{"id":23731,"date":"2026-02-05T11:53:56","date_gmt":"2026-02-05T03:53:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=23731"},"modified":"2026-02-05T11:53:56","modified_gmt":"2026-02-05T03:53:56","slug":"rumah-untuk-izen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/rumah-untuk-izen\/23731\/","title":{"rendered":"Rumah untuk Izen"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Yulputra Noprizal<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Rumah itu memang agak jauh dari jalan raya. Melalui jalan selebar empat meter di sebelah kantor camat, sekitar 500 meter jauhnya ke belakang. Rumah itu mungil saja. Dengan lebar 6 meter, panjang 8 meter. Bila lewat jalan sana, penandanya, ada sebatang pohon rambutan di depan rumah itu, yang membuat udara jadi sejuk ketika kita duduk di terasnya.<\/p>\n<p>Sewaktu <em>Uda<\/em> Asep beli rumah kampung itu belumlah ramai. Jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lain masih banyak yang berkisar 50 meter. Namun, sekarang kampung itu sudah ramai. Harga tanah di sana meningkat pesat.<\/p>\n<p><em>Uda<\/em> Asep beruntung benar beli rumah itu. Pas membelinya, pemilik rumah dalam keadaan terdesak. Dengan ukuran tanah lebar 8 meter, panjang 12 meter; <em>Uda<\/em> Asep beli rumah itu seharga Rp 80 juta&#8211;tunai. Tak sampai dalam waktu 6 tahun, rumah itu sudah pernah ditawar orang dengan harga Rp 130 juta.<\/p>\n<p><em>Uda<\/em> Asep beli rumah itu sewaktu Ibu masih hidup. Ia punya uang <em>cash<\/em> sebanyak Rp 50 juta dan Rp 30 juta lagi ia pinjam di bank dengan menggadaikan BPKB mobil <em>Avanza<\/em> <em>Uda<\/em> Mizwar (kakak kami yang sulung). Pembelian rumah itu terjadi sepuluh tahun lalu, sewaktu <em>Uda<\/em> Asep berumur 45 tahun. Ibu memaksa <em>Uda<\/em> Asep beli rumah itu agar <em>Uda<\/em> Asep bisa membawa bininya nanti tinggal di sana. Pikiran Ibu, dengan <em>Uda<\/em> Asep punya rumah, bisa jadi perempuan cepat mau dengannya&#8211;penariklah istilahnya. Karena sudah 7 tahun <em>Uda<\/em> Asep hidup menduda.<\/p>\n<p>Kenyataannya, <em>Uda<\/em> Asep tidak lagi berminat dengan perempuan lain. Hatinya masih terpenjara oleh jandanya. Sementara Ibu dalam keadaan sakit terbaring di kasur, setiap sore sepulang dari pasar berjualan pakaian, <em>Uda<\/em> Asep curhat terus soal Yanti, jandanya. Ibu dengar saja curhat <em>Uda<\/em> Asep. Sesekali menyelanya dengan memberinya nasehat dan semangat&#8211;supaya dapat istri yang lebih baik kelak.<\/p>\n<p>Hari-hari berlalu. Bulan berganti bulan. Tahun-tahun berjalan. Ibu pun sudah meninggal. Tak terasa, dua belas tahun lamanya <em>Uda<\/em> Asep hidup menduda. Utangnya di bank buat beli rumah itu sudah lama lunas.<\/p>\n<p>Tidak juga ada tanda-tanda <em>Uda<\/em> Asep akan berbini. Sekali waktu pernah kutanya kepadanya soal perbinian itu. \u201dMengapa <em>Uda<\/em> Asep belum juga berbini. Sudah 12 tahun menduda. Rumah sudah punya. Pekerjaan ada dan ladang sawit pun panen setiap 20 hari sekali. Kurang apa lagi,\u201d kataku.<\/p>\n<p>\u201cKau hendak mengusirku dari rumah ini?\u201d katanya. Maksudnya aku mengusirnya dari rumah peninggalan orangtua, tempat aku, <em>Uda <\/em>Sarif, dan <em>Uda<\/em> Asep tinggal.<\/p>\n<p>\u201cBukan maksudku begitu,\u201d kataku. \u201cTak enak dipandang orang. Hidup lama menduda. Sementara<em> Uda<\/em> Asep kan orang mampu. Aku tidak mengusir <em>Uda<\/em> Asep. Buktinya sawit yang ditanam di tanah Ibu di Koto Sapek <em>Uda<\/em> yang menikmati hasilnya. Kalau ada niatku menuntut, aku berhak juga menerima uang dari hasil panen sawit <em>Uda. <\/em>Karena sawit ditanam di tanah Ibu. Bukan di tanah<em> Uda<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBelum ada pikiranku untuk berbini,\u201d katanya dengan nada suara sedikit keras.<\/p>\n<p>\u201cLantas rumah <em>Uda <\/em>beli untuk apa? <em>Uda<\/em> juga tidak tinggal di rumah itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKan, kau ingin mengusirku rupanya,\u201d katanya berang. \u201cRumah itu aku kontrakkan!\u201d<\/p>\n<p>Aku termenung. Rumah peninggalan orangtua kami memanglah terbilang besar. Punya tiga kamar. Satu kamar, kamar tengah, tempatku tidur. Satu kamar, kamar depan, tempat <em>Uda<\/em> Sarif dan istrinya; dan di kamar belakang adalah milik <em>Uda <\/em>Asep. Andai <em>Uda <\/em>Asep tinggal di rumahnya, tentu rumah tua (rumah peninggalan orangtua) akan terasa lapang. Dan, mengapa pula <em>Uda <\/em>Asep tidak menikmati hasil jerih payahnya. Malah masih tinggal di rumah tua seperti orang tak beruang saja.<\/p>\n<p>Aku dan <em>Uda<\/em> Sarif kadang <em>ngomongin<\/em> <em>Uda<\/em> Asep. Rumah sudah punya, pekerjaan ada, ladang sawit luas&#8211;sayang sekali&#8211;tidak ada pikirannya untuk berbini. \u201cSudah dua belas tahun bercerai, 50 tahun umurnya, belum juga bisa <em>move-on<\/em> rupanya,\u201d kata <em>Uda <\/em>Sarif.<\/p>\n<p>Ya, <em>Uda<\/em> Sarif memang benar. Kadang sudah larut malam, sementara mataku belum mengantuk. Aku masih menonton televisi di ruang tengah, <em>Uda<\/em> Asep sering mendatangiku. Ia duduk di kursi ruang tengah, sementara aku berbaring di kasur&#8211;kasur yang terbentang di lantai. Ia sering bercerita masa-masa ia beristri dulu dengan Yanti. Yanti umurnya lebih muda delapan tahunnya darinya dan biduk rumah-tangga mereka begitu romansa. Masa-masa indahnya dulu mengarungi hidup dengan Yanti begitu berbekas di benak dan hatinya. Dan diceritakannya padaku seperti orang menyesal. \u201cYanti tidak pernah komplain soal belanja mingguannya,\u201d katanya.<\/p>\n<p><em>Uda<\/em> Asep terus-menerus mengatakan faktor ekonomilah yang membuat ia dan Yanti bercerai. Karena, katanya, setelah peternakan ayam arabnya bangkrut (ayamnya sakit dan mati), Yanti jadi sering bermuka masam kalau ia memberi belanja mingguan sedikit.<\/p>\n<p>\u201cAh, selingkuh itu. Buktinya, tak sampai sebulan setelah bercerai Yanti nikah lagi. Kata orang, mantannya dulu sewaktu SMA,\u201d kataku.<\/p>\n<p>\u201cAku memikirkan Izen. Anakku. Keadaan Izen di Jakarta. Sudah SMP dia sekarang,\u201d kata <em>Uda<\/em> Asep.<\/p>\n<p>\u201cIzen kan sudah punya ayah tiri. Ia memilih ikut bersama ibunya sesuai dengan adat Minang. Bukan urusan <em>Uda<\/em> lagi memikirkan nafkah Izen. Izen juga sudah <em>baligh<\/em>,\u201d kataku.<\/p>\n<p>\u201cBerarti sama melahirkan anak anjing,\u201d kata <em>Uda <\/em>Asep dengan nada suara yang mulai tinggi.<\/p>\n<p>\u201cMelahirkan anak anjing bagaimana?\u201d<\/p>\n<p>\u201cSudah dilahirkan, ditinggalkan begitu saja.\u201d<\/p>\n<p>\u201c<em>Uda<\/em> nikah dengan Yanti cuma lima tahun. <em>Uda<\/em> bercerai dengan Yanti sewaktu Izen berumur 4 tahun. Tak lama setelah itu kan Izen dibawa ibu dan ayah tirinya ke Jakarta. Menurut adat Minang memang begitu, anak ikut ibunya. Lagi pula, kalau Izen menelepon ke kampung minta belikan ini-itu; sepatu sekolah dan tas, <em>handphone<\/em> atau laptop, <em>Uda<\/em> kan selalu kasih. Walau <em>Uda<\/em> tidak memberi Izen nafkah sewaktu anak-anak, kalau Izen terdesak minta uang kan <em>Uda<\/em> selalu kirim,\u201d kataku.<\/p>\n<p>\u201cMelahirkan anak anjing mending,\u201d kataku lagi. \u201cAyah si anjing berbini lagi dengan yang lain. Ini sudah 12 tahun menduda belum juga ada terbit selera<em> Uda<\/em> pada perempuan lain. Yanti terus, Yanti terus yang dibahas.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku kau desak berbini. Mengapa kau tidak berbini, sudah lewat 30 tahun umur kau. Lagi pula itu Sarif, hidup tidak sesuai dengan adat Minang. Masa istri dibawa tinggal di rumah orangtua. Seharusnya Sarif tinggal di rumah mertuanya. Seperti aku dulu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201c<em>Uda<\/em> maksudku. Bukan <em>Uda<\/em> Sarif. Pelitnya minta ampun. Beli beras tidak pernah. Hanya membeli ikan sekali seminggu. Minyak goreng untuk bikin sambal ikan atau kelapa untuk gulai ikan tidak dibeli? Belum lagi lada, bawang, dan lain-lain. Semua aku dan <em>Uda<\/em> Sarif yang tanggung untuk keperluan makan sehari-hari,\u201d kataku.<\/p>\n<p>\u201cWajar kau membantu sanak yang tercampak dari rumah mertuanya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cTercampak bagaimana? Membantu sanak kata <em>Uda<\/em>. <em>Uda<\/em> orang mampu. Rumah ada, tabungan di bank sekarang sudah pula hampir Rp 100 juta. Sekali-kali bawa gorengan sehabis berjualan di toko itu. Basa-basi, bukan curhat sementara mulut kering saja. Lagi pula, penghasilan <em>Uda<\/em> sudah berlebih menurutku. Numpang periuk-nasi pada aku dan <em>Uda<\/em> Sarif rupanya,\u201d kataku.<\/p>\n<p>\u201cKalau begitu <em>Uda<\/em> lekas berbini. Apa tujuan <em>Uda<\/em> beli rumah kalau tidak untuk berbini. Atau <em>Uda<\/em> nikmati saja hasil jerih payah <em>Uda<\/em>, tinggal di rumah <em>Uda<\/em> itu menikmati hidup sampai hari tua. Bukannya numpang di rumah orang tua. Listrik aku yang bayar. Lampu putus aku yang beli. Beli cat, upah tukang mengecat rumah aku dan <em>Uda<\/em> Sarif yang menanggung biayanya. Atap bocor, aku yang membeli seng dan membayar upah tukangnya. Kebersihan rumah dan pekarangan depan, samping, dan belakang <em>Uda<\/em> Sarif dan istrinya yang mengerjakannya,\u201d lanjutku.<\/p>\n<p>\u201cTidak sopan kau berbicara seperti itu. Kau ingin mengusirku dari rumah ini. Kita semua, <em>Uda<\/em> Mizwar, Sarif, kau, dan aku sama-sama berhak atas rumah ini.\u201d<\/p>\n<p>\u201cLantas untuk siapa <em>Uda<\/em> beli rumah kalau bukan tujuannya untuk berbini,\u201d kataku. Aku mulai emosi juga.<\/p>\n<p>\u201cYa\u2026 bagi siapa yang merawatku bila sakit nantinya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cUang <em>Uda<\/em>, untuk siapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cSudah kukatakan. Siapa yang mau merawatku sakit nanti.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAlasan. Sudah tua. Sudah 50 tahun. Masih saja memikirkan jandanya. Sudah bertiga anaknya dengan lakinya yang sekarang.\u201d<\/p>\n<p>Di Jakarta, hidup Yanti dan lakinya jauh dari kata mapan. Sehabis menikah di kampung, mereka merantau dan membuka usaha konveksi kecil-kecilan di kota megapolitan itu. <em>Ngontrak<\/em>. Lantas, usaha konveksi itu bangkrut seiring semaraknya <em>marketplace<\/em>. Lakinya kembali bekerja pada orang lain, sebagai tukang potong pada sebuah konveksi yang masih bertahan, seperti sebelum ia menikah dengan Yanti.<\/p>\n<p>Walau hidup mereka jauh dari kata mapan, Izen bersekolah hingga SMA. Dan adik-adik Izen semuanya sudah bersekolah juga.<\/p>\n<p>Ketika berumur 55 tahun, <em>Uda<\/em> Asep mulai sakit-sakitan. Asam lambunglah, asam uratlah, dada yang seperti berkipas-kipaslah. Aku dan <em>Uda<\/em> Sariflah yang merawatnya di rumah bila sakitnya datang. Sampai pada suatu hari <em>Uda<\/em> Asep harus dibawa ke puskesmas. Lantas dirujuk ke RSUD di Painan, penyakitnya asam lambung. Pada saat itulah aku mengabarkan kepada Izen kalau ayahnya masuk rumah sakit di Painan.<\/p>\n<p>Izen pulang dari Jakarta, menjenguk ayahnya di RSUD Painan. Kami, aku dan <em>Uda<\/em> Sarif, juga <em>Uda<\/em> Mizwar menyambut Izen penuh haru. Sembari menemani ayahnya terbaring, kami bercerita soal <em>Uda<\/em> Asep sedikit banyaknya kepada Izen.<\/p>\n<p>Aku, <em>Uda<\/em> Sarif, dan <em>Uda<\/em> Mizwar pun lantas pulang ke Air Haji. Tinggal Izen menunggui ayahnya yang terbaring lemas. Tentu mereka saling melepas kangen, karena sekian lama terpisah.<\/p>\n<p>Izen, ibunya, dan ayah tirinya memang jarang mudik ketika Lebaran. Kalau <em>toh<\/em> mudik ke kampung ketika Lebaran, Izen tidak pernah ikut. Hanya Yanti dan ayah tiri Izen beserta tiga orang adiknya yang dibawa. Setahuku, semenjak pergi meninggalkan kampung, baru dua kali Izen pulang ke Air Haji. Sewaktu ia SMP dan sekarang menjenguk ayahnya sakit.<\/p>\n<p>Tiga hari dirawat di rumah sakit, Izen menelepon sembari menangis ke Air Haji, mengabarkan kalau <em>Uda<\/em> Asep meninggal.<\/p>\n<p>Aku, <em>Uda<\/em> Mizwar, dan <em>Uda<\/em> Sarif pun merasakan sedih yang mendalam. Kehilangan sanak-saudara. Segera kami kirim uang pada Izen untuk ongkos ambulans yang akan membawa jenazah <em>Uda<\/em> Asep ke kampung.<\/p>\n<p>Setelah malam ketiga meninggalnya <em>Uda<\/em> Asep, Izen kembali ke Jakarta. Aku, <em>Uda<\/em> Sarif, dan <em>Uda<\/em> Mizwar patungan untuk bayar ongkos pulang Izen ke Jakarta. Tak lupa juga, kami memberikan oleh-oleh.<\/p>\n<p>Namun, sebulan setelah <em>Uda<\/em> Asep meninggal, Izen kembali ke Air Haji. Itu mengejutkan. Ia memperlihatkan surat wasiat dari <em>Uda<\/em> Asep pada kami. Ia meminta Akta Kematian <em>Uda<\/em> Asep, KTP bila masih ada, meminta surat tanah, dan surat rumah beserta kuncinya. Tak lupa ia minta buku tabungan <em>Uda<\/em> Asep.<\/p>\n<p>Kami pun sama-sama paham. Ternyata selama ini <em>Uda<\/em> Asep tak menganggap kami sanak-saudaranya. Tak rela sedikit pun hartanya tersisa buat kami. Wajar ia pelit kepada sanak, dan sering berkata kasar. \u201cSanak itu, tidak ada gunanya. Ada uang sanak akan datang sendiri,\u201d pernah <em>Uda<\/em> Asep berkata begitu di depan aku, <em>Uda<\/em> Mizwar, <em>Uda<\/em> Sarif, dan istri <em>Uda<\/em> Sarif.<\/p>\n<p>Kami lantas menyerahkan Akta Kematian, surat tanah, surat rumah beserta kunci, dan buku tabungan <em>Uda<\/em> Asep. Menyerahkannya kepada Izen. Kami ikhlas.<\/p>\n<p>Tak menginap di rumah kami, setelah mendapatkan semuanya, sesuai yang diwasiatkan ayahnya, Izen kembali ke Jakarta.<\/p>\n<p>Lebaran pun tiba. Izen, ibunya, ayah tirinya, dan adik-adiknya semuanya mudik.<\/p>\n<p>Tidak datang berlebaran Izen ke rumah kami ataupun ke rumah <em>Uda<\/em> Mizwar. Ia di rumah neneknya&#8211;ibu dari ibunya. Rumah peninggalan<em> Uda<\/em> Asep yang sekarang sudah milik Izen. Ke sanalah mereka sekeluarga tinggal setelah tiga hari di rumah nenek.<\/p>\n<p>Lantas, terdengar kabar di kampung, kalau Yanti tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Sudah susah benar hidupnya di Jakarta selama bertahun-tahun. <em>Pulang abi<\/em> (pulang dari rantau dan tak kan kembali lagi ke rantau). Ia rencananya menetap di kampung bersama laki dan anak-anaknya. Rencananya ia mau buka toko p&amp;d.<\/p>\n<p>Bagaimana dengan Izen?<\/p>\n<p>Izen memberikan uang warisan ayahnya sebagian ke ibunya untuk buka usaha toko p&amp;d. Sebagian lagi bekal untuk dia buka usaha di Jakarta. Izen tak betah dan tak tertarik hidup di kampung. Biarlah ia menghabiskan hari-harinya di Jakarta, apa pun risiko nantinya, begitu kata orang-orang di kampung.<\/p>\n<p>Surat tanah dan surat rumah Izen berikan pada ibunya. Katanya, andai usahanya nanti macet gadaikan saja surat tanah atau surat rumah demi kelangsungan hidup Ibu, Ayah (ayah tirinya), dan Adik-Adik.<\/p>\n<p>Ah, orang di kedai-kedai pun jadi sering berbicara tentang <em>Uda<\/em> Asep.<\/p>\n<p>\u201cKalau cerai. Sementara tanah dan rumah sudah punya, tanah dan rumah jadi milik istri dan anak. Kan termasuk hasil pencarian berdua. Itu kalau beli tanah dan membuat rumah pas masih hidup berumah tangga. Adat Punggasan begitu. Dulu Samsir cerai, tanah dia yang membeli dan rumah dia yang membuat pas hidup berumah-tangga, ketika bercerai rumahnya akhirnya tinggal untuk anak dan istrinya. Hanya sepeda motor butut saja yang ia bawa ke rumah orangtuanya,\u201d kata Idet.<\/p>\n<p>\u201cIni masalahnya tanah dan rumah dia beli sesudah dia cerai. Sudah duda. Bukan pas hidup berumah-tangga. Crai dalam berumah-tangga, kalau tanah dan rumah atas nama laki-laki, menurutku, bukan menurut adat Punggasan itu, rumah jadi milik laki-laki. Dan istri harus kembali ke rumah orangtuanya. Anak-anak tergantung hak asuhnya. Mau ikut ayah atau ibu,\u201d kata Sidar.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada dalam adat Minang seperti yang Asep lakukan itu. Belum pernah diperbuat orang hal seperti itu di <em>Nagari<\/em> (Desa) kita, atau sekecamatan kita, atau sekabupaten kita ini sepanjang yang aku tahu dan sepanjang aku hidup. Tanah dan rumah kita yang membeli pas sudah duda. Istri sudah tiga anaknya dengan orang lain. Anak bukan besar sama kita pula. Eh, malah semua warisan jatuh pada anak. Dan anak kalau di Minang tentu saja menurut garis keturunan ibu dan harus berbakti kepada ibunya. Karena ibunya yang membesarkannya. Hidup tenanglah janda dan lakinya, beserta anaknya di rumah itu. Modal untuk usaha sudah ada pula kan,\u201d kata Jon, pemilik kedai kopi, sembari tertawa.<\/p>\n<p><strong><em>Yulputra Noprizal<\/em><\/strong><em>, lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Yulputra Noprizal JurnalPost.com &#8211; Rumah itu memang agak jauh dari jalan raya. Melalui jalan selebar empat meter di sebelah kantor camat, sekitar 500 meter jauhnya ke belakang. Rumah itu mungil saja. Dengan lebar 6 meter, panjang 8 meter. Bila lewat jalan sana, penandanya, ada sebatang pohon rambutan di depan rumah itu, yang membuat udara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184,283],"tags":[],"class_list":["post-23731","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-cerpen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23731","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23731"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23731\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23731"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23731"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23731"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}