{"id":23849,"date":"2026-02-09T00:43:20","date_gmt":"2026-02-08T16:43:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=23849"},"modified":"2026-02-09T00:43:32","modified_gmt":"2026-02-08T16:43:32","slug":"kembang-telang-clitoria-ternatea-l-tanaman-estetik-penghasil-pakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kembang-telang-clitoria-ternatea-l-tanaman-estetik-penghasil-pakan\/23849\/","title":{"rendered":"Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) Tanaman Estetik Penghasil  Pakan."},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/telang.jpg\" alt=\"\" width=\"766\" height=\"272\" class=\"aligncenter size-full wp-image-23850\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/telang.jpg 766w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/telang-300x107.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/telang-750x266.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 766px) 100vw, 766px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Nyimas Popi Indriani<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Ketersediaan pakan hijauan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan produksi ternak, terutama selama musim kemarau yang mengakibatkan kondisi ternak yang menurun. Legum hijauan merupakan kelompok tanaman yang memiliki kandungan nutrien yang tinggi. Salah satu tanaman legum yang berpotensi sebagai pakan adalah hijauan dari tanaman kembang telang (Clitoria ternatea). Tanaman ini memiliki nilai ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang tinggi. Habitat hidupnya dapat tumbuh dengan baik di semua jenis tanah, ketinggian tempat dan kondisi lahan kering, serta menghasilkan biji secara terus menerus. <\/p>\n<p>Legum kembang telang memiliki  bunga banyak warna mulai dari biru, ungu, dan putih, serta beberapa varietas memiliki kelopak berlapis ganda disamping  yang lain berlapis tunggal. Varietas berlapis ganda direkomendasikan untuk produksi bunga, sedangkan varietas berlapis tunggal, terutama yang berwarna putih, lebih disukai untuk produksi polong dan biji. Semua varietas dari hijauan kembang telang dapat digunakan sebagai pakan ruminansia. Keragaman tanaman kembang telang masuk kategori luas untuk karakteristik pada panjang batang, berat batang, berat hijauan, dan jumlah daun sehingga dapat dijadikan materi seleksi pemuliaan hijauan pakan ternak.<\/p>\n<p>Kembang telang merupakan tanaman yang merambat, legum serbaguna yang dihargai karena keindahan hiasnya (estetik), sifat-sifatnya yang meningkatkan kesuburan tanah, dan pakan berkualitas tinggi.  Tanaman kembang telang tidak ada efek umur panen karena merupakan tanaman tahunan (perenial). Produksi hijauan yang berkelanjutan, yang berarti ketahanan tanaman  dalam hal jumlah pemotongan per tahun yang dapat dicapai, dan kuantitas serta kualitas hasil biomassa hijauan, khususnya hasil dedaunan pakan untuk model nutrisi ruminansia. Selain sumber protein karena pengikat nitrogen, tanaman kembang telang juga sebagai sumber mineral, mudah dicerna, hingga aplikasi dalam pewarna makanan dan kosmetik, pengobatan tradisional dan sebagai sumber insektisida yang ramah lingkungan. Tanaman ini dapat diberikan kepada ruminansia sebagai hijauan segar atau jerami (hay)  dan diberikan bersama hijauan lainnya seperti hijauan rumput dan jagung. Keberadaan kembang telang merupakan tanaman yang berpotensi  untuk pertanian terpadu dan restorasi ekologis.<\/p>\n<p>Hijauan kembang telang selain sebagai pakan hijauan juga sebagai pakan fungsional karena mengandung senyawa bioaktif (metabolit sekunder). Beberapa senyawa metabolit sekunder dalam bunga telang yang berpotensi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh antara lain adalah flavonoid (fenol), alkaloid dan polifenol. Antosianin (antioksidan) dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas dan berperan  memproduksi sel darah putih. Antioksidan membantu tubuh menghadapi keadaan stres oksidatif yang berpotensi menyebabkan terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Kembang telang juga mengandung alkaloid  yang memiliki sifat antimikroba,  (membantu menghambat pertumbuhan bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi dan penyakit), dan sifat antiinflamasi. Umur panen hijauan kembang telang menunjukkan pengaruh linier yang signifikan terhadap nilai tanin dan flavonoid.<\/p>\n<p>Pemberian hijauan kembang telang pada sapi perah meningkatkan kandungan lemak dan total padatan susu, sementara pemberiannya pada domba jantan dapat meningkatkan kualitas semen serta dapat meningkatkan pertambahan bobot harian rata rata sapi yang digembalakan. Senyawa bioaktif dalam kembang telang sebagai aditif alami, terutama antosianin dan flavonoid, berperan sebagai antioksidan dan antibakteri yang membantu meningkatkan produksi, bobot karkas dan persentase karkas unggas. Pemberian  hijauan kembang telang harus sesuai dosis dan cara pemberiannya, yang telah banyak dilakukan dalam beberapa penelitian.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nyimas Popi Indriani JurnalPost.com &#8211; Ketersediaan pakan hijauan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan produksi ternak, terutama selama musim kemarau yang mengakibatkan kondisi ternak yang menurun. Legum hijauan merupakan kelompok tanaman yang memiliki kandungan nutrien yang tinggi. Salah satu tanaman legum yang berpotensi sebagai pakan adalah hijauan dari tanaman kembang telang (Clitoria ternatea). Tanaman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":23850,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-23849","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23849","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23849"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23849\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23850"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23849"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23849"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23849"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}