{"id":23639,"date":"2026-01-29T19:15:36","date_gmt":"2026-01-29T11:15:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=23639"},"modified":"2026-01-31T00:59:11","modified_gmt":"2026-01-30T16:59:11","slug":"kadedemes-cerita-kulit-singkong-dari-desa-citatah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kadedemes-cerita-kulit-singkong-dari-desa-citatah\/23639\/","title":{"rendered":"Kadedemes, Cerita Kulit Singkong dari Desa Citatah"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-23642\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1.jpeg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"720\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1.jpeg 1280w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1-300x169.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1-768x432.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1-750x422.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1-1140x641.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: Zelva S., Dilla S., Reina M., Shofia S., Mauratri N., Thia A., Ismi S., Agits A., Fadlina R., Happy A., Zulfa M., Khairani S., Intan L., Nayla E., Rohmawati, Aryoga K., Kurniawan.<\/p>\n<p>Program Studi Sarjana Gizi, Fakultas Kesehatan, Institut Kesehatan Rajawali.<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kulit singkong yang sering dianggap sebagai sampah masakan ternyata memiliki arti penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Di area yang terletak di wilayah karst, singkong diolah menjadi makanan tradisional yang disebut kadedemes, yang sampai sekarang masih dikonsumsi oleh beberapa orang masyarakat sebagai bagian dari adat istiadat yang turun-temurun.<\/p>\n<p>Kondisi geografis Desa Citatah yang memiliki keterbatasan sumber daya alam, terutama air dan lahan pertanian, membuat masyarakat terbiasa menggunakan bahan makanan lokal secara maksimal dalam kehidupan sehari-hari. Singkong adalah bahan makanan penting, tidak hanya dari bagian umbinya saja, tetapi juga dari kulitnya. Praktik tersebut mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Citatah yang menghargai sikap hemat, gotong royong, dan menghormati hasil dari alam.<\/p>\n<p>Kadedemes biasanya dimakan sebagai makanan pelengkap atau camilan. &#8220;Tidak setiap hari, tergantung kalau ada singkong,&#8221; kata Pak Nanan, tokoh masyarakat Desa Citatah, saat diwawancara dalam kegiatan wawancara tersebut.<\/p>\n<p>Menurut Pak Nanan, kebiasaan memanfaatkan kulit singkong sudah dilakukan selama bertahun-tahun dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Selain membantu mengurangi penggunaan bahan makanan, kebiasaan ini juga membentuk bagian dari cara hidup dan nilai-nilai sosial masyarakat. Proses memasak kadedemes sering dilakukan bersama anggota keluarga, sehingga selain sebagai kegiatan memasak, juga berperan dalam mempererat hubungan sosial di lingkungan rumah tangga.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-23640\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1920\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM.jpeg 2560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-2048x1536.jpeg 2048w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-750x563.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.52.43-PM-1140x855.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p>Kulit singkong yang akan dimakan tidak langsung dimasak, tetapi harus direndam dan direbus terlebih dahulu. Pengetahuan tentang tahapan tersebut adalah cara bijak yang digunakan oleh masyarakat Citatah untuk memastikan keamanan makanan. Secara turun-temurun, masyarakat memahami bahwa cara pengolahan yang kurang tepat bisa menyebabkan masalah kesehatan.<\/p>\n<p>Ini penting karena kulit singkong memiliki zat asam hidrosianat (HCN) yang bisa membahayakan kesehatan jika dikonsumsi tanpa diolah dengan cara yang benar. Pengetahuan yang dimiliki masyarakat tentang cara mengolah kadedemes menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengikuti kebiasaan saja, tapi juga berdasarkan pengalaman bersama dalam memastikan makanan yang dikonsumsi tetap aman.<\/p>\n<p>Meski memiliki nilai budaya yang tinggi, dari segi gizi, kadedemes belum memberikan kontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan gizi harian. Kandungan gizinya tidak terlalu banyak dan makanannya tidak dimakan setiap hari. Pola makan sehari-hari masyarakat masih terutama terdiri dari sumber karbohidrat yang mudah dicerna dan variasi jenis makanan yang tidak begitu beragam.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut bisa memengaruhi kondisi gizi, terutama pada kelompok yang lebih rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Selain keterbatasan jenis makanan yang tersedia, masih ada keyakinan berupa tabu dan pantangan tertentu dalam hal makanan yang diyakini oleh masyarakat, terutama oleh ibu hamil. Pantangan ini termasuk dalam sistem kepercayaan lokal, tetapi bisa mengurangi asupan zat gizi penting jika tidak disertai dengan pilihan makanan lain yang memiliki nilai gizi yang sama.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-23641\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1920\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM.jpeg 2560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM-2048x1536.jpeg 2048w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM-750x563.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-29-at-6.58.24-PM-1140x855.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p>Namun demikian, kadedemes tidak bisa dianggap hanya sebagai masalah gizi. Makanan ini menjadi tanda bagaimana masyarakat Citatah beradaptasi dengan lingkungan yang terbatas. Ia menunjukkan nilai kebersamaan, cara bertahan hidup, serta cara berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.<\/p>\n<p>Usaha meningkatkan gizi di masyarakat, seperti di Desa Citatah, harus dilakukan dengan cara yang memperhatikan budaya setempat secara baik dan bijak. Edukasi gizi yang menghargai kebiasaan masyarakat dan memperkenalkan pangan lokal sebagai titik awal dinilai lebih mudah diterima dan lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan yang berusaha menghilangkan tradisi.<\/p>\n<p>Kisah kadedemes menunjukkan bahwa makanan lokal tidak hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memandang hidup, menjaga warisan budaya, serta tetap melestarikan nilai-nilai sosial yang sudah turun temurun dari generasi ke generasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Zelva S., Dilla S., Reina M., Shofia S., Mauratri N., Thia A., Ismi S., Agits A., Fadlina R., Happy A., Zulfa M., Khairani S., Intan L., Nayla E., Rohmawati, Aryoga K., Kurniawan. Program Studi Sarjana Gizi, Fakultas Kesehatan, Institut Kesehatan Rajawali. JurnalPost.com &#8211; Kulit singkong yang sering dianggap sebagai sampah masakan ternyata memiliki arti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":23642,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-23639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23639"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23639\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23642"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}