{"id":24230,"date":"2026-03-19T18:51:35","date_gmt":"2026-03-19T10:51:35","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24230"},"modified":"2026-03-19T18:51:35","modified_gmt":"2026-03-19T10:51:35","slug":"moralitas-viral-bila-pengemudi-dalam-sandera-lensa-ponsel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/moralitas-viral-bila-pengemudi-dalam-sandera-lensa-ponsel\/24230\/","title":{"rendered":"Moralitas Viral: Bila Pengemudi dalam Sandera Lensa Ponsel"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Bonar Hutapea<a href=\"#_edn1\" name=\"_ednref1\">[i]<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di persimpangan jalan yang padat, terutama pada musim mudik dan liburan yang sesak, kamera <em>Electronic Traffic Law Enforcement<\/em> (ETLE) yang terpasang kokoh di atas tiang besi sering kali diabaikan begitu saja oleh para pengendara seolah hanya menjadi elemen dekoratif dalam lanskap kota.<\/p>\n<p>Penting untuk dipahami bahwa sandera moral yang dimaksud di sini bukanlah fenomena pengemudi yang asyik bermain ponsel saat menyetir, melainkan kondisi psikologis pengendara yang merasa terancam oleh bidikan lensa ponsel orang lain di sekitarnya.<\/p>\n<p>Kelesuan kepatuhan terhadap kamera statis inilah yang sebenarnya telah coba diantisipasi oleh otoritas melalui peluncuran ETLE Mobile, yang memungkinkan petugas menjepret pelanggaran melalui perangkat genggam secara dinamis di lapangan.<\/p>\n<p>Namun, dalam realitas psikologisnya, kehadiran kamera resmi tersebut sering kali kalah mengintimidasi dibandingkan manakala mata kamera ponsel, entah dari pejalan kaki di trotoar maupun pengendara lain yang memantau dari balik kaca mobil, mulai membidik ke arah mereka.<\/p>\n<p>Fenomena ini bukan sekadar contoh ketaatan situasional, melainkan potret perubahan psikologis mendalam mengenai bagaimana ancaman sanksi hukum formal dari negara kini kerap kalah oleh teror penghakiman massa digital.<\/p>\n<p>Tentu saja, penggunaan kamera ponsel sebagai alat pengawasan sosial memiliki sisi positif, seperti membantu menegakkan akuntabilitas publik di tengah penegakan hukum yang terkadang belum optimal.<\/p>\n<p>Namun, secara substansial, ini merupakan bentuk penyanderaan kesadaran diri di mana rasa takut akan viralitas telah mengikis otonomi moral individu dan memaksa kita untuk berperilaku luhur bukan karena nurani, melainkan demi menghindari arena penghakiman publik yang meninggalkan jejak digital tak terhapuskan.<\/p>\n<p>Dalam psikologi transportasi, perilaku kepatuhan lalu lintas secara tradisional dijelaskan melalui <em>deterrence theory<\/em> yang berasumsi bahwa kepatuhan muncul dari kalkulasi rasional pengemudi mengenai probabilitas deteksi dan beratnya sanksi.<\/p>\n<p>Namun, James Reason dalam buku <em>Human Error<\/em> terbitan Cambridge University Press tahun 1990 menjelaskan bahwa pelanggaran lalu lintas sering kali bukan sekadar tindakan jahat, melainkan hasil dari interaksi kognitif antara kesalahan manusia dan pelanggaran yang disengaja.<\/p>\n<p>Masalahnya, ketika kita menambahkan elemen pengawasan viral ke dalam sistem ini, kita tidak membantu pengemudi untuk lebih waspada secara kognitif, melainkan menciptakan tingkat kecemasan yang kontraproduktif.<\/p>\n<p>Kita kini tengah menyaksikan pergeseran sistem pengawasan dari vertikal, yakni negara mengawasi warga, menuju pengawasan horizontal atau <em>sousveillance<\/em> yang didefinisikan oleh Steve Mann dalam studinya di <em>ACM International Conference on Multimedia<\/em> tahun 2002 sebagai praktik pengawasan dari bawah di mana setiap individu memiliki kapabilitas teknis untuk mendokumentasikan orang lain<\/p>\n<p>Dampak psikologis dari pergeseran ini bersifat disruptif terhadap budaya keselamatan karena ancaman menjadi viral dipersepsikan oleh sistem kognitif pengemudi sebagai ancaman eksistensial yang mengaktifkan respons stres yang jauh lebih intens.<\/p>\n<p>Naomi Eisenberger dalam artikel ilmiahnya yang diterbitkan di jurnal <em>Nature Reviews Neuroscience<\/em> pada tahun 2012 membuktikan bahwa pengucilan sosial akibat <em>public shaming<\/em> di media sosial memicu aktivasi saraf yang setara dengan rasa sakit fisik akibat trauma.<\/p>\n<p>Inilah kunci psikologis mengapa kamera ponsel terasa jauh lebih mengintimidasi daripada CCTV administratif; otak kita secara evolusioner diprogram untuk memprioritaskan penerimaan kelompok di atas kepatuhan hukum formal.<\/p>\n<p>Ketakutan akan kematian sosial di ruang digital inilah yang secara perlahan menyandera kesadaran diri kita dan menjebak individu ke dalam perilaku <em>performative compliance<\/em> atau kepatuhan yang bersifat pertunjukan<\/p>\n<p>Kondisi ini sejalan dengan apa yang digambarkan Erving Goffman dalam bukunya <em>The Presentation of Self in Everyday Life<\/em> tahun 1959 mengenai bagaimana manusia secara konstan melakukan manajemen kesan agar dapat diterima oleh lingkungan.<\/p>\n<p>Dalam konteks perilaku berkendara, kita terjebak dalam bias kognitif yang dikenal sebagai <em>Spotlight Effect<\/em>, di mana Thomas Gilovich, Kenneth Savitsky, dan Victoria Medvec dalam risetnya di <em>Journal of Personality and Social Psychology<\/em> tahun 2000 menguraikan bagaimana individu cenderung meyakini bahwa setiap tindakan mereka sedang disorot oleh audiens yang tak terbatas.<\/p>\n<p>Akibatnya, perilaku baik yang kita tunjukkan bukanlah cerminan dari integritas internal, melainkan hasil dari manajemen kesan yang intens agar tidak menjadi sasaran perundungan siber, <em>doxing<\/em>, atau penghakiman publik yang permanen.<\/p>\n<p>Perilaku etis yang hanya menjadi komoditas untuk menghindari viralitas ini justru menghilangkan kesempatan untuk mengembangkan empati yang tulus dalam berkendara, padahal empati membutuhkan ruang untuk belajar dari kesalahan\u2014ruang yang kini perlahan tertutup oleh budaya penghakiman digital yang tanpa ampun<\/p>\n<p>Erosi psikologis ini pada akhirnya melemahkan <em>internal locus of control<\/em> pengemudi secara drastis, sebab normalisasi pengawasan konstan oleh media sosial menurut David Trottier dalam bukunya <em>Social Media as Surveillance<\/em> terbitan tahun 2017 tidak membuat masyarakat menjadi lebih beretika, melainkan lebih paranoid.<\/p>\n<p>Masyarakat yang digerakkan oleh rasa takut akan viralitas akan menjadi masyarakat yang dangkal di mana kita hanya menjadi aktor yang takut akan naskah buruk, bukan individu yang memiliki integritas substansial.<\/p>\n<p>Ini adalah paradoks moralitas modern di mana kita menjadi lebih tertib di jalan raya namun sekaligus menjadi lebih tidak otentik, terjebak dalam disonansi kognitif untuk mematuhi aturan saat diawasi namun kembali melanggar saat merasa aman dari lensa.<\/p>\n<p>Padahal, Torbj\u00f8rn Nordfj\u00e6rn dan Trond Rundmo dalam studinya di <em>Journal of Risk Research<\/em> tahun 2015 menekankan bahwa prediksi terbaik dari perilaku aman di jalan raya adalah budaya keselamatan yang kuat dalam diri individu, bukan sekadar respons terhadap pengawasan eksternal<\/p>\n<p>Kita perlu menyadari bahwa kamera ponsel memang mampu menangkap perilaku, namun ia tidak pernah mampu menanamkan kebajikan di dalam sanubari pengemudi. Kamera adalah saksi bisu yang merekam perbuatan, tetapi tidak bisa merekam niat.<\/p>\n<p>Jika kita membiarkan kepatuhan terus-menerus disandera oleh lensa, kita akan melangkah menuju masyarakat yang tertib namun kosong karena tidak memahami esensi kebaikan dan nilai keselamatan itu sendiri.<\/p>\n<p>Tugas kita adalah memastikan bahwa kompas moral kita tetap bekerja bahkan saat tidak ada lensa yang mengawasi, melangkah melampaui kepatuhan performatif menuju kepatuhan yang berbasis pada kesadaran.<\/p>\n<p>Integritas sejati tidak membutuhkan saksi, dan perilaku yang benar di jalan raya tidak seharusnya didorong oleh ketakutan akan pengawasan, melainkan oleh kesadaran akan hak hidup orang lain.<\/p>\n<p>Sudah saatnya kita memulihkan kesadaran diri dari sandera ketakutan viral dan kembali membangun moralitas yang berpijak pada integritas, bukan pada lensa<\/p>\n<p><a href=\"#_ednref1\" name=\"_edn1\">[i]<\/a> Dosen Psikologi Perkotaan dan Psikologi Lalu Lintas &amp; Transportasi Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Bonar Hutapea[i] JurnalPost.com &#8211; Di persimpangan jalan yang padat, terutama pada musim mudik dan liburan yang sesak, kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) yang terpasang kokoh di atas tiang besi sering kali diabaikan begitu saja oleh para pengendara seolah hanya menjadi elemen dekoratif dalam lanskap kota. Penting untuk dipahami bahwa sandera moral yang dimaksud [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24231,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[182],"tags":[],"class_list":["post-24230","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-essay"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24230","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24230"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24230\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24231"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24230"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24230"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24230"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}