{"id":24065,"date":"2026-03-01T21:02:23","date_gmt":"2026-03-01T13:02:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=24065"},"modified":"2026-03-01T21:12:23","modified_gmt":"2026-03-01T13:12:23","slug":"pendidikan-di-era-digital-antara-kemudahan-akses-dan-krisis-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pendidikan-di-era-digital-antara-kemudahan-akses-dan-krisis-karakter\/24065\/","title":{"rendered":"PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL: ANTARA KEMUDAHAN AKSES DAN KRISIS KARAKTER"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-01-at-9.11.40-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"960\" height=\"1280\" class=\"aligncenter size-full wp-image-24069\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-01-at-9.11.40-PM.jpeg 960w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-01-at-9.11.40-PM-225x300.jpeg 225w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-01-at-9.11.40-PM-768x1024.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-01-at-9.11.40-PM-750x1000.jpeg 750w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>YASINTA JAYANTI BANUNG, Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuki dalam dunia Pendidikan. Internet, perangkat pintar, dan berbagai platfon pembelajaran daring membuat akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi semakin mudah dan cepat. Siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada buku cetak atau Pelajaran guru dikelas. Dengan beberapa klik saja, berbagai informasi dari seluruh dunia dapat diperoleh. Namun dibalik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran baru, yaitu terjadinya krisis karakter pada generasi muda. Oleh karena itu, Pendidikan di era digital perlu dipahami tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter.<\/p>\n<p>Di satu sisi, teknologi digital memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Kehidupan berbagai platform pembelajaran seperti kelas daring, video pembelajaran, dan perpustakaan digital memungkinkan siswa belajar kapan saja. Hal ini sangat membantu terutama bagi daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar. Guru juga dapat menggunakan berbagai media interaktif yang membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Selain itu, membantu siswa mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir keritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi<\/p>\n<p>Kemudahan akses informasi juga mendorong siswa untuk lebih mandiri dalam belajar. Mereka dapat mencari berbagai refrensi tambahan diluar materi yang diberikan oleh guru. Dengan demikian, proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Dunia digital telah membuka kesempatan yang luas bagi siapa saja yang ingin belajar. Dalam konteks ini juga, teknologi sebenarnya menjadi alat yang sangat petensial untuk meningkatkan kualitas Pendidikan.<\/p>\n<p>Namun demikian, kemajuan teknologi juga membawa tantangan yang besar. Salah satu masalah yang sering disoroti adalah menurunnya nilai-nilai karakter pada sebagian peserta didik. Kemudahan memperoleh informasi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi tersebut. Banyak siswa yang hanya menyalin tugas dari internet tanpa memahami isinya. Kebiasaan ini secara perlahan dapat menumbuhkan sikap tidak jujur dan kurang bertanggung jawab terhadap proses belajar.<br \/>\nSelain itu, penggunaan gawai yang berlebihan juga dapat memengaruhi prilaku social siswa. Interaksi langung dengan teman, guru, maupun keluarga menjadi berkurang karena Sebagian waktu dihabiskan didepan layar. Akibatnya kemampuan berkomunikasi, empati, dan kerja sama dapat menurun. Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat memicu perilaku individu, kecanduan, bahkan perundungan digital (cyberbullying).<\/p>\n<p>Masalah lainnya adalah arus informasi yang sangat bebas di internet. Tidak semua informasi yang tersedia memiliki nilai edukatif tanpa pendampingan yang baik.siswa dapat dengan mudah mengakses konten yang tidak sesuai dengan usia maupun nilai moral yang berlaku dimasyarakat. Han ini tentu menjadi tantangan besar bagi dunia Pendidikan, khususnya dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kuat secara moral.<\/p>\n<p>Dalam situasi seperti ini, peran guru da orang tua menjadi sangat penting. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampaian materi Pelajaran, tetapi juga sebagai pembimbing yang membantu siswa menggunakan teknologi secara bijak. Pendidikan karakter perlu di integrasikan dalam setiap proses pembelajaran, baik di kelas maupun dalam kegiatan digital. Guru dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan rasa hormat melalui berbagai model pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.<\/p>\n<p>Orang tua juga memiliki tanggung jawab besar dalam mengawasi penggunaan teknologi di rumah. Komunikasi yang baik antara orang tua, dan anak dapat membantu mencegah dampak negatif dari penggunaang internet. Selain itu, orang tua dapat memberikan contoh bagaimana menggunakan teknologi secara sehat dan produktif. Pendidikan karakter pada dasarnya dimulai dari keluarga, kemudian diperkuat oleh sekolah dan masyrakat.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Lembaga Pendidikan perlu merancang sistem pembelajaran yang mampu menyeimbangkan antara pemanfaat teknologi dan pembentukan karakter. Kurikulum tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengembangan nilai-nilai moral. Kegiatan seperti diskusi, kerja kelompok, pengabdian masyrakat, dan pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi sarana yang efektif untuk membentuk karakter siswa.<\/p>\n<p>Pemerintah juga memiliki peran penting dalam menciptakan kebijakan Pendidikan yang adaptif terhadap perkembangaan zaman. Program literasi digital, misalnya, sangat diperlukan agar siswa mampu menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan prangkat teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang diperoleh serta memahami etika dalam dunia digital.<\/p>\n<p>Dengan demikian, Pendidikan di era digital sebenarnya berada pada dua sisi yang saling berkaitan. Disatu sisi terdapat peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui kemudahan akses informasi dan teknologi. Namun di sisi lain, terdapat tantangan berupa potensi krisis karakter apabila teknologi tidak digunakan secara bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara guru, orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara positif.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, tujuan utama Pendidikan bukan hanya menghasilkan individu yang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyrakat. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut, bukan justru melemahkan nilai nilai moral generasi muda. Jika keseimbangan antara kemajuan teknologi dan Pendidikan karakter dapat terjaga, maka era digital justru dapat menjadi peluang besar untuk membangun generasi, masa depan yang cerdas sekaligus berintegritas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: YASINTA JAYANTI BANUNG, Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng JurnalPost.com &#8211; Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuki dalam dunia Pendidikan. Internet, perangkat pintar, dan berbagai platfon pembelajaran daring membuat akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi semakin mudah dan cepat. Siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada buku cetak atau Pelajaran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":24069,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-24065","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24065","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24065"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24065\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24069"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24065"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24065"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24065"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}