{"id":24593,"date":"2026-04-11T18:32:08","date_gmt":"2026-04-11T10:32:08","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24593"},"modified":"2026-04-11T18:32:08","modified_gmt":"2026-04-11T10:32:08","slug":"wearable-device-dalam-membaca-bahasa-tubuh-berbasis-sains-data","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wearable-device-dalam-membaca-bahasa-tubuh-berbasis-sains-data\/24593\/","title":{"rendered":"Wearable Device dalam Membaca Bahasa Tubuh Berbasis Sains Data"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Wearable-Device.png\" alt=\"Wearable Device\" width=\"1536\" height=\"1024\" class=\"aligncenter size-full wp-image-24594\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Wearable-Device.png 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Wearable-Device-300x200.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Wearable-Device-1024x683.png 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Wearable-Device-768x512.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Wearable-Device-750x500.png 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Wearable-Device-1140x760.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 1536px) 100vw, 1536px\" \/><\/p>\n<p>Oleh:<br \/>\n<strong>Arini Mayang Fauni<\/strong><br \/>\nProgram Studi Sains Data, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Mas Said Surakarta<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Komunikasi antarmanusia tidak semata-mata terjadi melalui kata-kata yang diucapkan, melainkan juga melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, posisi tubuh, dan respons tubuh yang sering kali tidak disadari. Penelitian menunjukkan bahwa 55% komunikasi disampaikan melalui bahasa tubuh, 38% melalui intonasi suara, dan 7% melalui kata-kata yang diucapkan (Mehrabian &amp; Ferris, 1967). Temuan ini menggambarkan betapa krusialnya pemahaman mengenai bahasa tubuh dalam menganalisis kondisi emosional dan psikologis seseorang secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Seiring berkembangnya teknologi di era digital, <em>wearable device <\/em>atau perangkat yang dapat dikenakan berkembang menjadi solusi berbasis teknologi. Perangkat ini secara otomatis mendeteksi dan menganalisis bahasa tubuh manusia melalui data fisiologis, seperti denyut jantung, pola tidur, aktivitas fisik, hingga tingkat stres secara <em>real-time<\/em>. Teknologi ini mencakup bermacam alat, mulai dari jam tangan pintar, gelang kesehatan, hingga cincin pintar.<\/p>\n<p>Kemampuan <em>wearable device <\/em>dalam membaca kondisi tubuh manusia tidak hanya bergantung pada sensor perangkat keras, tetapi juga pada sains data. Bahasa tubuh yang selama ini sulit diukur dan bersifat subjektif karena bergantung pada pengamatan psikolog, kini dapat dihitung secara objektif berkat sensor, algoritma, dan analisis data dalam sains data. Namun, ketepatan dan konsistensi perangkat <em>wearable <\/em>dalam membaca bahasa tubuh masih menjadi perdebatan. Apakah teknologi ini benar-benar dapat diandalkan, atau sekadar asumsi kasar yang rentan terhadap kesalahan?<\/p>\n<p><strong>Sains Data sebagai Otak di Balik Perangkat <em>Wearable.<\/em><\/strong><br \/>\nPerangkat <em>wearable <\/em>menganalisis bahasa tubuh dengan menggunakan rangkaian sensor yang saling berkaitan. Perangkat <em>accelerometer <\/em>dan <em>gyroscope <\/em>mendeteksi gerakan serta posisi tubuh. Sensor EDA menilai konduktivitas kulit sebagai reaksi emosional, sementara ECG memantau variasi detak jantung.<\/p>\n<p>Informasi mentah dari sensor diolah melalui tahap-tahap dalam kerangka sains data. Pada tahap awal, data diproses untuk menghapus bias akibat pergerakan sensor dan <em>noise<\/em>. Selanjutnya, fitur-fitur diekstraksi untuk mengenali pola-pola penting seperti konduktivitas kulit dan variabilitas detak jantung (HRV). Tahap akhirnya, <em>machine learning <\/em>diterapkan untuk klasifikasi aktivitas pengguna. Data sensor tidak akan berguna tanpa prosedur sains data. Sains data mengajarkan mesin untuk \u201cmembaca\u201d bahwa peningkatan konduktivitas kulit yang disusul oleh lonjakan detak jantung dapat menjadi indikasi bahwa individu tersebut menunjukkan tanda-tanda stres, termasuk kecemasan atau potensi ketidakjujuran (Widowati &amp; Purwantini, 2024).<\/p>\n<p><strong>Seberapa Efektif Sains Data dalam Menganalisis Bahasa Tubuh.<\/strong><br \/>\nBeberapa studi berbasis data telah menguji tingkat keakuratan sains data dalam menganalisis bahasa tubuh melalui perangkat <em>wearable<\/em>. Pertama, studi yang berfokus pada HRV dengan melibatkan 100 peserta menunjukkan bahwa sistem deteksi yang berlandaskan sains data mampu memprediksi tingkat stres dengan akurasi 80% (Widowati &amp; Purwantini, 2024). Hasil ini jauh lebih konsisten dibandingkan dengan pengamatan manual. Kedua, sebuah perangkat <em>wearable <\/em>yang dikenakan oleh pengemudi menggunakan pendekatan algoritma <em>Decision Tree <\/em>untuk menilai sinyal PPG atau sinyal denyut jantung, berhasil meraih akurasi klasifikasi sebesar 80% dengan waktu pemrosesan hanya 2,6 detik (Fuad et al., 2025). Hal ini menunjukkan penerapan sains data dapat beroperasi secara <em>real-time<\/em>. Akan tetapi, hasil tersebut belum tentu dapat merepresentasikan kondisi nyata yang lebih rumit dengan tepat. Meski demikian, penelitian lainnya mencatat bahwa ketika sistem mengelompokkan emosi dengan tingkat intensitas yang lebih kompleks, seperti perbedaan antara ketegangan sedang dan tinggi, tingkat akurasinya menjadi terbatas yaitu sekitar 60%<\/p>\n<p>(Arabian et al., 2023). Temuan tersebut mengindikasikan bahwa semakin rumit gerakan tubuh yang ingin dianalisis, semakin besar juga tantangan dalam pengolahan data yang memerlukan pendekatan sains data.<\/p>\n<p><strong>Aplikasi Nyata Sains Data dalam Memaknai Bahasa Tubuh.<\/strong><br \/>\nKemampuan sains data dalam menginterpretasikan bahasa tubuh telah menghasilkan berbagai penerapan yang bermanfaat di berbagai bidang industri. Dalam bidang kesehatan mental, analisis data dari perangkat <em>wearable <\/em>seperti <em>smartwatch <\/em>atau jam tangan pintar yang didukung algoritma sains data, kini dapat menganalisis dan mengenali peningkatan stres berdasarkan pola HRV atau variasi detak jantung pengguna. Inovasi <em>wearable <\/em>secara otomatis memberikan rekomendasi intervensi seperti latihan pernapasan. Tanpa analisis data yang canggih, hal ini hampir tidak mungkin terwujud (Karmeliyah, 2024).<\/p>\n<p>Sementara itu, teknologi <em>wearable <\/em>juga digunakan dalam bidang keselamatan berkendara untuk mengidentifikasi kelelahan atau rasa kantuk pada pengemudi dengan menganalisis data fisiologis. Melalui penerapan sains data, teknologi ini dapat mengenali perubahan dalam pola detak jantung dan respons fisiologis yang berkaitan dengan berkurangnya fokus (Alarnaout, Zaki, Kotb, &amp; Alakkoumi, 2025). Dengan cara ini, sistem mampu memberikan peringatan dini yang berpotensi menurunkan risiko kecelakaan akibat kelelahan pengemudi.<\/p>\n<p>Pada ranah interaksi manusia dan teknologi, sains data memberikan kemampuan bagi sistem untuk mengenali kondisi emosional pengguna saat berinteraksi dengan teknologi melalui analisis sinyal fisiologis. Teknik ini kemudian dikenal sebagai teknik komputasi afektif. Metode ini memungkinkan komputer untuk beradaptasi dalam memberi respons kepada pengguna, contohnya dengan menyesuaikan tampilan dan respons perangkat <em>wearable <\/em>agar lebih mudah dipahami dan digunakan, berdasarkan pada variabel yang telah diidentifikasi (Papakostas, Troussas, &amp; Krouska, 2025). Pendekatan ini meningkatkan kualitas interaksi antara manusia dan teknologi, sebab cara individu memahami dan merespons informasi turut memengaruhi seberapa efektif sistem dapat beradaptasi terhadap kebutuhan penggunanya.<\/p>\n<p><strong>Tantangan dan Pengembangan ke Depan.<\/strong><br \/>\nMeskipun memiliki potensi besar, kemampuan sains data dalam memahami bahasa tubuh masih menghadapi berbagai tantangan, seperti gangguan data akibat bias pergerakan sensor, keterbatasan generalisasi model karena perbedaan biologis individu, serta kurangnya data pelatihan yang mencerminkan keragaman manusia. Selain itu, isu privasi juga menjadi perhatian utama dalam pengumpulan data fisiologis (Ruotsalo, 2024). Oleh karena itu, pengembangan model yang lebih personal serta kerja sama antarbidang ilmu menjadi kunci untuk meningkatkan akurasi dan aspek etis dalam penerapannya. <strong>Simpulan dan Saran.<\/strong><\/p>\n<p>Tanpa sains data, perangkat <em>wearable <\/em>hanyalah perangkat keras pasif. Melalui proses pembersihan data, ekstraksi fitur, dan algoritma <em>machine learning<\/em>, sains data mengubah informasi fisiologis menjadi pemahaman tentang bahasa tubuh manusia. Meskipun kemampuan mengenali tanda dasar sudah memadai, pemahaman terhadap emosi yang lebih kompleks masih terbatas. Untuk memanfaatkan potensi besar teknologi ini di Indonesia secara etis dan efisien, penulis merekomendasikan agar pembentukan kumpulan data yang lebih besar dan beragam diprioritaskan, model yang disesuaikan harus terus dikembangkan, dan regulasi untuk perlindungan data fisiologis segera disusun. <strong>DAFTAR <strong>DAFTAR<br \/>\n<strong>PUSTAKA.<\/strong><\/p>\n<p>Alarnaout, Z., Zaki, C., Kotb, Y., &amp; Alakkoumi, M. (2025). <em>Exploiting heart rate variability for driver drowsiness detection using wearable sensors and machine learning<\/em>. 1\u201324.<\/p>\n<p>Arabian, H., Alshirbaji, T. A., Schmid, R., Wagner-hartl, V., Chase, J. G., &amp; Moeller, K. (2023). <em>Harnessing Wearable Devices for Emotional Intelligence : Therapeutic Applications in Digital Health<\/em>. 1\u201319.<\/p>\n<p>Fuad, A. A., Widasari, E. R., Studi, P., Komputer, T., Komputer, F. I., Brawijaya, U., &amp; Korespondensi, P. (2025). <em>DECISION TREE BERBASIS SINYAL PHOTOPLETHYSMOGRAM PORTABLE STRESS DETECTION SYSTEM FOR\u00a0\u00a0 DRIVERS\u00a0\u00a0 USING\u00a0\u00a0 DECISION\u00a0\u00a0 TREE\u00a0\u00a0 BASED\u00a0\u00a0 ON<\/em><\/p>\n<p><em>PHOTOPLETHYSMOGRAM SIGNALS<\/em>. <em>13<\/em>(1).<\/p>\n<p>Karmeliyah, M. (2024). Teknologi Wearable: Integrasi dengan AI. Retrieved April\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 10,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 2026,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 from\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 codepolitan.com\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 website: <a href=\"https:\/\/www.codepolitan.com\/blog\/teknologi-wearable-integrasi-dengan-ai\/\">https:\/\/www.codepolitan.com\/blog\/teknologi-wearable-integrasi-dengan-ai\/<\/a><\/p>\n<p>Mehrabian, A., &amp; Ferris, S. R. (1967). Inference of attitudes from nonverbal communication in two channels. <em>Journal of Consulting Psychology<\/em>, Vol. 31,<\/p>\n<p>248\u2013252. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1037\/h0024648\">https:\/\/doi.org\/10.1037\/h0024648<\/a><\/p>\n<p>Papakostas, C., Troussas, C., &amp; Krouska, A. (2025). <em>NAMI : A Neuro-Adaptive Multimodal Architecture for Wearable Human \u2013 Computer Interaction<\/em>.<\/p>\n<p>Ruotsalo, T. (2024). <em>Physiological Data : Challenges for Privacy and Ethics<\/em>. 1\u2013<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1109\/MC.2024.3404994.DAVIS\">https:\/\/doi.org\/10.1109\/MC.2024.3404994.DAVIS<\/a><\/p>\n<p>Widowati, C., &amp; Purwantini, K. (2024). Inovasi Sensor Wearable untuk Monitoring Kesehatan Mental melalui Variabilitas Denyut Jantung. <em>Journal of New Trends in Sciences<\/em>, 2(2), 63\u201373.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Arini Mayang Fauni Program Studi Sains Data, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Mas Said Surakarta JurnalPost.com &#8211; Komunikasi antarmanusia tidak semata-mata terjadi melalui kata-kata yang diucapkan, melainkan juga melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, posisi tubuh, dan respons tubuh yang sering kali tidak disadari. Penelitian menunjukkan bahwa 55% komunikasi disampaikan melalui bahasa tubuh, 38% [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24594,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[182],"tags":[],"class_list":["post-24593","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-essay"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24593","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24593"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24593\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24594"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24593"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24593"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24593"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}