{"id":24559,"date":"2026-04-10T21:03:40","date_gmt":"2026-04-10T13:03:40","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24559"},"modified":"2026-04-10T22:07:35","modified_gmt":"2026-04-10T14:07:35","slug":"akun-kampus-cantik-saat-mahasiswa-dinilai-dari-wajah-bukan-pikiran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/akun-kampus-cantik-saat-mahasiswa-dinilai-dari-wajah-bukan-pikiran\/24559\/","title":{"rendered":"Akun Kampus Cantik: Saat Mahasiswa Dinilai dari Wajah, Bukan Pikiran"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_24560\" aria-describedby=\"caption-attachment-24560\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Gambar1-2.png\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"401\" class=\"size-full wp-image-24560\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Gambar1-2.png 650w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Gambar1-2-300x185.png 300w\" sizes=\"(max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-24560\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi tekanan sosial dalam penggunaan media sosial. Sumber: Pinterest<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Umi Dwiastuti, Mahasiswa Akuntansi, Universitas Negeri Yogyakarta<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Akhir-akhir ini, kamu mungkin sering melihat akun \u201ckampus cantik\u201d berseliweran di TikTok atau Instagram. Konten yang ditampilkan biasanya berupa potongan video atau foto mahasiswa yang dianggap menarik secara visual, lalu diunggah ulang oleh akun tertentu. Fenomena ini banyak ditemukan di berbagai kampus di Indonesia dan terus muncul dalam beberapa waktu terakhir. Respons dari warganet pun cukup besar, mulai dari pujian hingga komentar yang menilai penampilan. Sekilas, tren ini tampak seperti hiburan ringan yang tidak menimbulkan masalah. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, fenomena ini sebenarnya menyimpan persoalan yang perlu dipahami.<\/p>\n<p>Di balik popularitasnya, mulai muncul berbagai tanggapan dari mahasiswa yang merasa tidak nyaman. Beberapa di antaranya mengaku bahwa foto atau video mereka digunakan tanpa izin oleh pihak pengelola akun. Ada juga yang merasa terganggu karena dijadikan objek penilaian publik secara terbuka. Selain itu, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya membandingkan dirinya dengan standar kecantikan yang beredar di media sosial. Kondisi ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut tidak hanya melibatkan pihak yang ditampilkan, tetapi juga memengaruhi audiens yang melihatnya. Dengan kata lain, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.<\/p>\n<p>Fenomena ini tidak bisa hanya dianggap sebagai tren hiburan biasa. Jika dilihat lebih dalam, ada perubahan cara pandang yang perlahan terjadi di kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang seharusnya dikenal karena pemikiran, prestasi, dan kontribusinya justru lebih sering dinilai dari penampilan luar. Hal ini memunculkan pertanyaan penting mengenai arah budaya di lingkungan kampus. Apakah identitas mahasiswa kini mulai dipersempit hanya berdasarkan apa yang terlihat di media sosial? Jika hal ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin nilai intelektualitas akan semakin terpinggirkan.<\/p>\n<p>Jika dikaitkan dengan nilai Pancasila, fenomena ini dapat ditinjau dari sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Setiap individu pada dasarnya memiliki martabat yang tidak ditentukan oleh penampilan fisik semata. Ketika seseorang dinilai hanya berdasarkan aspek visual, maka penghargaan terhadap kemanusiaan menjadi berkurang. Selain itu, penggunaan konten tanpa izin juga menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap hak individu. Oleh karena itu, fenomena ini perlu disikapi dengan lebih bijak agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>Selain sila kedua, sila kelima tentang keadilan sosial juga relevan untuk melihat fenomena ini. Konten yang terus menonjolkan standar kecantikan tertentu berpotensi menciptakan ketimpangan dalam penerimaan sosial. Individu yang sesuai dengan standar tersebut cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian dan pengakuan. Sebaliknya, mereka yang tidak sesuai menjadi kurang terlihat dan bahkan terabaikan. Tanpa disadari, media sosial membentuk ruang yang tidak sepenuhnya adil bagi semua orang. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat.<\/p>\n<p>Sebagai pengguna media sosial, kita sebenarnya memiliki peran dalam menentukan arah tren yang berkembang. Setiap interaksi, seperti menonton, menyukai, atau membagikan konten, secara tidak langsung mendukung keberlanjutan fenomena tersebut. Oleh karena itu, penting untuk lebih selektif dalam menyikapi konten yang beredar. Kita bisa mulai dengan mempertimbangkan dampak dari setiap konten sebelum berinteraksi lebih jauh. Selain itu, kesadaran untuk menghargai orang lain juga perlu terus ditingkatkan. Dengan begitu, ruang digital dapat menjadi lebih positif dan menghargai keberagaman.<\/p>\n<p>Fenomena \u201cakun kampus cantik\u201d seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tren sementara yang akan hilang dengan sendirinya. Lebih dari itu, fenomena ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua, khususnya mahasiswa. Media sosial memang memberikan ruang untuk berekspresi dan berbagi, tetapi tetap perlu diimbangi dengan tanggung jawab. Penting untuk kembali menempatkan nilai intelektualitas dan kemanusiaan sebagai hal utama dalam kehidupan kampus. Pada akhirnya, cara kita memandang orang lain akan memengaruhi kualitas interaksi sosial yang kita bangun. Baik di dunia digital maupun dalam kehidupan nyata, nilai tersebut tetap menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Umi Dwiastuti, Mahasiswa Akuntansi, Universitas Negeri Yogyakarta JurnalPost.com &#8211; Akhir-akhir ini, kamu mungkin sering melihat akun \u201ckampus cantik\u201d berseliweran di TikTok atau Instagram. Konten yang ditampilkan biasanya berupa potongan video atau foto mahasiswa yang dianggap menarik secara visual, lalu diunggah ulang oleh akun tertentu. Fenomena ini banyak ditemukan di berbagai kampus di Indonesia dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24560,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-24559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24559"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24559\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24560"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}