadi tidak efektif, terkesan dipaksakan, dan sulit dipahami oleh pembaca yang tidak familiar dengan istilah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih seimbang dalam penggunaan istilah media sosial dalam bahasa akademik mahasiswa.<\/p>\n<p>Istilah populer tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi penggunaannya perlu disertai dengan penjelasan atau padanan dalam Bahasa Indonesia, terutama pada bagian awal tulisan agar tetap memenuhi standar akademik. Setelahnya, penulis dapat beralih menggunakan istilah baku untuk menjaga konsistensi dan kejelasan makna dalam pembahasan. Pembatasan jumlah istilah juga perlu diterapkan agar tidak mengganggu koherensi tulisan secara keseluruhan. Saya menyarankan dua pendekatan praktis yang sederhana untuk diterapkan. <strong>Buat kamus gabungan berbasis digital<\/strong> yang memuat 25 terminologi media sosial berpasangan dengan padanan EYD dan bentuk akademik (contoh: \u201c<em>burnout<\/em>\u00b9\u201d = \u201ckelelahan mental kronis\u201d); gunakan pendekatan gabungan pada bagian pendahuluan, serta bentuk baku pada bagian pembahasan. Kemudian, <strong>laksanakan aturan \u201cTiga Terminologi Maksimal\u201d <\/strong>per karya dengan catatan kaki berisi definisi EYD secara wajib (contoh: \u201c<em>FOMO<\/em>\u00b2\u201d = \u201c<em>fear of missing out\u00b2\u201d), <\/em>menurut Kamus Istilah Psikologi Kemendikbud, dibatasi tiga per enam halaman. Penggunaan istilah asing secara berlebihan dapat menurunkan keterpaduan dan kualitas tulisan akademik. Pendekatan ini mengonversi terminologi media sosial menjadi instrumen analisis yang dapat dipertanggungjawabkan, sambil mempertahankan Bahasa Indonesia akademik agar tetap tepat, akurat, dan selaras dengan ketentuan EYD. Mahasiswa juga perlu memiliki kesadaran kritis dalam memilih istilah yang digunakan, sehingga tidak hanya mempertimbangkan kepraktisan, tetapi juga ketepatan makna dan kesesuaian dengan konteks ilmiah. Oleh karena itu, penggunaan istilah sebaiknya dilakukan secara selektif dan proporsional, bukan sekadar mengikuti tren yang berkembang di media sosial. Dengan demikian, fenomena ini tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gaya penulisan yang adaptif tanpa mengabaikan kaidah Bahasa Indonesia. Keseimbangan antara relevansi dengan perkembangan zaman dan ketepatan dalam bahasa akademik menjadi kunci utama agar tulisan ilmiah tetap berkualitas, komunikatif, dan dapat dipertanggungjawabkan.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA <\/strong><br \/>\nAprianti, K., &amp; Purnama, I. (2025). <em>Menelisik dampak fenomena toxic productivity era society 5.0 pada academic performance di kalangan pelajar perempuan.<\/em> Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPMANPER), 10(1). <a href=\"https:\/\/ejournal.upi.edu\/index.php\/jpmanper\/article\/view\/74761\">https:\/\/ejournal.upi.edu\/index.php\/jpmanper\/article\/view\/74761<\/a><\/p>\n<p>Mustaqina, R. D., &amp; Mulyeni, S. (2026). <em>Dampak penggunaan media sosial terhadap gangguan psikologis mahasiswa.<\/em> RISOMA.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/journal.appisi.or.id\/index.php\/risoma\/article\/view\/1521\">https:\/\/journal.appisi.or.id\/index.php\/risoma\/article\/view\/1521<\/a><\/p>\n<p>Puji, L. K. R., Putri, V., Hasanah, N., Husaini, Z. R., &amp; penulis lainnya. (2025). <em>Peran quarter life crisis, dukungan sosial, dan prokrastinasi akademik dalam menjelaskan tingkat stres mahasiswa: Bukti dari studi korelasional<\/em>. Prosiding Semlitmas, 2(1).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/openjournal.wdh.ac.id\/index.php\/PROSIDINGSEMLITMAS\/article\/view\/1107\">https:\/\/openjournal.wdh.ac.id\/index.php\/PROSIDINGSEMLITMAS\/article\/view\/1107<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua: Yosephine Stevanny Januari Manulang Anggota: Windy Ardelia Olivia Shafalia Ramadhani Renzy Garcia Devito Penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan mahasiswa pada era digital saat ini semakin dipengaruhi oleh istilah populer dari media sosial, seperti burnout, overwhelmed, toxic productivity, hustle culture, hingga fear of missing out (FOMO). Istilah-istilah ini kerap digunakan secara langsung dalam karya tulis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24783,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-24782","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24782","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24782"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24782\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24783"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24782"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24782"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24782"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}