{"id":24514,"date":"2026-04-08T19:26:26","date_gmt":"2026-04-08T11:26:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24514"},"modified":"2026-04-08T19:26:26","modified_gmt":"2026-04-08T11:26:26","slug":"perkuat-ketahanan-ekonomi-inovasi-monitoring-biopori-digital-mulai-diterapkan-di-bojongsoang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/perkuat-ketahanan-ekonomi-inovasi-monitoring-biopori-digital-mulai-diterapkan-di-bojongsoang\/24514\/","title":{"rendered":"Perkuat Ketahanan Ekonomi, Inovasi Monitoring Biopori Digital Mulai Diterapkan di Bojongsoang"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital.webp\" alt=\"Biopori Digital\" width=\"1843\" height=\"1076\" class=\"aligncenter size-full wp-image-24515\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital.webp 1843w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital-300x175.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital-1024x598.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital-768x448.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital-1536x897.webp 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital-750x438.webp 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Biopori-Digital-1140x666.webp 1140w\" sizes=\"(max-width: 1843px) 100vw, 1843px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kawasan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, kembali bersiap menghadapi tantangan banjir musiman yang kerap melanda wilayah tersebut. Sebagai wilayah yang berada di titik rendah dan sering dijuluki sebagai &#8220;mangkuk&#8221; Bandung, warga di sepanjang Jalan H. Mansyur, Neglasari, kini mulai memperkenalkan inovasi baru berupa Sistem Informasi Monitoring Penerapan Lubang Resapan Biopori untuk memitigasi dampak banjir. Bagi warga RT 09 Neglasari, ancaman banjir bukan sekadar akibat curah hujan lokal, melainkan &#8220;banjir kiriman&#8221; akibat pembukaan pintu bendungan di wilayah hulu. Salah seorang warga menuturkan bahwa air biasanya merendam pemukiman selama satu hingga dua jam jika hanya kiriman singkat, namun bisa bertahan hingga tiga hari saat puncak musim penghujan tiba. Kondisi ini berdampak langsung pada roda ekonomi lokal, di mana banyak pelaku UMKM dan warung warga terpaksa tutup total saat genangan air mulai masuk ke rumah. <\/p>\n<p>Menghadapi anomali cuaca yang kian ekstrem, solusi konvensional dinilai tidak lagi cukup. Melalui proyek mata kuliah Program Studi Sistem Informasi yang diketuai oleh Dr. Runik Machfiroh, S.Pd., M.Pd. sistem informasi monitoring biopori hadir sebagai solusi cerdas untuk memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat. Meskipun lubang biopori memiliki keterbatasan kapasitas, teknologi ini memiliki peran krusial pada fase pasca-banjir melalui fungsi Infiltrasi Mikro. Sistem ini memungkinkan pemantauan efektivitas lubang resapan secara real-time. Melalui data digital, warga dapat segera mengidentifikasi titik mana saja yang tersumbat sedimen pasca-banjir untuk segera dibersihkan. Selain itu, akurasi data kecepatan resapan air ini menjadi panduan penting bagi pelaku UMKM untuk memprediksi kapan warung mereka aman untuk kembali beroperasi. <\/p>\n<p>Proyek ini mengadopsi konsep global Sponge City atau Kota Spons, di mana setiap jengkal tanah dioptimalkan untuk menyerap air semaksimal mungkin guna membangun resiliensi perkotaan. Di tengah kebiasaan warga yang selama ini hanya bisa bersiap dengan mengangkat barang-barang ke tempat lebih tinggi, kehadiran sistem yang terorganisir ini memberikan harapan baru. Dengan adanya monitoring biopori yang terintegrasi, diharapkan beban sosial warga Neglasari dapat berkurang dan aktivitas ekonomi tidak perlu terhenti terlalu lama setiap kali musim penghujan melanda kawasan Bojongsoang <\/p>\n<p>Sumber: Wawancara Lapangan Neglasari, Februari 2026<br \/>\nPenulis :<br \/>\n1.\tRizky Pratama Affandi Putra &#8211; 102022300322<br \/>\n2.\tMuhammad Varel Arifianta -102022300088<br \/>\n3.\tRindu Naella Darmawan &#8211; 102022330168<br \/>\n4.\tWildan Zaaqi &#8211; 102022300154<br \/>\n5.\tWildan Yudhistira &#8211; 102022300228<br \/>\n6.\tNaswa Gyna Sahira -102022300287<br \/>\n7.\tNaufal Rafi &#8211; 102022300279<br \/>\n8.\tKania Shafa Az Zahra &#8211; 102022300122<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Kawasan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, kembali bersiap menghadapi tantangan banjir musiman yang kerap melanda wilayah tersebut. Sebagai wilayah yang berada di titik rendah dan sering dijuluki sebagai &#8220;mangkuk&#8221; Bandung, warga di sepanjang Jalan H. Mansyur, Neglasari, kini mulai memperkenalkan inovasi baru berupa Sistem Informasi Monitoring Penerapan Lubang Resapan Biopori untuk memitigasi dampak banjir. Bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24515,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-24514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24514"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24514\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24515"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}