{"id":24277,"date":"2026-03-26T06:53:20","date_gmt":"2026-03-25T22:53:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24277"},"modified":"2026-03-26T06:53:20","modified_gmt":"2026-03-25T22:53:20","slug":"bung-hatta-tidak-butuh-pemuja-ia-butuh-pelanjut-menghidupkan-kembali-integritas-intelektual-dalam-menjaga-marwah-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/bung-hatta-tidak-butuh-pemuja-ia-butuh-pelanjut-menghidupkan-kembali-integritas-intelektual-dalam-menjaga-marwah-bangsa\/24277\/","title":{"rendered":"\u2018\u2018BUNG HATTA TIDAK BUTUH PEMUJA, IA BUTUH PELANJUT: MENGHIDUPKAN KEMBALI INTEGRITAS INTELEKTUAL DALAM MENJAGA MARWAH BANGSA\u2019\u2019"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-24278\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nofan-Alfandi.jpeg\" alt=\"Nofan Alfandi\" width=\"125\" height=\"217\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nofan-Alfandi.jpeg 922w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nofan-Alfandi-173x300.jpeg 173w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nofan-Alfandi-590x1024.jpeg 590w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nofan-Alfandi-768x1333.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nofan-Alfandi-885x1536.jpeg 885w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nofan-Alfandi-750x1302.jpeg 750w\" sizes=\"(max-width: 125px) 100vw, 125px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: Nofan Alfandi<\/p>\n<p>JurnalPost.com &#8211; <em>\u201cMembaca ribuan buku, meraih gelar doktor di Rotterdam, lalu pulang ke tanah air hanya untuk mengejar jabatan dan menumpuk harta tanpa integritas. Bung Hatta pasti akan memalingkan wajah dengan kecewa.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Intelektual muda Indonesia hari ini lebih piawai memoles citra di ruang digital, daripada mempertanyakan mengapa angka ketimpangan ekonomi kita masih tertahan di angka 0,375 (Indonesia, n.d.). Paradoks ini menjadi semakin menyakitkan ketika kita menyadari bahwa generasi sekarang adalah generasi dengan akses informasi paling melimpah sepanjang sejarah, namun keberpihakan etis terhadap nasib kolektif justru kerap luluh lantah di hadapan pragmatisme materi.<\/p>\n<p>Mohammad Hatta, yang sepanjang hidupnya meletakkan buku di atas segalanya, membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tanpa karakter adalah kekosongan yang berbahaya. Maka pernyataan opini ini tegas: <em>\u201cMengagumi kesederhanaan dan kejujuran Hatta tanpa menerapkannya dalam standar moral pribadi adalah bentuk pengkhianatan intelektual yang paling nyata.\u201d<\/em>(Latif, 2025)<\/p>\n<p>Intelektual muda yang berpendidikan tinggi namun tidak memiliki integritas dalam bertindak adalah beban sejarah yang tidak bisa lagi dibenarkan. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan Hatta, (Hutabarat, n.d.) haruslah berakar pada &#8220;Daulat Rakyat&#8221; bukan &#8220;Daulat Tuanku&#8221; atau modal. Sebagaimana ditegaskan oleh kritikus sosial Julien Benda dalam <em>The Treason of the Intellectuals<\/em> (1927), bahwa pengkhianatan terbesar kaum intelektual adalah ketika mereka menukar nilai-nilai kebenaran universal dengan kepentingan politik praktis dan materi sesaat. (<em>Revisiting Julien Benda\u2019s Treason of the Intellectuals \u2022 European University Institute<\/em>, n.d.)<\/p>\n<p>Fakta di lapangan berbicara keras. Data dari <em>Transparency International<\/em> (2024) menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia masih stagnan, sebuah tamparan bagi sistem pendidikan kita yang terus mencetak sarjana namun gagal mencetak manusia berintegritas. <em>(\u201cIndeks Persepsi Korupsi 2024,\u201d 2025)<\/em> Kesenjangan antara jumlah orang pintar dan jumlah orang jujur ini membuktikan bahwa pendidikan kita baru sebatas transfer kognitif, belum menyentuh transformasi mental.<\/p>\n<p>Krisis peran intelektual muda di Indonesia hari ini hadir dalam tiga wajah yang mengkhawatirkan:<\/p>\n<ol>\n<li>Sikap Pragmatis: Ilmu dianggap sebagai alat tukar ekonomi semata untuk mendaki tangga sosial, abai terhadap etika proses.<\/li>\n<li>Kekosongan Literasi: Gemar mengutip Bung Hatta untuk estetika konten, namun asing terhadap kedalaman pemikirannya tentang ekonomi kerakyatan.<\/li>\n<li>Defisit Integritas: Mudahnya kaum terdidik terjebak dalam pusaran korupsi dan manipulasi kebijakan demi kenyamanan posisi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kajian dari (Reshita &amp; Efendri, 2023) mencatat bahwa komitmen mahasiswa terhadap nilai kejujuran akademik dan sosial cenderung menurun seiring dengan meningkatnya tekanan kompetisi karier. Ketiga wajah krisis ini adalah cerminan kegagalan kita dalam menempatkan &#8220;karakter&#8221; sebagai inti dari kompetisi intelektual, sebuah nilai yang bagi Hatta bersifat harga mati.<\/p>\n<p><strong>Ekonomi Moral sebagai Jawaban<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Solusi atas krisis ini bukanlah sekadar menambah kurikulum, melainkan melakukan revolusi paradigma tentang tanggung jawab ilmu. Bung Hatta dalam tulisan-tulisannya menekankan pentingnya ekonomi yang berdasar pada usaha bersama dan moralitas (Co-operation) (<em>Pusdiklat APU-PPT<\/em>, n.d.). Hal ini sejalan dengan konsep (Sen, 1999) dalam <em>Development as Freedom<\/em>, di mana kemajuan bangsa diukur dari sejauh mana manusia menggunakan kapasitasnya untuk memperluas kebebasan dan keadilan bagi sesama.<\/p>\n<p>Tiga wujud konkret penerapan semangat Hatta bagi intelektual muda meliputi: Pertama, disiplin literasi yang kuat untuk membedah realitas secara objektif; Kedua, hidup bersahaja sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya korup; dan Ketiga, keberanian menyatakan kebenaran meskipun harus berdiri sendirian di tengah arus.<\/p>\n<p><strong>Integritas sebagai Ujian Akhir Intelektualisme<\/strong><\/p>\n<p>Integritas adalah tolok ukur paling jujur apakah gelar akademik seseorang benar-benar bernilai atau hanya sekadar kertas formalitas. Intelektual sejati tidak diukur dari jabatan yang ia rengkuh, melainkan dari seberapa teguh ia memegang prinsip saat godaan kekuasaan datang menghampiri. Pengetahuan yang tidak dibalut dengan kejujuran adalah racun bagi peradaban.<\/p>\n<p>Indonesia kini berdiri di ambang visi Indonesia Emas 2045. Namun, laporan (<em>Laporan Kelompok Bank Dunia Mengusulkan Kebijakan dan Investasi Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan dan Aksi Iklim Indonesia<\/em>, n.d.) memperingatkan bahwa tanpa penguatan institusi moral dan integritas pada sumber daya manusianya, potensi ekonomi kita akan tergerus oleh biaya sosial akibat korupsi. Pilihan yang dibuat intelektual muda hari ini apakah ingin menjadi &#8220;Hatta-Hatta Baru&#8221; yang jujur atau menjadi teknokrat yang oportunis akan menentukan masa depan bangsa ini.<\/p>\n<p>Dari sini dapat dipahami, bahwa warisan terbesar Hatta bukanlah sekadar koperasi, melainkan sebuah teladan bahwa intelektualitas harus bersenyawa dengan moralitas. Intelektual muda Indonesia hari ini dipanggil bukan untuk memuja foto Hatta di dinding-dinding kantor, melainkan untuk mewarisi &#8220;keteguhan hatinya&#8221; dalam menjaga marwah bangsa di tengah gempuran ketidakpastian zaman.<\/p>\n<p>Sejarah hanya akan mengingat mereka yang tetap tegak saat yang lain membungkuk demi kepentingan pribadi. Pertanyaannya sederhana: di barisan mana kita berdiri? []<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><\/p>\n<p>Hutabarat, P. N. (n.d.). <em>PEMIKIRAN POLITIK MOHAMMAD HATTA TENTANG DEMOKRASI<\/em>.<\/p>\n<p>INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2024: \u201cKORUPSI, DEMOKRASI, DAN KRISIS LINGKUNGAN.\u201d (2025, February 11). <em>Transparency International Indonesia<\/em>. https:\/\/ti.or.id\/indeks-persepsi-korupsi-2024-korupsi-demokrasi-dan-krisis-lingkungan-2\/<\/p>\n<p>Indonesia, B. P. S. (n.d.). <em>Gini ratio Maret 2025 tercatat sebesar 0,375<\/em>. Retrieved March 25, 2026, from https:\/\/www.bps.go.id\/id\/pressrelease\/2025\/07\/25\/2519\/gini-ratio-maret-2025-tercatat-sebesar-0-375.html<\/p>\n<p><em>Laporan Kelompok Bank Dunia Mengusulkan Kebijakan dan Investasi Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan dan Aksi Iklim Indonesia<\/em>. (n.d.). [Text\/HTML]. World Bank. Retrieved March 25, 2026, from https:\/\/www.worldbank.org\/in\/news\/press-release\/2023\/05\/03\/world-bank-group-report-proposes-policies-investments-to-enable-indonesia-to-achieve-its-development-and-climate-goals<\/p>\n<p>Latif, Y. (2025). Building the Soul of the Indonesian Nation: Mohammad Hatta on Religion, the State Foundation, and Character Building. <em>Studia Islamika<\/em>, <em>32<\/em>(2), 241\u2013278. https:\/\/doi.org\/10.36712\/sdi.v32i2.45220<\/p>\n<p><em>Pusdiklat APU-PPT<\/em>. (n.d.). Retrieved March 25, 2026, from https:\/\/ifii.ppatk.go.id\/en\/Web\/Berita\/detil\/211\/<\/p>\n<p>Reshita, A. R., &amp; Efendri, E. (2023). Pengaruh Tekanan, Kesempatan, Rasionalisasi dan Kemampuan terhadap Academic Fraud pada Mahasiswa (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Trilogi). <em>EDUKASIA Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran<\/em>, <em>4<\/em>(2), 771\u2013780. https:\/\/doi.org\/10.62775\/edukasia.v4i2.352<\/p>\n<p><em>Revisiting Julien Benda\u2019s Treason of the Intellectuals \u2022 European University Institute<\/em>. (n.d.). Retrieved March 25, 2026, from https:\/\/www.eui.eu\/events?id=572480<\/p>\n<p>Sen, A. (1999). <em>Development as Freedom<\/em>. Oxford University Press.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nofan Alfandi JurnalPost.com &#8211; \u201cMembaca ribuan buku, meraih gelar doktor di Rotterdam, lalu pulang ke tanah air hanya untuk mengejar jabatan dan menumpuk harta tanpa integritas. Bung Hatta pasti akan memalingkan wajah dengan kecewa.\u201d Intelektual muda Indonesia hari ini lebih piawai memoles citra di ruang digital, daripada mempertanyakan mengapa angka ketimpangan ekonomi kita masih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24278,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-24277","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24277","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24277"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24277\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24278"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24277"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24277"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24277"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}