{"id":23813,"date":"2026-02-06T19:12:34","date_gmt":"2026-02-06T11:12:34","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=23813"},"modified":"2026-02-06T19:12:34","modified_gmt":"2026-02-06T11:12:34","slug":"teknologi-sofc-teknologi-energi-bersih-yang-belum-dikenal-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/teknologi-sofc-teknologi-energi-bersih-yang-belum-dikenal-di-indonesia\/23813\/","title":{"rendered":"Teknologi SOFC: Teknologi Energi Bersih yang Belum Dikenal di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Bayangkan ada sebuah teknologi yang bisa mengubah gas alam menjadi listrik dengan efisiensi mencapai 60%, minim polusi, dan panas hasil prosesnya bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Teknologi ini bukan konsep masa depan. Di Jepang, ribuan rumah sudah menggunakannya selama sepuluh tahun, yaitu <em>Solid Oxide Fuel Cell<\/em> (SOFC). Sayangnya, di Indonesia teknologi ini masih hanya sebatas penelitian di ruang laboratorium.<\/p>\n<p><strong>Krisis Energi Indonesia: Angka yang Mengkhawatirkan<\/strong><br \/>\nPada tahun 2023, Indonesia masih bergantung pada energi fosil. Sekitar 82% listrik nasional masih berasal dari bahan bakar fosil, dengan batu bara menyumbang porsi terbesar, yaitu 62%. Gas alam menyusul dengan 16%. Sementara itu, energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, gabungan dari keduanya bahkan tidak sampai 1% (tenaga surya 0,2% dan tenaga angin 0,1%). Ketertinggalan ini makin terasa ketika dibandingkan dengan negara tetangga. Pada tahun 2024, listrik yang berasal dari tenaga angin dan surya di Filipina sudah mencapai sekitar 4%, di Thailand sudah mencapai kurang lebih 5%, dan rata-rata di dunia sudah mencapai 13%.<\/p>\n<p>Pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23% pada tahun 2025. Namun, hingga tahun 2024, capaian barunya berkisar di 14,7%. RUPTL 2025-2034 sudah memasang target penambahan 42,6 GW energi terbarukan, angka terbesar sepanjang sejarah penyusunan RUPTL. Akan tetapi, target ini masih jauh di bawah rekomendasi IEA yang mendorong 60% agar Indonesia bisa mencapai net zero.<\/p>\n<p><strong>SOFC: Teknologi Masa Depan yang Sudah Matang<\/strong><br \/>\nDi tengah upaya keras mengejar energi bersih, ada satu teknologi yang rasanya kurang diperhatikan, yaitu SOFC. Teknologi ini mengubah gas alam atau biogas menjadi listrik, bukan lewat pembakaran seperti genset, melainkan melalui reaksi elektrokimia. Efisiensi SOFC bisa mencapai 50-60%, lebih tinggi dibandingkan dengan pembangkit listrik konvensional yang hanya sekitar 35-40%. Keunggulan lain yang dilupakan: SOFC menghasilkan panas bersuhu tinggi yang bisa dimanfaatkan kembali. Konsep ini dikenal sebagai <em>combined heat &amp; power <\/em>(CHP), dan hal ini membedakan SOFC dengan teknologi energi lainnya karena dalam satu alat dapat memberikan dua manfaat sekaligus. Sekali mendayung dua, tiga pula terlewati.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-23814\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar1-7.jpg\" alt=\"\" width=\"1379\" height=\"745\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar1-7.jpg 1379w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar1-7-300x162.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar1-7-1024x553.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar1-7-768x415.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar1-7-750x405.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar1-7-1140x616.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1379px) 100vw, 1379px\" \/><\/p>\n<p><strong>Kisah Sukses Jepang: Program Ene-Farm<\/strong><br \/>\nJepang bukan hanya mencoba; mereka sudah menerapkan program SOFC selama puluhan tahun untuk rumah tangga melalui Ene-Farm. Sejak tahun 2009, program ini terus berkembang hingga pada akhir tahun 2024 telah terpasang lebih dari 400.000 unit. Hasilnya? Jelas terasa, tagihan listrik rumah dapat turun 30-40%, emisi CO<sub>2<\/sub> berkurang sekitar 1,5 ton per rumah setiap tahunnya, dan ada sumber listrik cadangan saat terjadi pemadaman listrik konvensional. Di luar Jepang, Eropa dan Amerika Serikat juga memperluas penggunaan SOFC. Bloom Energy, misalnya, telah memasang sistem ini untuk pusat data perusahaan besar seperti Google, Apple dan eBay.<\/p>\n<p><strong>Indonesia Punya Modal: Nikel dan <em>Rare Earth Elements<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih besar dari yang kita kira. Pertama, infrastruktur gas alam kita sudah lumayan luas (jaringan gas LPG, jaringan gas rumah ke rumah tangga seperti di Kota Prabumulih dan Kota Bontang, dan sistem perpipaan jaringan gas yang tersedia). Teknologi SOFC ini bisa langsung memanfaatkan infrastruktur ini tanpa perlu membangun sistem baru yang mahal. Kedua, Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia (42% nikel ada di Indonesia) dan produksi nikel Indonesia \u00a0menyumbang 51% produksi nikel global pada tahun 2023 . Padahal nikel adalah salah satu material utama untuk anoda SOFC. Selain itu, SOFC juga membutuhkan <em>rare earth element <\/em>(REE) seperti <em>lanthanum<\/em>, <em>yttrium<\/em>, <em>scandium<\/em> dan <em>gadolinium<\/em>. Yang menarik, unsur-unsur ini sebenarnya dapat diekstraksi dari residu pabrik pengolahan nikel di Indonesia (terutama di Sulawesi dan Halmahera). Artinya, kita bisa membangun industri SOFC dari hulu ke hilir tanpa harus mengimpor material inti. Pemerintah Indonesia sudah memetakan delapan lokasi cadangan REE dan membentuk Badan Industri Mineral Strategis. Akan tetapi, sejauh ini belum ada langkah nyata untuk menghubungkannya dengan pengembangan SOFC lokal.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-23815\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar2-1.jpg\" alt=\"\" width=\"1379\" height=\"754\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar2-1.jpg 1379w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar2-1-300x164.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar2-1-1024x560.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar2-1-768x420.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar2-1-750x410.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Gambar2-1-1140x623.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1379px) 100vw, 1379px\" \/><\/p>\n<p><strong>Lalu Kenapa Indonesia Masih Tertinggal?<\/strong><br \/>\nPadahal, dari segi material ada, bahan bakar ada, peneliti banyak, tapi pengembangan SOFC di Indonesia masih terbilang sangat lambat. Kebanyakan riset masih berkutat pada pengembangan material skala laboratorium. Belum ada prototipe SOFC berdaya kilowatt yang siap diuji pada kondisi nyata. Sementara itu, industri energi justru masih nyaman dengan batu bara. Pada 2024 saja, produksi batu bara Indonesia mencapai 917 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah. <em>Roadmap<\/em> hidrogen nasional menyebutkan teknologi <em>fuel cell<\/em> seharusnya masuk tahap demo pada 2020-2030. Namun sampai tahun 2026, belum ada laporan mengenai prototipe SOFC yang benar-benar terintegrasi dengan sistem <em>balance of plant <\/em>(BoP) yang sudah teruji di Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Penutup: Jangan Menunggu Terlalu Lama<\/strong><br \/>\nTransisi energi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Jika Indonesia hanya mengandalkan panel surya dan turbin angin, kita kan berjalan lebih lambat daripada negara lain. SOFC menawarkan solusi yang sebenarnya cocok untuk kondisi Indonesia, efisien, fleksibel, dan memanfaatkan infrastruktur gas yang sudah ada. Jepang memulai pada tahun 2009 dan kini punya ratusan ribu unit. Jika kita mulai dari sekarang, bukan tidak mungkin di tahun 2035 teknologi ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Namun, pertanyaannya tinggal satu, \u201cKita mau<strong> memulai sekarang, atau menunda lagi satu dekade ke depan?\u201d. <\/strong><\/p>\n<p><strong>Muhammad Nurfauzi Rizal, M.T.<\/strong><br \/>\n<em>Dosen Program Studi Diploma Tiga Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung<\/em><\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nLouie, H. (2018): <em>Off-Grid Electrical Systems in Developing Countries<\/em>, <em>Off-Grid Electrical Systems in Developing Countries<\/em>, Springer, Cham.<\/p>\n<p>Human Development Report 2016 (2016): <em>Human Development for Everyone, United Nations Development Programme,<\/em> diperoleh melalui situs internet: http:\/\/hdr.undp.org\/sites\/default\/files\/2016_human_development_report.pdf, 286.<\/p>\n<p>Statista. (2025, November 28). <em>Electricity generation mix in Indonesia 2023, by source<\/em>. https:\/\/www.statista.com\/statistics\/993362\/indonesia-energy-mix-for-power-generation-by-source\/<\/p>\n<p>Ember. (2025, April 10). <em>The Philippines | Ember<\/em>. https:\/\/ember-energy.org\/countries-and-regions\/philippines-the\/<\/p>\n<p><em>Understand low-carbon energy in Thailand through Data<\/em>. (2026, January 7). https:\/\/lowcarbonpower.org\/region\/Thailand<\/p>\n<p>PT Perusahaan Listrik Negara (2025). RUPTL 2025-2034: Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.<\/p>\n<p>IEEFA (2025). The risks of fossil fuel dependence in Indonesia&#8217;s Electricity Supply Business Plan (RUPTL) 2025\u20132034. Institute for Energy Economics and Financial Analysis<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Bayangkan ada sebuah teknologi yang bisa mengubah gas alam menjadi listrik dengan efisiensi mencapai 60%, minim polusi, dan panas hasil prosesnya bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Teknologi ini bukan konsep masa depan. Di Jepang, ribuan rumah sudah menggunakannya selama sepuluh tahun, yaitu Solid Oxide Fuel Cell (SOFC). Sayangnya, di Indonesia teknologi ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":23814,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-23813","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23813","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23813"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23813\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23814"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23813"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23813"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23813"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}