{"id":24078,"date":"2026-03-03T15:41:31","date_gmt":"2026-03-03T07:41:31","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24078"},"modified":"2026-03-03T15:41:31","modified_gmt":"2026-03-03T07:41:31","slug":"hoaks-sebagai-ancaman-bagi-persatuan-dan-kesatuan-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/hoaks-sebagai-ancaman-bagi-persatuan-dan-kesatuan-bangsa\/24078\/","title":{"rendered":"Hoaks sebagai ancaman bagi Persatuan dan Kesatuan Bangsa"},"content":{"rendered":"<p>Oleh<br \/>\n<strong>Wina Agustin (2530106044)<br \/>\nTadris Biologi 2B<br \/>\n\u00a0<br \/>\nJurnalPost.com<\/strong> &#8211; Diera teknologi saat ini, informasi dapat dengan mudah untuk sampai ke setiap individu. Baik itu informasi dari luar pulau bahkan informasi dari luar benua pun kita dapat mendapatkannya dengan sangat mudah. Namun dengan kemudahan tersebut, reproduksi informasi menjadi sangat cepat dan informasi yang kita dapat belum tentu semuanya merupakan hal yang benar dan sudah pasti. Adakalanya informasi yang kita terima dapat berupa informasi palsu atau hoaks karena perkembangan teknologi yang begitu canggih sehingga informasi tersebut dapat dengan mudah dihilangkan, diubah dan diputar balik. Dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia, nilai-nilai pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa menjadi pedoman penting dalam mengahadapi persoalan tersebut. Khusunya sila ke tiga \u201cPersatuan Indonesia,\u201d mengimplementasikan nilai pentingnya menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Nilai ini sangat relevan dalam upaya melawan hoaks sebab informasi palsu sering dimanfaatkan untuk menimbulkan perpecahan antar masyarakat.<\/p>\n<p>Ada beberapa hal yang membuat tulisan ini menarik untuk disimak. Pertama agar kita dapat mencegah konflik sosial dan perpecahan. Hoax sering kali berupa pesan provokatif terutama yang berkaitan dengan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Dengan menyebarkannya dapat merusak persatuan dan memicu konflik antar kelompok. Kedua, melindungi diri dari kerugian. Hoax juga dapat berupa pesan penipuan baik itu berupa kesehatan yang menyarankan pengobatan palsu dan informasi keuangan ynag menjebak, sehingga dapat merugikan secara fisik, mental dan finansial. Ketiga, Meningkatkan literasi digital. Dengan kita membiasakan untuk mengecek fakta atas informasi yang kita terima, kita membangun daya kritis menjadi pengguna internet yang bertanggung jawab dan memutus rantai hoaks.<br \/>\nMenurut KBBI hoaks merupakan istilah yang merujuk pada infromasi ynag tidak benar, tetapi disajikan dengan cara yang membuatnya tampak seolah-olah benar. Hoaks sering kali menimbulkan kerugian bagi masyarakat, terutama ketika informasi tersebut menyebar melalui media sosial tanpa verifikasi yang tepat. Sedangkan menurut (Rahmawati et all., 2023) Hoaks merupakan informasi yang belum pasti atau tidak sesuai dengan fakta. Hoaks tidak hanya pada media audio atau media tulis namun hoaks juga dapat berupa perbuatan yang menyesatkan orang lain.<\/p>\n<p>Menurut (Hadi., 2023) terdapat jenis-jenis hoaks antara lain: 1) Berita bohong (fake news), berita palsu yang dibuat untuk menggantikan berita asli. 2) Tautan jebakan (clickbait), yaitu tautan yang ditempatkan di dalam suatu situs yang bertujuan untuk menarik untuk masuk ke situs lainnya. 3) Bias konfirmasi (confirmation bias), yaitu kecenderungan untuk memaknai kejadian terkini sebagai penegas dari kepercayaan yang ada. 4) Informasi yang salah (misinformation), informasi yang disengaja untuk menipu. 5) Satir (satire), yaitu sebuah humor atau ejekan untuk mengomentari kejadian yang sedang hangat. 6) Pasca-kebenaran (post-truth), situasi ketika emosi dianggap lebih benar di banding fakta untuk mempengaruhi opini publik. 7) propaganda, yaitu menyebar informasi, argumen dan cerita yang setengah benar atau bahkan kebohongan untuk mempengaruhi pedapat masyarakat.<br \/>\n\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\nBeberapa faktor yang melatar belakangi adanya hoaks diantaranya dikarenakan rendahnya literasi digital dan minat baca masyarakat yang sering langsung menyebar informasi tanpa melakukan verifikasi mengenai sumber atau isi cerita. Sebagian masyarakat cenderung mempercayai dan membagikan informasi yang sesuai dengan keyakinan atau opini mereka pribadi, meskipun informasi tersebut palsu. Hoaks juga sering kali dirancang dengan judul yang bombastis untuk memicu emosi (rasa takut, marah, senang atau kaget) sehingga pembaca langsung berbagi informasi tersebut tanpa pikir panjang. Selain itu, dapat juga dikarenakan sistem algoritma media sosial yang memprioritaskan konten dengan banyak like\/share, sering kali menguntungkan berita palsu yang sensional untuk menjadi viral.<br \/>\n\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\nKita dapat mengetahui informasi berupa fakta atau palsu dengan memperhatikan ciri-cirinya. Pertama, menggunakan judul provokatif yang sangat mencolok, mengejutkan, atau menuduh yang terkadang tidak sesuai dengan isi berita. Kedua, informasi yang disajikan berasal dari akun media sosial anonim, atau tidak mencantumkan sumber kredibel yang bisa diverifikasi. Ketiga, Pesan diakhiri dengan desakan seperti \u201cSebarkan!\u201d atau \u201dViralkan!\u201d untuk memperluas jangkauan kebohongan. Keempat, hoaks sering disebarkan melalui WhatsApp atau media sosial lainnya tanpa ada link berita resmi, tetapi hanya berupa teks atau pesan yang di kirim berulang kali (forward).<br \/>\n\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\nNilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dapat menjadi pedoman kita dalam menggunakan media sosial. Sila pertama menuntun kita untuk bersikap toleran bahkan ketika sedang dalam dunia maya, kita harus teteap persikap bijaksana dan tidak mudah menghakimi. Sila kedua menajdi landasan untuk saling membantu dan menghargai saat menghadapi arus informasi. Sila ketiga menjadi nilai utama menjaga persatuan bangsa agar tidak dapat dipecah belah oleh berita bohong. Sila keempat menjunjung musyawarah dan mufakat dari pada melempar hinaan diruang publik. Dan Sila Kelima memastikan setiap orang mendapat hak yang sama seperti peluang literasi dan akses informasi yang benar di ruang digital.<br \/>\n\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\nKita harus mampu memfilter fakta, memahami konteks dan berpikir kritis sebelum membagikan informasi. Beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk memutus rantai penyebaran hoaks diantaranya meningkatkan literasi digital dengan selalu cek sumber informasi dan diskusikan bersama agar tak terjebak hoaks. Menjadi penjaga nilai pancasila dengan cara menyebarkan konten positif, menghargai perbedaan, dan menanamkan kebersamaan dalam interaksi dunia maya. Selain itu, bergabung dengan komunitas anti hoaks. Jika generasi muda mampu memegang erat nilai \u2013 nilai pancasila dalam dunia maya, secara tidak langsung kita sekaligus menanamkan benih Indonesia Emas 2045.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nREFERENSI<br \/>\nHadi, S. P. (2023). Pemahaman literasi digital penyebab munculnya hoaks. Jurnal Karya Untuk Masyarakat (JKuM), 4(2), 150-160.<br \/>\nRahmawati, D., Robawa, R. S. P., Al Abiyyi, M. F., RF, P. D. N., Nugraha, R. I., Margono, F. P., &#8230; &#038; Sholihatin, E. (2023). Analisis hoaks dalam konteks digital: Implikasi dan pencegahannya di Indonesia. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 3(2), 10819-10829.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Wina Agustin (2530106044) Tadris Biologi 2B \u00a0 JurnalPost.com &#8211; Diera teknologi saat ini, informasi dapat dengan mudah untuk sampai ke setiap individu. Baik itu informasi dari luar pulau bahkan informasi dari luar benua pun kita dapat mendapatkannya dengan sangat mudah. Namun dengan kemudahan tersebut, reproduksi informasi menjadi sangat cepat dan informasi yang kita dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-24078","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24078","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24078"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24078\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24078"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24078"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24078"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}