{"id":22926,"date":"2026-01-12T11:37:56","date_gmt":"2026-01-12T03:37:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=22926"},"modified":"2026-01-12T11:37:56","modified_gmt":"2026-01-12T03:37:56","slug":"dari-lahan-basah-ke-inovasi-cerdas-mahasiswa-kkn-r19-untag-surabaya-luncurkan-alat-penyemprot-pestisida-otomatis-untuk-petani-tamiajeng-trawas-mojokerto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dari-lahan-basah-ke-inovasi-cerdas-mahasiswa-kkn-r19-untag-surabaya-luncurkan-alat-penyemprot-pestisida-otomatis-untuk-petani-tamiajeng-trawas-mojokerto\/22926\/","title":{"rendered":"Dari Lahan Basah ke Inovasi Cerdas: Mahasiswa KKN R19 Untag Surabaya Luncurkan Alat Penyemprot Pestisida Otomatis untuk Petani Tamiajeng, Trawas, Mojokerto"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_22927\" aria-describedby=\"caption-attachment-22927\" style=\"width: 317px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar1-36.jpg\" alt=\"\" width=\"317\" height=\"255\" class=\"size-full wp-image-22927\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar1-36.jpg 317w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/Gambar1-36-300x241.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 317px) 100vw, 317px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-22927\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1.1 Penyerahan Alat Teknologi Tepat Guna (TTG)  Penyemprot Pestisida Otomatis<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Trawas, Mojokerto, JurnalPost.com<\/strong>, 11 Januari 2026 &#8212; Pagi hari di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, selalu diwarnai oleh suara gemericik air sawah dan langkah petani yang berat membawa hand sprayer manual. Para petani kelompok tani setempat menghadapi rutinitas menyemprot pestisida yang melelahkan, di mana mereka harus memompa tangki berulang kali untuk menjaga tekanan semprot pada lahan seluas satu hektar. Proses ini tidak hanya memakan waktu lama, sering mencapai beberapa jam di bawah terik matahari, tetapi juga menyebabkan kelelahan fisik yang ekstrem bagi para petani. Selain itu, butiran semprot yang tidak konsisten akibat pompa manual membuat pestisida menjadi boros dan distribusinya tidak merata, sehingga hasil panen sering kali terancam oleh hama yang tidak terkendali.<\/p>\n<p>Permasalahan penggunaan alat penyemprot pestisida manual semakin parah karena petani masih bergantung pada hand sprayer tradisional yang memerlukan tenaga fisik besar. Pada satu hektar lahan sawah, petani harus menghentikan pekerjaan berkali-kali untuk memompa ulang, yang tidak hanya memperlambat proses tetapi juga meningkatkan risiko paparan pestisida langsung ke kulit dan pernapasan. Kondisi ini telah menjadi beban berat bagi kelompok tani di Desa Tamiajeng, di mana mayoritas petani berusia lanjut dan memiliki keterbatasan fisik. <\/p>\n<p>Akibatnya, produktivitas pertanian menurun, dan biaya operasional meningkat karena pemborosan pestisida yang mencapai hingga 30 persen lebih banyak dibandingkan metode modern.<br \/>\nMahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) R19 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, khususnya Sub Kelompok 5, hadir untuk mengatasi permasalahan ini melalui program pengabdian masyarakat yang inovatif. Mereka mengusulkan solusi teknologi tepat guna berupa pembuatan alat penyemprot pestisida otomatis yang dirancang khusus untuk kondisi lahan sawah di daerah pegunungan Trawas. Program ini tidak hanya melibatkan pembuatan alat, tetapi juga pelatihan intensif agar petani dapat menggunakannya secara mandiri. Dengan pendekatan ini, mahasiswa berharap dapat meningkatkan efisiensi pertanian secara berkelanjutan di Desa Tamiajeng.<\/p>\n<p>Proses pembuatan alat penyemprot pestisida otomatis dimulai dengan observasi mendalam terhadap kebutuhan petani oleh tim Sub Kelompok 5. Mereka merancang prototipe menggunakan pompa bertenaga baterai yang stabil, tangki kapasitas besar, dan nozzle khusus untuk semprotan merata. Alat ini dibuat dengan bahan lokal yang murah dan tahan lama, sehingga mudah direplikasi oleh petani sendiri. Setelah beberapa kali uji coba, alat siap diuji di lapangan sawah Tamiajeng.<\/p>\n<p>Pelatihan penggunaan alat dilakukan secara bertahap dengan melibatkan seluruh anggota kelompok tani. Mahasiswa mendemonstrasikan cara pengisian pestisida, pengoperasian tombol otomatis, dan pengisian ulang baterai yang hanya memakan waktu singkat. Para petani diajarkan juga teknik perawatan harian, seperti pembersihan nozzle dan penyimpanan di tempat kering. Sesi pelatihan ini berlangsung selama satu hari, diikuti dengan praktik langsung di lahan masing-masing peserta.<\/p>\n<p>Hasil uji coba alat penyemprot otomatis menunjukkan peningkatan luar biasa dibandingkan hand sprayer manual. Dengan satu kali isi ulang penuh, alat mampu menyemprot seluas satu hektar sawah tanpa henti, sementara pompa manual memerlukan pengisian berulang tiga hingga empat kali. Tingkat kelelahan petani menurun drastis karena tidak ada lagi keharusan memompa, dan waktu penyelesaian pekerjaan dipangkas hingga 50 persen lebih cepat. Selain itu, butiran semprot menjadi konsisten dan merata, menghemat penggunaan pestisida hingga 40 persen.<\/p>\n<p>Manfaat alat ini tidak berhenti pada efisiensi saja, tetapi juga meningkatkan kesehatan dan keselamatan petani. Risiko paparan pestisida berkurang karena waktu kerja lebih singkat dan semprotan lebih terkendali. Secara ekonomi, penghematan pestisida dan waktu berpotensi meningkatkan pendapatan petani hingga 20 persen per musim tanam. Program ini menjadi contoh sukses teknologi tepat guna yang lahir dari kolaborasi akademisi dan masyarakat.<\/p>\n<p>Ke depan, Sub Kelompok 5 KKN R19 berencana memperluas program dengan mereplikasi alat untuk kelompok tani lain di Trawas. Mereka juga akan menyusun panduan lengkap dalam bahasa sederhana untuk distribusi. Dukungan dari pemerintah desa diharapkan dapat menjadikan ini sebagai model pengabdian berkelanjutan. Inovasi ini membuktikan bahwa solusi sederhana dapat membawa perubahan besar bagi petani Indonesia.<\/p>\n<p>Dari lahan sawah Tamiajeng yang basah, kini muncul cerita inspiratif tentang bagaimana mahasiswa muda membawa teknologi otomatis untuk meringankan beban petani. Program pembuatan dan pelatihan alat penyemprot pestisida otomatis ini telah membuka mata kelompok tani terhadap kemajuan era digital. Kolaborasi ini memperkuat ikatan antara kampus dan desa, menuju pertanian modern yang inklusif. Desa Tamiajeng siap menjadi pelopor inovasi pertanian di Kabupaten Mojokerto<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Trawas, Mojokerto, JurnalPost.com, 11 Januari 2026 &#8212; Pagi hari di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, selalu diwarnai oleh suara gemericik air sawah dan langkah petani yang berat membawa hand sprayer manual. Para petani kelompok tani setempat menghadapi rutinitas menyemprot pestisida yang melelahkan, di mana mereka harus memompa tangki berulang kali untuk menjaga tekanan semprot [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":22927,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-22926","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22926"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22926\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22927"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}